Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Dinda MU <[email protected]>
Date: Wed, 6 Jan 2010 12:58:29 
To: mediacare<[email protected]>
Subject: [mediacare] Gus Dur Tak Mesti Jadi Pahlawan

*Gus Dur Tak Mesti Jadi Pahlawan*

> Indra J. Piliang DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUTE
>
> Kalau ada orang yang bisa bertemu dengan Gus Dur sejak 31 Desember 2009,
> saya titipkan satu pertanyaan, "Gus, bersediakah menjadi pahlawan
nasional?"
> Saya ingin tahu apa jawaban Gus Dur atas pertanyaan itu. Saya yakin Gus
Dur
> akan berkelit dan berputar. Dalam satu tayangan Kick Andy menyangkut
> kesediaannya menjadi calon presiden pada 1999, Gus Dur hanya menjawab,
"Saya
> disuruh oleh lima orang tokoh. Saya tidak perlulah katakan siapa saja
> mereka."
>
> Karena itu, saya berani mengatakan, "Pahlawan saja kok repot...?" Mengapa?
> Pahlawan nasional (selanjutnya: pahlawan), yang ditetapkan oleh keputusan
> presiden, hanyalah bagian dari kebijakan politik pemerintah. Sekalipun
> melibatkan sejumlah ahli, antara lain sejarawan, pengangkatan sebagai
> pahlawan tetap berujung pada legalisasi oleh presiden. Sementara itu, soal
> legalitas ini sampai kini memicu kontroversi. Beberapa nama yang sudah
> diputuskan sebagai pahlawan malah tetap memicu kontroversi sampai
sekarang.
> Petisi pencabutan status sebagai pahlawan juga dilakukan.
>
> Penetapan nama-nama pahlawan bagi mereka yang meninggal sebelum
kemerdekaan
> dikaitkan dengan perlawanan terhadap kolonialisme. Perlawanan itu bisa
> berupa apa saja, seperti angkat senjata, menulis pamflet, ataupun melukis.
> Hampir semua tokoh yang melakukan perlawanan itu dimasukkan dalam kategori
> pahlawan.
> Bagi para tokoh yang masih hidup setelah 1945, kepahlawanan pun
memunculkan
> perbedaan pendapat. Tan Malaka, misalnya, sekalipun mendapat status
sebagai
> pahlawan, buku-bukunya sulit didapatkan dan masuk kategori buku yang
> disembunyikan dari publik.
>
> Sebagaimana kemerdekaan, kepahlawanan bukanlah hadiah atau pemberian.
> Kepahlawanan adalah semangat yang mengalir dari kisah hidup
manusia-manusia
> dalam sejarah untuk kepentingan manusia-manusia yang masih hidup.
> Kepahlawanan juga bukan kebanggaan yang layak dijajakan untuk meraih
berkah
> dalam setiap upacara 17 Agustus di Istana Negara. Kepahlawanan jelas tidak
> ada gunanya kalau hanya menjadi selembar kertas yang dibaca dalam naskah
> pidato atau dimasukkan dalam soal ujian.
>
> Karena itu, saya yakin Gus Dur dengan sadar akan menolak gelar pahlawan
> untuknya. Kalau tidak percaya, tanyakan langsung kepada Gus Dur andai
> berjumpa lewat mimpi. Yuddy Chrisnandi pernah bertanya kepada Gus Dur
> tentang kontroversi pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto. "Gus Dur
> langsung menjawab bahwa hal itu adalah urusan mudah, asal didahului dengan
> proses hukum," kata Yuddy (
> http://www.menkokesra.go.id/content/view/7087/39/). Jawaban Gus Dur tentu
> akan senada bila dikaitkan dengan kontroversi gelar pahlawan untuk dirinya
> sendiri. Gus Dur tidak pernah mengakui proses pelengserannya dari jabatan
> Presiden RI.
>
> Urusan mempahlawankan Gus Dur sangat mudah. Hanya memerlukan beberapa
> lembar surat. Justru yang paling penting adalah bagaimana setelah itu. Di
> mancanegara, beberapa museum dibangun untuk memuat patung lilin sejumlah
> artis. Cap telapak kaki dan telapak tangan juga ditorehkan. Di
> Indonesia--mungkin saya menjadi nyinyir--nama-nama jalan dan patung-patung
> juga dihibahkan kepada para pahlawan. Bahkan Obama, yang belum meninggal,
> dibuatkan patung. Untunglah, para aktivis Gerakan Pro-SBY dan Gerakan
> Nasional Kepedulian Sosial dalam pemilihan presiden lalu tidak jadi
membuat
> patung untuk Susilo Bambang Yudhoyono setinggi sepuluh meter, yang akan
> diletakkan di Lapangan Kapten Apa, Padanggalak, Denpasar, Bali (Antara
News,
> 30 Juni 2009).
>
> Namun sebuah museum yang berisi karya dan riwayat para pahlawan itu tidak
> tampak dibangun sampai kini. Bahkan kerja keras para pahlawan itu pun
tidak
> lagi mendapat perhatian negara setelah mereka tiada. Koleksi buku-buku
yang
> mereka punyai hilang tanpa bekas karena ketiadaan biaya keluarga untuk
> mempertahankan. Paling banter, makam mereka tidak ikut-ikutan kena gusur.
> Manuskripmanuskrip perlawanan mereka atau catatan-catatan tangan mereka
kini
> tidak tentu lagi rimbanya. Mereka hanya menjadi pusara, tanpa bisa
diketahui
> lagi hasil-hasil karya yang menyumbang bagi berdiri dan tegaknya Republik
> Indonesia. Sekadar gelar pahlawan untuk Gus Dur tidak cukup, sebagaimana
> juga untuk pahlawan-pahlawan yang lain. Kunjungan ke taman-taman makam
> pahlawan dari setiap Hari Pahlawan juga kurang. Bangsa ini membutuhkan
lebih
> dari itu, yakni setitik jejak yang melekat dalam ingatan yang dihadirkan
> secara fisik. Sketsa masa lalu yang dikemas ulang dalam bentuk film, buku,
> museum, diorama, dan beragam bentuk lain yang bisa dilihat oleh anakanak
> sekolahan. Pahlawan yang benar-benar ada, bukan hanya nama.
>
> Siapa yang tahu kisah-kisah hidup Jenderal Soedirman, Rasuna Said, dan
> Muhammad Husni Thamrin di masa sekarang? Ya, barangkali sejarawan dan para
> sanak famili mereka atau generasi lama yang mengenalnya. Di luar itu,
> SudirmanRasuna-Thamrin dikenal sebagai kawasan segitiga emas untuk
> pusat-pusat pertumbuhan industri perbankan, korporasi multinasional, dan
> gedung-gedung menjangkau langit. Di mana tandu yang digunakan menggotong
> Soedirman ketika memilih perang gerilya dalam menghadapi Belanda?
> Yang lebih ironis adalah pemusnahan buku-buku yang berkaitan dengan
> kisahkisah di masa lalu yang ditulis oleh pahlawan-pahlawan itu. Atau
> buku-buku yang pernah dibaca oleh pahlawan-pahlawan itu. Sebut saja buku
> John Roosa, yang baru dilarang untuk diedarkan oleh Kejaksaan Agung. Saya
> yakin Gus Dur menjadi salah satu tokoh yang membaca buku itu. Bagaimana
bisa
> menilai sosok kepahlawanan Gus Dur apabila buku-buku yang pernah dibacanya
> dilarang beredar, misalnya? Kisah seorang manusia terhubung dengan
> kisah-kisah lain yang hidup di zamannya.
>
> Untuk Indonesia yang lebih demokratis dan pluralistik, Gus Dur tidak mesti
> menjadi pahlawan. Yang perlu diperjuangkan adalah demokrasi dan pluralisme
> itu tetap menjadi bagian dari agenda nasional. Begitu pula julukan
terhadap
> Gus Dur sebagai sosok multikultural. Selama multikulturalisme diakui
sebagai
> bagian penting dari keindonesiaan, nilai-nilai kepahlawanan Gus Dur sudah
> menjadi aktual dengan sendirinya. Akan sangat mengingkari nilai-nilai
> kepahlawanan itu apabila ada daerah-daerah yang menutup dirinya dengan
> semangat monokultural.
>
> Intinya, jauh lebih repot menjaga nilai dan semangat perjuangan Gus Dur
> semasa hidupnya ketimbang hanya mengeluarkan selembar kertas untuk
> menjadikannya sebagai pahlawan. "Benar begitu, Gus?" q
>
>
>
>
>
>
http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/01/06/ArticleHtmls/06_01_2010_011_003.shtml?Mode=1


-- 
Dinda MU
@ Plangi Sky Dinning
The Plaza Semanggi



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke