semoga mas, meski telah kering bisa dihapus dan diganti dengan sesuatu yang bagus, dan yang bisa merubah itu adalah usaha dan doa. Saya juga berharap ada warga NU yang doktornya 40 persen dari jumlah santri NU, semoga tinta yang kering itu telah menulis 50 persen. amin
--- On Sat, 1/16/10, sofwan nadi <[email protected]> wrote: From: sofwan nadi <[email protected]> Subject: Re: [kmnu2000] Telah Kering Tinta Itu (2) To: [email protected] Date: Saturday, January 16, 2010, 11:23 AM Mas Muallim yang budiman... Sungguh indah kajian ini... saya pun ingin menambahkan. .. demi menggapai masa depan Nahdliyin yang lebih baik. Insya Allah. Dulu... budaya kita... orangtua-orang tua kita bilang.. kepada anak-anak mereka: Nak, sekolah dulu, nanti kerja, setelah itu baru nikah. Yang lain bilang: Nak sekolah, lalu kerja, kumpulkan modal..., baru kawin atau sekolah lagi. Sekarang saya katakan kepada kaum muda dan anak-anak Nahdliyin: Kamu sekolah, sekolah, sekolah, dan sekolah. Sebelum 30 tahun kamu harus sudah sebagai seorang doktor (S3) Selama kamu berusia dibawah 30 tahun, tugasmu hanya belajar pada jalur sekolah atau pesantren. Bukan bekerja apapun alasannya. Adapun ditengah itu, kamu memperoleh pekerjaan ataupun jodoh sehingga harus menikah; ambillah... tapi tetap belajar/ sekolah dan sekolah, sampai doktor. Ada yang bilang: Sekolah itu perlu modal. Karena itu orang tua menyuruh kerja dulu. Saya bilang: Tugas manusia hanya menjalani hidup, bukan membuat jalan hidup. Mengumpulkan modal berarti membuat jalan. Pembuatan jalan bukan urusan kita, manusia. Itu urusan kerja tuhan. Sok tahu, kita berani-beraninya membuat jalan. Urusan kita ini menggunakan jalan atau paling jauh mencari kendaraan. Kendaraan itu, bagi orang muda, adalah mencari informasi dan peluang, bukan mencari modal dana/uang. Bagi santri nahdliyin yang sudah berada di luar negeri, jangan pulang sebelum memegang gelar doktor. Setelah itu, baru cari pengalaman dengan menjadi volunteer di PBB, di Eropa, di Amerika, di Afrika, di mana saja.... Jadi nanti pulang, santri sudah memegang riwayat hidup dengan pengalaman yang layak untuk diambil sebagai menteri atau staf ahli kementrian. Kita terbelakang karena ikut pola rumusan orang tua: sekolah-kerja cari duit-sebagai modal untuk nikah atau untuk sekolah lagi. Jadi apa makna pengalaman kerja itu? Ada, tapi kecil dibanding pengalaman kerja seorang doktor. Jadi... pancangkan himmah untuk belajar-belajar- belajar sampai tingkat doktoral pengetahuan kita. Urusan modal uang, itu urusan Tuhan. Bukan urusan kita. Urusan kita belajar (pada usia dibawah 30) sampai doktor. Bismillaah. Jangan seperti saya sekarang, tinggal menyesal. Semestinya sudah berpredikat profesor pada usia segini, atau dapat membantu Cak Imin atau Cak Helmi... di kementrian. Saya hari ini ingin mendirikan lembaga MASYARAKAT PEMERHATI PEMBANGUNAN DAERAH sebab Bapenas dan Bapeda, apalagi parpol, tidak bisa dipercaya untuk membuat prototype pembangunan Indonesia untuk bilangan ratusan tahun ke depan. Bahaya kalau percaya pada mereka. Masak membangun RI ini dilakukan hanya untuk hitungan 5 tahunan atau 3 tahunan saja. Karena 1 tahun pertama untuk beres-beres janji dengan para sponsor, dan 1 tahun terakhir untuk siap-siap mencalonkan lagi atau cari sponsor-sponsor lagi. Bahaya, bahaya, bahaya. Dan juga ingin mendirikan lembaga PEMERHATI PEMETAAN SDM NAHDLIYIN NASIONAL sebab di banyak daerah di luar Jawa kaum muslimin dan muallafiin terseok-seok tak terperhatikan program-program apapun oleh orang-orang di PBNU, sementara banyak para alumni pesantren NU bingung cari kegiatan. ... Tapi dengan siapa? Santri-santri umumnya payah... Kalibernya kelas kerupuk... yang mutunya hanya cari penghidupan. .. cari upah.... cari amplop... sebab setelah sekolah cari kerja, motivasinya. Mereka tidak percaya, kalau dengan terjun ke lapangan (kayak terjun ke masjid-2 bagi kaum Khuruj)...masuk- masuk ke pedalaman-pedalaman ... itu berarti menciptakan kerja, walau tak ada yang memberi upah... Ya nanti juga ada. Wong, ayam aja, Gusti Allah beri makan. nemu semut dan belalang ataupun nemu rumput...bisa dipatuk. Wah....moga- moga belum kering tinta itu Mas Muallim.... ____________ _________ _________ __ From: muhammad muallim <mualli...@yahoo. com> To: kmnu2...@yahoogroup s.com; kswme...@yahoogroup s.com; nume...@yahoogroups .com; ppiin...@yahoogroup s.com Sent: Sat, January 16, 2010 3:22:57 PM Subject: [kmnu2000] Telah Kering Tinta Itu (2) Telah Kering Tinta Itu (2) #fullpost {display:none; } Telah Kering Tinta Itu (2) Oleh : Muhammad Muallim Beberapa pembaca mungkin ada yang tidak sepakat jika seseorang dianggap tidak punya pilihan untuk hidup, mungkin hal itu perlu penulis jelaskan disini. Dalam hidup memang banyak pilihan, tetapi untuk hidup tidak ada pilihan. Bagaimana ada pilihan untuk hidup? Kita hidup ini pilihan Allah, untuk hidup sesuai masa, raga, dan waktu kembali yang sudah ditentukan tanpa ada pertimbangan dari kita, bahkan kita sadar kalau kita hidup ketika kita sudah masuk sekolah TK, karena sehebat-hebatnya kemampuan manusia hanya akan mampu mengingat kejadian paling awalnya saat masuk TK. Kenapa penulis punya pikiran bahwa kita sebenarnya diminta untuk berkehidupan yang wajar, tidak terburu-buru, toh semua itu tidak merubah apa-apa, karena yang akan terjadi tetaplah sesuai dengan kehendak Allah. Lihatlah kisah-kisah orang yang terges-gesa, mereka nggak akan merubah apa-apa. Suatu hari penulis bepergian bersama kawan-kawan untuk menghadiri pernikahan seorang kawan, Jarak yang ditempuh lumayan jauh, dan membutuhkan berjam-jam untuk melewatinya, nah disaat pulang kawan saya ada yang mengemudi dengan grusa-grusu, alias tergesa-gesa. Perjalanan memang sebagian dari adzab, namun saat itu menjadi dobel, soalnya kita yang jadi penumpang jadi dag dig dug der!, karena sang pengemudi ini belum mahir dan tergesa-gesa. Rencana mau tidur menjadi kacau. Yang menjadi petikan bukanlah itu, namun ternyata waktu yang dibutuhkan malah lebih lama dibanding waktu keberangkatan yang standar dan bisa tidur nyenyak, dari situlah penulis berfikir percuma anda tergesa-gesa jika Allah berkehendak kita sampai tujuan pada waktu itu. Aneh kan? Jalan tol tidak macet, kecepatan tinggi, namun tetap saja telat, sebab ternyata kawanku yang grusa-grusu itu belum hafal jalan tol, alisa ketika di perempatan dia salah ambil lajur, hingga salah lajur dan terus berjalan sampai ada putaran atau pintu keluar, untungnya terjebaknya di tol lingkar luar jadi pintu keluar dan putaran agak jauh, dan berlalulah kisah itu hingga akhirnya sampai tujuan akhir dengan waktu yang lebih lama. Kita harus cepat dalam melakukan sesuatu, namun tak boleh tergesa-gesa, kita boleh mendidik anak dengan cepat tapi tak boleh tergesa-gesa, kita boleh membuat pesantren cepat, tapi jangan tergesa-gesa, karena ketergesa-gesaan hanya membuang umur. Membaca qur'an boleh cepat, tapi tidak boleh tergesa-gesa, sebagaimana firman Allah saat menegur Nabi Muhammad : Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu , dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. "QS.20:144 Allim Sabtu, 16 Januari 2010 Mochammad Moealliem http://www.muallimk u.blogspot. comor http://www.facebook .com/muallimku [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
