Ketakutan...Kekhawatiran... pada mulanya semua kita begitu..... Ya.. datangnya dari keraguan.
Tapi, saya yakin, tak seorangpun yang akan bilang di sini, bahwa "NU TAK PERLU doktor". Artinya kita sepakat bahwa NU PERLU Doktor. Tinggal bagaimana nanti, itu yang perlu kita pikirkan. SOMBONG MASA MUDA Semua kita, yang pernah mengalami masa muda, masa dimana kita silau dengan hal "baru kita bisa". Masa dimana kita gagah karena hal "baru kita tahu". Santri yang baru melek Nahwu... Khitobahan dimana-mana dengan aji kepiawaian jurus nahwu Santri yang baru tamat sebuah Jurus Pencak.... ditepuk pundaknya oleh temen... langsung dia berkelit dengan kuda-kuda pencak Santri yang baru tamat Sarjana... sebab jadwal kultum Tarawih tidak menyematkan gelar sarjana.... dia merengut menuntut gelarnya dicantumkan Jangan khilaf..... ada anak kiyai.. yang tidak dipanggil Gus.... pura-pura tak denger... ia malah bilang: "Sampeyan panggil siapa?" Ah... gitu juga santri yang baru pulang belajar dari Timur Tengah.... ia merengek...gelar hajinya yang tak dicantumkan..... Itulah masa muda.... penuh kenangan... kalau ndak begitu... kayaknya cerita masa muda tak seindah langit tanpa bintang. Kalau kita sadar... itulah petualangan kejiwaan di masa muda. Itu semua pada sebagian orang akan sirna ... menjadi kisah yang asyik ditertawakan oleh dirinya sendiri, si empunya cerita. Kala itu... kedewasaan sudah meningkat... Usia matang memapak kuat.... Bahkan derajat dan martabat spiritualnya memapak puncak wilayah... Kalau saja.... pada derajat spiritual yang memuncak itu... dia adalah seorang doktor... wow... betapa anggun keteladanan itu, bukan? Tapi... ketika derajat spiritual yang memuncak itu... dia adalah seorang yang tidak tamat sekolah Aliyah sekalipun... wow... betapa anggun keteladanan itu, bukan? Apa beda antara keduanya? Semua kita pasti tahu jawabannya. Yang jelas... saya sendiri sedih ... kalau tidak dapat memberi kontribusi yang maksimal kepada lingkungan saat mereka membutuhkan titel formal serendah sarjana S1 sekalipun.... ________________________________ From: Aji Hermawan <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, January 26, 2010 10:14:09 AM Subject: Re: [kmnu2000] 40% dari semua santri yang baru lulus berkomitmen menjadi doktor paling telat di usia 30 tahun Betul juga. Sekolah doktor ke LN belum tentu nambah ilmu. Ilmu yang jadi nuur, bukan dhulm. Hehe... Yang diperlukan NU adalah "Ustazd/Kyai Gramcian" yaitu intelektual aktivist yang mau dibenamkan di tengah umatnya dan berkhidmad untuk umatnya. Sekolahnya di mana dan bidang ilmunya apa silakan saja, dikaji mana yg prioritas. Yang wajib ainnya kan ilmu agomonya. :-) Salam Aji Hermawan mBogor Powered by RAMP-IPB® -----Original Message----- From: "Rizky Hardyhatmoko" <[email protected]> Date: Tue, 26 Jan 2010 00:57:02 To: <[email protected]> Subject: Re: [kmnu2000] 40% dari semua santri yang baru lulus berkomitmen menjadi doktor paling telat di usia 30 tahun Biasanya nanti yang Doktor2 nggak mau jadi ustad di pelosok pelosok. Di daerah yang terbelakang masih jadi lahan Gus2 yg mau lelaku sambil ngrumat jamaahnya, apakah santri doktor masih mau ngelakoni seperti itu? Hemat saya doktor boleh banyak tapi punya dedikasi tinggi, tidak seperti sekarang doktor sudah banyak dan kebanyakan jadi makelar dana bantuan/hibah dlsb. Rizky, Malang Sent from my BlackBerry® powered by Allah swt -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Date: Sun, 24 Jan 2010 22:21:57 To: <[email protected]> Subject: [kmnu2000] 40% dari semua santri yang baru lulus berkomitmen menjadi doktor paling telat di usia 30 tahun Surat terbuka Mayapada, 25 Januari 2010 Yang Terhormat Bapak Dr Nadirsyah Hosen, Ph.D di Australia Saya sangat berterima kasih Njenengan meneriakkan bahwa NU harus kirim 200 calon doktor. Malah saya ingin menambahkan, NU perlu memprogramkan bahwa setiap tahun, ada sejumlah (minimal) 50% dari semua santri yang baru lulus di tahun yang sama untuk berikrar bahwa ia harus meraih gelar doktor paling telat pada usia 30 tahun. Soalnya saya sedih, selama ini NU tidak punya dapur untuk menggodok program-program pembangunan yang siap untuk ditawarkan kepada setiap kader nahdliyin yang menjadi bupati, gubernur, menteri ataupun presiden. Bayangkan Gus Dur waktu itu cuma sendirian, tak ada yang bisa bantu dari kalangan NU. Sekarangh cak Imin, Cak Helmi, Cak Ipul... apa ada yang bisa bantu beri mereka program yang sudah dikaji feasibilitynya. Kesuwun. Hormat saya, Sofwan bin Nadi [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed]
