PIDATO KEBUDAYAAN 

ULIL ABSHAR-ABDALLA


Selasa, 2 Maret 2010; Pukul 19.00 – 21.00 WIB    
Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta


Tahun 1970an, Islam di Indonesia menghadapi dua fenomena besar. Pertama, 
represi politik Islam yang dilakukan oleh Orde Baru. Kedua, peningkatan gairah 
keislaman yang tampak pada penggunaan simbol-simbol Islam dalam kehidupan. 
Fenomena ini direspon secara luas dan beragam oleh banyak aktivis dan pemikir 
muda secara bergairah. Gairah pemikiran itu kemudian muncul dalam bentuk 
gerakan pembaharuan Islam Indonesia. 

Di Jakarta, Nurcholish Madjid mencanangkan gerakan pembaharuan Islam melalui 
pidato berjudul Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi 
Ummat di Taman Ismail Marzuki, 3 Januari 1970. Di Yogyakarta, muncul sejumlah 
pemikir muda yang tergabung dalam Limited Group. Kelompok yang terdiri dari 
Ahmad Wahib, Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, dan Kuntowijoyo itu aktif 
berdiskusi dan mempublikasikan tulisan-tulisan kritis mengenai realitas sosial 
dan pemikiran ummat Islam. Dari kalangan NU tradisional muncul sang fenomenal 
Abdurrahman Wahid yang memperkenalkan pemikiran pluralisme di Indonesia.  

Realitas masyarakat Islam yang dihadapi para pemabaharu Islam awal pada masa 
itu adalah Islam yang sedang berkembang pesat tetapi pada saat yang sama masih 
sangat terbelakang dalam hal akses ekonomi dan pendidikan. Di ranah politik, 
“aspirasi” masyarakat Islam juga tampak marginal menyusul kebijakan Orde Baru 
yang secara sistematis meminggirkan peran politik Islam. 

Kondisi semacam ini menjadikan Islam sebagai agama sangat tidak bergengsi. Bagi 
Cak Nur dan Gus Dur, peminggiran, dan perasaan terpinggirkan, sangat berbahaya 
apalagi menimpa kelompok mayoritas. Inferioritas bisa memunculkan 
eksklusifitas. Pada kondisi yang akut, eksklusifitas bisa muncul dalam bentuk 
agresif dan anarkis. Terorisme dan radikalisme agama yang marak belakangan ini 
adalah bentuk agresif dari eksklusifitas dan inferioritas.

Realitas sosio-politik yang dihadapi Gus Dur dan kawan-kawan cukup berbeda 
dengan realitas kita saat ini. Transisi demokrasi telah membuka peluang 
ekspresi bagi apa dan siapapun. Struktur kesempatan politik yang terbuka ini 
tidak hanya menguntungkan gerakan pro-demokrasi, tetapi juga memberi peluang 
gerak bagi kelompok-kelompok radikal yang selama bertahun-tahun ikut terepresi 
dalam era otoritarianisme. Tantangan yang dihadapi oleh para pembaharu Islam 
menjadi lebih kompleks. 

Dalam kondisi dan seting sosial baru ini, dibutuhkan formulasi pemikiran Islam 
baru yang bisa menjawab tantangan baru. Berdasarkan pokok-pokok pikiran di atas 
Forum Pluralisme Indonesia berinisiatif menggelar sejumlah pertemuan ilmiah 
untuk melakukan formulasi gerakan pembaharuan Islam yang lebih sesuai dengan 
tantangan zaman. Sebagai langkah awal, tahun ini, Forum Pluralisme Indonesia 
akan menggelar Orasi Pembaharuan Islam yang kali ini akan disampaikan Ulil 
Abshar-Abdalla.

Forum Pluralisme Indonesia adalah forum yang dibentuk untuk mendukung dan 
menyebarluaskan gagasan-gagasan pembaharuan agama. Forum ini terdiri dari 
pelbagai lembaga, di antaranya adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), Indonesian 
Conference on Religion and Peace (ICRP), Indonesian Center for Islam and 
Pluralism (ICIP), The Wahid Institute, Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), 
Masyarakat Dialog Antar-Agama (MADIA), Moderat Muslim Society (MMS), Jamaah 
Ahmadiyah Indonesia (JAI), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), 
Persekutuan Gereja-Geraja di Indonesia (PGI), dan Komisi Hak Konferensi 
Waligereja Indonesia (KWI).



      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke