SENI PESANTREN
Menimbang Akar Segala Krisis

Minggu, 28 Februari 2010 | 02:48 WIB

Arahmaiani

Pameran seni rupa di galeri ataupun pada acara semacam bienial dan festival 
memang biasa, tetapi jika ada pameran di sebuah pesantren, itu baru hal luar 
biasa. Beberapa waktu lalu telah diselenggarakan sebuah pameran seni rupa 
dengan menghadirkan perupa ternama, di antaranya Nasirun, Dian Anggaraini, KH 
Mustofa Bisri, dan KH Zawawi Imron, di Pesantren Kali Opak, Piyungan, 
Yogyakarta.

Pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari perhelatan seni dan workshop 
pada acara Muktamar Kebudayaan Nahdlatul Ulama (NU) Indonesia pertama. Dengan 
mengusung tema "Inventory" kegiatan ini berlangsung secara bertahap mulai dari 
November 2009 hingga awal Februari 2010.

Selain menggelar pameran seni rupa, acara yang diprakarsai Lembaga Seniman 
Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) ini juga menyertakan kegiatan workshop 
film pendek untuk para santri dan kegiatan sastra serta teater dengan 
mengundang santri-santri penggiat dari seluruh Jawa. Kemudian menghadirkan 
penulis kenamaan, seperti Ahmad Tohari dan Acep Zam-zam Noor, untuk tampil 
berbicara. Diresmikan pula Limasan Kali Opak yang dirancang sebagai ruang 
publik untuk kegiatan keagamaan, kesenian, dan kebudayaan. Selain tentu saja 
sebuah galeri apik lengkap dengan panil-panil dan lighthing yang baik.

Kegiatan lain yang menjadi kegiatan utama adalah muktamar kebudayaan yang 
diikuti oleh komunitas-komunitas santri dan komunitas-komunitas seni dari 
sejumlah daerah. Juga diselenggarakan seminar sehari dengan tajuk "Pesantren, 
Seni Rupa & Dialog Antarbudaya," dengan menghadirkan pembicara St Sunardi, 
Abdul Mun'im DZ, Bisri Effendi, dan saya sendiri. Dan, yang tak bisa dilewatkan 
tentu saja peringatan wafatnya Gus Dur karena bersamaan dengan berjalannya 
rangkaian penyelenggaraan kegiatan itu, Gus Dur dipanggil pulang oleh Yang Maha 
Kuasa.

Bagi generasi muda serta mereka yang awam dan tak terlalu mengikuti 
perkembangan sejarah kebudayaan mungkin akan menganggap Lesbumi sebagai lembaga 
kebudayaan baru. Namun, kilas balik sejarah menjelaskan bahwa lembaga ini 
didirikan pada tahun 1962 sebagai sayap politik bidang seni budaya Partai NU. 
Lanskap sejarah politik-kebudayaan pasca-kemerdekaan memang kental diwarnai 
kemunculan berbagai macam lembaga seni budaya yang mencerminkan keberagaman 
ideologi politik-budaya.

Kilas balik sejarah

Dalam kehidupan sosial politik kala itu, Lesbumi dianggap sebagai lembaga 
kebudayaan yang didirikan untuk merespons sekaligus menandingi Lekra yang telah 
menunjukkan kedekatan dengan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI). Satu hal 
yang menarik, karya seni budaya organisasi-organisasi kebudayaan ini 
dipublikasikan melalui media massa masing-masing partai politik. Publikasi ini 
acap kali memicu timbulnya polemik seperti perdebatan mengenai realisme 
sosialis dan jargon "politik adalah panglima" yang menjadi penggerak aktivitas 
Lekra di satu pihak dan humanisme universal dan semboyan "seni untuk seni" 
(l'art pour l'art), yang menjadi elan vital kelompok Manifes Kebudayaan di 
pihak lain.

Dalam pertarungan ideologi politik-kebudayaan seperti itu, tidak banyak 
diungkapkan bahwa Lesbumi mengambil posisi lain lagi. Berbeda dari Lekra atau 
kelompok Manifes Kebudayaan, Lesbumi berpandangan bahwa seni mesti mempunyai 
tujuan dan tujuan itu adalah tujuan dari seluruh rakyat Indonesia: membentuk 
suatu masyarakat "ber-Tuhan", di mana tidak ada kezaliman, di mana keadilan 
berkuasa, di mana kemakmuran menjadi milik bersama. Oleh karena itu "isme" 
dalam kebudayaan-kesenian menjadi tidak penting. Yang penting adalah "gaya 
pribadi seorang budayawan-seniman untuk mengungkap sesuatu yang hendak ia 
sampaikan kepada masyarakat".

Tampaknya hal itu kemudian hanya menjadi artefak sejarah yang tenggelam dalam 
dinamika pergerakan di tubuh NU sendiri. Semenjak era Reformasi dimulai, NU 
yang tidak lagi menjadi partai politik, seperti kehilangan arah dalam lapangan 
politik-kebudayaan. Jejak dan sumbangsih NU dalam perdebatan kebudayaan seperti 
sirna dan hilang tertelan bumi. Apakah mungkin karena warga NU kini banyak yang 
mendirikan partai politik dan berkiprah di bidang itu? Atau terbawa arus umum 
yang memandang bidang kebudayaan sebagai kurang penting jika bukan hanya 
sebagai komoditas dan alat pendukung kekuasaan belaka?

Kebangkitan kembali?

Dalam Surat Kebudayaan yang diterbitkan sesudah dilangsungkannya muktamar, 
jelas mengindikasikan seniman dan budayawan NU kini telah bangkit dari mati 
suri. Dan, memutuskan untuk ikut aktif memperjuangkan kebudayaan sebagai sumber 
atas khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma, kepercayaan, dan ideologi. 
Ataupun sebagai praktik dan tindakan dalam mempertahankan dan mengembangkan 
harkat kemanusiaan. Akibatnya, kebudayaan akan memiliki fungsi dan peran untuk 
membangkitkan kembali vitalitas dan menjadi kekuatan yang menentukan.

Diasumsikan bahwa kebudayaan kini mengalami krisis, proses pengasingan 
(alienasi), dan pemiskinan yang disebabkan oleh dominasi tiga kekuatan, yaitu, 
pertama, kapitalisme pasar yang menilai kebudayaan dari sudut pandang pragmatis 
semata sehingga manusia ditempatkan sebagai obyek dan bukan subyek. Kedua, 
negara yang menempatkan kebudayaan semata sebagai pendukung kekuasaan atau 
legitimasi politik. Dan, ketiga, formalisme agama yang menempatkan kebudayaan 
bukan sebagai energi sosial yang menopang tumbuh-kembangnya harkat manusia dan 
malah lebih jauh lagi kebudayaan dilihat sebagai praktik yang "menyimpang" dari 
ketentuan hukum agama.

Dengan landasan tersebut, Lesbumi merasa perlu membuat pernyataan dan sikap 
kebudayaan untuk menolak praktik-praktik dominasi tersebut. Dengan demikian, 
Lesbumi akan dengan tegas menolak seni yang cenderung memisahkan diri dari 
masyarakat ataupun relativisme historis masyarakatnya serta akan ikut membuka 
ruang kreativitas dan eksplorasi estetik seluas mungkin bagi para seniman (baik 
tradisional, modern, dan kontemporer).

Begitulah dengan menyusun agenda dan program kerja ke depan yang tertata dan 
jelas arahnya, Lesbumi kini hadir dan berpartisipasi dalam perjuangan menjaga 
posisi kebudayaan Indonesia untuk tetap menjadi tuan di negerinya sendiri.

Berbagai kegiatan seperti pelatihan seni di pesantren, riset dan penelitian, 
penerbitan jurnal dan situs web, diskusi reguler, pementasan dan pergelaran 
seni, ataupun publikasi dan dokumentasi akan mewarnai hari-hari yang bermakna. 
Selanjutnya krisis kebudayaan yang dianggap sebagai sumber dari segala krisis 
yang menimpa bangsa ini secara bertahap diharapkan akhirnya akan bisa diatasi.

Arahmaiani Perupa, Tinggal di Yogyakarta

Sumber: 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/28/02480657/menimbang.akar.segala.krisis

Kirim email ke