"Pameran Lukisan Inventory" MELACAK HUBUNGAN AGAMA DAN KESENIAN Oleh Aguk Irawan MN
Di balik fatwa kontroversi pesantren yang marak akhir-akhir ini, seperti hukum haramnya penggunaan jejaring sosial semacam facebook dan twitter, haramnya rebonding, poto pre- wedding dan lain sebainya yang terkait dengan style hidup modern. Pesantren Kaliopak yang berdiri di pinggir sungai Kaliopak Piyungan, menghadirkan sesuatu yang lain, yaitu menggelar pameran lukisan yang bertajuk "Inventory". Pameran lukisan yang diselenggarakan lembaga seni budaya NU (Lesbumi) DI.Yogyakarta ini dibuka oleh Rieke Diah Pitaloka, Sabtu siang (23/01) dan akan berakhir Kamis malam (4/02). Yang luar biasa adalah apresiasi seni dari kalangan pesantren (warga NU) menunjukkan banyak peningkatan. Indikasi ini tampak dari berjubelnya jumlah pengunjung dari kalangan nahdliyin di hari pembukaan itu. Dalam konteks hubungan agama dan kesenian, kalangan pesantren selalu saja terpecah menjadi dua sikap ketika menyaksikan acara di atas, misalnya jika ada pertanyaan: Apakah guna lukisan itu dipamerkan? Yang pertama dengan segera akan menyergap, tak ada gunanya, bahkan tindakan itu dianggap telah bersekutu dengan setan, karena melanggar batas syar'i. Terkait jawaban ini, mereka biasanya lalu menyodorkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, "Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di hari Kiamat adalah perupa." Karena perupa (pelukis, pemahat dan pematung) dianggap "menyaingi" Allah, dengan "menciptakan" makhluk. Ditulis juga dalam hadis tersebut, kelak perupa itu akan dimintai pertanggung-jawaban untuk memberi nyawa; jika tidak sanggup, mereka akan disiksa. Dalam riwayat Muslim yang lain, diterangkan Sayyidah Aisyah mendapatkan hadiah kain yang ada gambarnya (lukisan) dari pembesar Dinasti Romawi, lalu ia membentangkan kain itu di rumahnya, Nabi yang mengetahui itu kemudian bersabda: "Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar dan patung." Demikianlah sederet dalil yang biasa digunakan untuk mengharamkan gambar dan patung. Sementara kelompok yang kedua; punya alasan bahwa berkesenian adalah sifat intuitif alamiah seorang manusia. Dan islam hampir di segala bidanga menyerukan pemeluknya untuk selalu berkreasi (mencipta). Alasan yang berasal dari dalil shahih, misalnya bisa ditemukan dalam hadis Riwayat Bukhari dan Muslim: "Bahwa Allah itu indah dan mencintai keindahan". Kenapa umat Islam terpecah dalam dua kelompok seperti itu? Sejarawan muslim ulung Khalil Abdul Karim dalam bukunya "al-Judzûr al-Târîkhiyyah li Syarî'ah al-Islâmiyah" berkesimpulan, karena ada dua kecenderungan pada umat islam, yang pertama melihat hukum (nash) secara tekstual an-sich, dan yang kedua melihatnya secara tekstual dan kontekstual. Terkait dengan hadis di atas, ia berpendapat dalam ranah sejarah Islam awal (asbabul nuzul), itu terkait dengan paganisme, yaitu patung saat itu menjadi pujaan (Tuhan). Sementara Islam datang hendak menegakkan ajaran tauhid dan menghancurkan segala bentuk kemusyrikan itu. Patung yang dikenal oleh bangsa Arab ketika Islam lahir di Hijaz tidak bertujuan untuk seni, tapi sebagai tuhan dan sesembahan. Karena itu, Menurut Ahmad Amîn dalam karyanya, "Fajr al-Islâm" (Fajar Islam) tentu tak layak jika menilai hasil seni (lukisan) yang bertujuan kesenian itu dalam koridor hukum fikih, misalnya haram dan tidaknya, salah dan benarnya, akan tetapi seharusnya indah atau tidaknya? Pertemuan Islam dan Kebudayaan Seperti penjelasan di atas, islam dan kesenian seringkali digambarkan sebagai dunia yang berbeda, sulit dipertemukan. Agama berisi aturan dan norma moral, sementara kesenian mengeksplorasi kreatifitas dan kebebasan. Di banyak tempat ketegangan antar dua kelompok ini kadang tak terelakkan. Tapi dalam kenyataannya, apa yang pernah dicapai Islam dalam mewujudkan peradaban dunia, kaum seniman dan ulama bisa berdialog dan bersandingan. Misalnya yang terjadi pada pembangunan Masjid an-Nabawi (Masjid Nabi) di Madinah, Masjid Jami' al-Umawi (Masjid Umayyah) di Damaskus, dan Qubbat al-Sakhra (Kubah Batu) di Yerusalem merupakan sebagian contoh di Arab. Peradaban islam itu mencapai puncaknya (golden age) pada masa Dinasti Umayyah di Damaskus (Siria) dan Dinasti Abbasiah di Baghdad (Irak). Islam tidak sekedar bersinggungan dengan seni rupa, sastra, teater, musik, dan arsitektur yang luar biasa indahnya, tapi juga turut mewarnai nafasnya. Sementara pengaruh islam pada kebudayaan kita, itu misalnya bisa kita temukan pada arsitektur Menara Kudus, Jawa Tengah, yang merupakan percampuran simbol Islam dan Hindu. Pada bangunan peninggalan Sunan Kudus itu terdapat pula tempat bersuci berupa arca berkepala sapi (hewan keramat umat Hindu). Menaranya pun mirip candi, penanda adanya dialog-estetis seni religius. Masih banyak contoh lain yang serupa dalam sepanjang zaman di berbagai negara. Dari sederat sejarah itu bukankah sudah cukup sebagai saksi, bahwa hubungan antara islam dan kebudayaan tak bisa dipisahkan, sebab keduanya saling membutuhkan. Karena terbukti, hadirnya agama bisa mewarnai nafas kebudayaan, dan hadirnya kebudayaan bisa memperkaya seperangkat hukum dan seluk beluk agama. Kalau begitu bukankah sudah seharusnya keduanya terus bisa diupayakan berdialog dan bersandingan. Kerena sejatinya seni itu punya kehendak untuk memperjuangkan martabat kemanusiaan. Dan itu sama halnya dengan agama, ia berangkat dari pemaknaan bahwa sesungguhnya ajaran (agama) juga bertujuan memuliakan manusia. Pesantren dan Kesenian Di negeri ini, kita bisa menemukan hubungan yang sangat harmonis antara Islam dan kesenian itu ada pada pesantren. Kenapa demikan? Karena watak pesantren selalu apresiatif terhadap kebudayaan lokal. Karena watak pesantren yang demikian ini, kehadirannya bisa diterima di khalayak luas. Hal ini bisa dibuktikan dengan kenyatan historis penyebaran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para wali. Nikii Keddie (1987), pengamat agama Islam asal Timur Tengah itu berpendapat watak dan ciri khas inilah yang menjadi pembeda dengan Islam-Arab dan tentu saja kebangggan Islam sebagai peradaban di Asia Tenggara. (Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn, Volume 2, No. 1 Tahun 1987) Dan sampai sekarang pesantren masih mempertahankan watak aslinya; yaitu ia memiliki tradisi unik dan unggul yang tidak ditemukan di negara lain. Salah satu keunikan tersebut adalah tradisinya dalam mengembangkan warisan keilmuan ulama salaf (salafus shalih). Misalnya dengan pola pengajaran sorogan, blandongan dan hafalan nadzaman berupa puisi liris arab. Selain itu yang menjadi ciri khasnya adalah seperangkat busananya, seperti memakai sarung, peci, baju koko dan lain sebagainya, yang semua itu asli dari warisan pribumi (bukan Arab). Tak heran jika Abdurrahman Wahid berani mengambil kesimpulan bahwa pesantren adalah sebuah subkultur. Hasil dari persinggungan itu, tak mengherankan jika para "santri"banyak menghasilkan karya-karya berkelas dunia dengan nilai seni yang luar biasa indahnya, seperti beberapa nama yang dapat disebut di antaranya adalah KH. Ma'shum Ali dengan al-Amtsilatut Tashrifiyah, KH. Hasyim Asy'ari dengan Syair-Syair Ahlul Bait, KH Bisri Mustofa dengan al-Ibriz, KH. Abdul Hamid dengan Nadzam Sulam Taufiq dan lain sebagainya. Karya tersebut menjadi referensi penting dalam setiap kajian maupun pengajian dilingkungan pesantren. Karena itu, tak syak, Islam sebagai agama dan pesantren sebagai alat dakwahnya terbukti mampu tampil secara kreatif berdialog dengan masyarakat setempat (lokal), berada dalam posisi yang menerima kebudayaan lokal, sekaligus memodifikasinya menjadi budaya baru yang dapat diterima oleh masyarakat setempat dan masih berada di dalam jalur Islam. Mengingat peran pesantren yang begitu penting di tengah masyarakat itulah, panyelenggaraan pameran lukisan seperti yang sudah dimulai di Pesantren Kaliopak itu (pertamakali dalam sejarah) perlu terus dilanjutkan di pesantren-pesantren lain. Seperti dalam tema penyelenggaraan pameran lukisan itu:"Inventory" yang berarti "kilas sejarah". Seakan telah menyindir kita yang malas untuk melacak sejarah kita yang terabaikan oleh realitas yang akhir-kahir ini selalu saja bombardir. Lihatlah pelukis Nasirun yang menghadirkan karya terbarunya dengan sangat unik dan fenomenal dengan media lukis bedug yang sangat besar (210 x150 diameter) berjudul "Tengara" (2010). Bedug adalah salah satu perangkat dan simbol yang mudah ditemui di dunia pesantren dan dalam keberagamaan kita. Karya ini ibarat sebuah monumen yang menggambarkan pertemuan sekaligus perkawinan antara tradisi (kesenian) dan islam, mungkin juga antara keteguhan menuju sembayang dan pergi ke supermarket atau mall. Ada gelora perjuangan di dalamnya. Ketika menikmati keseluruhan lukisan yang bertajuk "Inventory" dari 25 pelukis terkenal di negeri ini. Saya merasa seperti sedang membuka ensiklopedi Islam disana. Sebab dari berbagai karya lukis itu bisa kita temukan fiqih, tauhid, tarikh sampai tasauf. Untuk Tauhid itu misalnya bisa kita temukan pada karya KH. Mostafa Bisri "Asma Agung", Karya Zawawi Imran "Qul Huwallah", atau kita seperti sedang membuka kitab fiqih saat menikmati Karya Kajey Habib "Arah", karya Robert Nasrullah "Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya" atau kita sedang belajar tasauf pada karya I Gusti Nengah "Turunnya putih" dan karya Zulkarnain "Masjid". Pesantren yang sejak awal berdirinya selalu berwatak ramah dan toleran terhadap penyerapan tradisi lokal atau perkembangan kebudayaan luar, kini ia menghadapi tantangan yang cukup berat, karena ia dihadapkan pada kenyataan sulit seperti zaman sekarang yang sudah meniscayakan gaya hidup yang serba modern dan pluralitas budaya sebagai kenyataan sosial, akankah pesantren kini berubah sebagai hakim dan menjadi momok masyarakat atau sekedar saksi untuk tempat berkumpul dan belajar pada kenyataan agar watak sejatinya tak luntur? *Penulis adalah Anggota Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia) PWNU DI.Y. Sumber: http//www.nu.or.id
