Copy
Darat Yang Menenangkan
#fullpost {display:none;}
Oleh
: Mochammad Moealliem
Disaat aku membaca tulisan-tulisan yang
tersusun rapi, dimana sejak mahasiswa aku berharap sekali memilik buku
itu, namun sampai sekarang pun aku belum memilikinya, kecuali hanya
sebuah kitab maya, dan mungkin guruku adalah guru yang bersifat maya,
aku hanya melakukan profiling atas karya-karya dan
tulisan yang begitu rapi, mudah dimengerti, aku menggambar penulisnya
adalah orang yang sibuk dengan bacaan, tegang, dan jarang bicara,
sebagaimana para penuli buku Indonesia yang jauh di bawah kemampuan
beliau.
Bertahun-tahun aku sudah setuju dengan tulisan-tulisan
itu, bahkan disaat aku suka berdebat maka buku itu membuatku lebih tahu,
dan terkadang aku menang karena lawanku juga mengakui keabsahan buku
itu dalam bidangnya.
Buku
itu berjudul Alfiqhu al Islami wa Adiltuh, fiqih Islam beserta
dalil-dalilnya, memang buku itu bukanlah buku pertama yang aku pelajari
soal fiqh, namun yang ku pelajari mulai dari durusl fiqh juz satu sampai
terakhir, aku mampu beli, mabadiul fiqhiyah dari juz satu sampai
selesai, aku mampu beli, fathul wahab aku mampu beli, nah giliran fiqh
al islami ini, belum beli.
Fiqh yang sekitar 10 jilid, alias 10
kali besarnya fathul wahab, atau kalau belum jlas lihat aja deh di
google, memang sih harganya dulu cuman 500an, tapi mata uang Mesir,
namun karena mahasiswa kita pakai konsep mudah, praktis dan hemat.
Mungkin
belum semua aku baca, namun aku sering acak-acak sesuai kebutuhan,
bukan malas loh yach, didalamnya terdapat pandangan 4 madzhab plus
madzhab yang lain lagi, jadi tinggal anda mau ikut yang mana?.
Namun
perlu diingat jangan sampai anda bermain-main dengan loncat sana-loncat
sini dalam bermadzhab, kata beliau itu tidak boleh.
Pada suatu
kesempatan saya mendapat kesempatan untuk ikut menjemput, jadi yang
menjemput bukan saya, saya cuman ikut penjemputnya menjemput beliau,
alhamdulillah sampai masuk bandara, begitu terlihat wajah beliau,
sebagai santri yang suka mencium tangan kiyai, tentu yang ini lebih
harus, dan ternyata profiling saya mendadak berubah.
Beliau
ramah, siapa aja yang mau foto disilahkan, siapa yang menyalami beliau
ulurkan tangan, humoris dan ternyata tidak tegang.
Ada satu kata
yang diucapkan ketika ada seorang CS bandara ikut bersalaman, beliau
berkata : " Tuhibbul Ulama?" kamu suka dengan ulama?
Itu pada
orang yang tidak dikenalnya, beliau tidak memilih-milih, apalagi sama
yang kenal, MasyAllah, aku jadi inget kyai-kyai salaf, hafal nama
muridnya, tahu keilmuannya, serasa rindu saya dengan guru-guru yang dulu
juga seperti itu.
Profesor Doktor Wahbah Zuhaili, memang
benar-benar sesuai dengan titelnya, dalam perjalanan menuju hotel saya
sengaja mencecar dengan banyak pertanyaan, diantaranay tentang sholat
dalam kendaraan, beliau bilang sholat dalam kendaraan itu hanya dengan
isyarat saja, dan itu untuk menghormati waktu sholat, dan sesampainya di
tempat yang bisa untuk melakukan sholat kita harus mengulangi, kemudia
saya tanya lagi, apakah niatnya qodloan atau adaan? Beliau menjawab,
niatnya iadatan.
Kemudian aku tanya lagi tentang jamak dan
qoshor, bolehkah kita menjamak sholat dan mengqoshornya jika kita telah
sampai rumah tujuan? Jika kamu berniat iqomah, maka tidak boleh, tapi
kalau tidak berniat iqomah boleh, dan beliau menambahkan lihatlah di al
Fiqh al Islami wa Adillatuh.
Aku jadi ingat sebuah kata : syetan
itu lebih takut pada faqih fuqaha, ketimbang pada ahli ibadah,
berbanding 1000 kali. Untuk mengganggu sholatnya orang ahli fiqh itu
lebih sulit dibanding mengganggu orang yang ahli ibadah bahkan sampai
dahinya hitam, namun tak ngerti banyak tentang fiqh.
Maka ilmu
tanpa amal perbuatan adalah kegilaan, sementara ibadah tanpa ilmu adalah
kehampaan yang sia-sia.
Tebet, Kamis 18 Maret 2010
Mochammad Moealliemhttp://www.muallimku.blogspot.com or
http://www.facebook.com/muallimku
[Non-text portions of this message have been removed]