Copy
 Darat Yang Menenangkan


#yiv1090223031 #fullpost {display:none;}
Oleh
 : Mochammad Moealliem

Disaat aku membaca tulisan-tulisan yang 
tersusun rapi, dimana sejak mahasiswa aku berharap sekali memilik buku 
itu, namun sampai sekarang pun aku belum memilikinya, kecuali hanya 
sebuah kitab maya, dan mungkin guruku adalah guru yang bersifat maya, 
aku hanya melakukan profiling atas karya-karya dan 
tulisan yang begitu rapi, mudah dimengerti, aku menggambar penulisnya 
adalah orang yang
 sibuk dengan bacaan, tegang, dan jarang bicara, 
sebagaimana para penuli buku Indonesia yang jauh di bawah kemampuan 
beliau.

Bertahun-tahun aku sudah setuju dengan tulisan-tulisan 
itu, bahkan disaat aku suka berdebat maka buku itu membuatku lebih tahu,
 dan terkadang aku menang karena lawanku juga mengakui keabsahan buku 
itu dalam bidangnya.

Buku

 itu berjudul Alfiqhu al Islami wa Adiltuh, fiqih Islam beserta 
dalil-dalilnya, memang buku itu bukanlah buku pertama yang aku pelajari 
soal fiqh, namun yang ku pelajari mulai dari durusl fiqh juz satu sampai
 terakhir, aku mampu beli, mabadiul fiqhiyah dari juz satu sampai 
selesai, aku mampu beli, fathul wahab aku mampu beli, nah giliran fiqh 
al islami ini, belum beli.

Fiqh yang sekitar 10 jilid, alias 10 
kali besarnya fathul wahab, atau kalau belum jlas lihat aja deh di 
google, memang sih harganya dulu cuman 500an, tapi mata uang Mesir, 
namun karena mahasiswa kita pakai konsep mudah, praktis dan hemat.

Mungkin

 belum semua aku baca, namun aku sering acak-acak sesuai kebutuhan, 
bukan malas loh yach, didalamnya terdapat pandangan 4 madzhab plus 
madzhab yang lain lagi, jadi tinggal anda mau ikut yang mana?.

Namun

 perlu diingat jangan sampai anda bermain-main dengan loncat sana-loncat
 sini dalam bermadzhab, kata beliau itu tidak boleh.

Pada suatu 
kesempatan saya mendapat kesempatan
 untuk ikut menjemput, jadi yang 
menjemput bukan saya, saya cuman ikut penjemputnya menjemput beliau, 
alhamdulillah sampai masuk bandara, begitu terlihat wajah beliau, 
sebagai santri yang suka mencium tangan kiyai, tentu yang ini lebih 
harus, dan ternyata profiling saya mendadak berubah.

Beliau 
ramah, siapa aja yang mau foto disilahkan, siapa yang menyalami beliau 
ulurkan tangan, humoris dan ternyata tidak tegang.

Ada satu kata 
yang diucapkan ketika ada seorang CS bandara ikut bersalaman, beliau 
berkata : " Tuhibbul Ulama?"
 kamu suka dengan ulama?

Itu pada 
orang yang tidak dikenalnya, beliau tidak memilih-milih, apalagi sama 
yang kenal, MasyAllah, aku jadi inget kyai-kyai salaf, hafal nama 
muridnya, tahu keilmuannya, serasa rindu saya dengan guru-guru yang dulu
 juga seperti itu.

Profesor Doktor Wahbah Zuhaili, memang 
benar-benar sesuai dengan titelnya, dalam perjalanan menuju hotel saya 
sengaja mencecar dengan banyak pertanyaan, diantaranay tentang sholat 
dalam kendaraan, beliau bilang sholat dalam kendaraan itu hanya dengan 
isyarat saja, dan itu untuk menghormati waktu sholat, dan sesampainya di
 tempat yang bisa untuk melakukan sholat kita harus mengulangi, kemudia 
saya tanya lagi, apakah niatnya qodloan atau adaan? Beliau menjawab, 
niatnya iadatan.

Kemudian aku tanya lagi tentang jamak dan 
qoshor, bolehkah kita menjamak sholat dan mengqoshornya jika kita telah 
sampai rumah tujuan? Jika kamu berniat iqomah, maka tidak boleh, tapi 
kalau tidak berniat iqomah boleh, dan beliau menambahkan lihatlah di al 
Fiqh al Islami wa Adillatuh.

Aku jadi ingat sebuah kata : syetan 
itu lebih takut pada faqih fuqaha, ketimbang pada ahli ibadah, 
berbanding 1000 kali. Untuk mengganggu sholatnya orang ahli fiqh itu 
lebih sulit dibanding mengganggu orang yang ahli ibadah bahkan sampai 
dahinya hitam, namun tak ngerti banyak tentang fiqh.

Maka ilmu 
tanpa amal perbuatan adalah kegilaan, sementara ibadah tanpa ilmu adalah
 kehampaan yang sia-sia.

Tebet, Kamis 18 Maret 2010

Mochammad Moealliemhttp://www.muallimku.blogspot.com or 
http://www.facebook.com/muallimku

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke