Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi

OlehAbd Moqsith Ghazali

Tak sedikit peserta muktamar NU ke-32 di Makassar yang terkesima dengan 
pidato pertanggung-jawaban Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU 2004-2009, 
Kamis 24 Maret 2010. Namun, banyak juga yang mempertanyakan dan 
mempersoalkannya. Menurut kelompok kedua ini, dalam pidato tersebut ada 
sejumlah pernyataan Hasyim yang paradoks, bertentangan satu dengan yang 
lain. Bahkan juga terkesan simplistis. Beberapa hal berikut yang digugat 
kelompok kedua tersebut, persis beberapa menit setelah Hasyim Muzadi 
berpidato.

Pertama, Hasyim mengeluhkan anak-anak muda NU yang sangat tergantung 
sama lembaga funding Barat. Ini, menurut Hasyim, menyebabkan anak-anak 
muda itu tidak independen dalam berfikir dan bertindak. Padahal, dalam 
waktu yang sama, dalam pidatonya dia berkata bahwa PBNU melalui 
kepemimpinannya mendapatkan suntikan dana dari lembaga-lembaga donor, 
bukan hanya dari Timur Tengah melainkan juga dari Barat, seperti USAID, 
Patnership, dan lain-lain. Kelompok kontra-Hasyim itu mempertanyakan, 
kalau Hasyim bisa dan boleh menerima dana dari lembaga donor, mengapa 
anak mudanya tidak boleh. Kalau PBNU halal mendapat dana dari Barat, 
kenapa PP Fatayat NU menjadi haram menerimanya, misalnya. Ini unfair. 

Bahkan, teman-teman muda NU di Jaringan Islam Liberal (JIL) menjelaskan 
bahwa lima tahun terakhir tak ada dana dari lembaga donor Amerika 
Serikat dan Australia yang mengalir ke rekening JIL. Ulil Abshar-Abdalla 
(pendiri JIL dan kandidat Ketum PBNU dalam muktamar itu) menjelaskan 
beasiswa dirinya studi di Harvard University AS diperoleh dari seorang 
pengusaha di lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi, bukan dari Amerika 
Serikat apalagi Yahudi. Informasi ini mengagetkan peserta Muktamar NU. 
Alih-alih menjauhi Ulil seperti kerap dipidatokan Hasyim di pelbagai 
forum dan kesempatan, terlampau banyak pengurus cabang NU yang simpati 
dengan Ulil.  Anak-anak muda NU itu mengibaratkan Hasyim Muzadi sedang 
menepuk air di dulang, kepercik muka sendiri.

Kedua, Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, 
dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan 
negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama 
(Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di 
negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD 
1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, 
sekularisme-sekularisasi. Dia tak tahu jenis-jenis sekularisasi. Ada 
model Perancis, Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, dan lain-lain. 
Himbauan mereka, tunggal; Hasyim perlu belajar banyak teori-teori 
sekularisasi dan sekularisme. 

Ketiga, Hasyim pun mengkritik sangat lantang pemikiran liberal Islam 
yang tumbuh subur di kalangan anak muda NU. Liberalisme dianggap 
menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah a la Nahdlatul Ulama. 
Sementara, dalam waktu yang bersamaan, dia melaksanakan pikiran-pikiran 
liberal Islam itu misalnya ketika dirinya menjadi cawapres dari Capres 
Megawati, dalam pemilu 2004. Terang benderang dalam buku-buku Sunni 
dijelaskan larangan bagi perempuan untuk menjadi hakim (qadli) apalagi 
menjadi kepala negara (al-mam al-a’zham). Apakah kita bisa 
mempertanyakan ke-aswaja-an Hasyim Muzadi, kata mereka tandas. 

Keempat, dia berkata bahwa politik NU adalah politik keumatan dan bukan 
politik kekuasaan. Padahal, dalam waktu yang sama, cukup kerap Hasyim 
Muzadi terlibat dalam permainan politik untuk sebuah kekuasaan. Tak bisa 
ditutupi, Hasyim bermain dalam sejumlah Pilkada; pemilihan Gubernur 
juga pemilihan Bupati. Hasyim pun menjadikan NU sebagai salah satu mesin 
politik ketika dirinya maju sebagai cawapres. Antara kata dan 
perbuatan, demikian kelompok kontra Hasyim itu, jauh panggang dari api. 
Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Hasyim Muzadi gagal menjalankan 
pelaksanaan Khittah 1926 yang diamanatkan pada dirinya.

Inilah beberapa poin keberatan yang saya dengar dari kelompok 
kontra-Hasyim. Kalau ada waktu, saya juga akan melaporkan alasan peserta 
muktamar yang mengelu-elukan Hasyim Muzadi. Insyaallah.

Makasar, 24 Maret 2010


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke