Sore hari, tanggal 29 Maret kemarin, LAKPESDAM Mesir kembali mengadakan kajian regulernya. Lembaga kajian dengan anggota diskusi sebelas orang tersebut, pada pertemuan kemarin mendedah pemikiran Abu Ya’rab al-Marzuqi. Presentator adalah saudara M. Nova Burhanuddin, dan disandingkan dengan kakaknya yang bertindak sebagai moderator, Nora Burhanuddin.
Filosof kontemporer Tunisia yang cinta negaranya ini dilahirkan di Benzert tahun 1947 M. Seperti sudah tertebak, Tunisia yang bekas jajahan Perancis itu, saat filosof ini dilahirkan, masih merasakan sisa-sisa peradaban dan nalar logika bawaan Perancis. Wajar, tokoh kita ini dalam lika-liku intelektualnya, walau di usia muda, bisa akrab dengan filsafat Hegel. Abu Ya’rab yang mulai mendalami filsafat paska kekecewaannya belajar sastra Arab yang justru sang guru menerangkannya dengan bahasa Perancis, pun sempat berguru langsung kepada para filosof Perancis, semisal Michel Foucault. Di daerahnya, kala itu, cukup mudah didapatkan buku-buku Hegel, walau hanya terjemahan ke Perancis. Dari sini, ia mulai mengakrabi filsafat Hegel dan menyelesaikan semua karya babon filosof besar Jerman itu. Sayang, jelajah filosofisnya ini pula yang mengantarkan ia menyingkap tabir kebobrokan filsafat Barat. Tepatnya, ketika Hegel sinis degan filsafat Arab dan mengatakan, “Arab tak lebih dari persinggahan sementara filsafat Yunani tanpa ada inovasi apapun. Sehingga, ia boleh dilangkahi ketika mengupas sejarah evolutif filsafat”. Kontan, nasionalisme Abu Ya’rab seketika menyeruak dan ingin berusaha membuktikan pada Barat bahwa Arab juga berinovasi sekaligus berkreasi. Dari sini segalanya bermula. Lihat selengkapnya di website Lakpesdam Mesir: http://lakpesdam.numesir.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24:universalitas-filsafat-abad-pertengahan-bedah-pemikiran-abu-yarab-al-marzuqi-dan-nasionalisme-kreatifnya&catid=4:berita&Itemid=4 [Non-text portions of this message have been removed]
