http://www.dutamasyarakat.com/artikel-28954-nu-porakporanda-%EF%BF%BDparpol-islam%EF%BF%BD-musnah.html

DUTA MASYARAKAT, 16 April 2010



                                 Organisasi masyarakat (ormas) Islam 
terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi bakal 
porak-poranda. Begitu juga partai politik (parpol) berbasis Islam; 
mereka bahkan disebut-sebut bakal musnah. NU dinilai bakal porak-poranda
 pada 50 tahun ke depan. Sedangkan parpol berbasis Islam bakal musnah 
dalam 10-15 tahun ke depan.



Prediksi itu dilontarkan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH
 Salahuddin Wahid saat menjadi pembicara dalam seminar dan bedah buku 
Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia 
yang digelar di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 
Universitas Airlangga (Unair), Rabu (14/4) lalu.



Sosok yang akrab disapa Gus Sholah itu menuturkan, NU bakal mengalami 
perpecahan akibat perbedaan paham antara liberalisme dan konservatisme 
di internal NU. “Dalam 50 tahun ke depan, perbedaan ini akan kian tajam 
dan bisa jadi akan muncul NU merah dan NU putih,” ungkapnya.



Menurutnya, perpecahan di tubuh NU itu sudah mulai terlihat saat ini. 
Penganut paham liberalisme sudah mendapat perlawanan begitu hebat dari 
kelompok konservatisme. Jika hal itu tidak mendapat tempat berkomunikasi
 yang tepat, Gus Sholah yakni prediksinya terbenarkan.



Sementara itu, menyangkut hilangnya parpol berbasis Islam, adik kandung 
Gus Dur ini mengungkapkan, aturan ambang batas yang bakal terus 
ditingkatkan pemerintah secara otomatis bakal menggilas parpol berbasis 
Islam. Hal itu bakal dipercepat dengan maraknya friksi di tubuh internal
 parpol berbasis Islam. “Mungkin satu-satunya partai berbasis Islam yang
 ada hanya PKS,” katanya.



Agar dinamika sosial politik itu tidak berakibat fatal, Gus Sholah 
berharap adanya persatuan di antara parpol berbasis Islam.



Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di 
Indonesia memaparkan gerakan terselubung untuk menjadikan Indonesia 
sebagai negara Islam. 



Editornya adalah almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bagian 
pengantar dan penutup diisi tulisan Prof Syafii Ma’arif (mantan Ketua PP
 Muhammadiyah) dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus).



Menanggapi upaya menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, Gus Sholah 
mengatakan, tak seharusnya Islam dan Pancasila dikontraskan, karena 
keduanya bisa bersinergi. 



Selain Gus Sholah, tampil sebagai pembicara dalam acara bedah buku 
tersebut dua dosen FISIP Unair, Airlangga Pribadi dan Prof Kacung 
Marijan.  





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke