Bismilahirahmanirarhiim. Hidup di dunia ini adalah sebuah proses yg berkelajutan dan tidak ada yang statis beku semua akan melebur kecualiZat ALLAH.
Kalau NU akan pecah, bukanlah berarti sebuah perbuatan dosa atau haram, tapi adalah sunnatullah, untuk mencari kebenaran.. Saya juga melihat NU akan pecah dan tidak bisa di halang2i,karena Imperialis Wahabi-salafy dari Saudi sudah lama masuk ketubuh NU dan kita bisa lihat pemimpin2nya yang menetang pemikiran2 GUS DUR; NU didirikan dulunya adalah;Untuk menetang 2 imperialis yg menjajah Indonesia. 1 Imperialis Barat atau Belanda 2 Imperialis Wahabi-salafy lewat agama Islam. Imperialis Agama wahabi sudah menyabar keseluru Asia.. Afagainistan adalah negara wahabi_salafy yang dikuasi oleh TALIBAN dan al qaida datang dari Saudi Kita lihat ulama2 wahabi Taliban sangat primitif dan kasar dlm menerapkan ajaran2 islam dan hampir sama dgn sistem KOMUNIS .yaitu anti plural, exclusive...anti Amerika dan kapitalis. Mereka menginginkan umat Islam menjadi miskin dantidak tidak ada kemerdekaan beragama, berbicara, berpakaian, dan semua di atur oleh pemeritah. President atau pemimpin dijadikan Tuhan yang tidak boleh dibantah Semua umat harus patuh dan taat.siapa2 yang menetang di angagp musuh ALLAH, dan harus diperangi. Kalau NU sekarang ini tidak membasmi kader2 Wahabi-salafy dlm beberapa tahun mendatang, maka NU akan pecah terpecah yaitu seperti GUS Salahuddin jelaskan. NU Putih yaitu Liberal yang mempertahankan NKRI dan plural dan NU Merah yaitu Imperalias wahabi-salafy yang menerapkan ajaran2 islam seperti TALIBAN dengan kekerasan atau paksaan. Jadi GUS Salahuddin sudah menarik benang merah di tengah2 warga NU ,mari kita serahkan kemabli kpd ALLAH,apakah PBNU sekrang ini melanjutkan perjuangan Pempimnan Hasym Mursyadi yang berpihak kpd wahabi-salafy atau Gus Dur yang berpihak kpd ajaran Al quran yg murni,artinya bukan mengikuti Hadist23 Budaya Arab. Salam=peace --- In [email protected], Nasrulloh Afandi <gusg...@...> wrote: > > > > http://www.dutamasyarakat.com/artikel-28954-nu-porakporanda-%EF%BF%BDparpol-islam%EF%BF%BD-musnah.html > > DUTA MASYARAKAT, 16 April 2010 > > > > Organisasi masyarakat (ormas) Islam > terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi bakal > porak-poranda. Begitu juga partai politik (parpol) berbasis Islam; > mereka bahkan disebut-sebut bakal musnah. NU dinilai bakal porak-poranda > pada 50 tahun ke depan. Sedangkan parpol berbasis Islam bakal musnah > dalam 10-15 tahun ke depan. > > > > Prediksi itu dilontarkan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH > Salahuddin Wahid saat menjadi pembicara dalam seminar dan bedah buku > Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia > yang digelar di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) > Universitas Airlangga (Unair), Rabu (14/4) lalu. > > > > Sosok yang akrab disapa Gus Sholah itu menuturkan, NU bakal mengalami > perpecahan akibat perbedaan paham antara liberalisme dan konservatisme > di internal NU. âDalam 50 tahun ke depan, perbedaan ini akan kian tajam > dan bisa jadi akan muncul NU merah dan NU putih,â ungkapnya. > > > > Menurutnya, perpecahan di tubuh NU itu sudah mulai terlihat saat ini. > Penganut paham liberalisme sudah mendapat perlawanan begitu hebat dari > kelompok konservatisme. Jika hal itu tidak mendapat tempat berkomunikasi > yang tepat, Gus Sholah yakni prediksinya terbenarkan. > > > > Sementara itu, menyangkut hilangnya parpol berbasis Islam, adik kandung > Gus Dur ini mengungkapkan, aturan ambang batas yang bakal terus > ditingkatkan pemerintah secara otomatis bakal menggilas parpol berbasis > Islam. Hal itu bakal dipercepat dengan maraknya friksi di tubuh internal > parpol berbasis Islam. âMungkin satu-satunya partai berbasis Islam yang > ada hanya PKS,â katanya. > > > > Agar dinamika sosial politik itu tidak berakibat fatal, Gus Sholah > berharap adanya persatuan di antara parpol berbasis Islam. > > > > Buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di > Indonesia memaparkan gerakan terselubung untuk menjadikan Indonesia > sebagai negara Islam. > > > > Editornya adalah almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bagian > pengantar dan penutup diisi tulisan Prof Syafii Maâarif (mantan Ketua PP > Muhammadiyah) dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). > > > > Menanggapi upaya menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, Gus Sholah > mengatakan, tak seharusnya Islam dan Pancasila dikontraskan, karena > keduanya bisa bersinergi. > > > > Selain Gus Sholah, tampil sebagai pembicara dalam acara bedah buku > tersebut dua dosen FISIP Unair, Airlangga Pribadi dan Prof Kacung > Marijan. Â > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
