Tetapi 
bagaimana dengan Saifullah Yusuf, Fauzi Bowo, Wahidi, dll yang 
nyata-nyata adalah merangkap jabatan (Ipul masih Ketua GP Ansor 
selain Wagub, Fauzi masih Ketua PWNU DKI selain Gubernur DKI, Wahidi
 masih Ketua PWNU Jabar dan anggota DPR dari PKB, dsb). Jadi gugatan
 para Kyai dan pengurus NU Jatim, bukanlah sebuah intrik politik atau
 eforia atau karena hilangnya muru'ah. tetapi mereka benar-benarĀ  mencoba
 istiqomah terhadap aturan dan substansi serta harapan agar NU benar-benar
 kembali ke Khittah 1926.


Diambil dari facee book beliau,

Muhammad A S Hikam Sebetulnya,
 saya sudah hampir yakin bahwa pengumuman mBah Sahal dan Gus 
Aqil 
Siraj tempo hari (Senin 19 April 2010) di kantor PBNU Jakarta telah
 
menyelesaikan kemelut pembentukan Pengurus PBNU hasil Muktamar ke XXXII

 di Makassar. Bagaimana tidak? Pengumuman tersebut konon sudah 
mengakomodasi
 tuntutan yang muncul setelah rapat Tim Form...atur
 di Ponpes 
Maslakul Huda, Kajen, Pati, yaitu agar Pengurus PBNU 
disusun mengikuti 
AD/ART NU. Saya menduga bahwa pengumuman di PBNU 
tersebut memang sudah 
"mematuhi" tuntutan tersebut manakala ternyata
 di dalam kepengurusan 
masa khidmat 2010-2015 itu posisi wakil Ro'is
 Aam dan Wakil Ketum 
Tanfidziah PBNU cuma masing masing satu. 
Sehingga concern banyak pihak 
yang muncul di media massa sebelumnya 
saya kira sudah terakomodasi dan 
-karenanya- polemik selesai.



Nyatanya,
 sebaliknyalah yang terjadi. Justru begitu selesai pengumuman 
hari 
Senin, esoknya dan sampai tulisan ini dibuat, protes malah 
membludak.
 Puncaknya adalah penolakan salah satu PWNU yang paling besar 
dan 
berpengaruh, yaitu Jawa Timur, terhadap pengurus baru PBNU yang 
diumumkan
 mBah Sahal dan Gus Aqil. Sebelum penolakan resmi itu 
diumumkan, 
maka KH Miftahul Achyar, yang notabene adalah Ro'is Syuriah 
PWNU 
Jatim dan anggota Tim Formaturmewakili wilayah Jawa, hari Selasa 
sudah
 woro-woro memprotes pengumuman tersebut. Esoknya, hari Rabu, 
protes
 diikuti juga oleh anggota Tim Formatur yang mewakili Indonesia 
Timur.
 Bukan itu saja. Bahkan Wakil Ketua DPD-RI yang juga pengamat NU, 
Dr.
 Laode Ida, menyuarakan kritik yang sama yakni melihat penyusunan 
pengurus
 PBNU tsb sebagai "diintervensi" oleh kekuasaan!



Terus 
terang saya sangat kaget karena rasanya baru kali ini ada kejadian
 
seperti ini dalam sejarah NU. Bukan sekali dua NU mengalami krisis, 
namun
 bahwa keputusan Ro'is Aam terpilih lantas diprotes dan ditolak 
PWNU
 terbesar, rasanya belum pernah terjadi. Ada apa ini? Apakah NU 
sudah
 benar-benar menjadi parpol semu atau berprilaku seperti parpol 
sehingga
 model tolak-menolak secara terbuka dan diketahui publik menjadi
 hal
 yang wajar? Ataukah karena memang ini zaman demokrasi sehingga 
kebiasaan
 yang lazim dipergunakan oleh para Kyai sekarang, yaitu sikap 
muru'ah,
 dikalahkan karena eforia keterbukaan? Ataukah memang sejatinya 
inilah
 dampak politisasi NU selama sepuluh tahun belakangan, sehingga 
intrik-intrik
 kepentingan politik pribadi dan kelompok dalam elite NU 
kini muncul
 dengan sangat transparan ketika kepentingan-kepentingan 
mereka tak 
terakomodasi?



Wallahu a'lam. Tapi saya masih mencoba 
khusnudz dzon kepada para 
pengritik mBah Sahal dan Gus Aqil, dengan 
mencoba melihat lagi apakah 
argumen mereka cukup kuat. Harus saya 
akui, dari segi legal formal 
maupun substansi tampaknya demikian. 
Para anggota Tim Formatur merasa di
 "fait accompli" oleh pengumuman 
hari Senin karena mereka tak ada yang 
diikutsertakan. Padahal Tim 
formatur adalah kolegial dan sebagai 
institusi yang diberi amanat 
oleh Muktamar ia berada "di atas" Rois Aam 
dan Ketum Tanfidz 
terpilih (sebagai pribadi-pribadi) pada saat membentuk
 kepengurusan 
itu. Dengan demikian pengumuman kedua pimpinan tersebut 
bukan 
sebagai Formatur, tetapi sebagai pribadi (terlepas dari status 
sebagai
 Rois Aam dan Ketum PBNU terpilih).



Berikutnya, secara 
substansi, saya coba lihat lagi personel yang ada. 
ternyata benar 
bahwa masih terdapat para politisi aktif yang ditunjuk, 
selain Pak 
As'ad yang pejabat lembaga negara yaitu Waka BIN. Jika 
demikian 
halnya, janji bahwa NU akan diceraikan dari politik praktis 
sesuai 
dengan Khittah, menjadi sah untuk diuragukan sejak awal. Saya 
masih 
bisa memahami posisi Pak As'ad karena memang tidak ada larangan 
rangkap
 jabatan itu. Tetapi bagaimana dengan Saifullah Yusuf, Fauzi 
Bowo, 
Wahidi, dll yang nyata-nyata adalah merangkap jabatan (Ipul masih 
Ketua
 GP Ansor selain Wagub, Fauzi masih Ketua PWNU DKI selain Gubernur 
DKI,
 Wahidi masih Ketua PWNU Jabar dan anggota DPR dari PKB, dsb). Jadi 
gugatan
 para Kyai dan pengurus NU Jatim, bukanlah sebuah intrik politik 
atau
 eforia atau karena hilangnya muru'ah. tetapi mereka benar-benar 
mencoba
 istiqomah terhadap aturan dan substansi serta harapan agar NU 
benar-benar
 kembali ke Khittah 1926.



Jika mBah Sahal dan Gus Aqil 
mengabaikan protes dan penolakan ini tanpa 
didasari argumen dan 
bukti-bukti yang kuat, saya sangat khawatir bahwa 
NU akan mengalami 
kemarau panjang dan paceklik kepemimpinan yang punya 
otoritas dan 
kewibawaan, baik aturan maupun kharisma keulamaan. Sebelum 
semua 
menjadi bubur, lebih baik dilakukan tabayyun diantara mereka 
berdua 
dan Tim Formatur serta para alim Ulama lainnya. Sekarang Habib 
Luthfi
 dari Pekalongan sudah resmi mundur dari posisi Ro'is Syuriah 
dengan
 alasan kesibukan beliau. Tapi betulkah alasan itu? Saya sungguh 
ingin
 percaya, tetapi kalau kemelut ini ternyata serius, maka 
jangan-jangan
 langkah sang Habib akan diikuti yang lain. Inna Lillahi wa
 Inna 
Ilaihi Roji'uun....














 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke