Budaya istikharah oleh para sesepuh NU dalam mengambil keputusan penting 
seperti susunan pengurus ini, perlu dihidupkan kembali, dengan harapan akan 
selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Semoga segera mendapatkan penyelesaian yang baik dan diridloi Allah. Amin.


--- Pada Kam, 22/4/10, Owfiq <[email protected]> menulis:

Dari: Owfiq <[email protected]>
Judul: [kmnu2000] Tirani Perseteruan PBNU(AS Hikam)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 22 April, 2010, 8:48 PM







 



  


    
      
      
      

 Tetapi 

bagaimana dengan Saifullah Yusuf, Fauzi Bowo, Wahidi, dll yang 

nyata-nyata adalah merangkap jabatan (Ipul masih Ketua GP Ansor 

selain Wagub, Fauzi masih Ketua PWNU DKI selain Gubernur DKI, Wahidi

 masih Ketua PWNU Jabar dan anggota DPR dari PKB, dsb). Jadi gugatan

 para Kyai dan pengurus NU Jatim, bukanlah sebuah intrik politik atau

 eforia atau karena hilangnya muru'ah. tetapi mereka benar-benar  mencoba

 istiqomah terhadap aturan dan substansi serta harapan agar NU benar-benar

 kembali ke Khittah 1926.



Diambil dari facee book beliau,



Muhammad A S Hikam Sebetulnya,

 saya sudah hampir yakin bahwa pengumuman mBah Sahal dan Gus 

Aqil 

Siraj tempo hari (Senin 19 April 2010) di kantor PBNU Jakarta telah

 

menyelesaikan kemelut pembentukan Pengurus PBNU hasil Muktamar ke XXXII



di Makassar. Bagaimana tidak? Pengumuman tersebut konon sudah 

mengakomodasi

 tuntutan yang muncul setelah rapat Tim Form...atur

 di Ponpes 

Maslakul Huda, Kajen, Pati, yaitu agar Pengurus PBNU 

disusun mengikuti 

AD/ART NU. Saya menduga bahwa pengumuman di PBNU 

tersebut memang sudah 

"mematuhi" tuntutan tersebut manakala ternyata

 di dalam kepengurusan 

masa khidmat 2010-2015 itu posisi wakil Ro'is

 Aam dan Wakil Ketum 

Tanfidziah PBNU cuma masing masing satu. 

Sehingga concern banyak pihak 

yang muncul di media massa sebelumnya 

saya kira sudah terakomodasi dan 

-karenanya- polemik selesai.



Nyatanya,

 sebaliknyalah yang terjadi. Justru begitu selesai pengumuman 

hari 

Senin, esoknya dan sampai tulisan ini dibuat, protes malah 

membludak.

 Puncaknya adalah penolakan salah satu PWNU yang paling besar 

dan 

berpengaruh, yaitu Jawa Timur, terhadap pengurus baru PBNU yang 

diumumkan

 mBah Sahal dan Gus Aqil. Sebelum penolakan resmi itu 

diumumkan, 

maka KH Miftahul Achyar, yang notabene adalah Ro'is Syuriah 

PWNU 

Jatim dan anggota Tim Formaturmewakili wilayah Jawa, hari Selasa 

sudah

 woro-woro memprotes pengumuman tersebut. Esoknya, hari Rabu, 

protes

 diikuti juga oleh anggota Tim Formatur yang mewakili Indonesia 

Timur.

 Bukan itu saja. Bahkan Wakil Ketua DPD-RI yang juga pengamat NU, 

Dr.

 Laode Ida, menyuarakan kritik yang sama yakni melihat penyusunan 

pengurus

 PBNU tsb sebagai "diintervensi" oleh kekuasaan!



Terus 

terang saya sangat kaget karena rasanya baru kali ini ada kejadian

 

seperti ini dalam sejarah NU. Bukan sekali dua NU mengalami krisis, 

namun

 bahwa keputusan Ro'is Aam terpilih lantas diprotes dan ditolak 

PWNU

 terbesar, rasanya belum pernah terjadi. Ada apa ini? Apakah NU 

sudah

 benar-benar menjadi parpol semu atau berprilaku seperti parpol 

sehingga

 model tolak-menolak secara terbuka dan diketahui publik menjadi

 hal

 yang wajar? Ataukah karena memang ini zaman demokrasi sehingga 

kebiasaan

 yang lazim dipergunakan oleh para Kyai sekarang, yaitu sikap 

muru'ah,

 dikalahkan karena eforia keterbukaan? Ataukah memang sejatinya 

inilah

 dampak politisasi NU selama sepuluh tahun belakangan, sehingga 

intrik-intrik

 kepentingan politik pribadi dan kelompok dalam elite NU 

kini muncul

 dengan sangat transparan ketika kepentingan- kepentingan 

mereka tak 

terakomodasi?



Wallahu a'lam. Tapi saya masih mencoba 

khusnudz dzon kepada para 

pengritik mBah Sahal dan Gus Aqil, dengan 

mencoba melihat lagi apakah 

argumen mereka cukup kuat. Harus saya 

akui, dari segi legal formal 

maupun substansi tampaknya demikian. 

Para anggota Tim Formatur merasa di

 "fait accompli" oleh pengumuman 

hari Senin karena mereka tak ada yang 

diikutsertakan. Padahal Tim 

formatur adalah kolegial dan sebagai 

institusi yang diberi amanat 

oleh Muktamar ia berada "di atas" Rois Aam 

dan Ketum Tanfidz 

terpilih (sebagai pribadi-pribadi) pada saat membentuk

 kepengurusan 

itu. Dengan demikian pengumuman kedua pimpinan tersebut 

bukan 

sebagai Formatur, tetapi sebagai pribadi (terlepas dari status 

sebagai

 Rois Aam dan Ketum PBNU terpilih).



Berikutnya, secara 

substansi, saya coba lihat lagi personel yang ada. 

ternyata benar 

bahwa masih terdapat para politisi aktif yang ditunjuk, 

selain Pak 

As'ad yang pejabat lembaga negara yaitu Waka BIN. Jika 

demikian 

halnya, janji bahwa NU akan diceraikan dari politik praktis 

sesuai 

dengan Khittah, menjadi sah untuk diuragukan sejak awal. Saya 

masih 

bisa memahami posisi Pak As'ad karena memang tidak ada larangan 

rangkap

 jabatan itu. Tetapi bagaimana dengan Saifullah Yusuf, Fauzi 

Bowo, 

Wahidi, dll yang nyata-nyata adalah merangkap jabatan (Ipul masih 

Ketua

 GP Ansor selain Wagub, Fauzi masih Ketua PWNU DKI selain Gubernur 

DKI,

 Wahidi masih Ketua PWNU Jabar dan anggota DPR dari PKB, dsb). Jadi 

gugatan

 para Kyai dan pengurus NU Jatim, bukanlah sebuah intrik politik 

atau

 eforia atau karena hilangnya muru'ah. tetapi mereka benar-benar 

mencoba

 istiqomah terhadap aturan dan substansi serta harapan agar NU 

benar-benar

 kembali ke Khittah 1926.



Jika mBah Sahal dan Gus Aqil 

mengabaikan protes dan penolakan ini tanpa 

didasari argumen dan 

bukti-bukti yang kuat, saya sangat khawatir bahwa 

NU akan mengalami 

kemarau panjang dan paceklik kepemimpinan yang punya 

otoritas dan 

kewibawaan, baik aturan maupun kharisma keulamaan. Sebelum 

semua 

menjadi bubur, lebih baik dilakukan tabayyun diantara mereka 

berdua 

dan Tim Formatur serta para alim Ulama lainnya. Sekarang Habib 

Luthfi

 dari Pekalongan sudah resmi mundur dari posisi Ro'is Syuriah 

dengan

 alasan kesibukan beliau. Tapi betulkah alasan itu? Saya sungguh 

ingin

 percaya, tetapi kalau kemelut ini ternyata serius, maka 

jangan-jangan

 langkah sang Habib akan diikuti yang lain. Inna Lillahi wa

 Inna 

Ilaihi Roji'uun....



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke