Ini wawancara dengan Gus Mus pada 15 Maret lalu, sebelum Muktamar. Semoga Gus Mus setelah sekarang manjabat sebagai Wakil Rais 'Am berhasil men-supremaikan Syuriah, dan menjauhkan NU dari politik praktis.
http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=6&id=1124 Gus Mus: Harus ada Peralihan Nilai di NU 15 Maret 2010 20:23:52 | Silaturahmi sembari wawancara rasanya begitu teduh dihadapan KH Dr Mustofa Bisri. Kyai-seniman ini memang laiknya seorang “begawan” yang arif dan berwibawa, serta tanpa kesan angker. Usai maghrib, MataAir menemui tokoh nasional ini di rumahnya yang bersahaja di Leteh, Rembang. Selama hampir satu jam, wawancara berlangsung khidmad dan lancar seputar dunia ke-NU-an. Berikut wawancara selengkapnya. Belakangan banyak kalangan melihat NU dekat dengan politik. Bagaimana pendapat Anda? Di khittahnya kan sudah jelas bahwa NU itu organisasi agama dan kemasyarakatan, bukan organisasi politik. Tidak ada kaitan organisatoris dengan organisasi politik manapun. NU menghormati bahwa pribadi-pribadi di NU adalah warga negara yang berhak berpolitik. Jadi, kalau ada warga NU yang berpolitik, ya silahkan. Tapi, jangan membawa institusi NU. Kalau pribadinya, silahkan. Kalau Anda mau nyalon presiden, gubernur, bupati, ya silahkan. Tapi, kalau Anda kondo-kondo (bilang-bilang) saya ini calonnya NU, itu tidak benar. Semua ada aturan mainnya. Kalau ada orang NU jadi pengurus partai, ya jangan jadi pengurus NU. Harus milih salah satu. Supaya tidak bias. Ini orang kok neng kono neng kene (di sini di sana). Ada yang bilang bahwa fungsi Syuriyah tidak begitu efektif? Kalau kita lihat dari sejarahnya, NU itu organisasinya kyai-kyai pesantren, santri-santrinya dan pengikut-pengikutnya. Makanya, namanya Nahdhatul Ulama. Struktur organisasi NU juga tidak seperti yang lain. Strukturnya itu model pesantren. Syuriyah itu kyai. Tanfidziyah itu lurah pondok. Gampangnya begitu. Tanfidiyah itu gampangannya kongkonane (pesuruhnya) syuriyah. Dulu, pertamakali Rois Akbar-nya Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari sendiri. Tanfidziyahnya “hanya” Hasan Dipo. Hasan Dipo bisa bahasa Belanda, bisa ngurus sana-sini dengan Belanda. Seperti hanya kyai di sini trus ada lurah pondok. Kyai yang menentukan apa-apa dan yang melaksanakan lurah pondok. Nah, ketika NU dipaksa menjadi partai, tanfidziyah menjadi dominan. Karena pekerjaannya sudah masuk politik. Kyai hanya dimintai restu saja. Kyai, ya sudah apkie piye (bagusnya gimana). Lama-lama, ini fungsi syuriyah berkurang, trus syuriyah dianggap kayak legislatif. Padahal tidak seperti itu. Orang sering mengatakan bahwa tanfidziyah itu eksekutif dan syuriyah itu legislatif. Tidak begitu. Syuriyah itu kyai, tanfidziyah lurah pondok. Kalau yang di pondok, ya pasti tahu. Jadi, yang bikin kebijaksanaan, mengarahkan kesana-kemari itu syuriyah. Yang melaksanakan tanfidziyah. Tetapi, ketika tanfidzyah semakin kuat, seperti saat tanfidziyah dipegang Kyai Idham Khalid dan dia juga kyai, dan selanjutnya dipegang Gus Dur yang level kekyaiannya juga enggak kalah dengan yang di syuriyah, ini yang akhirnya jadi bias. Mestinya yang kayak gitu itu yang di syuriyah. Lalu? Kemudian, ketika pers menyebut-nyebut orang pertama di NU itu dengan istilah ketua umum, orang NU melok-melok. Padahal itu keliru. Harus dijelaskan bahwa pers itu keliru ketika menyebut orang pertama itu ketua tanfidziyah. Keliru ketika menyebut imamnya NU itu ketua tanfidiyah. Pers kan gitu, yang geger itu orang pertama itu tanfidziyah. Padahal, orang pertama itu rais ‘am. Imamnya rais ‘am. Tanfidziyah itu hanya lurah pondok. Kalau enggak ada pekerjaan dari syuriyah, ya tanfidziyah enggak ada kerjaannya. Tapi, kita termakan oleh opini yang dibikin pers. Seolah-olah ada anggapan bahwa orang pertma di NU itu tanfidziyah. Namanya saja tanfidziyah, dia hanya pelaksana saja. Jadi, orang pertama di NU sekarang ini Kyai Sahal Mahfudz, bukan KH Hasyim Muzadi. KH Hasyim Muzadi hanya melaksanakan kebijaksanaan yang digariskan Kyai Sahal dan syuriyah. Tapi yang terjadi kan sebaliknya? Iya, itu karena apa? Kekeliruan persepsi awal yang dibarengi juga opini-opini yang dibikin oleh pers. Orang lain trus do ngandel (pada percaya). Jadi, seolah-olah kita sendiri yang punya organisasi malah kalah. Sekarang bagaimana visi pendidikan NU ke depan? Menurut saya, pendidikan nasional harusnya merupakan gabungan dari sistem pendidikan pesantren dan sistem pengajaran sekolah-sekolah formal. Di sini, dirancukan antara pendidikan yang bahasa Arabnya tarbiyah dengan pengajaran yang namanya ta’lim. Ada tarbiyah dan ada ta’lim. Mestinya yang ideal tarbiyah wa ta’lim. Anak didik itu ya dia diajar ya dididik. Lha, kekuatan pendidikan seperti itu ada di pesantren. Tapi, pengajarannya kurang. Tidak menggunakan metode dedaktif dan segala macam. dan yang bagus pengajaran itu di sekolah formal. Mulai SD, SMP, dan seterusnya itu bagus. Pakai kurikulum bagus dan tertib. Cuma, sayang di sekolah hanya ada pengajaran saja, enggak ada pendidikannya. Namanya pendidikan kok enggak ada pendidikannya, kan lucu. Nah, idealnya campur saja sistem pendidikan pesantren dengan sekolah formal. Itu yang harus dilakukan. Tidak usah ada dikhotomi ini sekolah agama, ini sekolah umum. Itu gaweane (buatannya) Belanda. Kita harus memecahkan itu, melawan itu, mengusulkan secara kongkrit kepada pemerintah ini lho konsep paling ideal untuk konsep pendidikan nasional kita. Sekarang kan yang agama menginduk di Depag dan yang umum di Diknas? Ya itu, kalau kita diam saja selamanya akan begitu. Sampai kiamat kurang dua hari. Kalau kita mengusulkan itu kan bisa dipikirkan bersama-sama. Itu kenapa yang agama dan pesantren urusannya Depag. Yang formal itu kok di Diknas. Kenapa? Karena mereka termakan dikhotomi bikinan kolonial Belanda. Mereka menerima bahwa ada ilmu umum dan ada ilmu agama. Padahal dalam konsep Islam itu tidak ada itu umum dan agama. Semuanya fardu. Ada fardu ‘ain ada yang fardu kifayah. Bagaimana soal ekonomi NU ke depan? Ini karena tidak mendapatkan perhatian seperti yang diamanatkan khittah. Harus disadari bahwa orang NU itu kebanyakan dari golongan yang melarat-melarat. Lha, menaikkan martabat mereka itu bagaimana? Ini yang perlu belajar. Maka, ke depan itu perlu menyapa tokoh-tokoh NU yang di luar. Banyak tokoh-tokoh NU yang ahli ekonomi atau ahli pertanian. Tetapi, tidak kita sapa. NU semestinya punya data base tentang tokoh-tokoh NU itu. Sekarang, kita memerlukan apa untuk meningkatkan ekonomi masyarakat? Siapa yang bisa diajak untuk ini? Kayaknya kok belum berjalan? Iya, karena kita belum menjadi organisasi yang organisatoris. Belum menjadi organisasi yang modern. Masih organisasi yang kelakuannya masih organisasi jamaah. Sebetulnya, jamaah itu sudah ada setelah tahun 1926. Dan setelah tahun 1926 di-jam’iyah-kan. Mestinya setelah jam’iyah, ya harus kelakuan jam’iyah. Dulu NU terkenal dengan kemandiriannya? Itulah setelah saya amati hilangnya kemandirian itu paska NU menjadi partai politik. Dulu, NU sebelum di politik ada yang namanya syahriyah dan saniyah. Warga NU saat itu urunan tiap bulan. Tiap tahun ada urunan lagi namanya saniyah. Begitu masuk di partai, memang NU sukses meraih nomor 3 dan kita punya anggota DPR banyak sekali sampai ke bawah. Trus, mulai itu warga NU tidak usah urunan. Dibayari anggota fraksi saja. Dulu, anggota fraksi partai nyokong NU. Tetapi, ketika NU enggak jadi partai, enggak ada yang nyokong NU lagi. Syahriyah dan saniyah ini sudah kadung hilang. Politiklah yang menghilangkan itu. Bagaimana mengembalikan kemandirian itu? Nah, itu tergantung pengurusnya bagaimana. Makanya, organisasinya harus rapi, diatur sedemikian rupa sampai ke bawah-bawah mulai ranting. Sekarang saja,. kartu anggota masih jadi musykilah. Bagaimana dengan isu liberalisme dan radikalisme di NU ? NU itu kan sudah merasa mapan. Karena merasa mapan, trus sudah enggak ngopeni warganya. Sehingga sangat rentan anggotanya lari kesana kemari. Dulu, ada lailatul ijtimak. Bagaimana orang-orang NU kumpul untuk bermusyawah memecahkan masalah yang dihadapi bersama (biasanya tiap bulan pada malam 14, warga NU berkumpul di pesantren atau di suatu tempat bersama kyai, pengurus dan warga sekitar, red). Sekarang, lailatul ijtimak digunakan organisasi Islam lain. Ini karena kita sudah merasa mapan. Dan biasanya, orang yang merasa mapan itu tinggal ngantuke tok. Soal sih visi budaya NU? Itu sudah jelas bahwa kita mengikuti Walisongo. Walisongo itu tidak menabrak tradisi, tidak menabrak budaya. Justru menggunakan budaya itu untuk dakwah dan segala macamnya. Kalau kita perhatikan, Walisongo itu berdakwah sampai hasilnya yang sekarang kita rasakan. Mayoritas penduduk Indonesia yang bergama Islam tidak lepas dari peran dakwahnya Walisongo. Walisongo menggunakan kearifan dan budaya untuk berdakwah. Seperti Sunan Kalijogo bikin wayang untuk mengajak masyarakat memahami nilai-nilai mulia keagamaan. Sunan Bonang bikin boning dan cenong yang dipukul neng nong neng gong. Apa yang perlu segera dilakukan NU? Ya noto awak. Itu yang sangat mendesak. Jadi organisasi yang betul-betul organisasi. Supaya semua program-progamnya bisa segera dilaksanakan. Progamnya apik-apik terus setiap muktamar. Tetapi, pelaksanaannya yang tidak ada. Itu kenapa? Karena organisasinya belum sebenar-benar organisasi. Masih model jamaah. Kalau sudah seperti organisasi, taruhlah seperti HMI atau Golkar, maka akan luar biasa. Soal isu money politic di muktamar Makasar nanti? Money politic dikalangan orang NU menurut survei 40% setuju. Kenapa money politic menemukan lahan di NU? Karena di NU sejak dulu ada budaya salaman templek. Jadi, kalau ada orang nyalami templek itu halal. Budaya salaman templek santri ke kyainya. Kalau ada politisi mau nyalon lalu salaman templek, ya dianggap podo wae, podo-podo salaman templeke. Artinya, enggak asing orang terima amplop. Orang itu kalau sudah tidak percaya pada dirinya sendiri, ia akan bayar kalau ia ingin sesuatu. Itu kan masalah mental. Jangan salahkan yang mau menerima, wong salaman templek kok gak ditompo piye, wong gak jaluk. Yang memberi dengan tujuan itu ngasihnya ikhlas atau enggak. Kalau ngasihnya itu karena minta dukungan, itu artinya apa? Yang ngasih uang untuk minta dukungan itu tidak percaya diri. Sampeyan bayar saya untuk mendukung sampeyan. Berarti sampeyan tidak percaya kemampuan diri sampeyan sendiri. Kalau percaya kemampuan diri sendiri ngapain bayar-bayar. Dan biasanya jabatan yang diinginkan itu dianggap sebagai lahan. Ini kan bisa merusak NU? Ya kalau enggak punya rasa amanah, tanggungjawab, ya apa saja terjadi. Karakter, akhlak dan mental yang menentukan. Makanya, harusnya ada pergeseran nilai. Itulah yang seharusnya menjadi pemikiran NU, bagaimana mentalitas ini kok bisa terjadi dan sampai mewabah Ini yang harus difikirkan sebagai organisasi keagamaan yang mengurusi moral-spiritual itu sangat penting. {mz} ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
