Calon Indenpenden Versus Calon Partai dalam Pilkada Surabaya Coblosan Walikota Surabaya yang sudah makin dekat memicu persaingan antar kubu lima kandidat semakin panas. Aksi dukung pun juga mewarnai di dunia maya. Situs Surabaya.detik.com dan Situs Beritajatim.com, mencoba menggali dukungan pembaca terhadap munculnya lima pasangan yang sudah blusukan ke kampung dan komunitas untuk mendulang simpati.
Para pembaca saling berlomba memberikan dukungan kepada jagonya masing-masing. Masing-masing kandidat suaranya saling mengejar setiap harinya. Pantauan polling yang dibuka beritajatim.com sejak Tanggal 8 April 2010 sejak dibuka nya polling masih dimenangkan oleh pasangan dari jalur independen, Fitradjaja-Naen Soeryona. Dari 2.618 suara, Fitra penulis dari buku NU YOU KNOW, yang dikenal memiliki kedekatan dengan, Sultan Hamekubuwono X, Ketua Umum PKNU Choirul Anam, Khofifah Indarparawangsa serta beberapa Elemen Pro Demokrasi ini memperoleh dukungan 30,75%. Sedang di Surabaya.detik.com, terjadi saling menggeser antara pasangan dari jalur independen, Fitradjaja-Naen Soeryona, dengan dua Calon Incumbent Arif Afandi yang berpasangan dengan Adies Kadir dan Bambang DH yang berpasangan dengan Tri Rismaharini. Pada saat berita ini ditulis jam 16.00 Dari 1.237 suara, Arif Afandi-Adies Kadir » 30.19% [374] Tri Rismaharini-Bambang DH » 28.49% [353] Fitradjaja-Naen Soeryona » 29.86% [370] Melihat Polling Sementara diatas, ada kecenderungan menguatnya trend Independen, meskipun polling tersebut tidak bisa dianggap mewakili suara masyarakat sebenarnya, kelihatannya warga Surabaya sudah ada yang berani memilih alternative calon selain yang di dukung oleh Partai, sabagai salah satu ukurannya adalah dukungan sebanyak sekitar 140.000 KTP plus surat dukungan yang tertandantangi, untuk Kota Surabaya adalah Cukup Fenomenal, pada hal dari Sisi Populis sosok Fitra Djaya adalah sosok yang sangat tidak populis dikalangan para politisi dan bahkan warga surabaya. Sosok Fitra Djaya yang juga di kenal sebagai santri dan murid dari Gus Dur hanyalah seorang sosok yang Pro Demokrasi yang bergerak secara moral melawan ketidak adilan dengan melakukan pendampingan-pendampingan di Jawa Timur termasuk Kota Surabaya, tanpa media, tanpa kata seperti apa yang dilakukan oleh sang gurunya pada awalnya perjuangannya. Penguatan atas suara Polling sementara diatas. bisa jadi di akibatkan karena para Calon Walikota Incumbent yang di dukung Partai telah lupa atas Janji mereka, Partai Pendukung yang mengusungnya juga masih ingkar atas janjinya, janji-janji Anggota DPRD yang berasal dari Partai Pendukung yang kebanyakan masih belum dapat direalisasikan, sebagai contoh yang mungkin ini sangat urgen bagi masyarakat Surabaya. Pertama adalah tentang Keberadaan Surat IJO di Surabaya, pada PilCaleg kemarin hampir semua caleg berjanji akan menyelesaikan Surat Ijo, pada kenyataannya setelah mereka menjadi anggota DPRD Surabaya seakan Lupa akan Janjinya, padahal pada saat yang sama Partai mereka pastilah akan berkeinginan untuk memenangkan Pemilihan Walikota. Nah, setelah partai-partai mengusung Cawali masing-masing, bergulirlah kembali jualan Surat Ijo yang belum pernah diperjuangkan secara maksimal oleh Partai pengusung di tingkat DPRD, kedua, tentang Keberadaan Pasar Tradisional, persoalan ini tentu sangat berkaitan dengan Calon Incumbent dan atau Partai Pengusungnya, di Surabaya sudah ada sekitar 500 Pasar Modern, tanpa di atur dengan sebuah regulasi yang terukur, tentu ini akan ber-efek pada keberadaan Pasar Tradisional yang sudah ada, siapa yang bertanggung jawab ? tentulah Pemerintah Kota dan DPRD. Yang pada saat bersamaan mereka berkampanye akan melindungi keberadaan Pasar Tradisional. Dari 2 (dua) masalah diatas, tampaknya sudah cukup mempengaruhi masyarakat Surabaya atau minimal masyarakat pembaca untuk memilih alternative lain, bila masyarakat surabaya sudah mulai tidak pragmatis, calon Independen mungkin memiliki kans yang sama dengan calon yang diusung oleh Partai, tetapi bila sebaliknya mungkin yang terjadi akan menjadi kekalahan dari Calon Independen. Apalagi, Pasangan dari Independen Fitra-Naen adalah cukup unik, karena mereka hanya dibiayai oleh “Urunan” bersama-sama dengan elemen masyarakat pengusungnya yang rata-rata dari golongan menengah kebawah. Akhir kata “Kemenangan hanya di tangan Allah SWT semata” siapapun yang dimenangkan dan atau di pilih oleh Allah SWT untuk memimpin Kota Surabaya, hanya Allah SWT sajalah yang tahu maksud dan tujuannya. http://polhukam.kompasiana.com/2010/04/27/calon-indenpenden-versus-calon-partai-dalam-pilkada-surabaya/ BLOK-BLOK CALON WALIKOTA SURABAYA http://rismabambang.com/ http://walikotaku.blogdetik.com/ http://walikotarakyat.com/ http://forummasyarakatsurabaya.vox.com/ http://www.youtube.com/watch?v=weNe2SBHUhM [Non-text portions of this message have been removed]
