Pendidikan Islam Harus Belajar dari Pesantren 
Rabu, 19 Mei 2010 09:27 
Yogyakarta, NU Online
Pendidikan Islam di Indonesia harus belajar dari 
pesantren. Selain pesantren telah terbukti berratus-ratus tahun 
menyiapkan para kader ulama dan cendekiawan muslim, pesantren juga tidak pernah 
mengajarkan radikalisme yang justru memperpuruk citra Islam.

Demikian disampaikan oleh DR H Affandi Mochtar MA, pejabat Depag RI yang juga 
wakil sekjen PBNU.

Pendidikan Islam di Indonesia sekarang ini, katanya, tidak seperti masa 
lalu. Jika pada masa lalu pendidikan Islam masih out of the ring, di luar 
sistem, maka sekarang pendidikan Islam sudah masuk dalam 
sistem, sudah termasuk dalam program pembangunan negeri ini.
 
Dalam acara penutupan workshop perpustakaan yang diselengarakan Dikti 
Depag RI, Ahad (16/5) lalu di Hotel Syahid Yogyakarta Affandi Mochtar 
menjelaskan panjang lebar mengenai peta pendidikan Islam Indonesia di 
era kontemporer. Menurutnya, pendidikan Islam bisa dipetakan menjadi 
tiga ranah besar.

Pertama, pendidikan Islam di sekolah dan perguruan tinggi umum. Ini 
sesungguhnya bukan wilayah pendidikan agama yang berada di bawah naungan atau 
kementrian agama. Pada ranah ini ada beberapa persoalan.

“Di antaranya ada yang menengarai bahwa pendidikan agama yang 
diselenggarakan oleh sekolah umum dan perguruan tinggi umum memiliki 
sumbangan bagi munculnya radikalisme agama dan kekerasan atas nama 
agama. Saya tidak tahu bagaimana tingkat kebenaran anggapan tersebut,” 
katanya.

Menurutnya, anggapan itu ada. Karena soal itu dan soal-soal lainnya maka 
pendidikan Islam di umum juga menjadi wilayah tanggungjawab kementrian 
agama. 

Kedua, pendidikan Islam di madrasah. Ketiga, pendidikan Islam melalui 
Sekolah Diniyah dan Pesantren.

“Dari ketiga ranah tadi, nampaknya ada kontestasi antara perguruan 
tinggi agama Islam dengan pendidikan pesantren. Misalnya saja, pada 
kasus bahtsul masail, masyarakat masih percaya dalam hal ini, pada 
lulusan pesantren-pesantren tradisional, dari pada lulusan perguruan 
tinggi Islam, apalagi umum. Dalam hal ini lulusan perguruan tinggi Islam masih 
dipertanyakan kapasitasnya,” tambahnya.

Selain Affandi Mochtar, narasumber lain yang hadir pada acara ini adalah Prof 
DR KH Machasin MA, pejabat Depag RI yang juga Rais Syuriyah PBNU 
dan utusan dari berbagai perpustakaan PTAI se-Indonesia, baik negeri 
maupun swasta.


      

Kirim email ke