Menunjukkan kebodohan intelijen ataukah proyek diskriminasi baru? 

Mencari pembenaran atas tindakan berdasarkan issue terror


Tidak Merdeka di Hari Kemerdekaan Amerika 
Sunday, 04 July 2010 22:33 
 
Muslim dan bernama Arab dilarang terbang, keturunan Latin atau sekedar
berwajah Latin dicegat polisi. Itukah namanya merdeka?!



Hidayatullah.com--Tanggal 4 Juli adalah hari kebanggaan warga Amerika
Serikat, karena tanggal itu diperingati sebagai hari kemerdekaan negara
yang mengaku sebagai "great country". Tapi tahukah Anda, sebagian
warganya justru tertindas, hanya karena ia muslim, memiliki nama berbau
Arab dan berasal dari kaum minoritas.

Tanggal empat Juli ini--ketika orang Amerika berbondong-bondong menuju
bandara udara dan jalan-jalan raya kita, agar bisa bertemu dengan
keluarga untuk pesta barbekyu dan kembang api--aku akan kesulitan untuk
fokus bersenang-senang. Pikiranku dikacaukan dengan bayangan sebagian
penduduk AS yang takut untuk bepergian. Tulis Ramona Ripston, Direktur
Eksekutif American Civil Liberties Union of Southern California,
mengawali artikelnya yang dimuat di Huffington Post awal bulan ini.

Mereka takut, karena sebagian pemerintah Federal dan sebagian pemerintah
negara bagian, tampaknya berketetapan untuk menjadikan bepergian di
negara AS sebagai sebuah kejahatan bagi kaum minoritas. Mereka, bisa
jadi dilarang terbang naik pesawat atau ditahan ketika berkendaraan
melintasi perbatasan negara bagian.

Di bandara Long Beach, California, seorang mahasiswi berusia 28 tahun
dan telah menikah, Halime Sat, akan naik pesawat menuju Oakland,
California. Tapi ia tidak diperbolehkan masuk. Sat, seorang penduduk
Corona, California, tiba-tiba dimasukkan dalam daftar larangan terbang
pemerintah. Padahal dia tidak memiliki catatan kriminal, tidak juga
terkait organisasi yang diharamkan AS di mana pun di dunia ini.
Satu-satunya "kejahatan" yang dilakukan oleh warga negara Jerman yang
menikahi seorang warga AS itu adalah: terbang sebagai seorang muslim.

Halime Sat tidak sendiri, setidaknya ada 9 orang lain yang senasib
dengannya. Bersama-sama dengan American Civil Liberties Union (ACLU),
mereka mengajukan tuntutan hukum pada Rabu 30 Juni lalu.

Menurut laporan Wired, mereka yang mengajukan tuntutan hukum bersama
Halime Sat adalah sebagai berikut:

* Adama Bah, 22, perempuan, warga negara Guinea yang diperbolehkan
tinggal di New York dengan status pengungsi. Ia dilarang terbang dari
AS.

* Mohamed Sheikh Abdirahman Kariye, 49, imam di Oregon, menjadi warga AS
lewat naturalisasi. Ia dilarang terbang ke Dubai, tempat di mana
putrinya tinggal.

* Ayman Latif, 32, warga AS, veteran marinir yang cacat dan tinggal di
Mesir. Ia ditolak terbang dari Mesir menuju AS untuk pemeriksaan medis.

* Nagib Ali Ghaleb, 39, warga AS, harus terdampar di Yaman karena tidak
bisa pulang ke California setelah mengunjungi keluarganya di sana.

* Samir Mohamed Ahmed Mohamed, 29, warga AS, keadaannya sama persis
seperti Nagib Ali Ghaleb.

* Abdullatif Muthanna, 29, warga AS, senasib dengan Nagib Ali Ghaleb dan
Samir Mohamed, bedanya ia berasal dari New York.

* Saleh Omar, 35, pemukim sah di AS, tidak bisa kembali ke Amerika
setelah mengunjungi saudaranya di Yaman.

* Steven Washburn, 54, warga negara dan veteran Angkatan Udara AS. Ia
tidak diperbolehkan terbang ke AS dari Inggris.

* Raymond Earl Kneable IV, 29, warga dan veteran Angkatan Darat AS. Ia
melakukan perjalanan dari AS menuju Kolumbia untuk menikah dan
mengunjungi saudaranya. Malangnya, dia tidak bisa pulang kembali ke
California karena dilarang terbang.

Jangan ditanyakan kepada mereka mengapa tidak bisa bepergian, karena
mereka juga tidak tahu sebabnya. Ketika mereka bertanya kepada
Departemen Keamanan Dalam Negeri dan pihak Keamanan Transportasi, tidak
ada yang memberi penjelasan apalagi menjawab pertanyaan mereka.

Ben Wizner, pengacara yang mewakili ACLU dalam kasus ini, yakin bahwa
tuntutan hukum yang diajukannya bersama para penggugat adalah untuk yang
pertama kalinya menguji kewenangan hukum pemerintah dalam memberlakukan
larangan terbang. Meskipun sebelumnya, kasus seperti itu telah
berulangkali diajukan ke pengadilan oleh orang-orang yang harus melewati
pemeriksaan berat sebelum terbang.

Dalam tuntutan hukum itu dimasukkan nama Jaksa Agung Eric Holder,
Direktur FBI Robert Mueller III, dan Direktur Pusat Skrining Teroris
Timothy Healy. Selain menggugat ketiga orang tersebut, penggugat juga
menuntut agar dihapuskan namanya dari daftar hitam larangan terbang
pemerintah dan menuntut agar dilaksanakan dengar pendapat, supaya mereka
dapat mengkonfrontasi semua bukti yang memberatkan di pengadilan.

Dalam laporan yang dirilis akhir Juni itu, Wired menulis, Departemen
Kehakiman tidak merespon saat dimintai komentarnya.

Daftar larangan terbang yang sekarang diadopsi dari daftar yang dibuat
pascaserangan 9/11 tahun 2001, didalamnya terdapat sekitar 8.000 nama.
Kurang lebih 20.000 nama lainnya masuk dalam daftar "terpilih", yaitu
daftar orang-orang yang harus melewati pemeriksaan keamanan ekstra di
bandara udara.

Ketika warga muslim seperti Halime Sat dan kawan-kawan dilarang naik
pesawat, orang-orang keturunan Latin harus dag-dig-dug selama
perjalanannya lewat darat.

Begitu khawatirnya ACLU dengan minoritas Latin itu, sampai-sampai mereka
membuat buku saku berisi panduan, apa yang harus dan tidak boleh
dilakukan selama perjalanan. Bayangkan, penduduk sebuah negara yang
mengaku sangat menjunjung tinggi HAM dan kemerdekaan harus diberi
"travel alert" agar berhati-hati ketika melakukan perjalanan darat di
dalam negeri.

ACLU membagi-bagikan buku saku yang ditulis dalam bahasa Spanyol dan
Inggris itu kepada orang-orang Latin (sebenarnya bukan hanya untuk orang
Latin saja). Mereka diajari untuk berhati-hati ketika berada di Arizona.
Mengapa Arizona? Ada apa dengan Arizona?

Selasa 13 April 2010, legislator Arizona meloloskan SB 1070,
Undang-Undang Anti-Imigrasi yang paling keras.

Menurut Ramona Ripston dalam tulisannya, polisi di Arizona diberikan
kewenangan yang luas dan tidak segan untuk menciduk siapa pun yang
mereka anggap patut dicurigai sebagai pendatang ilegal. Sasaran utamanya
adalah mereka yang berwajah Latin, sekalipun dia bukan orang Latin.

Kata Ripston,  kekuasaan polisi Arizona sangat besar, hingga menciptakan
sebuah kejahatan baru: driving while Latino. Anda dianggap melanggar
hukum bukan karena melanggar rambu lalulintas, tapi karena Anda orang
Latin atau berwajah Latin.

Ketika merayakan hari kemerdekaannya, sebagian warga Amerika Serikat
justru direnggut kemerdekaannya, hanya karena mereka muslim atau kaum
minoritas. El día de la Independencia?
[dija/huff/wrd/www.hidayatullah.com]



On Mon, 2010-07-05 at 05:09 -0400, [email protected] wrote:

>   
> 
> Menunjukkan kebodohan intelijen ataukah proyek diskriminasi baru?
> Mencari pembenaran atas tindakan berdasarkan issue terror
> 
> http://www.hidayatullah.com/cermin-a-features/f/12413-tidak-merdeka-di-hari-kemerdekaan-amerika
> 
> ---
> This message was sent by [email protected] via http://addthis.com.
> Please note that AddThis does not verify email addresses.
> 
> Make sharing easier with the AddThis Toolbar:
> http://www.addthis.com/go/toolbar-em
> 
> 
> 
> 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke