Melawan melalui Lelucon

Oleh Amir Machmud NS



MENGANGKAT judul kumpulan kolom Abdurrahman Wahid itu sebagai titel tulisan
ini, maksudnya jelas, kita mencoba mengambil hikmah dan arah dari cara,
gaya, bahkan pola yang melekat dalam diri Gus Dur ketika mengarungi
hari-harinya sebagai tokoh penting republik ini, pada masanya. Baik pada
masa-masa mudanya, ketika menakhodai Nahdlatul Ulama (NU), sebagai tokoh
terdepan demokrasi, presiden keempat Republik Indonesia, maupun sebagai
politisi. Buku berisi kolom-kolom pemikiran inklusif itu terbit pada 2000.


Sebagai tokoh komplet lintas disiplin bidang kehidupan, Gus Gur punya selera
humor cerdas, menggelitik, mencerahkan, dan cenderung dekonstruktif.
Kekuatan itulah yang kemudian menjadi bagian dari kaki perjalanannya meniti
pilihan: membangun demokrasi yang disadari penuh risiko.


Melawan melalui lelucon merupakan kesadaran, humor punya kemampuan dahsyat
pencerah di tengah kebekuan kekuasaan dan segala pilar penyangganya. Dengan
humor orang bisa melintasi sekat-sekat ketakutan yang lazim melekat pada
kekuasaan.


Lelucon dan bentuk-bentuk humor lain, kata Gus Dur, memang tidak dapat
mengubah keadaan atas ”tenaga sendiri”. Ini sudah wajar, karena apalah
kekuatan percikan perasaan manusia di hadapan kenyataan yang mencekam
kehidupan bangsa secara keseluruhan. Sedangkan ideologi besar-besar pun
tidak mampu melakukan hal itu sendirian, masih harus ditunjang oleh berbagai
hal, seperti agama, buruknya keadaan ekonomi, sentimen-sentimen primordial,
dan seterusnya.


Namun lelucon yang kreatif, tetapi kritis, akan merupakan bagian yang tidak
boleh tidak harus diberi tempat dalam tradisi perlawanan kultural suatu
bangsa, kalau bangsa itu sendiri tidak ingin kehilangan kehidupan waras dan
sikap berimbang dalam menghadapi kenyataan pahit dalam lingkup sangat luas.
Dera kepahitan dalam jangka panjang tidak mustahil akan ditundukkan oleh
kesegaran humor (Abdurrahman Wahid: 2000).


*     *     *


GUS DUR sangat fasih mendekonstruksi keangkeran kekuasaan dengan caranya
sendiri, baik sebagai pengawal proses-proses demokratisasi di Tanah Air pada
era kekuasaan Orde Baru, maupun saat menjabat sebagai presiden. Dekonstruksi
itu, tampaknya bukan di-setting secara sistematis, tetapi muncul dari naluri
kuat untuk mencairkan segala bentuk keangkeran kekuasaan dan
simbol-simbolnya. Tidak sedikit sikap dan langkah itu menyulut kontroversi
dan komplikasi, namun Gus Dur konsisten dengan treknya.


Lelucon, dalam konteks pilihan Gus Dur, secara umum bisa dimaknai sebagai
kemasan atau cara. Bahkan juga komitmen. Bukankah kritik bisa dilancarkan
dengan beragam bentuk, dari yang bersifat telanjang dan lugas, penuh
eufimisme, meniti buih, berkelak-kelok, atau dengan humor?


Kemasan itulah yang dipilih dengan puncak-puncak kesegaran leluconnya pada
1984 - 1999. Faktor kesehatan mungkin memengaruhi vitalitasnya dalam
mengkritik lewat humor, namun dalam satu hal: ia mampu melembagakan formula
untuk menghadapi keangkeran kekuasaan. Bahkan lihatlah Saudara-saudara,
kematiannya pun tidak menerbitkan jarak pentakziahan antara rakyat dengan
seorang tokoh besar yang berstatus sebagai mantan presiden. Seolah-olah
Abdurrahman meninggal di pangkuan langsung rakyat.


Karut marut politik kenegaraan, pemerintahan, dan penegakan hukum belakangan
ini kiranya membutuhkan sikap-sikap pencair. Kepanikan, ketertekanan, dan
perasaan terancam yang menghinggapi para elite pemerintahan merefleksikan
kondisi beku dan kaku. Tanpa ikhtiar yang bersifat dekonstruktif untuk
mengurai kebekuan itu, atau kalau tidak ada tokoh-tokoh cerdas yang
memelopori untuk mencairkan suasana dengan sikap-sikap yang out of the box,
bukan tidak mungkin wajah muram pula yang akan terpantul ke wilayah publik
yang membutuhkan keluwesan pelayanan pemerintahan.

Inilah warisan dari gabungan bakat dan formula Gus Dur: di antara jejak luar
biasanya, ia meninggalkan pelajaran tentang perlawanan terhadap
kondisi-kondisi beku dan muram dengan caranya, dengan humor-humornya. Memang
dalam beberapa episode, ada kalanya kita menyaksikan ”kemuraman” yang muncul
dari Gus Dur pula, namun hampir seluruh waktunya menghadirkan sosok yang
secara alamiah meyakini lelucon sebagai ungkapan perlawanan.


Dari perspektif ini, pesan hikmahnya adalah: kekuasaan mestinya disikapi
bukan sebagai segala-galanya. Atau, gitu saja kok repot...


— Amir Machmud NS, wartawan Suara Merdeka, 02 Januari 2010


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke