..   Zxzsszz.  $     . Z. N 

 

Sent from Juanita's iPhone - Telkomsel paling Indonesia

On Aug 19, 2010, at 10:33 AM, Cah Cilik <[email protected]> wrote:

> 
> Ulasan dari 
> http://intelindonesia.blogspot.com/2010/03/membangun-aliansi-strategis-intelijen_06.html
> 
> Pembangunan sebuah negara akan selalu diwarnai oleh berbagai kompetisi 
> internal 
> dan eksternal, sehingga terbuka sejumlah pilihan cara pencapaian kemajuan 
> Indonesia Raya. Pengawasan yang saya maksudkan adalah bukan hanya melulu soal 
> korupsi dan buruknya implementasi, melainkan juga dalam hal penentuan  
> pilihan-pilihan terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama 
> segenap elemen bangsa Indonesia.
> 
> Otoriterisme dan militerisme yang dibimbing oleh niat baik, dan implementasi 
> yang profesional dapat saja menjamin tercapainya kesejahteraan seperti negara 
> kota Singapura atau China dengan partai komunismenya. Demokrasi dan 
> liberalisme 
> ekonomi juga bisa saja menjadi jalan dalam perwujudan kesejahteraan 
> sebagaimana 
> negara-negara Barat saat ini. Namun ingat pondasi yang kokoh yang dibangun di 
> Barat seluruhnya berdasarkan otoriterisme sebelum abad 19 yang mampu 
> memobilisasi kemajuan zaman, sementara Indonesia Raya (Nusantara) dijajah dan 
> diperkosa secara biadab oleh Belanda.
> 
> Sejarah tidak akan pernah hilang dalam ingatan dan hati kita, hal ini bukan 
> dendam, melainkan mimpi buruk yang diwariskan oleh luluhur kita melalui 
> catatan 
> DNA akan terus mengalir entah hingga generasi ke berapa. Akibatnya kita lahir 
> dengan potensi generasi yang minder, bodoh, lambat, serta penuh kekacauan 
> dalam 
> menentukan langkah perjalanan kita. 
> 
> Kita sebagai bangsa besar dengan mahakarya peninggalan bersejarah 
> kerajaan-kerajaan Nusantara telah melupakan jadti diri yang sesungguhnya, 
> sehingga kepribadian bangsa Indonesia yang percaya takdir Tuhan, baik dan 
> sederhana namun maju dan profesional hilang ditelan sejarah. Indonesia adalah 
> bangsa yang sedang tertatih-tatih melakukan transisi dan tranformasi untuk 
> kembali mengenali jati dirinya.
> 
> Perhatikan bagaimana kita sebagai bangsa akhirnya juga mengikuti langkah 
> negara-negara Barat dalam melakukan penjajahan kepada rakyatnya sendiri. 
> Perhatikan bagaimana kita memperlakukan saudara kita di Timor-Timur, Aceh, 
> Maluku, dan Papua. Berangkat dari warisan penjajahan Belanda yang menanamkan 
> bibit permusuhan antar etnis di Indonesia, kita tanpa sadar memperlakukan 
> saudara kita sendiri secara buruk. Seyogyanya hal itu tidak perlu terjadi 
> andaikata saja kita cukup percaya diri dan memiliki keyakinan pada 
> nilai-nilai 
> kebaikan Nusantara. Kita tidak pernah membutuhkan tekanan Barat untuk 
> transformasi diri kita andaikata saja kita membuka mata dan hati serta 
> mendekati permasalahan secara obyektif dan sungguh-sungguh berupaya 
> menyelesaikannya.
> 
> Kita selalu ketakutan bahwa kita akan berpisah satu dengan lainnya, atau 
> ketakutan akan hancurnya Indonesia Raya, dan kecurigaan selalu kita arahkan 
> kepada negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. 
> Sementara itu, sejarah modern Indonesia juga diwarnai ketakutan akan bahaya 
> komunisme yang dihembuskan Barat pada tahun 1950-1960-an. Akibatnya kita 
> sangat 
> curiga kepada kelompok sosialis-komunis dan negara asing pembawa ideologi 
> komunis seperti China dan Uni Soviet. Bahka Barat dengan jahatnya 
> menjerumuskan kita ke dalam kebencian etnisitas kepada sesama rakyat 
> Indonesia 
> dari suku bangsa Tionghoa. Akibatnya kita saling menyerang dan membunuh, 
> seiring dengan pembantaian sejumlah jenderal dan pembalasan pembantaian 
> terhadap seluruh pimpinan Partai Komunis Indonesia. Operasi intelijen Barat 
> sangat berhasil bukan? namun kita telah merobek-robek kembali persatuan 
> Indonesia.
> 
> Peranan intelijen AS, Australia, Portugal dan Inggris di Timor Timur, peranan 
> intelijen AS dan Inggris di Aceh, peranan intelijen Belanda di Maluku dan 
> peranan intelijen AS, Australia dan Inggris di Papua sangatlah besar. 
> Betapapun 
> mereka tidak sungguh-sungguh ingin menolong Indonesia, buktinya tidak pernah 
> ada satupun pembicaraan serius dari operasi intelijen asing di daerah konflik 
> Indonesia tersebut dibahas secara transparan untuk menolong Indonesia. Bahkan 
> secara cerdik digunakan untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam nusantara 
> yang telah memiskinkan rakyat Indonesia yang hidup di daerah konflik tersebut.
> 
> Tugas pokok intelijen AS, Australis, Inggris dan kebanyakan negara Barat 
> adalah untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka, yakni eksploitasi 
> (penajajahan modern) kekayaan alam Indonesia untuk mempertahankan supremasi 
> ekonomi, politik dan militer mereka di dunia. Lagi-lagi Indonesia menampilkan 
> wajah tolol dengan berterima kasih atas penajajahan tersebut.
> 
> Tidaklah mengherankan apabila elemen intelektual sosialis dan komunis 
> Indonesia 
> masuk ke daerah konflik dan memberikan pelatihan khusus untuk mengadakan 
> perlawanan terhadap perusahaan multinasional sekaligus perlawanan terhadap 
> pemerintah Indonesia dan menyuarakan kemerdekaan melalui pemisahaan diri 
> dengan 
> berlandaskan kepada konsep self-determination. Pemerintah Indonesia yang 
> naif, 
> militer yang berpandangan sempit, intelijen yang buta telah kecolongan di 
> sana-sini, sehingga persoalan demi persoalan mengkristal menjadi sebuah 
> ancaman 
> laten yang sulit dihapuskan, akibatnya aparat tiba-tiba harus berhadapan 
> dengan 
> rakyat, padahal seharusnya aparat melindungi rakyat, namun anehnya terjadi 
> juga 
> penyerangan aparat oleh rakyat. Memusingkan bukan?
> 
> Intelijen asing yang melihat dinamika tersebut tersenyum puas melihat 
> kebodohan 
> kita yang mendorong kita sesama orang Indonesia berkelahi. Hal ini dapat saja 
> mengkonfirmasi teori konspirasi yang tidak menginginkan Indonesia maju, namun 
> saya kurang setuju karena semuanya justru berasal dari kebodohan dan emosi 
> kita yang kurang terkendali manakala menghadapi masalah. Tidak mengherankan 
> apabila kita masih saja bermimpi menemukan Ratu Adil untuk menyelamatkan 
> Indonesia Raya, padahal Ratu Adil tersebut hanya akan lahir apabila kita 
> bersama-sama mendorong suatu perubahan massal Indonesia Raya yang sadar akan 
> jati dirinya sendiri.
> 
> Saya berbicara tentang jati diri, namun ketika melihat sistem pendidikan, 
> rasanya kurang tampak kuat pembangunan identitas diri bangsa Indonesia  
> berdasarkan kepada konstruksi sejarah yang dapat membuat kita bangga - pride 
> (namun tidak sombong - arrogant)akan diri kita. Yang terjadi adalah 
> sebaliknya, 
> kita cenderung malu dengan diri kita sebagai bangsa Indonesia. Terlalu banyak 
> catatan hitam dan kebodohan dalam sejarah kita, seyogyanyalah kita malu namun 
> janganlah menghalangi kemajuan dan perubahan demi generasi muda Indonesia. 
> Mungkin kemajuan Indonesia Raya tidak terjadi sekarang, tetapi akan terjadi 
> pada 10-20-30 tahun mendatang, atau bahkan 100 tahun mendatang.
> 
> Di era reformasi yang telah membuka titik terang, kita masih menghadapi 
> banyak 
> persoalan dan pekerjaan rumah. Salah satunya adalah dalam menyikapi 
> perdagangan 
> bebas (Free Trade). Perdebatan sengit soal Persetujuan China - ASEAN Free 
> Trade baru-baru ini mencerminkan masih kacaunya perencanaan pembangunan 
> nasional Indonesia. Anggaplah Indonesia sudah tidak dapatlagi menarik diri 
> dari 
> keputusan untuk terjun ke dalam sistem ekonomi dunia yang liberal. Apa-apa 
> saja 
> yang perlu Indonesia persiapkan? Perencanaan macam apa yang harus disusun 
> Indonesia ? serta bagaimana Indonesia mempersiapkan perekonomian nasional 
> Indonesia yang kuat untuk dapat survive dalam gelombang perdagangan bebas? 
> Pertanyaan tersebut sangat sulit apabila kita tidak atau belum mengetahui apa 
> yang kita ingin lakukan, ingin perkuat, ingin fokuskan bukan? Akibatnya kita 
> beradu argumentasi di titik yang salah, yaitu saat kritis menjelang 
> implementasi perdagangan bebas, seharusnya adu argumentasi terjadi pada  saat 
> penyusunan persetujuan secara internal di dalam negeri, adu argumentasi juga 
> seharusnya terjadi pada saat penyusunan rencana pembangunan yang 
> mengantisipasi 
> pasar bebas, serta bukan di ujung waktu pelaksanaan persetujuan. 
> 
> Menarik diri dari persetujuan akan tampak tidak kredibel bahkan membuktikan 
> kepada dunia tentang Indonesia yang merasa pintar tetapi sangatlah bodoh. 
> Terjun bebas ke dalam persetujuan perdagangan bebas tanpa ada upaya 
> penyelamatan sektor yang rawan juga akan menjadi bahan tertawaaan karena sama 
> saja dengan pembunuhnan industri dalam negeri. Lantas apa yang dapat 
> dilakukan? 
> Perlu dilakukan segera dalam waktu singkat identifikasi sektor industri apa 
> yang akan terhantam keras dan cari jalan keluarnya, barangkali masih ada 
> kelonggaran dari negara mitra dagang untuk mempertimbangkan stabilitas 
> industri 
> dan perekonomian nasional. Entahlah saya juga kurang mengerti masalah ini, 
> mudah-mudahan ekonom cerdas Indonesia di Kementerian Perdagangan, Kementerian 
> Perindutrian, serta berbagai pihak lainnya dapat menemukan jalan keluar yang 
> baik.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke