Jangankan hadist, kita menerima mushaf itu adalah sebagian dari seluruh Al 
Quran yang diturunkan Allah.

Mengapa kita tidak khusnudzan dengan menganggap kita ini belum cukup 
pengetahuan akan sunnah sunnah di bulan ramadhan? Mengapa kita disibukkan 
dengan mengklaim bid'ah dan tidaknya suatu amalan yang tidak jelas mudharatnya.

Bukankah kita hanya sekedar meremehkan sunnah-sunnah jika kita selalu 
menganggap lemahnya sanad suatu hadist adalah point untuk meninggalkan sunnah 
yang terkandung didalamnya. Bukankah Rasulullah tidak pernah mengklasifikasi 
hadist dan memberi prioritas seperti kita umumnya memprioritaskan hadist 
berdasarkan klasifikasi yang kita klaim sendiri?

Kritis itu tuntutan untuk kemajuan berpendirian pada masing-masing pribadi, 
tetapi jika sifat kritis tersebut hanya menodai kemulian sunnah, apakah patut 
kita junjung konsep2 pemikiran tersebut?

Apa untungnya membahas bid'ah terawih jika hanya untuk memamerkan kekritisan 
pikir kita sedangkan pengetahuan kita akan sunnah masih sangat sedikit. 

Hemat saya, marilah produk-produk kritik ini kita pakai secara pribadi saja. 

Rizky


Sent from my BlackBerry®powered by Allah SWT

-----Original Message-----
From: "abdul" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 24 Aug 2010 20:06:16 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kmnu2000] Re: Fw: SEPUTAR BID?AH SHALAT TARAWIH

 irwan andryanto---------------------Bismilahirrahmanirrahiim.

Kalau kami memahami shalat tarawih itu bukanlah perintah dari ALLAH.
kalautidak ada perintah dari ALLAH,pasti Rasul tidak melakukannya
Karena Tugas Rasul hanya menyemapaikan perintah2 ALLAH saja.

jadi shalat tarawih itu adalah shalat yg difatwakan oleh ulama2...
akirnya menjadi budaya Arab....

DALIL2 yang saya kemukakan dari Al Quran, bukan hadits2 atau riwayat2 
manusia.rekayasa manusia.

===================================

Assalamu'alaikum wrwb.

Bismilahirahmanirrahiim.
Seandainya dia(Muhammad) mengadakan adakan sebahagian perktaan atas (nama)
kami(44) Niscaya benar benar kami pegang dia pada tangan kakannya (1).(45)
Kemudian benar benar Kami potong urat tali jantungnya.(46) Maka sekali kali 
tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat mengahlangi(kami) ,dari pemotongan 
urat nadi itu.QS69:43:47.

Firman ALLAH, janganlah kamu berlama lama di Mesdjid.QS 62:10.
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Alasan ketiga adalah Khalifah Umar pernah bernasehat; Janganlah kamu berlama 
lama di mesdjid berdoa kepada ALLAH swt.Sebaiknya kamu keluar dari mesdjid 
untuk mencari nafkah untuk keluarga mu.
============================================
Jadi kalau kita berpegang kpd al quran sebagai tali yang kuat
insya ALLAH kita tidak akan jatuh dosa syirik yang berbahaya
karena percaya kpd ucapan2 nasehat2 ulama2 Arabmyang tdk ada dasarnya dlm al 
Quran.

Lanjutkan baca di site ini;

http://latifabdul.multiply.com/journal/item/735/Shalat_tarawih_itu_Bukan_Perintah_ALLAH_dan_Rasul_tapi_budaya_Arab


salam



--- In [email protected], <iandrya...@...> wrote:
>
> Assalaamu'alaikum Wr Wb ....
> 
> Mohon sekiranya ada yg bisa memberikan tanggapan mengenai artikel dibawah.
> Banyak dari saudara2 kita yg awam yg menanyakan kebenarannya ... saya pribadi
> takut memberikan penjelasan karena miskin-nya ilmu.
> 
> Wassalam,Irwan
> 
> =========================
> 
> Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh, 
> 
> 
> SEPUTAR BID’AH SHALAT TARAWIH 
> 
> 
> Oleh 
> Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc 
> 
> 
> 
> HAKIKAT BID’AH 
> Asal kata bid’ah adalah menciptakan (suatu hal yang baru) tanpa ada contoh 
> sebelumnya [1]. Sebagaimana firman Allah, Allah pencipta langit dan bumi. (Al 
> Baqarah : 117). Bahwa Allah menciptakan keduanya tanpa contoh sebelumnya [2]. 
> 
> 
> Adapun bid’ah menurut makna syar’i, ialah sebagaimana yang telah 
> dinyatakan oleh 
> Imam Ibnu Taimiyah, yaitu segala cara beragama yang tidak disyari’atkan 
> oleh 
> Allah dan RasulNya; yakni yang tidak diperintahkan, baik dalam wujud perintah 
> wajib atau berbentuk anjuran [3], baik berupa keyakinan, ibadah dan muamalah. 
> 
> 
> Sedangkan menurut Imam Asy Syathibi, bid’ah ialah suatu cara dalam beragama 
> yang 
> dibuat untuk menandingi syari’at yang ada (yakni menyerupai cara ibadah 
> yang 
> disyari’atkan, padahal hakikatnya tidaklah sama, bahkan bertentangan 
> dengannya); 
> tujuan pelaksanaannya ialah untuk berlebihan dalam ibadah kepada Allah. 
> 
> 
> Jadi, yang dimaksud dengan bid’ah, ialah segala bentuk praktek beragama 
> yang 
> tidak memiliki dalil atau landasan hukum dalam agama yang mengindikasikan 
> keabsahannya. Adapun yang memiliki dasar dalam syari’at yang menunjukkan 
> keberadaannya, maka secara syari’at tidaklah dikatakan sebagai bid’ah, 
> meskipun 
> secara bahasa dikatakan bid’ah. Maka setiap orang yang membuat-buat 
> sesuatu, 
> lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak memiliki dalil atau 
> landasan hukum dari agama, maka hal itu termasuk bid’ah. 
> 
> 
> CAHAYA SUNNAH DAN GELAPNYA BID’AH 
> Setiap muslim wajib mentaati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, baik 
> ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup atau sesudah 
> meninggal 
> dunia. Mentaati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk bagian dari 
> kesempurnaan cinta seseorang kepada Allah, sebagaimana firman Allah, 
> Katakanlah 
> : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”. [Ali Imran : 
> 31]. 
> 
> 
> Bahkan Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi sunnah beliau Shallallahu 
> 'alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menimpakan fitnah dan 
> siksaan 
> yang pedih, seperti dalam firman Allah: Maka hendaklah orang-orang yang 
> menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang 
> pedih. [An Nur : 63]. 
> 
> 
> Setiap muslim dilarang menyelisihi sunnah Rasul dan jalan orang-orang mukmin, 
> sebagaimana firman Allah: Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas 
> kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, 
> Kami 
> biarkan leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. [An Nisa’ : 
> 115]. 
> 
> 
> Nabi menganjurkan kepada semua Umat Islam untuk berpegang teguh dengan 
> sunnah-sunnahnya sepeninggal beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak 
> membuat perkara-perkara bid’ah. Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi 
> bersabda 
> dalam khutbahnya: 
> 
> 
> "Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, patuh dan taat, 
> walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian, 
> maka 
> akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada 
> sunnahku 
> dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah 
> kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap 
> perkara-perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah 
> bid’ah dan 
> setiap yang bid’ah adalah sesat". [Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]. 
> 
> 
> Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, "Hendaklah kalian mengikuti, dan 
> janganlah 
> kalian berbuat kebid’ahan. Sungguh kalian telah dicukupkan dalam beragama 
> dengan 
> Islam ini". 
> 
> 
> Imam Al Auza’i berkata,"Bersabarlah kalian di atas sunnah. Tetaplah tegak 
> sebagaimana para sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka 
> telah katakan. Tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya, 
> dan ikutilah jalan salafush shalih." 
> 
> 
> BID’AH-BID’AH DALAM SHALAT TARAWIH 
> Dalam rubik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar masalah 
> bid’ah 
> dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini 
> sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. 
> Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan 
> bentuk 
> dan kemurniannya. Di antara bid’ah yang lazim terjadi di masyarakat seputar 
> masalah shalat tarawih, ialah sebagai berikut. 
> 
> 
> Pertama : Shalat Tarawih Dengan Cepat, Laksana Ayam Mematuk Makanan. 
> Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang 
> baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat 
> yang 
> dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama 
> ketika 
> shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 
> menit, 
> dengan membaca surat Al ‘Ala atau Adh Dhuha. 
> 
> 
> Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena 
> ia 
> merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya: "Dan apabila mereka 
> berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud 
> riya’ 
> di hadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali". 
> [An 
> Nisa’ : 142]. 
> 
> 
> Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan 
> cara 
> shalat tarawih Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat dan 
> ulama 
> salaf. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. 
> 
> 
> "Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin 
> yang 
> memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi 
> geraham 
> kalian. Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah), karena setiap 
> perkara 
> yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat". [Abu Daud, 
> Tirmidzi dan Ibnu Majah] 
> 
> 
> Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. 
> 
> "Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat". [HR Bukhari, 
> Muslim, Ahmad. Lihat Irwaul Ghalil no: 213]. 
> 
> 
> Ad Darimy meriwayatkan, bahwa Abu Aliyah berkata,"Jika kami mendatangi 
> seseorang 
> untuk menuntut ilmu, maka kami akan melihat ia shalat. Jika ia shalat dengan 
> benar, kami akan duduk untuk belajar dengannya. Dan kami berkata,’Dia akan 
> lebih 
> baik dalam masalah lain’. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka kami akan 
> berpaling darinya dan kami berkata,’Dia akan lebih rusak dalam masalah yang 
> lain".[4] 
> 
> 
> Dan suatu hal yang menguatkan lagi, bahwa demikian itu menjadi perkara 
> bid’ah, 
> karena dikerjakan secara rutin dan permanen pada setiap bulan Ramadhan. 
> Mereka 
> beranggapan, bahwa hal itu merupakan cara terbaik dalam menunaikan shalat 
> tarawih. 
> 
> 
> Kedua : Membaca Surat Al An’am Dalam Satu Raka’at Dari Shalat Tarawih. 
> Para ulama menganggap, bahwa membaca surat Al An’am dalam satu raka’at 
> dari 
> shalat tarawih termasuk perbuatan bid’ah, karena demikian itu tidak 
> bersandarkan 
> kepada suatu dalil. Adapun hadits dari Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab bahwa 
> Rasulullah bersabda: 
> 
> 
> "Surat Al’An’am diturunkan sekaligus dalam sekali tahapan yang 
> dihantarkan oleh 
> tujuh puluh ribu malaikat sambil membaca tasbih dan tahmid". 
> 
> 
> Banyak orang awam yang tertipu dengan hadits ini. Padahal menurut Imam As 
> Suyuthi, bahwa hadits di atas adalah dhaif. Andaikata pun hadits tersebut 
> shahih, juga sedikitpun tidak ada anjuran yang bersifat sunnah dibaca dalam 
> satu 
> raka’at. 
> 
> 
> Membaca surat Al An’am dalam satu raka’at bisa dikatakan bid’ah karena 
> beberapa 
> alasan sebagai berikut. Pertama, mengkhususkan surat Al An’am menipu ummat, 
> bahwa surat yang lain kurang afdhal atau tidak baik untuk dibaca pada waktu 
> shalat tarawih. Kedua, bacaan tersebut hanya dikhususkan pada waktu shalat 
> tarawih. Ketiga, memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, sehingga 
> mereka 
> akan marah atau jengkel atau timbul kebencian terhadap ibadah. Keempat, yang 
> demikian itu menyelisihi sunnah, sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
> sallam 
> menganjurkan agar raka’at kedua lebih pendek daripada raka’at pertama, 
> sementara 
> bid’ah ini telah merubah secara tolal sunnah tersebut dan melawan 
> syari’at.[5] 
> 
> 
> Ketiga : Bid’ah Mengumpulkan Ayat-Ayat Sajadah. 
> Seorang imam mengumpulkan ayat-ayat sajadah ketika khataman Al Qur’an pada 
> shalat tarawih dalam raka’at terakhir, kemudian ia sujud bersama makmum. 
> [6] 
> 
> 
> Keempat : Membaca Beberapa Ayat Yang Disebut Ayat-Ayat Hirs (Perlindungan). 
> Mengumpulkan beberapa ayat yang mereka sebut dengan nama ayat-ayat 
> perlindungan, 
> lalu dibaca secara keseluruhan di akhir raka’at dalam shalat tarawih.[7] 
> 
> 
> Kelima : Bid’ah Dzikir Dan Do’a Ketika Hendak Memulai Shalat Tarawih. 
> Ucapan seorang bilal atau imam ketika hendak memulai shalat tarawih yang 
> dibaca 
> dengan berjama’ah dan suara keras.[8] 
> 
> 
> صَلاَةَ التÙ`َرَاوِيÙ'حِ فِي شَهÙ'رِ 
> رَمَضَانَ رَحِمَكُمُ اللهُ. 
> صَلاَةَ التÙ`َرَاوِيÙ'حِ آجَرَكُمُ اللهُ. 
> 
> Kebid’ahan ini banyak sekali menyebar di negeri ini. Dianggap sebagai 
> sesuatu 
> yang baik dan sunnah, padahal hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh 
> Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat. Padahal setiap cara 
> ibadah 
> dan praktek agama yang tidak ada dalil atau landasan hukumnya, maka tertolak 
> dan 
> dinyatakan sebagai perbuatan bid’ah. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
> bersabda. 
> 
> 
> "Barangsiapa yang membuat-buat ibadah dalam ajaran kami ini (Islam) yang 
> bukan 
> merupakan bagian darinya, maka amalan itu tertolak". [HR Bukhari]. 
> 
> 
> Keenam : Berdzikir Dengan Dipandu Seorang Bilal. 
> Berdzikir dengan dipandu seorang bilal setiap selesai shalat dua raka’at 
> dari 
> shalat tarawih, maka perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Namun terkadang 
> bacaan dzikir dilakukan sendiri-sendiri dengan ringan, atau terkadang dzikir 
> tersebut dibaca secara berjama’ah.[9] 
> 
> 
> Dzikir dengan cara ini termasuk bid’ah, karena beberapa alasan berikut. 
> Pertama, 
> karena membuat tata cara baru dalam beribadah yang tidak pernah dicontohkan 
> oleh 
> Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan perbuatan bid’ah. Dari 
> Jabir 
> bin Abdullah diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : "Amma ba’du. 
> Sesungguhnya 
> sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah 
> petunjuk 
> Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah yang dibikin-bikin, dan setiap bid’ah 
> itu 
> adalah sesat". [10] Kedua, dzikir tersebut hanya dikhususkan pada waktu 
> shalat 
> tarawih saja, padahal mengkhususkan suatu ibadah yang tidak berdasarkan 
> dalil, 
> maka hal itu termasuk perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. 
> Ketiga, 
> tindakan itu boleh jadi memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, 
> sehingga 
> menimbulkan sikap kebencian terhadap ibadah. Keempat, perbuatan itu dengan 
> jelas 
> telah menyelisihi sunnah. Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
> tidak 
> pernah menganjurkan membaca dzikir secara berjama’ah dalam shalat tarawih. 
> Begitu pula beliau n tidak pernah mengajarkan bacaan dzikir-dzikir tersebut. 
> Maka bentuk dzikir seperti itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah dan 
> kebiasaan para sahabat. 
> 
> 
> Ketujuh : Mengkhususkan Membaca Qunut Pada Shalat Tarawih. 
> Mengkhususkan qunut hanya pada pertengahan Ramadhan dalam shalat tarawih. 
> Yang 
> demikian itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
> sallam. 
> Imam Malik dalam kitab Mudawwanah Al Kubra menyatakan,”Tidak ada dalil 
> shahih 
> yang bisa digunakan sebagai sandaran bagi orang yang mengkhususkan qunut 
> dalam 
> shalat tarawih pada bulan Ramadhan, baik pada awal maupun akhir Ramadhan, 
> atau 
> pada shalat witir [11]. 
> 
> 
> Kedelapan : Shalat Tarawih Bersama-Sama Antara Kaum Laki-Laki Dan Kaum Wanita 
> Dalam Satu Masjid. 
> 
> Diantara kebid’ahan dan kemungkaran dalam masjid yang berkaitan dengan 
> shalat 
> -terutama shalat tarawih- yaitu melakukan shalat berjamaah campur-baur antara 
> kaum laki-laki dan kaum wanita dalam satu masjid [12]. 
> 
> 
> Kesembilan : Dzikir Dengan Suara Keras Dan Berjama’ah Seperti Koor. 
> Dzikir berjama’ah dengan suara keras seperti koor pada setiap waktu 
> istirahat 
> dalam shalat tarawih, merupakan perbuatan bid’ah [13]. Adapun lafadz dzikir 
> yang 
> mereka baca secara berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tempat dan daerah, 
> maka 
> perbuatan seperti ini termasuk mengumpulkan berbagai macam keburukan dan 
> kebid’ahan, antara lain: Pertama, bid’ah dzikir berjama’ah dengan suara 
> koor. 
> Kedua, bid’ah dalam menggunakan lafadz-lafadz dzikir yang tidak diajarkan 
> oleh 
> Rasulullah. Ketiga, mengganggu kaum muslimin dengan suara keras, dan boleh 
> jadi 
> dzikir tersebut disampaikan lewat mikrofon atau pengeras suara. Keempat, 
> membuat 
> praktek ibadah baru dalam shalat tarawih yang tidak pernah dicontohkan 
> Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal beliau Shallallahu 'alaihi 
> wa 
> sallam bersabda: 
> 
> 
> "Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka 
> ibadahnya itu tertolak". [HR Muslim]. 
> 
> 
> Kesepuluh : Dzikir Berjama’ah Dengan Suara Keras Saat Akan Dimulainya 
> Raka’at 
> Baru Dalam Shalat Tarawih. 
> 
> Bacaan dzikir yang diamalkan setiap selesai salam dari dua raka’at shalat 
> tarawih, dan (kemudian) hendak memulai raka’at yang baru, (dzikir seperti 
> ini)termasuk perbuatan bid’ah. Tata cara dan bacaan dzikir tersebut antara 
> lain: 
> 
> Seorang bilal membaca: 
> 
> فَضÙ'لٌ مِنَ اللهِ وَالنÙ`ِعÙ'مَةُ يَا 
> تَوÙ`َابُ يَا وَاسِعَ الÙ'مَغÙ'فِرَةِ . 
> أَللÙ`َهُمÙ`َ صَلÙ`ِ وَسَلÙ`ِمÙ' عَلَى 
> مُحَمÙ`َدٍ. 
> 
> 
> Lalu dijawab oleh para jama’ah shalat tarawih secara bersama-sama dengan 
> suara 
> keras 
> 
> 
> صَلÙ`ُوÙ'ا عَلَيÙ'هِ, ....... أَللÙ`َهُمÙ`َ صَلÙ`ِ 
> وَسَلÙ`ِمÙ' عَلَى مُحَمÙ`َدٍ. ....... 
> 
> Kemudian pada raka’at-raka’at yang akhir mereka mendo’akan kepada 
> khulafaurrasyidin yang empat. 
> 
> 
> Kesebelas : Bid’ah Do’a Berjama’ah Ketika Istirahat Antara Shalat 
> Tarawih Dengan 
> Shalat Witir. 
> 
> Do’a berjama’ah pada saat istirahat antara shalat tarawih dengan shalat 
> witir 
> merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Begitu juga ketika hendak shalat 
> witir, 
> bilal atau imam mengucapkan: 
> 
> 
> صَلÙ`ُوÙ'ا سُنÙ`َةَ الÙ'وِتÙ'رِ رَحِمَكُمُ 
> اللهُ أَوÙ' آجَرَكُمُ اللهُ. 
> 
> Kebanyakan mereka yang mengamalkan bid’ah ini telah membuat bacaan do’a 
> secara 
> khusus, yang tidak bersandar kepada satu dalilpun, dan tidak pernah diajarkan 
> oleh para ulama salaf mapun imam sunnah [14]. 
> 
> 
> Keduabelas : Melazimkan Surat Al Ikhlas Dan Mu’awidzatain Dalam Setiap 
> Raka’at 
> Akhir Dari Shalat Witir. 
> 
> Melazimkan surat Al Ikhlas dan Muawidzatain dalam setiap raka’at terakhir 
> dari 
> shalat witir, termasuk perbuatan bid’ah. Hal tersebut tidak pernah 
> dicontohkan 
> Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ulama salaf dari kalangan para 
> sahabat dan tabi’in. Sementara sebagai orang awam terpesona dengan hadits 
> Nabi 
> Shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan Imam Ath Thabrani dalam 
> Mu’jamul 
> Ausath, dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah, karena terdapat seorang 
> perawi As Sary bin Ismail dan Miqdam bin Daud, yang keduanya merupakan perawi 
> yang dhaif. Begitu juga hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam 
> Sunan-nya dan Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, serta Ibnu Majah dalam 
> Sunan-nya, dari hadits Aisyah dengan sanad yang lemah. 
> 
> 
> Imam Al Mundziri berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi 
> serta Ibnu Majah dari Aisyah dari Khushaif bin Abdurahman Al Harrani; telah 
> dinyatakan sebagai perawi yang lemah oleh kebanyakan para imam ahli hadits. 
> 
> 
> Ibnul Jauzi berkata,”Imam Ahmad dan Yahya Ibnu Main telah mengingkari 
> dengan 
> keras tambahan Muawidzatain dalam raka’at akhir dari shalat witir [15]. 
> 
> 
> Ketigabelas : Berhenti Dari Shalat Qiyamul Lail Atau Shalat Tarawih Setelah 
> Khataman Al-Qur’an. 
> 
> Sebagian umat Islam ada yang menghentikan qiyamul lail atau shalat tarawih 
> setelah menyelesaikan khataman Al Qur’an, padahal perbuatan tersebut 
> termasuk 
> bid’ah [16]. 
> 
> 
> Keempatbelas : Membaca Dua Juz Atau Lebih Dari Al-Qur’an Pada Shalat 
> Tarawih 
> Terakhir. 
> 
> Membaca dua juz atau lebih pada malam terakhir dalam shalat tarawih. Ada juga 
> yang melazimkan dari mulai surat Adh Dhuha hingga selesai [17]. 
> 
> 
> Demikianlah penjelasan beberapa bid’ah seputar shalat tarawih, yang secara 
> umum 
> sudah banyak tersebar di tengah masyarakat. Maka demi menjaga keutuhan ajaran 
> Islam dan melestarikan sunnah, serta memelihara pahala ibadah -terutama 
> shalat 
> tarawih- maka saya mengajak kepada seluruh umat Islam agar meninggalkan 
> kebiasaan buruk dan perbuatan bid’ah dalam setiap bidang agama. Al Qur’an 
> dan 
> Sunnah Rasul dengan tegas memperingatkan tentang bahaya bid’ah. Begitu pula 
> para 
> sahabat dan para tabi’in yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
> sallam 
> dengan melakukan kebajikan juga memperingatkan bahaya bid’ah dengan tegas 
> 
> 
> Diantara dalil dari Al Qur’an yang memperingatkan tercelanya bid’ah, 
> antara lain 
> sebagai berikut. 
> 
> 
> DALIL-DALIL DARI AL-KITAB 
> Allah berfirman, 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang 
> lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang 
> lain), 
> karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian 
> itu 
> diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa". ([Al An’Am : 153]. 
> 
> 
> Jalan yang lurus adalah jalan Allah yang wajib diikuti. Jalan itu adalah 
> Sunnah. 
> Sedangkan jalan yang beraneka ragam dan corak itu hanyalah jalan ahli 
> bid’ah 
> yang melenceng dari jalan yang lurus. 
> 
> 
> DALIL-DALIL DARI AS-SUNNAH 
> Nabi bersabda, 
> 
> إِنÙ`ِيÙ' تَرَكÙ'تُكُمÙ' عَلَى الÙ'بَيÙ'ضَاءِ 
> لَيÙ'لُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ 
> عَنÙ'هَا بَعÙ'دِي إِلÙ`َا هَالِكٌ 
> 
> 
> "Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian ajaran putih bersih. 
> Malamnya 
> laksana siangnya. Dan tidaklah seseorang yang menjauhinya, kecuali pasti akan 
> mengalami kehancuran". [HR Ahmad dan Ibnu Majah]. 
> 
> 
> "Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan 
> pahalanya 
> dan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik tersebut, tanpa mengurangi 
> pahala-orang itu sedikitpun. Dan barangsiapa memberi contoh yang buruk dalam 
> Islam, maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengerjakan perbuatan 
> dosa 
> itu setelahnya, tanpa mengurangi dosa orang-orang itu sedikitpun". [HR 
> Muslim] 
> 
> 
> Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, bahwa pernah pada suatu ketika Rasulullah 
> Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat suatu garis, lalu bersabda,”Ini 
> adalah 
> jalan Allah yang lurus,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
> membuat 
> garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda,”Ini adalah 
> jalan-jalan, 
> dan setiap jalan tersebut terdapat syetan yang mengajak kepada jalan itu,” 
> kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan firman Allah: "Dan 
> bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah 
> dia; 
> dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu 
> mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah 
> kepadamu agar kamu bertaqwa". (Al An’am:153)". [HR Ahmad dalam Musnad, Ad 
> Darimi, Al Hakim dalam Mustadrak dan Ibnu Abu Ashim dalam As Sunnah]. 
> 
> 
> [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 07/Tahun VII/1424/2003M. Penerbit 
> Yayasan 
> Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo 
> Solo 
> 57183 Telp. 0271-761016] 
> 
>_______ 
> Footnote 
> [1]. Mu’jamul Maqayis Fil Lughah, Ibnu Faris halaman 119. 
> [2]. Al I’tisham, oleh Asy Syatibi 1:49. Lihat juga Mufradat Al Fazhil 
> Qur’an, 
> Ar Raghib Al Asfahani, materi kata bada’a, halaman 111. 
> 
> [3]. Fatawa Ibnu Taimiyah IV 107-108 
> [4]. As Sunnan Wal mubtadat, Syaikh Muhammad bin Abdussalam, Darul Fikr 
> [5]. Al Amru bin Ittiba’ Wan Nahyu Anil Ibtida’, Imam As Suyuthi, 
> Maktabatul 
> Qur’an. 
> 
> [6]. Al Amru bin Ittiba’ Wan Nahyu Anil Ibtida’, Imam As Suyuthi, 
> Maktabatul 
> Qur’an. 
> 
> [7]. Al Baits Ala Inkaril Bida’ Wal Hawadits, Abu Syamah Al Maqdisy, Darur 
> Rayyah, Riyadh. 
> 
> [8]. Mu’jamul Bida’, Raid bin Sabri bin Abi ‘Alfah, Darul Ashimah, 
> halaman 98. 
> [9]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy, 
> Riyadh. 
> 
> [10]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al Jumu’ah; meringkas shalat dan 
> khutbah 1:592 dengan nomor 867. 
> 
> [11]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy, 
> Riyadh. 
> 
> [12]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq Saudi. 
> [13]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq saudi. 
> [14]. Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar Ath Thurthusy, Dar Ibnul Jauzy, 
> Riyadh, halaman 64. 
> 
> [15]. Lihat Aunul Ma’bud Syah Sunan Abi Daud, Darul Kutubul Ilmiyah, Beirut 
> Libanon. Bab Ma Yuqrqa’ Fil Witr. 
> 
> [16]. Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq, Saudi. 
> [17]. Al Madkhal, Ibnul Haj 2/294, Darul Hadits, Mesir. 
> 
> Semoga bermanfaat, jazakallahu khairan. 
> Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh, 
> 
>  
> 
> Ananto Yuwono
> Procurement Department - Marketing Division
> PT UNITED TRACTORS Tbk
> Jl.Raya Bekasi Km.22, Cakung Jakarta 13910 Indonesia.
> Phone : +62 21 4605949/59/79 Ext. 1135
> Mobile Phone : 0819 0565 3313
> Fax  : +6221 4600544, E-mail : anan...@...
> 
> 
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
> 
> DISCLAIMER: This email and any files transmitted with it are confidential and 
> intended solely for the use of the individual or entity to whom they are 
> addressed. If you have received this email in error please notify the system 
> manager. Please note that any views or opinions presented in this email are 
> solely those of the author and do not necessarily represent those of the 
> company. PT United Tractors Tbk. shall in any way not be responsible for any 
> content of this messages.
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
>  
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
> 
> DISCLAIMER: This email and any files transmitted with it are confidential and 
> intended solely for the use of the individual or entity to whom they are 
> addressed. If you have received this email in error please notify the system 
> manager. Please note that any views or opinions presented in this email are 
> solely those of the author and do not necessarily represent those of the 
> company. PT United Tractors Tbk. shall in any way not be responsible for any 
> content of this messages.
> --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke