Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari   639  540    kali



 = = = =   = = =   = = =



Stop projek keblinger gedung baru DPR

(yang megah dan mewah)





Rencana pembangunan gedung baru DPR yang akan memakan beaya 1, 8 triliun
Rupiah telah  menuai banyak sekali reaksi negatif dari berbagai kalangan.
Banyak yang menyatakan kemarahan yang meluap-luap, ada yang sampai setengah
memaki-maki, (bahkan ada yang mengungkapkannya dengan kata-kata kotor dan
kasar). Semua itu dapat dimengerti, dan juga adalah wajar-wajar saja, kalau
kita ingat bahwa masalah rencana pembangunan gedung baru DPR ini memang
menyangkut banyak soal yang menyakitkan hati rakyat.



Masalah ini  juga menimbulkan pertanyaan tentang kewarasan nalar serta
kejernihan cara berfikir pejabat-pejabat yang bertanggung-jawab. Rencana
pembangunan gedung baru DPR ini betul-betul meragukan kebersihan hati-nurani
para pejabat.   Juga menimbulkan kecurigaan apakah di belakang rencana  yang
serba besar dan mewah ini tidak tersembunyi maksud-maksud haram dan tujuan
untuk maling secara besar-besaran dan berjemaah pula ?



Bagaimana tidak ? Sebab, menurut rencana, gedung baru DPR ini akan
bertingkat 36 lantai. Untuk pembangunan fisiknya saja direncanakan 1,1
triliun Rupiah. Sungguh, suatu jumlah yang tidak kecil, kalau diingat bahwa
negara sebenarnya tidak punya uang lagi untuk memenuhi kebutuhan rakyat, dan
bahkan harus mencari  utang kesana-kemari. Apalagi, anggaran itu belum
termasuk untuk pengadaan perlengkapan. Ditambah dengan pemasangan jaringan
teknologi informasi, furniture, dan keamanan, diperkirakan biaya seluruhnya
Rp 1,8 triliun.



Hati kita bertambah besar brontaknya, kalau kita dengar bahwa angka 1,8
triliun Rupiah untuk pembangunan gedung baru DPR ini mencakup pembangunan
kamar ruang kerja bagi 560 anggota DPR, yang direncanakan 120 meter persegi
luasnya tiap ruangan bagi tiap anggota DPR. Sudah tentu, seperti biasanya,
ruangan seluas 120 meter persegi ini akan diperlengkapi dengan furniture
dan perlengkapan-perlengkapan lainnya (air condition, wc, kamar mandi,
televisi dll dll).



Apakah DPR sungguh-sungguh memerlukan pembaruan gedung ?



Sebetulnya, apakah para anggota DPR memerlukan ruangan kerja yang begitu
luas dan begitu mewah ?  Wakil Ketua DPR Pramono Anung (dari PDI Perjuangan)
justru mempertanyakan  urgensi pembangunan gedung mewah 36 lantai itu. Ia
juga mengkritik keras rencana penyediaan fasilitas relaksasi bagi anggota
Dewan. "Kenapa enggak sekalian dibuka panti pijat? Tidak perlu ada fasilitas
relaksasi, apalagi kalau ada fitness segala. Berlebihan," ujar Pramono,
menanggapi rumor bahwa fasilitas spa dan kolam renang juga tersedia bagi
anggota Dewan.

Oleh karena itu, Pramono mengatakan, ia akan mengusulkan agar rencana
pembangunan gedung dievalusi kembali. Secara keseluruhan, pembangunan gedung
itu dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat.  "Apalagi kalau luasnya
sampai 120 meter persegi. Ruangan saya saja 70 meter persegi sering merasa
kedinginan, apalagi 120 meter?" kata Pramono.  (Kompas, 1 September 2010)



Ruangan 120 meter persegi untuk tiap-tiap anggota DPR ini diperkirakan akan
menghabiskan anggaran 2,8 miliar Rupiah per ruangan, dan sekitar Rp 500 juta
untuk interior dan furniture. Besarnya ruangan ini sama dengan luas lima
rumah sederhana sehat bersubsidi, yang masing-masing hanya 21 meter persegi.
Dalam ruangan ini direncanakan akan bekerja 7 orang,  yaitu 5 staf ahli dan
1 staf pribadi di samping anggota DPR sendiri. Ruangan itu akan dilengkapi
dengan ruang rapat dan istirahat.



Bahwa gedung DPR yang akan dibangun itu betul-betul merupakan gedung yang
mewah sekali,  dapat dilihat dari rencana untuk dibangunnya tempat rekreasi,
restoran-restoran, kolam renang, spa, apotek, minimarket, ruang istirahat
untuk anggota DPR, lift sebanyak 14, taman-taman dan helipad di lantai atas.

Astagafirulah, hebat benar DPR kita itu !!!

Astagafirullah, hebat benar DPR kita ini, mungkin ada orang-orang tertentu
yang berceloteh demikian, Bisa saja juga ada orang lainnya yang bergumam
Audzubillah. Barangkali, ada juga lainnya lagi yang menyebut Masya Allah,
sambil mengelus-elus dada karena keheranan dan kegeraman. Kalau ada
orang-orang yang  melontarkan ungkapan-ungkapan serupa itu maka bisa
diartikan bahwa masalah pembangunan gedung baru DPR itu memang menarik
perhatian dan memunculkan kejengkelan atau kemarahan banyak kalangan.
Sebagian kecil dari contoh-contohnya, adalah sebagai berikut :

Sekretaris Jenderal Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran Yuna Farhan
menilai, anggaran pembangunan gedung baru DPR terlalu besar. Jika dihitung
rata-rata, harga satu ruangan anggota DPR itu Rp 2,8 miliar. Nilai itu
sangat mahal, bahkan untuk perkantoran di Jakarta.

”Bukan memikirkan kepentingan rakyat, DPR malah mikirin diri sendiri.
Rasanya tidak rela jika segelintir orang yang menjadi wakil rakyat
bermewah-mewahan saat rakyat masih miskin,” ujar Suwoko HS, pensiunan TNI
berpangkat sersan kepala, saat ditemui di Jakarta,

Bagi rakyat miskin di Jakarta, Gedung DPR saat ini sudah mewah sehingga niat
untuk membangun gedung baru yang lebih mewah tak masuk akal mereka.
Bayangkan, untuk membangun gedung berlantai 36 itu, pemerintah harus
menyisihkan anggaran Rp 1,6 triliun.

Anggaran sebesar itu sebenarnya cukup untuk membiayai bantuan iuran jaminan
kesehatan masyarakat (Jamkesmas) bagi lebih dari 22 juta warga miskin selama
satu tahun. Tahun ini pemerintah mengalokasikan dana bantuan iuran jamkesmas
sebesar Rp 6.000 per bulan atau Rp 72.000 per tahun untuk satu warga miskin.

Melanggar rasa kepantasan, kata Mahfud MD (Ketua Mahkamah Konstitusi)

Sementara itu, sikap para anggota DPR dikritik Mahfud M.D. yang kini
menjabat ketua Mahkamah Konstitusi. Menurut dia, pembangunan gedung dewan
itu melanggar rasa kepantasan. ''Saya pernah di DPR. Menurut saya, gedung
yang sekarang masih sangat baik,'' ujar Mahfud di gedung MK

Dia menilai, kengototan dewan melanjutkan pembangunan gedung baru tersebut
sebenarnya hanya dilandasi semangat gagah-gagahan. ''Okelah kalau dibuat
gagah-gagahan. Itu tidak melanggar hukum, tapi melanggar rasa kepantasan,''
imbuh Mahfud. Karena itu, dia mengharapkan sebaiknya proyek pembangunan
gedung baru itu dipertimbangkan lagi lebih lanjut.

Bahkan, Mahfud menyindir, walaupun gedung DPR dibangun sehingga menjadi
lebih mewah dan gagah, itu tetap tidak akan memengaruhi kemampuan anggota
dewan. ''Kemampuan mereka tidak akan meningkat. Pasti masih begitu-begitu
saja,'' sindirnya kembali.

Jadi, menurut dia, percuma fasilitas gedung dibenahi sedimikian rupa. Sebab,
hal itu tidak akan berdampak signifikan kepada produktivitas kerja
penghuninya. ''Asal mau kerja keras, produktivitas anggota sebenarnya tak
perlu terganggu hanya karena gedung,'' tandasnya.

Lebih lanjut, menteri pertahanan era Presiden Abdurrahman Wahid itu
menambahkan, anggaran yang akan digunakan sebaiknya dialihkan untuk
keperluan lain yang mendesak. Misalnya, untuk membantu korban bencana alam
dan membangun gedung pengadilan di luar Jawa. ''Gedung pengadilan di luar
Jawa itu masih sangat jelek. Atau, kalau tidak, untuk membangun rumah
prajurit, itu lebih pantas. Mereka lebih memerlukan,'' tegasnya. (Jawapos, 1
September 2010)

Apa mau mengalahkan gedung parlemen di banyak negara ?

  Mohon parhatian para pembaca tentang yang berikut ini :  kalau rencana
pembangunan DPR yang baru ini kemudian terlaksana menjadi kenyataan, maka
gedung yang megah dan mewah ini akan mengalahkan gedung parlemen di banyak
negara di dunia !!!  Sebab, gedung parlemen Prancis yang sudah termashur di
seluruh dunia sejak lama sekali saja tidak mempunyai fasilitas-fasilitas
yang berlebih-lebihan mewahnya seperti yang direncanakan di Jakarta itu.
Demikian juga kiranya gedung parlemen Eropa, Jerman, Belanda, Belgia,
Inggris, Spanyol, dan Italia.

Apakah yang dimaksudkan untuk dicapai dengan projek yang begitu megah dan
mewah itu supaya kelihatan gagah dan mengalahkan banyak negara di dunia ?
Apakah supaya  Indonesia bisa dibanggakan karena mempunyai  gedung parlemen
yang begitu indah ? Sungguh betul-betul keblinger, kalau begitu (untuk tidak
menggunakan istilah kasar  « sinting ») Sebab kegagahan  dan kebanggaan yang
begitu itu jelas hanyalah semu atau palsu saja, kalau untuk pengeluaran yang
begitu besar itu negara terpaksa cari utang yang lebih besar lagi  (yang
sekarang saja sudah lebih dari  Rp 1667 triliun, di samping harus
diterlantarkannya terus rakyat miskin yang jumlahnya melebihi 40 juta, dan
pengangguran puluhan juta pula.

Projek semegah dan semewah ini sama sekali tidaklah menunjukkan tanda
kehebatan negara dan bangsa Indonesia, melainkan sebaliknya !!! Ini
menunjukkan   ketidakwarasan cara berfikir  (dan sakitnya hati nurani) para
tokoh atau pejabat yang berkongkalikong dengan  para pengejar keuntungan
(yang tidak selalu halal) yang terdiri dari begitu banyak berbagai «
calok », konsultan, promotor, designer, arsitek, dan seabreg-abreg orang
lainnya.

Gedung DPR yang sederhana di bawah pimpinan Bung Karno

Projek pembangunan gedung baru DPR yang begitu itu tidak menaikkan citra
bangsa dan negara, melainkan malahan merusaknya. Kehebatan citra bangsa
tidak bisa dibangun atas penderitaan rakyat banyak, yang sebagian besarnya
masih dalam kehidupan yang serba kekurangan dan menyedihkan.

Citra bangsa dan negara Indonesia pernah menjulang tinggi di dunia ketika
dipimpin oleh Bung Karno. Pada waktu itu DPR, yang gedungnya adalah sangat
sederhana sekali kalau dibandingkan dengan yang sekarang, mempunyai martabat
yang tinggi dan kewibawaan yang besar, berkat politik dan ajaran-ajaran
revolusioner Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno.. DPR waktu itu adalah
salah satu dari alat revolusi rakyat Indonesia, yang suaranya didengar dan
dihormati oleh banyak orang di dalam dan luar negeri.

Kalau pembangunan gedung baru DPR toh akan terjadi juga nantinya, maka tidak
akan mendatangkan kemajuan yang berarti banyak bagi perubahan besar-besaran
dan fundamental untuk negara dan bangsa. Sebab, dengan kualitas, sikap moral
dan politik anggota-anggota DPR seperti yang sekarang ini, maka banyak soal
akan tetap begitu-begitu juga.

Alasan-alasan  yang dikemukakan oleh para pendukung rencana pembangunan
gedung baru DPR bahwa gedung baru itu perlu karena untuk lebih meningkatkan
efektifitas kerja anggota DPR, bahwa gedung yang sekarang sudah tidak
memadai kebutuhan DPR, bahwa fasilitas-fasilitas yang serba lengkap dan
mewah itu untuk menjaga kenyamanan kerja anggota DPR dan supaya tetap dalam
segar bugar, adalah alasan-alasan yang aneh, yang tidak masuk akal, yang
menyakitkan hati rakyat, dan juga yang ……. ;terlalu mahal !

Supaya rencana keblinger ini dibatalkan saja !

Karena pembangunan gedung baru DPR ini akan tetap menjadi masalah yang ramai
dipersoalkan, banyak orang, maka wajarlah kalau seluruh kekuatan demokratis
di Indonesia juga bersuara lantang untuk melawan rencana keblinger ini, dan
menuntut supaya dibatalkan atau dievaluasi kembali.

Rakyat Indonesia tidak membutuhkan suatu DPR atau parlemen yang bergedung
semegah dan semewah seperti yang direncanakan itu, tetapi yang tidak bekerja
untuk kepentingan seluruh rakyat seperti selama ini. Rakyat Indonesia akan
bangga dan senang dengan DPR yang gedungnya memadai atau selayaknya, tetapi
mempunyai anggota-anggota yang betul-betul pro-rakyat, dan yang
sungguh-sungguh berhak dan pantas disebut sebagai wakil rakyat.

Mengingat bahwa pembangunan gedung baru DPR ini akan menjadi masalah yang
akan lama ramai dibicarakan banyak orang dan karena pentingnya bagi
kehidupan bangsa, maka kita semua patut mengikuti seteliti mungkin
perkembangannya selanjutnya. Kita semua tidak boleh membiarkan bebas begitu
saja segala praktek-praktek terselubung para musang berbulu ayam di belakang
projek raksasa ini yang mau  mengeruk harta haram mereka, atas kerugian
para pembayar pajak.

Jelaslah kiranya bahwa pembangunan gedung baru DPR ini bukanlah projek yang
betul-betul dicita-citakan oleh rakyat (walaupun disetujui oleh sejumlah «
wakil rakyat »), melainkan adalah gabungan kongkalikong antara pejabat atau
tokoh-tokoh dalam pemerintahan dengan para pengusaha atau berbagai
oknum-oknum yang bermental korup dan anti-rakyat.

Kengototan orang-orang yang mau meneruskan projek yang begitu keblinger ini
harus dilawan.



Paris, 4 September 2010

A.      Umar Said



* * *




















[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke