AKUNASI? 

   

   

Dengan tergopoh-gopoh bang Udin bersama istrinya membawa bayinya, Umar,
ke Puskesmas. Dokterpun memeriksa bayi yang sekarat itu, lalu dengan gusar
memarahi orangtua bayi itu, katanya: “Kalian ini gimana sih? Masak bayinya
beberapa hari tidak dikasih makan? Untung segera kalian bawa kemari, coba
terlambat sedikit saja bayi kalian sudah mati.”  

   

Benar aja, setelah bayi itu diberi nasi, tubuhnya segar kembali dan
kini sudah dewasa yang sebentar lagi akan kawin dengan si Siti. Tak berapa
lamapun bang Umar sudah mempunyai momongan yang diberi nama; Unyil.  

   

Pertanyaan saya:  

   

Mungkinkah
     Umar hidup dan tumbuh dewasa jika tidak diberi nasi?Mungkinkah
     Umar mempunyai anak: Unyil, jika dia mati ketika bayinya karena tidak
     dikasih nasi oleh ibunya? Mungkinkah
     Umar mempunyai anak; Unyil, jika dia tidak menikahi Siti?Jika
     demikian siapakah si Unyil ini? – Perpaduan sperma dengan sel 
telur?Kapankah
     si Umar “membuat/merakit” sperma dan si Siti “membuat/merakit” sel
     telurnya? – Maksud saya: Adakah sperma/sel telur itu merupakan hasil
     kerajinan tangan kita, seperti kita membuat ukiran? Terbuat
     dari apakah sperma dan sel telur itu? – Nasi?Sekalipun
     “nasi” selalu ada, mungkinkah Unyil ada, jika si Umar mati ketika 
bayinya?Bisakah
     anda membuat kesimpulan; dari manakah si Unyil ini? – Dari “Tidak Ada?!” 

   

Dari penelusuran ini, kita semua menjadi tahu bahwa kita semua ini
asalnya adalah: TIDAK PERNAH ADA .
Dan jikapun kita ini menjadi ADA, itu asalnya adalah dari NASI, bukan?!  

   

Mari kita pikirkan ini;  

Kita
     asalnya TIDAK ADA, menjadi ADA, lalu kita pergi ke keadaan: TIDAK  

       ADA 
lagi[mati]. Kalau demikian, apakah artinya: ADA itu bagi kita? Apakah  

      artinya hidup kita ini, jika hanya
semacam JEMBATAN yang menghubungkan  

      dari TIDAK ADA 
ke TIDAK ADA . 

Kita
     ini asalnya: NASI, lalu kitapun memakan NASI. NASI makan NASI? 

Kalau NASI makan NASI, lalu apa
pula artinya tubuh kita, darah dan daging ini? Nggak ada gunanya, bukan?!  

   

Betapa remehnya keberadaan kita? Betapa remehnya arti kehidupan kita?
Dan betapa remehnya darah dan daging kita ini? – Kita hanyalah NASI!  

   

Tapi benarkah semua itu tak ada artinya apa-apa, jika kita bisa
menghasilkan karya- 

karya yang mahadahsyat di dunia ini? Bahwa sekalipun hanya NASI, kita
bisa menjelajahi ruang angkasa? Sekalipun hanya NASI, kita bisa menghitung
bintang-bintang di langit? Sekalipun hanya NASI, kita bisa menaklukkan
binatang-binatang dan tetumbuhan? Sekalipun hanya NASI, kita bisa mengelolah
pertanian melipat gandakan produksi NASI[padi]? Sekalipun hanya NASI yang sehari
saja sudah basi, namun kita bisa menaklukkan semua jenis logam dan benda-benda
yang keras.  

   

Tapi, cobalah anda kerahkan seluruh pengetahuan dan pengalaman anda,
carilah kemungkinan bahwa NASI itu ALLAH?! NASI itu ALLAH, atau NASI itu
dikuasai oleh ALLAH?!  

   

Kalau dunia pengetahuan selama ini menyatakan bahwa kita ini berasal
dari sperma dan sel telur, bukankah penggalian yang lebih dalam menyatakan
bahwa kita ini berasal dari NASI? – Manakah yang paling benar: sperma dan sel
telur atau NASI? 

   

Nah, saya tunggu tanggapan anda!  

   

>> Mazmur 8:3          (8-4)
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan  

                                             bintang-bintang
yang Kautempatkan: 

                    8:4           (8-5) apakah manusia, sehingga Engkau
mengingatnya? Apakah  

                                            anak
manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 

                   8:5            (8-6) Namun Engkau telah membuatnya
hampir sama seperti  

                                            Allah,
dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan  

                                            hormat. 

                   8:6            (8-7) Engkau membuat dia berkuasa
atas buatan tangan-Mu;  

                                            segala-galanya
telah Kauletakkan di bawah kakinya: 

                   8:7            (8-8)
kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang- 

                                             binatang
di padang ; 

                   8:8            (8-9) burung-burung di udara dan
ikan-ikan di laut, dan apa  

                                             yang melintasi arus lautan. 

                   8:9            (8-10) Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa
mulianya nama-Mu di  

                                              seluruh
bumi! 

   

>> Wahyu  14:7          dan ia berseru dengan suara nyaring:
"Takutlah  akan Allah  

                                   
dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya,  

                                   
dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan  

                                   
laut dan semua mata air." 

   

>> Pengkhotbah 12:12          Lagipula,
anakku, waspadalah! Membuat banyak buku  

                                               
tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan  

                                               
badan. 

                            12:13           Akhir
kata dari segala yang didengar ialah: takutlah  

                                               
akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah- 

                                               
Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 

                           12:14            Karena Allah akan membawa setiap
perbuatan ke  

                                                
pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang  

                                                 
tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke