Hello Donny,

Thursday, December 13, 2001, 1:56:06 PM, you wrote:

DBU> kita "memaksakan diri" untuk menjembatani "digital divide" dengan
DBU> cara IT, yang kental dengan pembangunan fisik!

sebenarnya idea dibalik itu adalah menjembatani kesenjangan informasi
bukan masalah digital atau analognya (itu mah teknologi medianya saja,
sekedar tools). jadi yg menjadi misi adalah bagaimana caranya agar
bisa tersampaikan informasi.

visinya adalah tentu saja sesuai dg artikulasi masing2 pelaku, kalo
apjii ya tentu saja bicara dg cara memperbanyak akses internet, kalo
awari ya tentu saja bicara gimana caranya memperbanyak warnet, apkom
indo tentu saja bagaimana caranya memperbanyak pemakaian komputer. dst
pendek kata muara ideanya adalah sama, bagaimana caranya informasi itu
sampai. tidak perlu kita tengarai macem2 proses aktualisasi visi ini.

masalahnya sekarang kenapa informasi ? karena kita tahu setelah era
industrialisasi dan kapitalisasi besar2an maka kini kita masuk ke
'jenjang peradaban' baru, yaitu informasi. yang menguasai informasi
akan bertahan dan terus maju, yg tertinggal (kalo di era industrial
maka mereka menjadi pasar, dimangsa begitu saja sesuai semangat
kapital) kini paradigmanya sudah sedikit berubah, bergeser, tidak
diemplok begitu saja namun sebaliknya sedapat mungkin diberdayakan
supaya bisa jalan bareng. supaya aware thd informasi, supaya butuh thd
informasi dan supaya bisa memanfaatkan informasi untuk mensejahterakan
dirinya dan lingkungannya.

kenapa jalan bareng ? karena dlm peradaban informasi ini batas antara
produsen dan konsumen makin lama makin bias. di satu sisi mereka yg
sdh leading memasok informasi yg dimiliki, diantaranya dg cara menjual
sehingga konsumennya aware. tapi pd waktunya kelak mereka mengharapkan
aliran informasi yg mulai diproduksi oleh konsumennya tadi. ini suatu
hubungan timbal balik, hanya saja karena ada kesenjangan maka flownya
tidak paralel tapi ada delay sekian lama di satu sisi sebelum akhirnya
bisa equal.

org 'kapital' tahu bahwa mereka harus membawa juga rombongan 'sosial
demoktrat' kalo ingin selamat, agar tidak saling kontra produktif. ini
sudah bukan jamannya perang ideologi siapa yg bakal eksis akhirnya,
krn mereka paham ideologi itu bukan barang suci lagi dan dunia ini
bisa terdiri dari beragam kepercayaan. tapi keinginannya toh sama.

maka yg terjadi adalah kolaborasi, konvergensi bukannya win lose
situation. maka dalam atmosfir ini tentu jadi tak ada gunanya lagi
membicarakan ini dari mana asalnya, siapa yg kebetulan dominan (dan
seperti kelihatan ingin menguasai, menjajah) dan mengapa mereka
berbuat ini itu.

kenapa ? karena kalo kita sudah dalam semangat kolaborasi, seharusnya
yg dipikirkan adalah bagaimana caranya supaya kita sebagai pelaku
(entah subyek, obyek atau malah pelengkap penderita) untuk mendapatkan
manfaat semaksimal mungkin dari situasi ini.

jadi kita tahu bahwa memang inilah jalan yg hrs kita lewati. dan dlm
kerangka peradaban, kita tahu bahwa memang inilah proses sosial, suatu
pembudayaan. tentu menjadi lebih kompleks ketika kita masuk pembahasan
budaya, krn yg dibicarakan adalah manusianya, bukan teknis kabelnya.

kable mah gampang, tinggal pilih make yg mana merah, kuning apa ijo.
mau apjii, awari, komitel, apkomindo, indowli atau karang taruna kek,
terserah, bebas, toh itu sekali lagi cuman aksentuasi.

DBU> konsekuensi logis kedua, internet akhirnya menjadi hal yang negatif,
DBU> pornografi dan destruktif.

apa kita tdk pernah melihat ekses dari proses peradaban sebelum ini ?
dibandingkan dg akibat dari kesadaran kapitalis dan revolusi industri
(bahkan tidak segan2 memanfaatkan jargon keagamaan) imperialisme dan
penindasan, perang terjadi di mana2. karena semua merasa tergantung
pada bahan mentah, resource. itu jelas akibat yg jauh lebih buruk dari
sekedar kerusakan pornografi.

artinya ekses adalah bagian dari perubahan. suka atau tidak percaya
apa kagak, tapi itu toh tetap harus kita lewati. sejak kapan manusia
punya kuasa menolak perjalanan waktu ? maka timbang terus2an bertanya
kenapa ini mesti terjadi maka yg lebih penting utk dilakukan adalah
bagaimana kita 'deal' dg konsekuensi ini.

jangan dikira badui yg terasing sepenuhnya steril dari urusan ini.
mana bisa ? sedangkan disekitarnya semua berubah. it's a matter of
time. maka gaya naif pun tdk akan bisa menyelamatkan mereka. di era
sekarang aja mereka sudah nyaris tak bisa bertahan, apalagi nanti. sdg
saudara2 kita yg di papua atau timtim saja, sampai saat ini masih
menyesali ketertinggalan peradaban mereka dibanding suku2 lain.

DBU> pertanyaan mendasar, sudah siapkah budaya daerah tersebut
DBU> menerima kehadiran internet yang notabene merupakan "leap frog"
DBU> dari suatu teknologi yang tengah dimilikinya saat ini?

kapankah perubahan itu tdk membawa ekses ? tidak pernah terjadi. kalo
di era informasi ini, gejala yg umum adalah leap frog maka jelaslah
bagi kita bahwa ekses yg bakal paling dominan adalah cultural shock.
dimana2 terjadi generation lap. dan gejala ini sebenarnya juga sudah
terjadi sejak lama, sejak era radio lalu kemudian televisi. disetiap
era kita tahu percepatannya makin tinggi, radio perlu puluhan tahun,
televisi hanya dalam belasan tahun dan kini internet, kurang dari satu
dasawarsa. wajar sekali jika tingkat keterkejutannya juga makin tinggi

kita bisa dengan mudah membandingkan, jamannya radio dan tv tunggal
(dikontrol pemerentah lagi) menuju ke radio swasta, lalu tv swasta dan
kemudian tiba2 parabola menjamur dimana2. apa eksesnya bagi masyarakat
dg jelas kita melihat hedonisme, permisifme bahkan juga kriminalitas.
norma budaya rusak seketika. meskipun di saat yg sama kita mensyukuri
datangnya keterbukaan, demokrasi dst sehingga kita sepakat bahwa kini
kita punya hak asasi atas informasi.

sekali lagi ini adalah proses dan satu2nya pilihan yg kita punya. maka
yg paling bijak kita lakukan adalah bagaimana cara mensikapinya. bukan
berkeluh kesah mengapa begini dan begitu, juga mempermasalahkan siapa2
yg sedang bermain. karena sebenarnya kita menginginkan hal yg sama,
kemanfaatan maksimal bagi seluruh bangsa. itu saja.

soal tanggung jawab sosial dan tetek bengeknya, bukankah itu kembali
ke masing2 pribadi, pelaku ? tidak bisa itu kita paksa tanyakan, krn
bicara soal ini tiap org punya versi dan reasoning masing2. tdk perlu
sama apalagi hrs spt norma2, nilai2 dan filosofi yg selama ini telah
kita jadikan platform bersama berdasarkan kepercayaan ideologis.

dan jangan lupa, bukan hanya anda atau kita saja yg resah, kritis dan
concern thd permasalahan ekses ini. bagaimanapun setiap pelaku pasti
selalu memikirkan hal yg sama. karena secara riil ekses adalah kontra
produktif terhadap apapun yg sdg mereka kerjakan. percayalah, mereka
pasti juga sedang berbuat sesuatu utk mengatasinya. it's natural.

pornografi misalnya, rasanya adalah ekses yg paling secara kasat mata
padahal masih banyak hal lain yg lebih hebat dari itu. pernahkah anda
sebagai salah satu bagian dari pelaku dlm dunia IT ini, merasakan
betapa pedih dan terhinanya mereka yg hanya berusia beberapa tahun
diatas (kakak2 kita) tapi terpaksa hrs rela tergeser posisinya oleh
kita hanya karena skill kita, imajinasi dan kreatifitas serta energi
yg lebih muda dan baik ? padahal mereka telah berjuang sekian lama ?

sadarkah kita bahwa beberapa waktu lagi, kumpulan org2 semacam itu
akan menjadi tembok yg menyekat akses2 kpd resource, merekalah yg
paling potensial menjadi resisten th semua yg sdg kita kerjakan, bukan
masyarakat yg tersinggung oleh pronografi ! itu baru satu hal.

tapi demikianlah yg memang hrs kita hadapi dan saya yakin sebenarnya
semua org pasti sedang memikirkan dan mengerjakan sesuatu utk make
deal dg masalah2 ini. dg perspektif dan caranya masing2. tanpa perlu
diekspos barangkali sehingga kita tdk sempat melihatnya, sehingga kita
yg kritis menjadi khawatir jangan2 mereka (para pelaku) ini tidak
menyadarinya ? sehingga perlu diingatkan. tapi baiklah itu bagian dari
mekanisme sistem yg baik, selalu ada sentilan. itu bagus sekali.

dan proses sosialisasi dan pentahapan adalah salah satu strateginya,
artinya tentu itu adalah salah satu hal yg selalu diendorse oleh siapa
pun yg bermain di sini. kita melihat itu dg sangat telanjang kan ?
tapi sekali lagi, siapakah yg bisa bertahan dan menghindar dan tidak 
terseret situasi terburu2 yg mengglobal ini ? artinya percepatannya
memang sangat tinggi dan terus terang kita sbg bangsa yg memang sudah
sejak dari dulunya tertinggal, jelas megap2 meskipun akrobatik kreasi
kita begitu luar biasanya dlm menghadapi situasi ini. tapi memang apa
boleh buat time frame yg tersedia sangat sempit, katakan pasar bebas,
itu bukan menyangkut soal siap tidak siap, keterkejutan atau ekses,
tapi semata2 memang kita sdh terlanjur teken kontrak yg memastikan hal
itu pasti terjadi pd waktunya. kita sendiri yg menyulut bom waktunya.
kenapa bisa begitu ? karena memang ya hanya itu satu2nya pilihan.

jadi nggak peduli deh kita ini siap fisik dan mental apa tdk. jaman
itu kenyataannya buta dan nggak pilih kasih. yg tdk berjuang keras ya
otomatis tertinggal, kelindas dan tak tertera di buku sejarah. it's a
matter, how we deal with this situation.

-- 
Best regards,
 PatakaID                            mailto:[EMAIL PROTECTED]

_______________________________________________
Milis Komunitas Sekolah2000 (A.K.A [EMAIL PROTECTED])
Untuk posting kirim email ke : [EMAIL PROTECTED]
Untuk mengubah mode langganan anda, berhenti langganan kunjungi:
http://milis.sekolah2000.org/mailman/listinfo/komunitas

Kirim email ke