gambaran dari mas pataka cukup komprehensif. saya mau sedikit ceritakan ilustrasi ini.
mesin cetak muncul pertama kali diciptakan, yang dicetak adalah kitab2 dan buku2 agama kristiani, yang buku2 dan kitab2 tersebut disebarkan di seluruh dataran amerika. dan kini mesin cetak juga untuk mencetak majalah playboy, disamping untuk mencetak buku2 pelajaran TV muncul pertama kali, acaranya adalah hiburan. no matter isinya tentang berita perang yang keji sampai lawakan slapstick ala charlie chaplin, formatnya tetap hiburan. kotak kaca yang bernama TV memang terlahir sudah sebagai kotak hiburan, apapun isinya. sekarang isi kotak tersebut ada teletubbies, sesame street, telenovela (yang banyak menuai kritikan), sampai dengan film2 esek-esek. kedua teknologi di atas, mesin cetak dan TV, terlahir membawa kulturnya masing2. masing2 membawa dampak yang dirasakan hingga kini. yang jelas, mesin cetak tidak terlahir untuk mencetak buku pornografi. pun televisi tidak diciptakan untuk menayangkan pornografi. masuknya kedua teknologi tersebut dalam sebuah kultur pada awalnya, tidak berawal dari hal yang negatif (menurut saya, pornografi itu negatif). toh meskipun sekarang banyak majalah porno, banyak film2 porno, orang tidak akan menunjuk hidung pencipta mesin cetak dan pencipta tabung televisi, sebagai biang dari pornografi. karena materi pornografi itu proses keberlanjutan dari pemanfaatan fungsi kedua alat tersebut. sama halnya dengan internet. internet lahir di dunia juga demi kepentingan pendidikan dan keamanan. masuk ke indonesia, dan ini diakui oleh banyak praktisi internet di indonesia, melalui jalur bisnis. artinya, internet pertama kali berkembang di indonesia adalah sebagai alat bisnis. kini kita yang bergelut di sisi bisnis dan pendidikan, mengenal internet sebagai sebuah alat/teknologi yang sama halnya dengan mesin cetak dan TV. yaitu terlahir sebagai sebuah alat/teknologi yang bebas nilai dan dapat berguna bagi bisnis dan pendidikan. pernah dalan suatu kajian dampak televisi terhadap suatu kultur, ternyata jelas sekali ada pergeseran nilai sebuah masyarakat yang diakibatkan oleh televisi. masuknya budaya2 asing dan konsumerisme yang diboyong oleh televisi ke masyarakat pedesaan dan marjinal, ternyata mengubah nilai budaya dan tuntutan hidup dari masyarakat tersebut. kalau masyarakat tersebut terpacu untuk bekerja lebih giat dan mampu beradaptasi dengan budaya2 baru tersebut, maka tidak akan jadi soal. selain itu, televisi pun memang isinya tidak melulu hal2 asing dan konsumerisme tersebut. kita tidak bisa mengatur tayangan di layar kaca televisi itu semau kita, kita hanya bisa mengganti channel saja. tetapi materi dari setiap channel, adalah tetap. masih banyak hal positip di layar kaca yang "masuk" ke indra penglihatan dan pendengaran kita. maka, secara bertahap, kultur sebuah masyarakat mulai berubah setelah datangnya televisi. perlahan-lahan, dan cenderung berimbang antara positip dan negatif. kembali ke soal internet. ok sekarang internet dimasukkan ke daerah-daerah. program kita semua adalah bagaimana masyarakat2 di daerah bisa menggunakan internet! bagaimana caranya penetrasi internet bisa meningkat! ada satu hal yang lupa kita perhatikan. internet adalah layar kaca yang materinya kita sendiri yang mengatur. internet adalah teknologi yang isinya menganduk hal positip dan negatip. sekali internet masuk ke masyarakat sebagai media positip, maka kemajuan bangsalah yang kita tuai. tetapi begitu internet masuk ke masyarakat sebagai media negatif, maka kemunduran bangsalah yang kita hadapi. internet memang seperti mesin cetak dan televisi, sebagai teknologi dia bebas nilai. ya, bebas nilai seperti apa yang ada dipikiran Anda, saya dan seluruh anggota milis ini. tetapi apakah demikian pula yang ada dipikiran dan benak masyarakat daerah? mengapa ibu2 sampai melarang anaknya menggunakan internet? mengapa tabloid keluarga memasang headline tentang artis bugil di internet? mengapa sampai ada abg yang patungan untuk membuka pornografi di sebuah warnet? ini semua sudah menjadi keseharian di sekeliling kita. kian lama akan kian banyak kita temui. itulah yang luput dari kita! kita lupa, bahwa teknologi karena semangat bebas nilainya tersebut, akhirnya bisa menjadi apapun di mata masyarakat. kita lupa untuk mensosialisasikan internet dengan benar, karena kita sibuk dengan urusan bisnis internet. kita luput untuk memberi penyuluhan tentang fungsi internet bagi kemaslahatan umat, karena kita sibuk dengan urusan politik internet. bahkan kita lupa untuk menyadarkan masyarakat dan media massa tentang dampak positip dan negatif internet, karena kita terlalu sibuk dengan urusan2 regulasi dan non-regulasi. memang, internet hanyalah sebuah alat. internet hanyalah perkakas bagi mereka yang tahu bagaimana memanfaatkan perkakas tersebut. tetapi harap diingat, masuknya teknologi ke dalam sebuah kultur bagaikan air warna merah yang diteteskan ke segelas air jernih. begitu diteteskan, kita tidak akan mendapatkan segelas air jernih dan setetes air warna merah. yang kita dapatkan adalah segelas air berwarna merah muda. teknologi dan kultur pun demikian. begitu teknologi dicemplungkan pada sebuah kultur, kita tidak akan mendapatkan sebuah kultur (yang sama) dengan sebuah teknologi/alat. yang kita dapatkan adalah sebuah kultur yang baru, yang didalamnya ada terkandung nilai2 sebuah teknologi. kalau ada seseorang tukang kayu yang biasa menggunakan kapak untuk menebang kayu, kemudian kepadanya diberikan sebuah gergaji listrik yang baru pertama kali dilihatnya, apa yang akan terjadi? kalau dia tidak diberikan manual atau informasi yang benar tentang gergaji listrik tersebut, maka yang kita dapatkan hanyalah seorang tukang kayu dan sebuah gergaji listrik. kalau yang kita beritahu bahwa gergaji listrik itu adalah untuk menangkap ikan, maka yang kita dapatkan adalah seorang tukang kayu yang tampak bodoh. tetapi kalau kita memberikan informasi yang benar tentang gergaji listrik tersebut, maka yang akan kita dapatkan adalah seorang tukang kayu yang bisa meningkatkan hasil kayunya, bisa meningkatkan taraf hidupnya dan akhirnya bisa membeli mesin gergaji listrik yang baru untuk digunakan secara benar oleh anaknya, keluarganya, anak buahnya dan komunitasnya. tulisan panjang saya kali ini hanya ingin mengingatkan, bahwa teknologi memang bebas nilai. tetapi begitu tersentuh dengan kultur, maka teknologi tersebut akan berubah dari sekedar alat, menjadi sebuah katalis yang menyatu dengan teknologi itu sendiri. baik-buruknya budaya yang tersentuh oleh teknologi tersebut, merupakan buah pikiran dan buah usaha dari kita2 yang mengenalkan teknologi tersebut. kalau kita terlalu sibuk sehingga lupa menjelaskan informasi yang benar tentang internet, maka yang kita temui bukanlah sebuah budaya asli dan internet yang negatif, tetapi sebuah budaya yang cenderung negatif (termasuk internet yang negatif di dalamnya). tetapi kalau kita sudi meluangkan waktu lebih banyak untuk sosialisasi, mengkaji aspek budaya dari sebuah teknologi, lebih memikirkan aspek sosiologi ketimbang sekedar berbicara kuantitas penetrasi, maka yang kita akan dapatkan adalah budaya bangsa yang mengarah ke kemajuan peradaban yang positip. akhirnya, saya hendak mengajak rekan2 untuk bersama2 bekerja mensosialisasikan dan menginformasikan teknologi internet dengan benar, benar caranya dan benar sasarannya. kalaupun sekarang sudah mulai ada yang menjalankan misi sosial tersebut, mari kita tingkatkan secara kualitatif dan kuantitatif. kita berlomba dengan kemunduran budaya kita apabila terus-terusan Internet dipahami masyarakat sebagai hal yang negatif. dengan kerja keras bersama, walhasil kita akan meninggalkan budaya lama kita ke budaya yang lebih maju berkat internet. bukan budaya yang mundur yang ditopang internet, bukan pula sekedar menjadi catatan kaki dalam buku2 sejarah. nb: ijinkan saya untuk tidak meneruskan thread ini di milis, karena belum tentu semua rekan miliser senang dengan topik ini. saya bersedia melanjutkan diskusi ini via japri saja ya :) -dbu- Pekerja TI Biasa ----- Original Message ----- From: "PatakaID" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, December 16, 2001 9:19 AM Subject: Re: [GENETIK@] Apa Itu Digital Divide? Perhatikan Aspek Sosial! Re: [asosiasi-warnet] Membuka Polemik Internet di South East Asia.... > > jadi nggak peduli deh kita ini siap fisik dan mental apa tdk. jaman > itu kenyataannya buta dan nggak pilih kasih. yg tdk berjuang keras ya > otomatis tertinggal, kelindas dan tak tertera di buku sejarah. it's a > matter, how we deal with this situation. > > -- > Best regards, > PatakaID mailto:[EMAIL PROTECTED] _______________________________________________ Milis Komunitas Sekolah2000 (A.K.A [EMAIL PROTECTED]) Untuk posting kirim email ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk mengubah mode langganan anda, berhenti langganan kunjungi: http://milis.sekolah2000.org/mailman/listinfo/komunitas

