Ada tips berguna nih bro...


Regards,



Iwan K-810





Tertawa Bisa Menyehatkan Tempat Kerja

Jumat, 13 Juli 2007 - 17:11 WIB

Tahukah Anda bahwa suasana yang penuh canda dan tawa bisa mendatangkan pengaruh 
positif di tempat kerja? Dan, sudahkah Anda menyadari bahwa suasana tempat 
kerja yang "ramai" seperti itu merupakan tuntutan karyawan dari generasi 
milenial saat ini, yang menginginkan kantor yang supportive dan fun?

Kenyamanan di tempat kerja merupakan isu yang serius. Siapa mau bekerja di 
tempat yang membuat orang stres? Untuk itu, organisasi perlu terus-menerus 
meningkatkan upaya menciptakan lingkungan (tempat) kerja yang menyenangkan, 
sehat dan produktif. 

Kolumnis David Granirer yang telah melakukan presentasi "tertawa di tempat 
kerja" di ratusan organisasi di Amerika menganjurkan, "Hidupkan tempat kerjamu 
dengan tawa!".

Umumnya organisasi menganggap "tertawa di tempat kerja" bukankah ide yang 
bagus, dan melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang kontra produktif. "Tertawa 
selalu dipertentangkan dengan kerja," ujar Granirer. 

"Kita terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan seperti 'no pain, no gain' atau 
'bekerja bukan untuk bersenang-senang'," tambah dia. 

Namun, menurut Granirer, dewasa ini kalangan dunia usaha mulai menyadari bahwa 
ungkapan-ungkapan seperti itu cenderung menjadi beban. "Di era perubahaan 
sekarang ini, ajaran-ajaran seperti itulah yang justru kontra produktif."

Granier mengutip riset yang dilakukan sebuah lembaga keuangan di Kanada yang 
menemukan bahwa para manajer yang mampu memfasilitasi kinerja karyawan hingga 
level tertinggi adalah mereka yang paling sering menggunakan humor.

"Data-data ilmiah juga membuktikan bahwa tertawa merupakan bagian integral dari 
kenyamanan fisik," ungkap dia. 

Kendati demikian, Granirer mengingatkan, kapan saat yang tepat karyawan 
memerlukan humor. Granirer lalu mengutip psikolog dari Universitas St. Thomas, 
Thomas Kuhlman yang menyebut dua indikator khusus yang menandai bahwa sebuah 
perusahaan memerlukan humor. 

Pertama, ketika perusahaan berada dalam situasi-situasi yang tidak 
menguntungkan. "Misalnya, perusahaan harus menyelesaikan proyek tertentu tapi 
sumber-sumber daya tak mencukupi, atau ketika ada permintaan yang sulit dari 
klien atau bos, atau dihadapkan pada regulasi yang tidak populer," papar 
Granirer. 

Kedua, adanya tekanan-tekanan yang tak terprediksi atau tak terkontrol. 
Misalnya, jadwal yang padat atau beban kerja yang melimpah.

"Dalam situasi-situasi di mana kita hanya memiliki kontrol yang kecil atau 
tidak sama sekali terhadap keadaan di luar, satu-satunya kontrol terletak pada 
bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Kita bisa memilih, tertawa atau putus 
asa," tutur Granirer. 

Dalam banyak hal, demikian Granirer, tertawa adalah satu-satunya respon yang 
rasional untuk tetap bertahan. "Bisa tertawa terhadap diri sendiri dan situasi 
yang dihadapi akan membantu kita menurunkan tekanan, mendapatkan kembali 
perspektif kita dan menerima apa yang memang tidak bisa kita ubah."

"Tidak hanya itu, tertawa juga memberi kita energi dan kegembiraan yang kita 
perlukan untuk bertahan," tambah Granirer.

Kirim email ke