Santi,

Saya kira yang Anda pikirkan ini (soal diperlukannya tentara) adalah pikiran
khas manusia negara berkembang yang masih hidup di Abad Kegelapan. Kadang
kalao ngongong tentara kita akan ngomong soal bela negara, dan kalo ngomong
bela negara kita akan bicara soal nasionalisme, lantas kalo bicara
nasionalisme kita selalu terjerumus pada nasinalisme ala jaman Mataram
(right or wrong is my country).

Di jaman globalisasi peranan tentara telah direduksi sama yang namanya
informasi dan modal. Bayangin aja modal asing tiba-tiba mengambil alih
seluruh gedung-gedung pencakar langit sepanjang Jl Thamrin-Sudirman juga
berbagai apartemen hanya kerena mata uang kita terpuruk. Ini bukan invasi
tentara luar negeri yangt bisa dilawan dengan pertumpahan darah. Sepenuhnya
pengambil-alihan damai menurut hukum ekonomi. Coba saja kita lihat
penggalian emas dan timah dari Gunung Jayawijaya oleh Freeport yang sama
sekali tak melibatkan unsur militer. Malah militer Indonesia menjaga
sepenuhnya kepentingan Amerika di sana. Lantas apa relevansinya tentara
kalau begitu.

Saya justru mendukung Eka untuk merenungkan kembali sebuah masyarakat
negara-bangsa tanpa tentara kayak Swiss atau Vatican. Di Swis, yang namanya
tentara hanya dikenal namanya lewat jam tangan atau sejumlah produk industri
logamnya yang berlabel "Swiss Army" demikian juga negara kecil macam Vatican
yang ada di sana cuma polisi sewaan asal Swiss.

Saya kira sekian "abad" bangsa kita ini hidup dalam ketakutan. Takut karena
negara kita ini strategis, takut akan perpecahan, takut ada makar, takut
mahasiswa marah, takut petani menuntut haknya, takut buruh mogok kerja dan
seterusnya. Dan atas dasar ketakutan itu kekuasaan memperoleh legitimasi
untuk membangun angkatan perang yang kuat. Coba saja lihat berapa anggaran
negara (baik resmi maupun tak resmi) digunakan untuk membayar gaji aparatus
negara. Coba lihat berapa uang dihamburkan untuk membiayai intelijen negara
yang tak jelas juntrungannya, yang menyimpulkan Peristiwa 27 Juli adalah
kerja PRD yang juga kerap membuat kesimpulan salah hingga muncul julukan
negatif "intel Melayu".

Saya bukan tak menghormati profesi tentara. Tapi saya kira menghormati bukan
berarti takut untuk menggagas kemungkinan menghapus profesi tua manusia yang
dalam sejarah kemanusiaan justru menjadi penyumbang kepunahan umat manusia
paling besar. Coba saja bayangin, kita membayar pajak, merestui sekelompok
manusia untuk menjaga keamanan kita. Kita setuju mereka memonopoli semua
persenjataan mulai dari amunisi, pisau komando, sepatu lars, seragam,
pistol, senapan, hingga tank, pesawat tempur dan kapal perang. Tapi coba apa
yang didapat rakyat Indonesia? Ratusan, ribuan dan jutaan orang justru
dibunuh dengan alasan "demi untuk ketertiban dan keamanan" atau "demi untuk
persatuan dan kesatuan". Puluhan orang ditangkap dengan alasan sepihak (dari
monopoli senjata ke monopoli kebenaran) dan diculik, dianiaya. Keamanan apa
yang didapat? 

Seringkali justru musuh-musuh rakyat bermunculan karena adanya rekayasa.
Barangkali kita memang butuh mempelajari kembali asal-muasal tentara,
militerisme dan fasisme. Ketiganya ini saling bertautan satu sama lain. Dan
awas jangan terjebak pada sloganis "prajurit pejuang" dan "pejuang prajurit".

Saya percaya bahwa yang namanya tentara dalam sebuah negara damai (dimana
ada masyarakat madani yang solid) tak dibutuhkan, yang dibutuhkan hanya
polisi. Begitu juga di tempat kita, kecuali kita hidup dalam schrizophenia
terus-menerus bahwa dalam hidup kita tak pernah ada kedamaian.

Sebetulnya ada sebuah syair lagu bagus yang pernah dinyanyikan Victor Hara
tentang tentara. Penyanyi asal Chile tersebut menyenandungkan tentang peran
tentara yang tak lebih sebagai pisau pembabat. Penyanyi yang mendukung
terbentunya masyarakat madani dibawah Allende itu mati akibat mengalami
siksaan di kantor Koramil oleh tentara pendukung Jendral Pinochet. Saya
sebetulnya ingin mengetiknya untuk Anda, tapi sayang buku tersebut tertumpuk
di gudang saya yang berantakan.

Samin

==================

At 11:09 AM 11/17/98 +0700, you wrote:
>
>Dear Mas Kj,
>Ada sedikit silang pendapat dengan Mas Eka. Apa tidak terlalu ekstrim
>pemikirannya untuk membubarkan Abri. Mungkin yang penting adalah
>mengembalikan Abri sesuai fungsinya. Sebagai pengayom rakyat dan penjaga
>kedaulatan negara. Saya takut, karena letak negara kita ini sangat
>strategis sekali secara teritorial, kalau nggak punya Angkatan Bersenjata,
>banyak sekali yang mengincar. Paling nggak, buat saya Abri masih ada
>fungsinya lah. Ya sebagai penjaga kedaulatan negara. Tapi kalau malah
>membunuh rakyat sendiri, wah, kayaknya baru Abri saya yang bisa
>melakukannya. Ngeri ya.
>
>
>Salam, 
>Santi
>
>
>
>>
>>At 09:45 PM 11/14/98 +0700, you wrote:
>>>>Date: Sat, 14 Nov 1998 13:09:12 +0700
>>>>From: Keluarga Budianta <[EMAIL PROTECTED]>
>>>>X-Mailer: Mozilla 3.01Gold (Win95; I)
>>>>To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>>>>CC: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>>>>Subject: [diskusi] [Fwd: [Fwd: Re: surat utk Jen Wiranto]]
>>>>Sender: [EMAIL PROTECTED]
>>>>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>>>>
>>>>Teman-teman,
>>>>Ada yang bertanya, kemana para guru besar dan rektor yang berjanji
>>>>melindungi mahasiswa itu, ketika terjadi pembantaian?
>>>>Saya tak ingin anda berpikir bahwa para penyair juga diam ketika
>>>>anak-anak bangsa ini dibantai.
>>>>Terlampir surat saya kepada Jendral Wiranto (kalau ia tidak dipecat
>>>>sebagai Menhankam/Pangab).  Saya hanya mohon agar dia membubarkan ABRI.
>>>>Menurut saya itulah jalan terbaik kalau ingin menyelamatkan Indonesia
>>>>yang masih banyak dicintai di dalam dan di luar negeri.
>>>>Teriring salam dan doa,
>>>>EKA BUDIANTA
>>
>>
>>
>
>
>
>Himbuan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
>
>---------------------------------------------------------------------
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 
>
>
>
>


Himbuan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !

---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Kirim email ke