> >
> >
> >TERIMA KASIH SANTI.
MUNGKIN SEKARANG TERDENGAR EKSTRIM.
TAPI 20 TAHUN LAGI BIASA. BAHKAN KUNO.
KETEGANGAN YANG TAK PERLU SEPERTI PERANG IRAQ vs AMERIKA,
dan INDIA vs PAKISTAN, akan membuat manusia muak pada kekerasn.
Pada gilirannya, para ibu harus kampanye anti perang.
Bukan hanya ABRI yang harus dibubarkan, tapi juga angkatan perang mana
saja: AS, Inggris, Perancis, dst. Kalau sempat, tolong Santi baca
artikel saya terlampir "Negara tanpa Tentara?"
Salam,
Eka Budianta
NEGARA TANPA TENTARA?
Oleh Eka Budianta
Indonesia tanpa ABRI? Betul! Agak sulit menerangkan bagaimana mungkin
membangun negara tanpa militer. Bahkan "pemerintahan" sekecil Vatican pun
memerlukan tentara bertombak, berperisai, dan tinggi badannya tak boleh
kurang dari 2 meter.
Tetapi sebetulnya sederhana. Mengapa begitu sulit bagi kita membayangkan
dunia tanpa meriam, tank, teknologi perang, manajemen penyiksaan,
terorisme, militerisme, kebengisan, dan sadisme? Bukankah dulu bumi dan
isinya diciptakan tanpa senjata? Ah, siapa bilang. Bukankah setiap makhluk
dilengkapi dengan senjata masing-masing? Singa punya taring dan cakar.
Ular berbisa, banteng bertanduk, lebah bersengat, cumi-cumi bertinta,
kakaktua berparuh tajam, badak bercula, dan seterusnya.
Bahkan semut bergigi, dan kalau menggigit, aduh mak, sakitnya. Senjata
adalah alat penting untuk membela kehidupan. Kita tidak boleh lupa itu.
Maka kalau kita punya bedil, pestol, racun, kursi listrik, mesin penyiksaan
dan alat pembunuh lain; manfaat utamanya adalah untuk memperpanjang umur,
mempertahankan kebahagiaan.
Semoga hal kecil itu dapat dicamkan dalam hati ABRI maupun bukan. Tetapi
mengapa 20 tahun terakhir saya selalu berdoa semoga ABRI lekas dibubarkan?
Ada ceritanya. Seperti halnya 1998 dan 1988; pada 1978 Indonesia juga
bersidang umum DPR/MPR. Suatu siang, ABRI menunjukkan kehebatannya.
Beberapa serdadu naik ke atap kampus saya di Rawamangun, Jakarta Timur dan
menembak-nembakkan bedilnya.
Para mahasiswa ketakutan. Mahasiswi menjerit-jerit, bersembunyi di bawah
meja. Saya mau lari keluar dan membubarkan mereka, tapi dilarang. Semua
takut kena peluru nyasar. Jadi cita-cita saya membubarkan ABRI sudah
bersemi sejak 1978. Kadang berkobar-kobar, tapi seringkali lenyap,
terlupakan. Baru, Mei 1998 berkobar lagi, dan puncaknya 14 November,
ketika saya kumpulkan keberanian untuk menyarankan langsung pada
panglimanya, yaitu Jendral Wiranto.
Menurut saya ABRI harus dibubarkan. Kalau ABRI bubar, otomatis "dwifungsi"
yang banyak diributkan itu hilang, tentara tak perlu wakil di DPR, dan
militerisme dikoreksi. Lebih dari itu, pembubaran ABRI bisa menjadi bagian
penting dalam perlucutan senjata dunia.
Sayangnya, inspirasi untuk menghapuskan militerisme dari muka bumi yang
satu ini sedang memudar. Kampanye detente dan disarmanment kalah pamor
dengan brinkmanship Amerika - Irak. Bahkan kalah jauh dibanding gegap
gempita memerangi AIDS, promosi hak-hak asasi buruh, dan perjuangan
perempuan untuk mendapat tempat yang semestinya dalam konfigurasi sejarah
manusia.
Di Indonesia memang ada semangat menentang militerisme. Banyak teman dan
lawan ingin menghapuskan dwifungsi ABRI. Cuma agak aneh, karena
penghapusan dwifungsi diartikan membuat tentara harus makin profesional dan
kembali ke barak. Bagi saya sebaliknya. Menghapus dwifungsi bukan
menyuruh tentara pulang ke tangsi, melainkan lebih memanusiakan mereka.
Biarkan saja fungsi sosial politiknya, tapi militerismenya yang dihapus.
Mereka harus diberi kebebasan memilih. Kita tahu tidak semua anggota ABRI
jahat. Ada angkatan laut yang tugasnya bisa dialihkan untuk menyelamatkan
marine biodiversity. Ada angkatan udara yang pintar main akrobat, dan ada
juga angkatan darat yang pandai main musik, bikin kerajinan tangan, menanam
melon, strawberry, dan tomat. Mereka adalah orang-orang baik.
Jendral Wiranto bilang, ABRI juga terdiri atas warakawuri, yatim piatu,
veteran invalid, dan prajurit-prajurit miskin di rumah-rumah bedeng.
Kasihan. Jadi kalau membubarkan lembaga itu urusan kita bukan cuma
memasukkan tank, meriam, kapal tempur, dan pesawat pembom ke gudang atau
mempreteli alat-alat pembunuh itu di bengkel terdekat, tapi juga menolong
"the man behind the gun". Termasuk jandanya, korban-korban perkosaan
mereka di Aceh, Timor Leste, Papua, dan di mana saja.
Di atas semua itu, ABRI tentu punya cita-cita yang mulia, dan pendukung,
fans, banyak orang yang membanggakan mereka. Maka jadi berat sekali upaya
saya menjelaskan mengapa dan bagaimana ABRI bisa dibubarkan. Baru ngomong
sama adik ipar saja sudah mentok. Dia tidak setuju, dan membela ABRI
kesayangannya sampai titik darah penghabisan.
Maka kita harus beradu sabar. Kita lihat ke belakang, kapan ABRI didirikan
dan untuk apa. Siapa yang mendirikan, siapa yang membangun, dan siapa pula
yang mencemarkan. Apakah mereka tidak jadi korban pemeo lama "karena nila
setitik rusak susu sebelanga"? Bukankah masyarakat kita sendiri yang
secara tradisional tak bisa berpikir jernih, emosional, dan suka membakar
lumbung hanya untuk membunuh seekor tikus?
Kita perlu introspeksi. Mengapa begitu mudah negara di kepulauan ini
dibubarkan, bahasa diganti, nama ditukar, dan anak tunggal dikutuk oleh ibu
kandungnya? Mengapa begitu mudah kita menjelek-jelekkan orang atau sesuatu
yang kita cintai? Bukankah beberapa bulan lalu hampir semua warga turut
bersedih dan bersimpati pada Jendral Soeharto tatkala istrinya meninggal
dunia?
Bukankah 10 tahun lalu banyak sekali orang menyanjungnya, menjilatnya, dan
mengelu-elukannya sebagai "Bapak Pembangunan" segala macam? Mengapa
sekarang orang-orang yang sama menghujatnya, mengutuknya, dan ingin
menggantungnya di Monumen Nasional? Cobalah kita berintrospeksi.
Begitu juga saya. Apakah keinginan saya membubarkan ABRI hanya terpicu
oleh kemarahan tatkala satu pleton prajurit lulusan SD dan SMP
menginjak-injak atap kampus saya di Rawamangun, 1978? Apakah saya jadi
begitu dendam dan traumatis akibat tidak mampu menolong para mahasiswi yang
menangis ketakutan, menyusup ke bawah meja?
Mungkin saya termasuk orang farisi, yang menyanjung Kristus ketika memasuki
Yerusalem pada Minggu palem, dan menyalibnya pada Jumat Agung, yang hanya 5
hari berikutnya. Begitu mudah kebanggaan dan kecintaan bertukar dengan
kebencian. Begitu mudahnya orang merasa benar dan berlaku adil, padahal
senantiasa terguncang dari detik yang satu ke detik berikutnya. Mungkin
saja, saya juga pernah bangga pada ABRI.
Mungkin saja saya juga sangat bahagia melihat ayah bersepatu lars, bertopi
baja. Mau membebaskan Irian Barat, katanya. Mungkin saja saya bangga
ketika membezuk saudara sepupu, pilot AURI yang berhasil mendaratkan
pesawatnya darurat di sawah, meskipun tulang rusuknya jadi patah-patah.
Tetapi, mengapa terkesan dan terasa begitu mudahnya rasa haru, kagum, cinta
dan bangga itu berganti dengan benci.
Saya menolak militerisme. Dari begitu banyak isme yang ada di bumi ini:
mulai dari animisme, animalisme, turisme, liberalisme, oportunisme,
sylogisme, kapitalisme, komunisme, dan sejuta macam isme lainnya;
militerisme termasuk dalam daftar hitam saya bersama sadisme, exorsisme,
satanisme, dan mistisisme yang jahat. Jangan-jangan ada juga mistisisme
yang baik, bahkan militerisme yang baik juga?
Siapa tahu. Yang jelas, saya termasuk makhluk yang alergi pada
militerisme, dan ABRI adalah representasi isme yang saya takuti itu. Jadi
wajar kalau saya mohon dengan sepenuh hati supaya ABRI dibubarkan, dan
militerisme dimusnahkan.
Sayangnya, kata dibubarkan dalam kepala saya bisa sangat berbeda dengan
yang dipikirkan Jendral Wiranto. Ketika ABRI berulang tahun, Oktober lalu,
saya mendapat kesan bahwa membubarkan ABRI ditafsirkan sama dengan
membubarka Partai Komunis Indonesia (PKI). Artinya, membubarkan ABRI juga
disalah-artikan seperti menghancurkan angkatan darat, angkatan laut,
angkatan udara, bahkan angkatan kepolisian sampai ke akar-akarnya.
Itu jelas kacau. Bukan begitu maksud saya, tapi begitulah pikiran banyak
anggota ABRI sendiri. Kita melihat ini dari spanduk-spanduk dan semboyan
mereka. Misalnya "ABRI siap berantas GPK sampai ke akar-akarnya". Atau,
dari kebiasaan negatif mereka memarjinalisasi dan meminoritaskan "musuh"
lantas menghancurkannya. Itu yang sangat saya benci dari mereka. Saya
menentang berbagai ajaran yang mengembangkan kekejaman, meningkatkan
sadisme, destruktif, keji, dengan membangun mesin pembunuh, alat-alat
penyiskaan, manajemen dan resep-resep penghancuran manusia.
Jadi kalau saya harus menghapus dwifungsi ABRI, maka yang saya lenyapkan
adalah militerismenya. Bukan menyuruh mereka latihan lebih sadis di barak,
tapi mengembangkan fungsi sosial, ekonomi, hukum, survivalitas, dan
religiositas mereka. Saya yakin dari kalangan ABRI dapat muncul dokter,
ingsinyur, pengacara, politisi, life-scientist, uztad dan pendeta yang
hebat-hebat. Jadi fungsi itulah yang mestinya dikembangkan. Orangnya
diselamatkan, organisasinya dibubarkan.
Maka, dari ABRI bisa saja Indonesia memperoleh sumber daya manusia yang
handal. Ada pilot yang tangguh, penyelam yang hebat, pencinta-pencinta
alam yang penuh kasih sayang, kebijaksanaan dan kebajikan. Saya percaya
bahwa ABRI juga telah melahirkan penyanyi keroncong, penari ndangdut,
penyair, dirigen orkestra, pelukis, ahli taksidermis, tukang sepatu,
penjahit, koki, dan seterusnya.
Tetapi dunia juga melihat bahwa ABRI telah melahirkan pembunuh-pembunuh,
dan menjadi mesin politik yang kejam, hanya untuk mempertahankan sebuah
pertemuan aneh, mahal dan diberi nama "sidang istimewa". Itulah ngototnya
ABRI, yang saya cemaskan bukan hanya membuat citra mereka makin terpuruk,
tapi juga mengancam kerukunan hidup berbangsa. Mencorengkan noda dalam
kemanusiaan modern. Melukai hati dunia.***
Himbuan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com