Sebuah info penting bagi rekan2 yang sedang mengamati Insiden Ketapang.

        
SARWONO KUSUMAATMADJA SOAL �KETAPANG BERDARAH� 

Dalang Kerusuhan, Kelompok Otoriter 

JAKARTA (KR) - Kerusuhan yang muncul belakangan ini secara 
nyata-nyata didalangi oleh sekelompok orang yang sangat otoriter. 
Bahkan kelompok tersebut secara terencana telah bersiap-siapa untuk 
mengintervensi penyelenggaraan Pemilu 1999 agar mereka dapat 
berkuasa. 
Sinyalemen tersebut dikemukakan Ir Sarwono Kusumaatmadja di 
sela-sela pengukuhan pengurus FKKB (Forum Komunikasi Kesatuan 
Bangsa)  di Hotel Santika  Jakarta, Rabu (25/11). Mereka yang 
dikukuhkan antara lain Roosita S Noer (Ketua Umum), KH Dr Said Agil 
Siradj, Fikri Jufri (kedua nya Ketua FKKB), Prof Dr Juwono 
Sudarsono, dan Ir Sarwono Kusumaatmadja (Unsur Penasihat). 
Forum ini merangkul unsur agama, etnik, golongan serta lapisan 
masyarakat profesional lainnya. Karena itu �banyak warna� yang 
menyertai perjalanan forum ini. Misalnya ada Krissantono, Mohammad 
Sobary, I Made Gelgel, Indra Bambang Oetojo, Anton Indracaya, August 
Parengkuan, Letjen TNI Agum Gumelar, K Sindhunata, Harry Tjan 
Silalahi, Junus Jahya, dan Jakob Oetama. 
Yang aneh, jelas Sarwono Kusumaatmadja, justru Presiden BJ Habibie 
sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Akibatnya, masyarakat 
terkotak dalam dua kategori. Pertama, mereka yang masuk kategori 
�sehat�, sedangkan kelompok lainnya, berjumlah amat kecil tetapi 
kegilaannya akan menyebabkan bangsa ini menderita. 
�Tragedi Semanggi dan yang paling mutakhir kerusuhan berbau SARA di 
Jalan Ketapang Jakarta Kota, tempo hari, merupakan bentuk anarki dan 
teror produk kelompok ini. Mereka punya kemampuan luar biasa yang 
bahkan melebihi organisasi militer. Mereka bisa menyusup di antara 
mahasiswa dan aparat keamanan untuk membuat kekeruhan,� ujar 
Sarwono. 

Didikan Luar Negeri 

Pentolan mereka, jelas Sarwono Kusumaatmadja, dididik di luar negeri 
dengan berbagai keterampilan dan kemampuan seorang perwira militer 
sangat andal. �Yang lebih luar biasa lagi, kemampuan dan sumberdaya 
mereka sangat mengesankan karena target mereka juga menguasai negara 
ini,� katanya tanpa menyebut siapa yang ia maksud. 
Namun demikian Sarwono menolak jika yang disebut itu adalah militer 
(ABRI), yang belakangan posisinya terus digoyang khususnya mengenai 
tuntutan penghapusan Dwifungsi ABRI. 
�Ndak otomatis begitu. Orang dan kelompok ini, yang jelas punya 
akses ke peralatan militer. 
Punya jaringan dan yang jelas punya dana sangat besar,�  Yang 
terpenting dari keberadaan mereka ini, lanjut Sarwono, adalah punya 
ambisi sangat besar untuk berkuasa. Untuk mencapai target tersebut, 
mereka secara terencana melakukan berbagai rekayasa, infiltrasi, dan 
disinformasi untuk menciptakan kekacauan di tengah-tengah rakyat 
yang sedang rentan ini. 
Langkah-langkah tak beradab ini, kata Sarwono Kusumaatmadja, juga 
punya target.
Misalnya, mereka akan memaksa rakyat untuk tidak lagi percaya kepada 
para pemimpin informal seperti pencetus Deklarasi Ciganjur, yaitu KH 
Abdurrahman Wahid, Dr HM Amien Rais, MA, Sri Sultan Hamengku Buwono 
X, dan Megawati Soekarnoputri.�Buktinya jelas.
Hanya selang sehari setelah dilakukan pertemuan bersama para tokoh 
agama di kediaman Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid, langsung 
meledak kerusuhan Jl Ketapang Jakarta Kota. Itu bukan meledak dengan 
sendirinya. Kelompok otoriter inilah yang berada di belakang 
mereka,� kata Sarwono. 

Kondisi yang Diinginkan 
Karena itulah Sarwono menyarankan agar jangan sampai masyarakat 
cenderung menyalahkan para tokoh informal karena memang kondisi 
semacam itulah yang diinginkan oleh kelompok tersebut. Kalau sudah 
itu yang terjadi, jelas Sarwono Kusumaatmadja, maka masyarakat 
Indonesia akan bersikap apatis, putus asa, menyerah dan pasrah. 
�Saat itulah mereka akan muncul ke permukaan untuk segera 
mengambilalih kekuasaan negara. Kelompok ini sangat pintar dan 
teramat pandai menggunakan psikologi masyarakat dengan menciptakan 
disinformasi di tengah masyarakat. Dan yang sungguh mengerikan, 
mereka juga punya corong di pemerintahan,� tegas mantan Menneg 
Lingkungan Hidup tersebut. Itu pulalah sebabnya, tambah Sarwono, 
pemerintah tak pernah menuruti saran untuk melakukan dialog secara 
terbuka dengan kelompok masyarakat yang disebut sebagai oposisi.
�Mestinya pemerintahan Habibie segera sadar bahwa keengganan 
berdialog itu sebenarnya salah satu bentuk permainan mereka. Saya 
katakan, corongnya ada di pemerintahan,� tandasnya. 
Usulan Gubernur Lemhannas Letjen TNI Agum Gumelar untuk dilakukan 
dialog sebenarnya sangat positif bahkan progresif. �Kalian jangan 
curiga dulu karena dia ABRI. Sebab faktanya, Lemhannas merupakan 
satu-satunya unsur pemerintah yang justru menawarkan langkah maju.
Kalau ini terjadi, maka boleh jadi akan merupakan pukulan telak bagi 
kelompok otoriter itu,� ujar Sarwono. (Edi)-d      
    



Yang aneh, jelas Sarwono Kusumaatmadja, justru Presiden BJ Habibie 
sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Akibatnya, masyarakat 
terkotak dalam dua kategori. Pertama, mereka yang masuk kategori 
�sehat�, sedangkan kelompok lainnya, berjumlah amat kecil tetapi 
kegilaannya akan menyebabkan bangsa ini menderita. 
�Tragedi Semanggi dan yang paling mutakhir kerusuhan berbau SARA di 
Jalan Ketapang Jakarta Kota, tempo hari, merupakan bentuk anarki dan 
teror produk kelompok ini. Mereka punya kemampuan luar biasa yang 
bahkan melebihi organisasi militer. Mereka bisa menyusup di antara 
mahasiswa dan aparat keamanan untuk membuat kekeruhan,� ujar 
Sarwono. 

Didikan Luar Negeri 

Pentolan mereka, jelas Sarwono Kusumaatmadja, dididik di luar negeri 
dengan berbagai keterampilan dan kemampuan seorang perwira militer 
sangat andal. �Yang lebih luar biasa lagi, kemampuan dan sumberdaya 
mereka sangat mengesankan karena target mereka juga menguasai negara 
ini,� katanya tanpa menyebut siapa yang ia maksud. 
Namun demikian Sarwono menolak jika yang disebut itu adalah militer 
(ABRI), yang belakangan posisinya terus digoyang khususnya mengenai 
tuntutan penghapusan Dwifungsi ABRI. 
�Ndak otomatis begitu. Orang dan kelompok ini, yang jelas punya 
akses ke peralatan militer. 
Punya jaringan dan yang jelas punya dana sangat besar,�  Yang 
terpenting dari keberadaan mereka ini, lanjut Sarwono, adalah punya 
ambisi sangat besar untuk berkuasa. Untuk mencapai target tersebut, 
mereka secara terencana melakukan berbagai rekayasa, infiltrasi, dan 
disinformasi untuk menciptakan kekacauan di tengah-tengah rakyat 
yang sedang rentan ini. 
Langkah-langkah tak beradab ini, kata Sarwono Kusumaatmadja, juga 
punya target.
Misalnya, mereka akan memaksa rakyat untuk tidak lagi percaya kepada 
para pemimpin informal seperti pencetus Deklarasi Ciganjur, yaitu KH 
Abdurrahman Wahid, Dr HM Amien Rais, MA, Sri Sultan Hamengku Buwono 
X, dan Megawati Soekarnoputri.�Buktinya jelas.
Hanya selang sehari setelah dilakukan pertemuan bersama para tokoh 
agama di kediaman Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid, langsung 
meledak kerusuhan Jl Ketapang Jakarta Kota. Itu bukan meledak dengan 
sendirinya. Kelompok otoriter inilah yang berada di belakang 
mereka,� kata Sarwono. 

Kondisi yang Diinginkan 
Karena itulah Sarwono menyarankan agar jangan sampai masyarakat 
cenderung menyalahkan para tokoh informal karena memang kondisi 
semacam itulah yang diinginkan oleh kelompok tersebut. Kalau sudah 
itu yang terjadi, jelas Sarwono Kusumaatmadja, maka masyarakat 
Indonesia akan bersikap apatis, putus asa, menyerah dan pasrah. 
�Saat itulah mereka akan muncul ke permukaan untuk segera 
mengambilalih kekuasaan negara. Kelompok ini sangat pintar dan 
teramat pandai menggunakan psikologi masyarakat dengan menciptakan 
disinformasi di tengah masyarakat. Dan yang sungguh mengerikan, 
mereka juga punya corong di pemerintahan,� tegas mantan Menneg 
Lingkungan Hidup tersebut. Itu pulalah sebabnya, tambah Sarwono, 
pemerintah tak pernah menuruti saran untuk melakukan dialog secara 
terbuka dengan kelompok masyarakat yang disebut sebagai oposisi.
�Mestinya pemerintahan Habibie segera sadar bahwa keengganan 
berdialog itu sebenarnya salah satu bentuk permainan mereka. Saya 
katakan, corongnya ada di pemerintahan,� tandasnya. 
Usulan Gubernur Lemhannas Letjen TNI Agum Gumelar untuk dilakukan 
dialog sebenarnya sangat positif bahkan progresif. �Kalian jangan 
curiga dulu karena dia ABRI. Sebab faktanya, Lemhannas merupakan 
satu-satunya unsur pemerintah yang justru menawarkan langkah maju.
Kalau ini terjadi, maka boleh jadi akan merupakan pukulan telak bagi 
kelompok otoriter itu,� ujar Sarwono. (Edi)-d      
    
http://www.kedaulatan-rakyat.com



---------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] 
[EMAIL PROTECTED]      
ICQ UIN 23276722



---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Kirim email ke