> >kok selalu mengprovokator terus antar agama, seharusnya bila bung orang >yang beriman malah harus perihatin dengan Justru itulah, seharusnya kita-kita harus lebih waspada dengan hal-hal seperti ini, karena terbukti banyak orang yang mencari kesempatan untuk mengadu domba dengan menggunakan attribut Agama. Kita yang tidak mudah terpancing bahkan dapat meredakan adu domba tersebut harus merasa bangga, sedangkan mereka yang mengirimkan posting-posting adu domba (bahkan menggunakan e-mail palsu) adalah orang-orang tidak bertanggung jawab. Mereka sering menyebarkan isu-isu yang tidak benar. >semua kejadian ini dan harus menghimbau kearah yang positif bukan malah >sebaliknya, jangan-jangan bung orang yang tidak beragama. >Saya yakin anda bukan pemeluk agama islam yang benar, saya banyak sekali Pada saat ini banyak orang menggunakan tameng agama untuk membela dirinya sendiri, padahal belum tentu dia pemeluk agama yang benar. Digunakan agama sebagai tameng karena paling sensitif. Kalau dulu orang bertanya-tanya "Apa manfaat beragama ?", maka sekarang menjadi "Bagaimana Memanfaatkan Agama". Yang harus kita ingat adalah "Bukan agamanya yang salah, melainkan Oknum yang Tidak Benar". >punya teman, sahabat yang beragama islam, tapi kok mereka semua baik, taat >dengan agama mereka. Teman-teman saya yang islam setelah peristiwa Ketapang >mereka mendatangi saya ke rumah, apa yang mereka katakan kepada saya, >katanya kami ikut perihatin dengan peristiwa pembakaran gereja di Jakarta >dan katanya kami umat islam tidak membenarkan dengan semua kejadian itu. Sebanyak yang jahat, tentu banyak pula yang baik, dari komentar anda tersebut diatas jika salah diartikan bermakna seolah-olah yang beragama Islam itu jahat. Seperti juga yang saya sebutkan diatas, yang jahat adalah oknum-oknum yang memanfaatkan agama untuk kepentingan tertentu, bukan agamanya. Wajar kalau terjadi perbedaan pendapat, namun jangan karena beda pendapat lalu terjadi demo/ kerusuhan yang merugikan kita semua. Alangkah baiknya jika kita berpikiran jernih, dan jangan langsung menanggapi pada saat itu jika terjadi perbedaan pendapat. Diamkan dahulu, mungkin 1 hari, setelah itu baru ditanggapi nah, pada saat diam itulah kita kembali memikirkan perbedaan yang timbul itu. (maaf seperti menggurui). Ingat, sedangkan gigi dengan gigi dalam satu mulut saja kadang-kadang bisa menggigit lidah kita sendiri, lalu, apakah kita harus mencabut semua gigi kita atau dengan membuang lidah kita maka persoalan selesai. Nah tugas kita adalah menjaga agar gigi tersebut tidak menggigit lidah kita lagi. Intermezo.... Beberapa waktu yang lalu, telah terjadi untuk rasa di kota "Jagoan". Setelah diusut oleh pihak berwenang, ternyata kerusuhan tersebut terjadi karena ikut-ikutan, mengingat akhir-akhir ini sering ada demo karena lawan tidak setuju dengan pendapat kita. Bermula dari lamaran seorang pemuda yang ditolak oleh ayah si gadis dengan bebagai alasan, lalu karena si A tidak puas, akhirnya dia menghimpun teman-temannya untuk unjuk rasa didepan rumah si gadis dan bertahan sampai orang tua sigadis menyetujuinya. Namun karena tidak ada tanggapan, maka mereka mulai melempar rumah tetangga dari si Bapak tersebut, sampai akhirnya tuntutan pemuda tersebut dipenuhi. Note : Mudah-mudahan nggak benar-benar terjadi kasus seperti ini. Regards Citra --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com Indonesia without violence!
