-----Original Message-----
From:   [EMAIL PROTECTED] [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] <mailto:>
Sent:   01 Desember 1998 1:00
To:     [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject:        FW: untuk direnungkan....



-----Original Message-----
From:   ASD - Nancy 
Sent:   Selasa, Desember 01, 1998 3:12
To:     ASD - Dodi Abdul Azis; ASD - Endang Werdiningsih; ASD - Meita
        Pujianti
Subject:        FW: untuk direnungkan....


Ini dikirim seorang teman yang tengah bertugas di Kupang.
Hari ini 30 November  1998, Kupang dan sekitarnya terbakar.
Hampir seluruh mesjid terbakar. Penjarahan di mana-mana, terutama toko-toko
milik orang muslim, Jawa, Makasar, dan Bugis. Ribuan orang bersenjata
parang dan batu tumpah di jalanan. Jalanan dipasang palang, dan dijaga
pemuda-pemuda bersenjata.
Semua kendaraan yang lewat ditanya, "Lu Kristen apa Muslim?".
Sekarang pukul 18.30 malam, Universitas Muhammadyah beserta
'SMP dan SMA Muhammadiyah baru sejam yang lalu habis terbakar. Jam tiga sore
tadi, asrama haji sudah habis dilalap api. Juga mesjid-mesjid di kota
Kupang.


Orang-orang berkeliling kota dengan membawa senjata, baik
berjalan kaki maupun naik truk. Mereka berteriak-teriak,"Kristen menang,
Gereja menang?"
Simbol-simbol salib, foto Yesus, diarak keliling kota sambil
terus membakari mesjid, dan toko-toko milik orang muslim. Teriakan-teriakan
perang dimana-mana, sorak sorai kemenangan membahana di seluruh
Kupang.


Dalam hati saya bertanya mereka menang atas siapa? Seandainya
Tuhan ada, apakah dia setuju?


Telepon di kantor berdering-dering, teriak minta dijawab. "Satu
lagi mesjid terbakar?" kata kawan saya orang Sabu yang Kristen sambil
gemetar. Seolah tidak percaya kejadian ini terjadi di kota Kupang. Kota di
mana
orang-orang Kristen yang ia banggakan adalah mayoritas. Dia tidak percaya
sama sekali bahwa demikian kejinya orang Kristen di Kupang. Bukan hanya
dia, semua orang di kantor yang semuanya Kristen berdiri bulu kuduknya. Lutut
mereka lemas, superioritas sebagai mayoritas hancur karena kekejaman kaum
mereka sendiri.


Dalam hati saya bicara, dimana-mana mayoritas mudah sekali
brutal, mudah marah terhadap minoritas, walaupun persoalan hidup tidak
semudah dipanasi dan meledak begitu saja. Di SMA saya dulu, orang-orang Tiong
Hoa adalah mayoritas, dan mereka sering bertingkah di hadapan
pribumi-pribumi seperti saya. Di Jawa Timur, di Ponorogo, ayah saya cerita
betapa
Banser NU berlaku keji terhadap saudaranya sesama muslim yang Muhammadyah.
Masih
banyak di, di, di, di, yang lain.


Mulai hari Jumat lalu, hingga tadi pagi kawan-kawan saya masih
Bisa membusungkan dada, dan penuh kemarahan ketika berbicara tentang
Peristiwa Ketapang. Mereka bilang hari ini Senin, 30 November 1998 hingga
Rabu, 2 Desember 1998 adalah hari mereka. Mereka bangga karena secara
Nasional pimpinan-pimpinan Gereja meminta hari berkabung nasional. Dan
Kupang, ibu kota NTT, ibu kota propinsi Kristen dan Katolik mengumumkan
tidak adanya aktivitas pada hari Senin hingga Rabu. Semua diminta ada di
rumah, karena hari itu adalah hari berkabung, hari orang mati. Semua penduduk
yang keluar dianjurkan memakai baju hitam. Aksi protes damai kata mereka.


Siang hari, neraka mulai merekah. Pengrusakan dan pembakaran
mesjid dimulai. Dada yang tadinya menggelembung, pecah, kempes, berganti jadi
kebingungan. Getir. Mereka lupa bahwa selalu ada orang yang memulai api
perpecahan atas kebetulan-kebetulan kita. Ya, agama dan etnis. Titik
solidaritas buta umat manusia di seluruh dunia. Dan jika ada kesempatan
digunakanlah
kesempatan itu. Dari dulu kita tahu kebetulan-kebetulan kita selalu bisa
dimanfaatkan.
Dipakai. Modus operandi selalu sama, pembakaran gereja, mesjid,
karena itu yang paling sensitif.


Ketika banjir air mata dan darah bermunculan dimana-mana,
sekelompok orang di Cilangkap, atau di Istana, atau di Christmas Island,
sedang
mandi Johny Walker, sambil menghisap cerutu Havana menyeringai sambil
berkata,"Saya menang, saya menang lagi."


Besok dan hari-hari selanjutnya tidak pernah bisa diramalkan. 
Mungkin ada aksi pembalasan, di Jawa, Ujung Pandang, Sumatera, entah di
mana lagi. 
Perang yang tak kunjung usai. Salah siapa ini? 
Hari ini saya tidak pulang ke rumah, tidur dan tinggal di kantor, 
entah sampai kapan.Situasi tidak memungkinkan untuk keluar dari kantor
karena faktor kebetulan. 
Lagi-lagi saya minoritas. Ya, saya seorang Jawa!! 
Walaupun di KTP tertulis agama ROMA KATHOLIK. Salah menjadi orang Jawa di
NTT, karena identik dengan muslim.
Lagi-lagi semuanya kebetulan. 
Kawan saya seorang Jawa juga, tadi dikejar-kejar padahal dia Kristen.
Untung semesta masih memberkati dia.
Dia selamat sampai di rumah.


Apakah salah lahir menjadi seorang Jawa, Timor, Bugis, Tiong
Hoa, Kaukasoid?
Apa bisa kita tentukan ras kita sebelum lahir? Apa bisa kita memilih agama
diluar keinginan orang tua kita? Apakah berani kita meninggalkan agama yang
diwariskan orang tua kita? Terakhir, apakah KELAHIRAN MANUSIA
BISA DISALAHKAN?


Kupang, 30 November 1998
Di antara api neraka


Torry




---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke