AKSI MAHASISWA: CERDAS ATAU CEMAS???


Dear Mas Sigit...

Terima kasih saya ucapkan atas balasan dan reaksi anda atas posting 
saya, yg memang saya sadari sangat reaktif. Bahkan mungkin oleh beberapa 
kalangan akan dianggap anti reformasi, apalagi beberapa tulisan saya 
memang menyerang dan mengkritik beberapa aksi yg dilakukan oleh 
kelompok2 mahasiswa, terutama oleh mahasiswa PTS di Jakarta.
Well, tentu saja tidak seluruh mahasiswa PTS memiliki otak dengkul dan 
tidak punya nalar. Saya yakin pula bahwa anda Mas Sigit tidak termasuk 
diantara mereka yg berotak dengkul itu. Tapi apa yg saya nyatakan adalah 
suatu statement yg jelas dan didasari oleh fakta yg ada di lapangan. 
Apakah fakta2 itu? Yg jelas adalah bahwa sekarang ini ada semacam 
perlombaan dikalangan para mahasiswa di PTS, yg sebelumnya tidak 
memiliki record apapun dlm gerakan mahasiswa utk tampil menjadi nomor 
satu dlm aksi mahasiswa yg terjadi belakangan ini.
Tampak jelas, bahwa mereka berupaya menjadi pahlawan dan menjadi semacam 
pelopor dlm menembus tempat2 yg sebelumnya belum pernah diduduki 
mahasiswa. Di luar Jakarta, mereka berupaya menduduki bandara udara, 
membajak bis, dan beberapa upaya lain yg cukup merugikan. Naluri dan 
logika pengetahuan saya belum sampai pada pengertian, mengapa mereka 
melakukan hal ini semua. Apa sih yg mereka cari dgn menduduki bandara 
dan mengadakan pawai di depan markas militer seperti KODAM ataupun 
KOREM. Coba saya minta tolong anda semua jelaskan, apa maksud dari aksi2 
mahasiswa ini??? Bila di bandara, apa maksud mereka? Mau bikin kemacetan 
atau apa? Sadarkah mereka bahwa dgn aksi konyol mereka, bandara di 
Indonesia bisa dicap sebagai tempat yg berbahaya utk didatangi. Orang 
tdk bisa lagi melakukan perjalanan ke luar negeri atau ke luar daerah, 
padahal mungkin sekali di antara mereka memiliki urusan bisnis yg 
penting kaitannya dgn ekonomi rakyat banyak. Lalu juga di depan markas 
militer. OK-lah mereka sangat kesal dan sebal dgn ABRI. Tapi, dgn 
berusaha masuk ke lapangan militer, itu kan sama saja dgn cari penyakit. 
Militer dimanapun di dunia tidak akan membiarkan markas mereka 
diobrak-abrik oleh kelompok lain bahkan sipil sekalipun dgn alasan 
apapun! Ya yang jelas, seperti kejadian di Semarang dan Solo, ataupun 
Ambon, para mahasiswa menghadapi kemarahan para serdadu yg markasnya 
dicoba diduduki. Saya kira ini adalah sifat yg naluriah utk semua 
kelompok.
Lalu bagaimana dgn yg di Jakarta, lebih konyol lagi. Terakhir yg terjadi 
adalah para mahasiswa Trisakti (sorry, ini fakta), berhasil menembus 
ring1 istana. Coba itu, padahal ada UU yg menyatakan bahwa ada tempat2 
yg dilarang utk didemo. Apa maksud mereka? Saya hanya melihat, bahwa apa 
yg dilakukan terakhir hanya ingin lebih dari yg pernah dilakukan para 
mahasiswa yg tergabung dlm IMM (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah) yg dgn 
damai berhasil mengadakan demo di lapangan Monas tepat di depan Istana 
Merdeka. Maka para mahasiswa Trisakti nampaknya ingin lebih dari itu. 
Padahal, efek dari demo itu kecil saja, toh mereka hanya bertemu dgn 
beberapa pejabat Seskab. Kenapa sih, tidak dilakukan dgn cara damai 
saja, dgn mengirimkan perwakilan dan lebih memilih melakukan tindakan2 
yg cerdas utk ukuran mahasiswa??
Demikian juga dgn demo terus2an ke Soeharto. Semua orang setuju bahwa 
Soeharto harus diadili. Maka sekarang langkah yg tepat adalah bagaimana 
menekan Jaksa Agung cq Habibie agar terus berani. Saya yakin, bila 
mahasiswa yg gemar ke Cendana ini cerdas, akan ada cara yg efektif. 
Kalau anda perhatikan yg terjadi cuma cara2 yg cenderung anarkis dan 
ingin menggantung Soeharto di depan para mahasiswa. Wah....wah.....saya 
jadi makin nggak ngerti. Kok ya mahasiswa sudah kehilangan nalar dan 
moralitas, padahal mereka mengaku sebagai warga kampus yg menjunjung 
tinggi etika????
Saya kira para mahasiswa harus banyak belajar baca buku dan pengetahuan, 
bagaimana Filipina sulit mengadili kekayaan mantan Presiden Marcos. 
Proses hukum utk itu nggak mudah. Meski demikan, hasilnya sangat 
melegakan, karena upaya yg dilakukan oleh pemerintahan Filipina diakui 
oleh negara2 dunia sebagaicara yg beradab.
Saya juga ingin para mahasiswa banyak belajar bahwa sikap apriori mereka 
sangat berlebihan. Apa iya dan pasti, bahwa bekas pembantu seorang 
diktator pasti juga akan membela mati2an bekas bosnya. Lihat deh di 
Filipina dgn Mr Fidel Ramos. Siapa Ramos? Tahu nggak, bahwa dia ini khan 
bekas pembantu Marcos. Sama dgn si Jendral Wiranto. Tapi, pemerintahan 
Ramos dianggap pemerintahan yg demokratis, karena Ramos terbukti 
berhasil mengangkat ekonomi Filipina shg didukung oleh kalangan menengah 
di sana, namun demikian Ramos pada akhirnya menolak utk dijadikan 
kembali sbg presiden. Demikian pula dgn bekas Uni Soviet. Dulu ketika 
Gorbachev naik orang sudah khawatir bahwa Gorbachev akan membawa aliran 
keras dlm pemerintahannya. Maklum saja, bahwa dia sendiri adalah 
dedengkot PKUS tulen yg betul2 meniti karirnya dari bawah.
Dari beberapa contoh itu, tahu nggak sih mahasiswa itu yg dalam kata2 
saya cuma mengandalkan dengkul dan emosi sbg warga non kampus. Makanya 
saya lebih memilih danmengkritik para mahasiswa itu buat banyak belajar 
dan baca buku dech. Jangan bersembunyi di balik jaket almamater.
Demikian pula, anda katakan bahwa jalanan macet karena jalan ditutup 
oleh aparat. Come on, gimana sih anda? Lho kalau dibiarkan apa ada 
jaminan bahwa jalanan akan biasa saja? Ada aparat saja sudah macet, 
apalagi kalau tidak aparat yg menjaga aksi tadi. Masyarakat bisa2 
malahan jadi ketakutan luar biasa.

Mengenai media yg saya baca, tentu saja bukan hanya Republika saja yg 
saya baca. Saya baca media lain, terutama utk memperhatikan masalah 
internasional, dan itu saya dapatkan di Kompas, SP, ataupun Jawa Pos. 
Saya juga membaca Waspada dan Suara Merdeka. Jadi, saya memang tidak 
membaca tabloid yg cuma mengumbar judul heboh, yg tujuannya cuma untung 
saja tanpa berupaya utk melakukan suatu edukasi politik dan ekonomi bagi 
kalangan pemirsanya. Saya nggak tahu apa bacaan anda Mas Sigit. Semoga 
anda termasuk bagian orang yg kritis.

Mas Sigit Yth, saya tentu saja akan siap bertukar pikiran. Tentunya 
kalau saya tidak mau mendengar pendapat anda, tidak akan saya merespons 
surat anda itu. 



So, sebagai penutup, para mahasiswa Indonesia, simpanlah tenaga anda 
dengan baik. Jangan diumbar2, yg malahan bisa menyengsarakan orang 
banyak. Carilah cara yg cerdas dan simpatik. Karena dgn cara inilah, 
gerakan mahasiswa Indonesia tidak akan pernah mati, karena memang 
masyarakat mendukung cara2 maupun visi yg mereka anut. 

Hidup mahasiswa Indonesia.....
Cerdas, cerdik, trampil, efisien dan efektif.....
Itulah motto anda.....


INDARTI SUDIRO




>Ibu Indarti yang terhormat,
>
>Saya terus terang "terkesan" dengan posting-posting Anda.  Posting 
pertama
>Anda mencoba memecah-belah dan melakukan dikotomi secara kasar antara 
PTS
>dengan PTN.  Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap 
rekan-rekan
>yang lain yang tidak saya ketahui 'background' akademisnya, pernyataan 
Anda
>telah disanggah oleh dua orang dari pihak-pihak yang dicoba diadu domba 
oleh
>Anda.  Saya sendiri yang pertama menyanggah posting Anda, saya adalah
>sarjana 'fresh graduate' dari Universitas Trisakti dan sanggahan kedua
>berasal dari bung Martin Manurung, seorang aktivis mahasiswa dari
>Universitas Indonesia.
>
>Saya sebisa mungkin mencoba menghargai pendapat-pendapat Anda, tapi 
cobalah
>Anda hargai juga pendapat orang lain, bukankah penghargaan terhadap 
pendapat
>orang lain secara dewasa juga merupakan parameter intelektualitas 
seseorang.
>Kata-kata "hanya mengandalkan dengkul saja" sepertinya terlalu sering 
Anda
>lontarkan tanpa indikasi yang jelas.  Kecurigaan bukan berarti tidak
>berotak.  Cara-cara rejim Orde Baru selama tiga dasawarsa lebih yang 
masih
>digunakan oleh rejim Habibie-Wiranto boneka Soeharto, memang 
mengakibatkan
>timbulnya kecurigaan yang memang saya akui kadangkala cenderung 
berlebihan,
>tapi tidak ada salahnya daripada menyesal di kemudian hari, bukan?  
Anda
>benar, kecurigaan yang berlebihan dapat menyebabkan benturan-benturan 
antar
>pergerakan mahasiswa itu sendiri dan itulah yang diinginkan oleh pihak
>penguasa.
>
>Walaupun status saya sudah bukan mahasiswa sejak akhir bulan Oktober 
yang
>lalu, namun saya masih sering mengikuti aksi-aksi yang dilakukan oleh
>junior-junior saya.  Saya yakin bahwa mereka bukanlah mahasiswa yang 
cuma
>bisa bicara saja seperti tuduhan Anda, darimana Anda membuat asumsi
>se-negatif itu.
>
>Kesebelan Rakyat terhadap aksi mahasiswa?  Hmm..  menarik juga untuk
>dibahas.  Bahwa aksi-aksi mahasiswa mempunyai ekses-ekses negatif 
berupa
>kemacetan jalan, itu benar dan saya himbau juga agar rekan-rekan 
mahasiswa
>meminimalisasi hal tersebut dengan menyisakan sedikitnya setengah badan
>jalan.  Pada aksi-aksi terakhir, saya lihat hal ini juga sudah 
dilakukan.
>Namun kalau jalanan macet karena diblokir aparat, jangan salahkan 
mahasiswa,
>dong.  Lagipula saya melihat bahwa masyarakat tidaklah secengeng itu 
dan
>mereka kebanyakan masih mendukung aksi mahasiswa.  Terakhir, saya masih
>menyaksikan tidak hanya masyarakat golongan bawah yang menyambut 
antusias,
>tapi ada seorang pekerja profesional menggenakan stelan jas dan 
mengendarai
>mobil BMW secara spontan melemparkan sebungkus rokok ke atas bus yang
>digunakan untuk arak-arakan mahasiswa.  Yang lebih menarik, setelah 
diambil
>beberapa batang, rokok itu diberikan pada sepasukan Marinir yang 
berjaga.
>:-)  Saya kira aksi-aksi mahasiswa seluruhnya masih non-violence.  
Kalau ada
>pengaduan dari intel cengeng yang protes akibat pemukulan dan diamankan 
oleh
>mahasiswa, saya kira cukup lucu.  Kalau tidak siap menerima resikonya,
>jangan jadi intel dong!
>
>Satu hal lagi, kalau Anda menggunakan harian "Republika" sebagai 
referensi,
>saya bisa menebak paradigma berpikir Anda. :-)
>
>Saya menunggu respon Anda.  Semoga Anda mau menanggapi posting saya,
>walaupun saya hanya seorang Sarjana baru dari perguruan tinggi swasta 
yang
>selama ini selalu Anda anggap hanya mengandalkan dengkul saja. :-)
>
>Salam Reformasi total..
>Salam Revolusi Indonesia..
>
>Hormat saya,
>
>
>
>SIGIT WIDODO
>===============
>Vox Populi Vox Dei
>===============
>Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!
>Hapuskan militerisme di Indonesia!
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke