-- [ From: Peka Consult, Inc. * EMC.Ver #2.5.02 ] -- ini ada artikel menarik, udah baca belum ? ha........ha.......ha............(seru juga sih) membuat jidat belipet jadinya, Habibie- Ali Sadikin Akhir Sebuah Kemesraan detikcom, Jakarta--5 Tahun lalu Habibie mengandeng mesra Ali Sadikin. Katup demokrasi pun terdorong. Kini kemesraan itu berakhir sudah. Habibie pun menuding Ali makar. Benarkah itu bukan gagasan Habibie? Lalu siapa? Roda pesawat F-100 milik Pelita mendarat di bandara Juanda Surabaya pukul 09.40. Di tengah bisingnya deru mesin, rombongan istimewa yang menjadi tamu istimewa BJ Habibie itu keluar satu persatu dari perut pesawat. Salah satu tamu penting itu adalah Ali Sadikin, tokoh Petisi 50. Kisah itu terjadi pada 3 Juni 1993. Saat itu Habibie masih menjabat sebagai Menristek yang juga Dirut PT PAL. Bang Ali, begitu panggilan ngetop Ali Sadikin, menjadi tamunya di PT PAL. Bang Ali tidak sendirian. Ia ditemani konco-konconya dari Petisi 50 seperti Marsekal Muda (purn) Suyitno Sukirno (kini sudah almarhum), Anwar Harjono, Chris Siner Key Timu dan Rajab Ranggasoli. Dari Juanda, rombongan istimewa yang selama ini dikenal sebagai musuh berat pemerintahan Soeharto itu, diangkut dengan bus menuju PT PAL di kawasan Tanjung Perak. Setelah mengisi buku tamu, Bang Ali dipersilakan duduk di deretan terdepan. Ia diapit Habibie dan Soedomo. Acara yang dihadiri Bang Ali itu tak lain perhelatan penyerahan kapal Caraka kepada pemesannya, Pann Multi Finance. Lantas, apa menariknya? Ada. Bahkan kedatangan Bang Ali itu mencuat menjadi isu nasional. Semua koran menjadikan berita kedatangan Bang Ali itu sebagai berita utama. Mengapa? Habibie telah melakukan terobosan besar. Habibie telah mencetak jejak awal kemesraan baru antara pemerintah dengan Petisi 50. Terobosan besar? Ya. Betapa tidak! Sejak Bang Ali Cs mengibarkan panji Petisi 50, pemerintahan Soeharto menjadikan Petisi 50 sebagai musuh besarnya. Kalangan pemerintahan, menjadikan orang-orang Petisi 50 sebagai pesakitan yang harus dijauhi. "Jangankan mengundang acara resmi, mengundang acara pribadi seperti kawinan saja pada takut,"begitu kata Bang Ali waktu itu. Dan Habibie, orang yang begitu dekat dan dipercaya Soeharto, tiba-tiba bergandengan tangan dengan Petisi 50. Habibie tercatat sebagai pejabat Pemerintah pertama yang mengundang Bang Ali Cs dalam acara resmi. Tidak tanggung-tanggung, di akhir perhelatan, Habibie bahkan mendaulat Bang Ali untuk berpidato. Tentu saja Bang Ali sempat terhenyak. Ia rupanya memang tidak menduga diminta pidato segala. Soalnya, diagenda acara, tidak tercantum dirinya dijadwalkan berpidato. Toh demikian, Bang Ali segera bergegas ke mimbar dengan diiringi tepuk tangan gemuruh dari hadiran yang jumlahnya sekitar seribuan orang. Dan itulah untuk pertama kali Bang Ali berpidato di acara resmi yang diselenggarakan perusahaan milik negara. Usai pidato, ketika turun dari mimbar, Bang Ali langsung disambut dengan pelukan mesra dari Habibie. Pelukan hangat gaya Arab dengan dekapan di bahu kiri dan kanan. Semua itu terjadi dengan diiringi aplaus panjang yang menggema. Kejutan masih belum berakhir, Habibie lantas mengandeng Bang Ali dan Sudomo menuju ke tempat penekan tombol yang menandai peluncuran kapal Caraka. Adalah Bang Ali dan Sudomo yang diminta Habibie, menekan tombol itu secara bersamaan. Tombol ditekan. Sirene meraung-raung. Habibie, Bang Ali dan Sudomo, berseri-seri. Sebuah kemesraan total bersejarah dicatat. Nama Habibie pun mengkilap. Kinclong. Acungan jempol buat Habibie membanjir. Dari sepak terjang Habibie itulah orang banyak berharap kian terbukanya katup demokrasi. Berkat Habibie pulalah, hubungan Soeharto dengan Petisi 50 mencair. Beberapa saat kemudian, kemesraan itu berlanjut. Puncaknya, berkat Habibie pula, permusuhan menahun antara Soeharto dengan Jenderal (purn) AH Nasution mencair. Perseteruan dua tokoh besar itu diakhiri lewat sebuah pertemuan di ruang Jepara, Istana Merdeka. Diplomasi prostat begitu orang kemudian menyebutnya. Habibie telah menerbitkan cuaca baru dalam alam demokrasi Indonesia. 5 Tahun kemudian, ketika Habibie menjadi orang nomor satu di republik ini, cuaca kembali berubah. Kemesraan itu telah runtuh kembali. Bang Ali sedemikian gencar menabrak Habibie. Kali ini bukan atas nama Petisi 50. Bang Ali telah bergabung dengan panji-panji Barisan Nasional (BN). Ada apa? Sebuah pertanyaan besar terus melayang-layang. Mengapa justru untuk kepentingan Soeharto, pada waktu itu Habibie begitu antusias mempertautkan musuu-musuh politik Soeharto seperti dengan Bank Ali Cs? Mengapa justru untuk kepentingan politiknya sendiri, Habibie justru menjauh? Sejak duduk di kursi kepresidenan, belum tercatat sekalipun Habibie mengundang dan bertemu dengan Bang Ali. Bahkan Habibie kini menjatuhkan sebuah tuduhan yang tidak main-main terhadap Bang Ali Cs:makar. Mengapa Habibie kini justru kehilangan selera untuk mempertautkan musuh-musuh politiknya sendiri, tapi justru menambah daftar musuhnya, dan bahkan cenderung berniat menjebloskan kedalam penjara musuh politiknya? Banyak memang pertanyaan? Namun jawabnya tak gampang didapat. Kemesraan sedemikian cepat hilang. Bisik-bisik pun kemudian menjulang. Semua itu tercipta bukan lantaran Habibie semata. Tekanan bertubi-tubi dari kiri kanan, membuat Habibie kehilangan kemandirian. Sebagai seorang presiden yang mendapat predikat "Presiden Santai dan Menyenangkan" tiba-tiba ia berubah menjadi galak. Tekanan nampaknya membuat Habibie berubah. Berbagai kepentingan politik yang mengepung rapat di sekeliling Habibie, tidak memberi kesempatan Habibie untuk membuat pilihan terbaik, sebagaimana yang pernah ia lakukan 5 tahun lalu. Mengapa? Siapa pula yang membuat Habibie berubah, sehingga ia tidak memperkuat akar, tapi justru menjatuhan tuduhan makar? Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang ! --------------------------------------------------------------------- To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
