Dari segi humanis, usulan ini sangat baik. Saya kira aksi-aksi mahasiswa
sendiri sejak sebelum mundurnya Soeharto (bukan turun loh, hanya sekedar
mundur dan masih berdiri di belakang), sudah melakukan aksi-aksi simpatik
seperti memberikan minuman dan makanan kecil serta bunga kepada aparat
keamanan.
Yang jadi masalah, doktrin goblog militer yang harus mematuhi perintah
atasan untuk membantai saudara sendiri sekalipun serta sikap dari aparat
sendiri yang cenderung tidak simpatik. Saya ambil contoh peristiwa 12 Mei,
pada saat demo berlangsung, mahasiswa sudah melakukan aksi simpatik dengan
memberikan bunga dan minuman kepada para aparat bahkan membantu membukakan
jalan bagi aparat yang baru datang. Ucapan yang melecehkan aparat keamanan
pada saat itu pun secara tegas tidak diperkenankan diucapkan oleh peserta
demonstrasi, bahkan yel-yel "Hidup ABRI", "Hidup polisi", "Selamat datang,
Pak. Terima kasih sudah mau menjaga aksi kami" dan ucapan-ucapan simpatik
semacam itu selalu terlontarkan. Namun akhirnya toh sisa-sisa aksi ini
dibubarkan dengan sangat keji.
Saya kira biarkan saja dulu, para aparat dari TNI-AD , Brimob apalagi PAM
SWAKARSA untuk tidak dijenguk. Saya kira (kalau mereka masih punya otak)
mereka sekarang sudah harus berpikir, mengapa korps Marinir mendapatkan
sambutan hangat dari Rakyat sedangkan mereka dilecehkan, bahkan dipukuli dan
mobilnya dibakar oleh Rakyat. Biarkan mereka merasakan bahwa sikap simpatik
akan mendapatkan balasan simpatik dan sikap yang tidak simpatik akan
mati-matian ditentang oleh Rakyat!
Kalau toh mereka mau dijenguk sebagai tanda simpati, bolehlah. Tapi mohon
dijadikan prioritas terakhir, saya mohon mahasiswa lebih mendahulukan
menjenguk masyarakat yang menjadi korban. Misalnya adik kita Ayu, seorang
gadis cilik berusia enam tahun yang ditembak aparat tepat di belakang kepala
pada saat menyaksikan aksi massa di Jatinegara tanggal 14 November bersama
pamannya. Ketika saya dan beberapa rekan menjenguknya hari Senin kemarin,
kondisinya masih sangat kritis. Serpihan peluru tajam masih ada yang
tertinggal di otaknya.
Masyarakatlah yang harus lebih dahulu mendapat simpati dari rekan-rekan
mahasiswa, sedangkan aparat dan PAM SWAKARSA, itu khan salah mereka sendiri
selain memang mereka digaji untuk itu. Kalau sudah tidak ada lagi anggota
masyarakat korban kebiadaban aparat yang perlu ditengok, tidak ada salahnya
menengok para aparat "keamanan" itu. Siapa tahu mereka jadi bisa lebih
beradab di kemudian hari!
Tapi maslah mereka membalas dengan sikap yang sama, saya terus terang sangat
pesimis karena saya sudah berulangh kali menyaksikan aparat bertindak
represif walaupun sebelumnya mahasiswa sudah bertindak simpatik. Memang
tidak semuanya, kalau bisa saya klasifikasi, aparat yang simpatik selain
Marinir adalah aparat dari Polri yang non-Brimob, non-PHH dan non-URC.
Mereka biasanya datang dari polsek-polsek setempat. Merekalah yang nantinya
harus menjadi panutan pembentukan kepolisian di Indonesia jika 'civil
society' sudah terbentuk dan militer sudah kembali ke barak! Bubarkan
Brimob! Restrukturisasi total TNI-AD!
Salam Reformasi Total..
Salam Revolusi Indonesia..
SIGIT WIDODO
===============
Vox Populi Vox Dei
===============
Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!
Hapuskan militerisme di Indonesia!
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 20 Nopember 1998 18:31
Subject: [kuli-tinta] Mahasiswa, Besuklah Para Tentara dan Pam Swa di RS!
>Mahasiswa, Besuklah Para Tentara dan Pam Swa di RS!
>
>Seminggu tragedi Semanggi berlalu, mata dan hati kita semakin
>terbuka. Lazimnya kekerasan militer di negeri kita, tidak pernah
>terlepas dari intrik politik. Beberapa pihak menganalogikan
>pembantaian Semanggi dg kasus Malari. Kekerasan yg konon
>digerakkan lawan politiknya menyebabkan Sumitro malu
>dan mengundurkan diri.
>
>Adik-adik mahasiswa, berkepala dingin dan dewasalah!
>Tak usah tiru sikap kekanakan Wiranto yg sama sekali
>tidak mengirimkan utusannya, minimal bunga, utk melayat
>atau membesuk korban. Jangankan korban mahasiswa/
>Pam Swa, tentaranyapun tidak ditengok!
>
>Tunjukkanlah kalian lebih dewasa dan punya hati nurani
>dibanding jenderal-jenderal bertaburan bintang tsb.
>Tengoklah para tentara (jangan hanya marinir saja, tapi
>juga Brimob, Kostrad, PHH) dan Pam Swa di RS.
>Kunjungi keluarganya, hibur mereka.
>
>Pelajaran berharga dari marinir, mereka manusiawi, massa
>dan mahasiswa juga membalas dg sikap yg sama. Lalu
>apa salahnya kita tunjukkan sikap manusiawi pada
>TNI AD dan Polri yg terkena musibah? Insya Allah,
>mereka akan membalas dg sikap yg sama. Percayalah,
>Allah itu Maha Adil.
>
>Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
Himbauan: Hormati pahlawan REFORMASI, Pasang bendera setengah tiang !
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com