Mungkin menarik sebagai bacaan dan masukan.
kj/


>Date: Mon, 14 Dec 1998 14:09:51 -0600 (CST)
>From: Juliana Atmadja <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Date: Mon, 14 Dec 1998 10:40:09 -0500 (EST)
>To: [EMAIL PROTECTED]
>From: [EMAIL PROTECTED] (Ben Abel)
>Subject: Jeff Winter ttg Gerakan Reformasi 1998
>
>JEFF WINTERS TENTANG GERAKAN REFORMASI 1998
>
>Jeffrey Winters mengamati dari dekat gerakan reformasi selama tahun 1998.
>Menjelang tutup tahun ini kami minta catatannya. Menurut dia, "Berdasarkan
>bukti-bukti yang saya lihat, gerakan reformasi di Indonesia pada tahun
>1998
>ini masih semacam pertarungan antara dua kelompok elite. Elite pro status
>quo dan elite yang pro reformasi. Rakyatnya sendiri masih disingkirkan."
>Apa
>persoalan paling penting yang dia amati, "Bagaimana menggalang People
>Power
>yang kuat dan meluas, dengan aksi-aksi damai? Menurut saya itulah
>persoalan
>paling penting yang harus dipikirkan oleh aktivis gerakan reformasi."
>
>KONSTITUSIONAL
>T: Ketika Habibie ditunjuk Suharto sebagai presiden ada debat tentang
>apakah pemerintahan Habibie itu "konstitusional."
>
>J: Sebenarnya apa yang dimaksud dengan "konstitusional" itu? Apakah
>artinya
>harus sesuai dengan konstitusi? Kita tahu bahwa konstitusi itu bukan hanya
>sekedar tata cara yang harus diikuti. Yang lebih penting lagi konstitusi
>itu mengandung suatu amanat. Dan salah satu amanat yang paling penting
>dalam
>konstitusi bangsa Indonesia ada dalam pasal-1 UUD-45, "Kedaulatan adalah
>ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR." Kalau amanat paling
>penting ini sudah diinjak-injak maka tidak ada tata cara dan juga lembaga
>yang dibangun diatasnya itu bisa dianggap "sesuai dengan konstitusi."
>
>Kalau kita tanya apakah MPR Orba itu "konstitusional" kalau lembaga itu
>dibentuk dengan setengah anggotanya ditunjuk Suharto dan setengahnya lagi
>"dipilih" dalam pemilu yang curang. Jawabnya jelas, tidak. MPR Orba itu
>sama sekali tidak bisa dianggap lembaga yang sah untuk menjalankan
>kedaulatan
>rakyat, yaitu amanat UUD-45. Kalau MPRnya sudah tidak sah atau sudah
>"cacat
>hukum," apakah presiden dan wapres yang "dipilih" itu konstitusional?
>Tentu
>saja tidak. MPR Orba itu lembaga boneka, dan produk-produk yang dihasilkan
>lembaga itu memang banyolan.
>
>Satu lagi amanat yang sangat penting dalam konstitusi Anda, "Indonesia
>adalah negara yang berdasar atas hukum, tidak berdasar atas kekuasaan
>belaka." Itu
>gamblang sekali dicantumkan dalam penjelasan UUD-45. Selama jaman Orba
>kita
>semua tahu bahwa Indonesia itu negara kekuasaan, bukan negara hukum.
>Selama
>30 tahun lebih negara Orde Baru itu bisa berdiri berdasarkan kekuasaan.
>Sama
>sekali bertentangan dengan konstitusi Anda. Negara Orde Baru itu tidak
>banyak berbeda dengan negara Hindia Belanda. Tidak banyak berbeda dengan
>negara
>yang ada di jaman Jepang. Dasarnya cuma kekuasaan. Yang berbeda pendapat,
>gebug.
>Pers yang kritis, bredel. Masyarakatnya diawasi, dikontrol, dibina,
>diancam, dengan kekuasaan.
>
>Banyak tokoh oposisi yang betul-betul bisa dianggap mewakili suara rakyat
>itu kuatir kalau tindakan politik mereka akan melanggar tata cara atau
>prosedur
>yang ada dalam konstitusi. Mau menghormati konstitusi itu baik. Tapi dalam
>masa peralihan sekarang ini -- ketika masyarakat Indonesia mau bergerak
>dari negara kekuasaan menuju negara hukum -- yang masih tetap berkuasa
>adalah
>sisa-sisa dari Orde Baru. Adalah sangat naif kalau menganggap mereka itu
>pemerintah yang "konstitusional." MPR Orba itu tidak konstitusional.
>Pemerintahan yang
>dihasilkan oleh MPR itu juga bukan pemerintahan yang konstitusional. Kalau
>tokoh-tokoh oposisi percaya dengan dongeng bahwa pemerintahan Habibie ini
>"konstitusional" maka mereka hanya ikut "membantu" segelintir orang untuk
>berkuasa dengan memakai kekuatan militer.
>
>Menurut saya lebih baik kalau para pemimpin oposisi itu terang-terangan
>saja bilang bahwa selama Orde Baru berkuasa bangsa Indonesia berada dalam
>cengkraman kekuasaan rejim yang tidak sah, yang tidak berlandaskan
>konstitusi.
>Terang-terangan bilang bahwa selama Orde Baru negara Indonesia sudah
>menjadi negara kekuasaan. Lalu mereka memimpin aksi-aksi untuk membongkar
>negara
>kekuasaan ini dan bergerak menuju negara hukum.
>
>KUALITAS PEMIMPIN
>J: Topik yang sering jadi bahan diskusi antara aktivis adalah tentang
>ketidak-mampuan pemimpin oposisi untuk betul-betul membangun kekuatan
>politik yang
>bisa mengarahkan agenda reformasi. Misalnya selama Sidang Istimewa yang
>baru lalu. Penolakan terhadap SI dan usaha untuk menggalang kekuatan
>politik
>untuk menolak SI itu sudah dilakukan dengan gigih sekali oleh mahasiswa
>dan
>masyarakat Jakarta. Tokoh-tokoh yang masih dipercaya dan didengarkan oleh
>masyarakat luas, dan juga punya banyak pendukung, seperti Gus Dur, Mega,
>Amien, Emil, Sultan, dll itu memang menghimbau atau mencetuskan deklarasi.
>Tapi sepertinya mereka semua ragu atau takut untuk betul-betul bergerak
>dan
>memimpin organisasinya untuk bergerak. Seakan-akan mereka menyerahkan
>tanggung-jawab mengarahkan reformasi ini kepada mahasiswa. Bagaimana Anda
>memahami ketidak mampuan para tokoh dan pemimpin masyarakat ini?
>
>J: Sebagian alasannya adalah ketakutan. Sebagian lagi memang karena
>kualitas mereka sebagai pemimpin itu pas-pasan saja. Para pemimpin oposisi
>ini
>jarang sekali menunjukkan mereka memang punya kualitas dan juga keberanian
>yang
>cukup untuk bisa menjadi pemimpin nasional. Penampilan mereka itu
>angin-anginan.
>Kadang-kadang bagus -- jelas sekali tujuannya, jelas sekali taktiknya.
>Kadang-kadang sama sekali tidak punya tujuan, tidak punya taktik. Yang
>paling
>sering mereka itu cuma ikut angin saja.
>
>Masyarakat Indonesia begitu kompleks, begitu banyak masalahnya, dan karena
>itu punya potensi untuk melahirkan banyak pemimpin yang bermutu. Tapi
>selama
>Suharto berkuasa rejimnya sudah berhasil menghancurkan kekuatan-kekuatan
>yang ada dalam masyarakat yang bisa melahirkan pemimpin yang bermutu.
>Akibatnya
>kita bisa lihat sekarang. Bukan hanya pemimpin oposisi yang kualitasnya
>itu
>pas-pasan, tetapi begitu juga orang-orang dalam rejim Suharto dan rejim
>Habibie itu sendiri.
>
>Dalam masa-masa kritis yang sangat menentukan jalannya sejarah Indonesia
>seperti sekarang ini, kita sudah lihat begitu banyak anak muda dan juga
>warga masyarakat biasa yang berjuang hebat untuk merubah keadaan. Banyak
>orang
>biasa yang sudah berkorban untuk merobah keadaan. Dan bukan hanya itu,
>they
>struggle for the very soul of the nation. Tentu saja sisa-sisa rejim Orba
>yang masih
>berkuasa itu ingin tetap mempertahankan status quo. Dan mereka sudah pakai
>cara-cara jahat untuk bisa terus berkuasa. Mereka pakai tentara, intel,
>ninja, bandit, dsb untuk main culik, bunuh, perkosa, dll. Sisa-sisa rejim
>inilah
>yang paling bertanggung-jawab atas korban-korban yang sudah jatuh.
>
>Tapi, walaupun dengan berat hati, saya harus bilang bahwa sebagian
>kesalahan juga ada pada para pemimpin oposisi, pada tokoh-tokoh
>masyarakat. Dalam
>perjuangan ini mereka juga bikin banyak salah langkah yang mengakibatkan
>lebih banyak korban. Krisis politik dan ekonomi Indonesia sudah menjadi
>lebih
>parah dan lebih panjang antara lain karena kelemahan dan kegagalan
>tokoh-tokoh
>oposisi seperti Gus Dur, Mega, Amien Rais, Emil Salim, Sultan, dll.
>
>Pemerintahan Habibie-Wiranto sekarang ini sama sekali tidak punya
>legitimasi,bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di mata dunia
>internasional.
>Pemerintahan ini struktur ekonominya kropos, struktur politiknya bobrok.
>Jauh lebih lemah dibandingkan pemerintahan Suharto yang sudah tumbang itu.
>Tapi
>tetap saja para pemimpin oposisi ini tetap tidak berani menggempur habis,
>betul-betul mendobrak dan menghancurkan sistim yang sudah bobrok ini,
>untuk
>bisa membangun sesuatu yang baru. Para pemimpin oposisi itu masih saja
>menunggu-nunggu datangnya "hari baik." Dan selama mereka menunggu itu
>sebenarnya mereka juga ikut berperan mengulur-ngulur krisis. Mereka juga
>ikut memperluas dan memperlama penderitaan rakyat Indonesia.
>
>T: Itu kritik yang keras sekali.
>
>J: Memang. Saya tahu banyak orang yang tidak suka mendengar kritik seperti
>ini. Masyarakat Indonesia pada umumnya, dan terutama para wartawan, itu
>saya anggap terlalu lunak, terlalu murah hati dalam menilai tokoh-tokoh
>itu.
>Jarang sekali saya dengar atau saya baca tokoh-tokoh itu betul-betul
>diserbu
>wartawan dengan pertanyaan yang betul-betul keras, yang betul-betul sukar.
>Mereka
>terlalu sering dipuji, jarang dikritik, dan hampir tidak pernah ditantang
>oleh para wartawan. Menurut saya masyarakat Indonesia terlalu memanjakan
>para
>tokoh itu.
>
>PEOPLE POWER
>T: Sumbangan pemikiran apa yang bisa Anda berikan pada mereka?
>
>J: Mereka bisa menggalang aksi-aksi damai dalam skala nasional. Misalnya
>saja dengan mengadakan aksi mogok. Itu aksi damai yang sudah sering
>dikerjakan
>oleh rakyat negara-negara lain. Misalnya dalam gerakan civil rights di AS,
>dalam
>gerakan kemerdekaan India yang dipimpin oleh Gandhi, dll. Mogok itu adalah
>cara berjuang rakyat menghadapi kekuasaan jahat yang bersenjata.
>
>Mogok nasional itu saya kira bisa efektif kalau dipimpin oleh tokoh-tokoh
>yang masih dipercaya oleh masyarakat. Pesannya hanya satu dan bagusnya
>pesan itu
>sederhana saja, misalnya, "no-confidence." Dengan mogok itu rakyat
>menyatakan mereka "tidak percaya" pemerintahan Habibie bakal mampu
>menyelesaikan
>persoalan. Kalau mogok itu bisa berlangsung selama 24 jam di beberapa kota
>besar, maka pesan itu akan punya bobot yang luar biasa. Karena dalam 24
>jam
>rakyat tidak mau menyupir bis kota atau taksi, tidak ada yang menjalankan
>kereta api, tidak ada yang mau membersihkan jalan, guru-guru tidak mau
>mengajar, murid tidak mau belajar, dst. Dan semua orang itu secara
>serentak
>"ngomong" ke pemerintah, kami tidak percaya!
>
>T: Misalnya itu terjadi, okelah orang-orang tidak percaya. Lalu apa
>alternatifnya?
>
>J: Tokoh-tokoh masyarakat, antara lain para pencetus Deklarasi Ciganjur
>itu, harus minta pemerintahan Habibie yang ilegal, yang inkonstitusional
>itu,
>untuk mundur dan pimpinan Abri juga mundur. Dalam masa vakum itu kita bisa
>belajar dari sejarah Indonesia. Menjelang kemerdekaan ada lembaga yang
>disebut
>PPKI,Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Lembaga ini yang secara
>formal
>mengarahkan peralihan dari negara kekuasaan bikinan Jepang ke Republik
>Indonesia, terutama pada hari-hari kritis sekitar proklamasi.
>
>Sejarah itu bisa kita baca dalam UUD-45. Dalam bagian "Aturan Peralihan"
>dikatakan, "Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan
>menyelenggarakan kepindahan pemerintahan kepada Pemerintah Indonesia." Itu
>pasal 1. Pasal-3 bilang, "Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden
>dipilih oleh PPKI."
>
>Rakyat Indonesia sekarang sudah tahu siapa-siapa tokoh yang sampai saat
>ini
>masih bisa mereka percaya. Dengan semangat yang sama dengan semangat dalam
>jaman revolusi, lembaga semacam PPKI itu sekarang bisa dibentuk, misalnya
>saja dinamakan Panitia Persiapan Demokrasi Indonesia, atau PPDI. Isinya
>tokoh-tokoh Ciganjur itu dan beberapa orang tokoh lain. PPDI itulah yang
>mengangkat
>presiden dan wakil presiden "sementara" dengan satu mandat saja,
>mempersiapkan pemilu.
>
>Pasal 4 dalam "Aturan Peralihan" UUD45 itu mengatakan, "Sebelum Madjelis
>Permusjawaratan Rakjat, Dewan Perwakilan Rakjat dan Dewan Pertimbangan
>Agung dibentuk menurut Undang-Undang ini, segala kekuasaannja didjalankan
>oleh
>Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional." Pengalaman sejarah itu
>juga bisa dijadikan pedoman. Yang penting itu kita jangan terpukau pada
>tata
>cara atau prosedur. Kita yakin bahwa rejim Suharto, dan juga rejim Habibie
>yang
>meneruskan rejim Suharto, itu sudah berada di luar konstitusi. Yang
>penting
>juga kita tahu bahwa bangsa Indonesia punya pengalaman sejarah yang bisa
>dijadikan pedoman dalam masa transisi seperti sekarang ini.
>
>T: Seandainya mogok sudah dijalankan tapi tetap tidak didengarkan? Tetap
>saja pemerintahan Habibie mau ngotot?
>
>J: Mungkin memang tidak ada jalan lain, harus pakai people power. Rakyat
>harus turun ke jalan.
>
>T: Sebagian teman mengingatkan bahaya anarki atau kekacauan, bentrokan
>berdarah yang meluas, dsb, kalau ada mobilisasi massa secara
>besar-besaran.
>
>J: Masyarakat Indonesia itu sangat beraneka-ragam. Salah satu hal yang
>disumbangkan orang Indonesia pada dunia adalah bukti bahwa masyarakat yang
>beragam itu bisa hidup berdampingan secara damai. Kekerasan yang pernah
>terjadi, sejauh saya tahu, itu selalu tidak muncul spontan akibat
>perbedaan
>yang ada dalam masyarakat. Selalu ada segelintir elite di atas yang
>membakar-bakar dan mengadudomba masyarakat untuk kepentingan elite itu
>sendiri,
>supaya mereka bisa tetap berkuasa.
>
>Banyak sekali contoh kekacauan yang terjadi akibat kelakuan elite di atas.
>Dan sukar sekali kita dapat contoh kekerasan dalam masyarakat yang terjadi
>secara spontan akibat perbedaan yang ada dalam masyarakat sendiri. Ada
>kelompok
>elite yang memang mencoba mengadudomba masyarakat, membakar
>konflik-konflik
>berdasarkan sara. Ini permainan jahat dan sangat berbahaya. Luka yang
>timbul akibat konflik-konflik sara ini sangat dalam. Akan butuh waktu lama
>sekali
>untuk menyembuhkannya. Dan semakin lama kelompok elite "irresponsible" ini
>berkuasa, semakin besar risiko bangsa Indonesia akan terpecah belah, tidak
>akan bisa lagi bertahan sebagai suatu bangsa.
>
>ELITISME MAHASISWA
>T: Salah satu hambatan dalam menggalang People Power di Indonesia adalah
>karena gerakan mahasiswanya sangat elitis. Mahasiswa menjaga jarak dengan
>masyarakat. Banyak mahasiswa yang bilang, "Rakyat lapar." Tapi sekaligus
>juga bilang, "Awas, jangan disusupi massa." Banyak mahasiswa yang berjuang
>untuk
>rakyat, tetapi sekaligus takut kalau rakyat betul-betul ikut dalam aksi
>mereka lalu rakyat itu mereka sebut "massa." Dan "massa" itu mereka anggap
>berbahaya, karena gampang mengamuk, dsb.
>
>J: Ketakutan aksi-aksi mahasiswa dikacaukan itu memang beralasan dan sudah
>seringkali terbukti. Tapi memang betul juga sebagian mahasiswa memang
>bersikap sangat elitis dan itu kesalahan yang sangat serius. Student Power
>saja
>tidak akan cukup kuat untuk bisa membongkar seluruh rejim Orde Baru.
>Mahasiswa
>sering bicara mereka berjuang untuk rakyat. Kalau mereka memang jujur,
>maka
>mereka harus berjuang bersama rakyat.
>
>Tapi sampai saat ini mahasiswa memang menjadi satu-satunya kekuatan
>pendobrak. Ini juga akibat dari ketidakmampuan para pemimpin dan
>tokoh-tokoh masyarakat dalam kelompok oposisi. Kalau para pemimpin oposisi
>itu
>menggalang kekuatan rakyat, dan bukannya main-main terus di belakang
>layar, maka
>mahasiswa akan bergabung.
>
>T: Kami mendapat kesan para aktivis mahasiswa sekarang ini sangat berani
>dan sangat gigih. Tapi kadang-kadang kurang berpikir strategis. Misalnya
>ada
>aksi-aksi yang mau menghantam Suharto, Habibie, Wiranto, Abri dan Golkar
>sekaligus.
>Itu sesuatu yang sangat sukar. Mungkin lebih tepat kalau gerakan reformasi
>itu maju selangkah-selangkah. Atau mungkin lebih tepat kalau memusatkan
>gerakan
>untuk mendobrak satu sasaran saja. Atau konsentrasi pada isu yang paling
>penting saja. Bagaimana Anda mengamati kemampuan berpikir strategis, atau
>kemampuan untuk memilih prioritas sasaran, dalam gerakan reformasi
>sekarang
>ini?
>
>J: Memang gerakan mahasiswa terlihat "disorganized," terlihat semrawut,
>tidak punya prioritas dalam aksi-aksinya, tidak terorganisir rapih.
>Berbeda
>dengan gerakan mahasiswa di Korea, misalnya. Tapi kesemrawutan ini bisa
>jadi
>kelemahan dan sekaligus juga kekuatan. Kekuatan karena kemudian gerakan
>mahasiswa itu menjadi semacam aktivitas "gerilya." Akan sukar sekali
>pemerintah dan militer menghadapi aksi-aksi gerilya mahasiswa seperti
>sekarang ini. Kelemahannya persis yang Anda katakan itu, tidak ada fokus
>dan
>strategi. Yah, memang sukar sekali untuk mengorganisir gerakan yang
>terorganisir
>rapih.
>
>Tapi, sekali lagi mengulang yang sudah kita bicarakan tadi, elitisme
>mahasiswa ini juga akibat kesalahan dari para pemimpin oposisi yang
>seakan-akan
>lumpuh, lalu membiarkan mahasiswa berjuang sendiri. Saya juga harus bilang
>ini juga
>akibat dari sikap sebagian besar kelas menengah Indonesia, yaitu kelompok
>profesional, pekerja kantoran, dll yang ada di kota-kota besar itu. Selama
>aksi-aksi reformasi tahun 1998 ini mereka hanya berdiri di pinggir jalan,
>menjadi penonton. Sikap ini berbeda sekali dengan sikap kelas menengah
>Pilipina dan juga Thailand. People Power di Pilipina pada tahun 80-an dan
>yang di Thailand pada awal 90-an -- yang berhasil menggulingkan rejim
>Marcos di
>Manila dan rejim militer di Bangkok -- itu termasuk "Gerakan BMW dan
>Handphone." Itu belum kita lihat di kota-kota besar Indonesia. Sikap
>umumnya kelas menengah itu masih "cari selamet" dan "cari aman." Mereka
>tidak mau
>ikut berjuang tapi selalu siap untuk ikut yang menang.
>
>T: Gerakan reformasi seperti apa yang Anda bayangkan tahun depan?
>
>J: Bagaimana perkembangan selanjutnya, itu saya tidak tahu. Tapi
>berdasarkan bukti-bukti yang saya lihat, gerakan reformasi di Indonesia
>pada tahun 1998
>ini masih semacam pertarungan antara dua kelompok elite: Elite pro status
>quo dan elite yang pro reformasi. Rakyatnya sendiri masih disingkirkan.
>Dalam
>situasi seperti ini, elite yang pro reformasi hanya bisa menang kalau
>mereka menggalang kekuatan rakyat. Bagaimana menggalang People Power yang
>kuat dan meluas, dengan aksi-aksi damai? Menurut saya itulah persoalan paling
>penting yang harus dipikirkan oleh aktivis gerakan reformasi (Habis,
>wawancara 14
>Desember 1998).


kj/
[EMAIL PROTECTED]
ICQ UIN 23276722





Indonesia without violence!

---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Current subscriber count: 247

Kirim email ke