Sudah baca ini ? Mudah2an tidak menganggu libur tahun baru anda sekalian. Tak lupa, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. http://www.detik.com/wawancara/199812/19981209-1438.html Mantan Hakim Agung Bismar Siregar : Soeharto Butuh Ulama, Bukan Pengacara Mantan Presiden Soeharto Rabu pagi (9/12) akhirnya diperiksa Kejagung juga dengan berbekal Inpres No 30/1998 yang dikeluarkan minggu lalu. Sebelumnya, pemerintah bermaksud membentuk Tim Independen untuk mengusut harta Soeharto, keluarga dan kroninya sebagaimana desakan rakyat. Di tengah jalan, Tim ini gagal dibentuk karena banyak tokoh yang menilai Tim ini tidak efektif karena tidak mempunyai kekuatan hukum dan wewenangnya pun sempit. Mensesneg Akbar Tandjung pun kesulitan untuk mendapatkan orang-orang kredibel yang mau duduk di Tim tersebut. Salah seorang tokoh yang bersedia menjadi anggota Tim adalah Bismar Siregar, mantan Hakim Agung yang dikenal bersih. Ia menerima tawaran Mensesneg karena memenuhi panggilan nurani. Sayangnya, Tim ini dilikuidasi juga akhirnya dengan dikeluarkannya Inpres No 30/1998 yang menegaskan pada Jagung M Andi Ghalib untuk segera bertindak pada Soeharto. Bagaimana komentar Bismar tentang Inpres tersebut? Bagaimana pula pendapat dia tentang pemeriksaaan Soeharto? Berikut wawancara Nurul Hidayati dengan Bismar Siregar yang kini lebih dikenal sebagai alim ulama, Rabu (9/12): Komentar Anda tentang pemeriksaan Soeharto? Saya menilai sebaiknya Soeharto tidak usah dipenjara. Nggak usahlah Soeharto dipenjara. Kita adalah bangsa yang mempunyai etika. Saya nilai Soeharto sebaiknya minta maaf saja pada rakyat dan Tuhan Yang Maha Esa lantas mengembalikan hartanya yang diduga hasil KKN pada rakyat, selesailah sudah masalahnya. Termasuk juga para kroninya harus berbuat yang sama. Saya mengusulkan supaya selama Soeharto diusut, dia didampingi ulama. Ulama akan memberikan kesejukan dan membuka hatinya. Jadi tidak sekadar didampingi penasihat hukumnya saja. Ulama akan menyadarkan yah, umur kita sudah lebih 80 tahun, kembali kekanak-kanakan. Kalau kita punya salah pada Tuhan, kita bisa bertobat. Kalau ada dosa pada rakyat, mengapa Pak Harto sebaiknya tidak minta maaf saja? Tidak perlu didampingi pengacara? Tidak perlu. Pak Harto lebih membutuhkan didampingi ulama, tak usah pengacara. Saya dulu pernah mengirim surat ke MUI. Isinya: apakah MUI yang juga dibesarkan Pak Harto ketika dia berkuasa, tidak berusaha mendekati Pak Harto lagi setelah lengser? Padahal dalam Islam ada perintah bahwa bila ada orang yang ditimpa musibah, datangilah dia dan berilah nasihati dia. Bila kamu berbuat itu, maka kuburanmu akan diterangi. Ini pesan Rasullulah SAW dan saya sampaikan pada MUI. Suatu ketika saya bertemu dengan Quraish Shihab (pengurus MUI) di kantor ICMI. Dia bilang bahwa dia senang sekali mendapat surat dari saya dan surat itu sudah dia sampaikan pada Pak Harto. Kata Quraish, Pak Harto juga senang menerima surat saya. Sebab surat itu saya tutup dengan apakah Pak Harto tidak ingin bertanya pada diri sendiri dan merenung. Usia boleh dibohongi, tapi nurani tidak. Pak Harto senang dengan surat saya tersebut. Kapan surat itu dikirim? Sekitar Juni 1998. Karena itulah saya bilang adakah ulama yang datang ketika Pak harto ditimpa musibah? Dia butuh nasihat supaya tidak putus asa. Tuhan saja maha pemaaf pada hamba-Nya yang sering bermaksiat kecuali dia syirik. Masak dosa Pak Harto tidak diampuni. Tugas ulama adalah memberi Pak harto nasihat supaya dia bertobat, mendekatkan diri pada Tuhan, dan tidak putus asa. Komentar Anda tentang Inpres No 30/1998? Kita harus menerimanya dengan iklas, tidak boleh berprasangka buruk. Inpres itu seakan-akan mengganti perpu yang kita tuntut berkaitan dengan akan dibentuknya Tim Independen untuk mengusut harta Soeharto dan kroninya. Kalau keppres, kita menolak. Sebab itu menyebabkan Tim bergantung pada presiden. Idealnya sih UU sebab pemeriksaan Soeharto itu kan implementasi dari Tap MPR No XI/MPR. Tapi akhirnya yang keluar adalah Inpres. Tanpa Inpres pun Jagung harus berani periksa Soeharto. Tapi rupanya Jagung kurang darah sehingga Habibie perlu memberi suntikan darah segar. Semoga saja Jagung jadi fit. Buktinya dia memanggil Soeharto hari ini. Hanya saja saya nilai Jagung kurang bijaksana.Mengapa masalah yang diperiksa hanya soal yayasan dan proyek Mobnas saja? Harusnya tidak dibatasi pada dua hal itu. Jagung tidak aspiratif dalam menanggapi keinginan masyarakat. Saya sendiri sudah bisa menilai bahwa Inpres ini memang pada akhirnya menyebabkan Tim Independen tidak jadi dibentuk. Apa tidak menimbulkan budaya sedikit masalah perlu Inpres? Saya tidak setuju dengan keluarnya Inpres itu. Tapi saya tetap bilang alhamdulillah. Semoga masalah akan kelar dengan adanya Inpres itu. Dan supaya budaya sedikit masalah, keluar Inpres, maka masyarakat mesti harus sering mengingatkan pemerintah. Tim independen gagal terbentuk, apa Anda mau duduk di situ bila nanti ada? Kalau saya, tidak usahlah ya. Biarlah pemerintah mencari orang lain. Kita mempunyai harga diri. Kalau sekarang kita sudah tidak dipercaya, masak kita masih menawarkan diri. Tentu tidak kan, biar orang lain saja. Saya sendiri tidak sakit hati kok. Saya yakin bahwa tidak ada pergantian siang dan malam tanpa ijin Tuhan. Dan Tuhan pun bilang idak duduk dalam posisi tertentu adalah lebih baik, apalagi saya tidak ambisi untuk menduduki jabatan tertentu, termasuk masuk ke Tim Independen. Saya dulu ditawari Akbar Tandjung duduk di Tim itu, yang saya ucapkan kali pertama adalah innalillahi wa inna illaihi rajiun (semuanya akan kembali pada Alloh-red). Akbar tanya, kenapa bilang gitu? Saya jawab, saya sudah uzur, tidak pantas duduk di Tim. Akbar bilang bahwa tawaran itu atas permintaan Habibie karena saya dinilai mampu dan untuk mengimbangi Adnan Buyung Nasution yang juga ditawari jadi anggota Tim. Tapi sekarang situasi sudah berubah. Pokoknya, kalau dibentuk lagi, tidak usah ya. ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html ** Indonesia without violence!
