Assalammu'alaikum Wr. Wb.
Bapak Presiden & ibu Wakil Presiden yth,
Saya tidak tahu apakah anda pernah mempergunakan address ini dan apakah BJH
pernah menyerahkan id ini kepada anda.
Perkenalkan diri saya y.u: Tengku Chandra Hassan Adenan asal Riau.
Saya baru saja kembali dari kampung halaman saya di Dabo-Singkep (Kep. Riau)
beberapa hari yang lalu dan selama disana saya sama sekali terputus dari
segala macam informasi yang beredar di Negeri ini.
Sewaktu saya membaca koran-2 yang bertumpuk didepan pintu rumah saya sempat
pula terbaca berita tentang keinginan masarakat Riau untuk merdeka dan
tanggapan anda yang ingin menangkap orang Jakarta yang memprovokasi
masarakat Riau.
Dengan segala kerendahan hati dan sebelumnya mohon maaf atas ke tidak
pandaian saya bertutur, saya ingin menyatakan kekecewaan saya atas
pernyataan anda itu. Berhari-hari saya menunggu ralat ataupun bantahan anda
dengan harapan bahwa wartawan memang benar-2 meracau.
Susah buat saya untuk menghilangkan pikiran dan kemarahan hati saya kepada
anda, sehingga akhirnya saya memutuskan menulis email ini.
Anda pernah disebut sebagai seorang budayawan negeri ini tetapi begitukah
anda memahami dan menanggapi RAJUK MELAYU....?
Sultan Siak Syarif Qassim adalah raja nusantara pertama yang menyatakan
bahwa Kerajaan Siak Sri Indrapura bergabung dengan Indonesia setelah
proklamasi 17 Agustus 1945 (hanya berbeda waktu 4 jam setelah pembacaan
proklamasi oleh Soekarno-Hatta) dan bukan hanya itu beliau juga menyerahkan
seluruh kekayaannya yang ada di Riau ketangan Republik untuk dipergunakan
sebagai bekal perjuangan melawan penjajah (salah satu dari kekayaannya itu
adalah ladang minyak CALTEX sekarang).
Cerita saya itu hanya ingin mengingatkan anda bahwa betapa besar komitmen
Riau terhadap Indonesia tapi apa yang diperoleh Riau hanyalah kekecewaan
sepanjang masa karena Pusat mengabaikan penderitaan kami.
Betapa anda dan pendahulu-2 anda mengabaikan protes orang Riau padahal Prof.
TABRANI RAB cs. sudah mendengungkan kemerdekaan Riau pada bulan Mei 1999 dan
apa yang didengungkan itu bukan hanya isi hati mereka sendiri tapi sebagian
besar masarakat Riau yang memang sudah lama terbenam dihati banyak orang di
Riau. Hendaknya anda mengerti kata-2 merdeka dengan bahasa Rajuk Melayu.
Singkep umpama pohon nagka yang meranggas setelah timahnya habis pasirnya
pun masih diambil dan dijual ke Singapura tanpa ada konstribusi sedikitpun
ke Singkep sendiri kecuali tanah tempat rakyat berkebun menjadi musnah,
Lingga dan Siak bak perkampungan abad 19 yang lalu bahkan lihatllah apa yang
dimiliki oleh Pekanbaru tidak lebih baik dari apa yang dimiliki oleh Bandung
pada awal dekade 60-an. Untuk sebuah propinsi yang telah menyumbangkan
minyak bumi yang berlimpah, timah yang bertimbun, kelapa sawit, bauksit,
kelapa, karet, ikan, rumput-laut dsb. adilkah itu....?
Saya tidak yakin anda memaklumi kekecewaan orang Riau (bahkan kapan anda
bisa datang menginjak bumi lancang kuning...? tak pantas anda memanggil
prof. Tabrani ke Jakarta, yang kami inginkan anda datang ke Riau
mendengarkan suara orang Riau ditanahnya sendiri).
Walaupun orang Riau bukanlah pemberontak tetapi saya sebagai orang yang
lahir disana akan tetap melawan dengan cara saya dan dengan kemarahan saya.
Kalau anda ingin menangkap orang-orang yang kecewa terhadap Pusat maka
tangkaplah saya karena hati saya telah lama memberontak, layar sudah
berkembang pantang dagang surut ke tepi. esa hilang dua terbilang, tak
melayu hilang didunia, tuah sakti bakti negeri.
Saya tak pandai bermain senjata dan berkelahi, tetapi kalau anda tidak
menarik/meralat/membantah pernyataan anda kemarin saya akan mendoakan agar
Allah menurunkan kutuk dan adzabnya yang lebih pedih kepada anda begitupun
sebaliknya kalau anda meminta maaf atas pernyataan anda saya akan mohonkan
agar Allah menurunkan berkah yang berlimpah, rahmat yang tak ada habisnya
untuk anda. Raja bijak raja disembah, Raja salah raja di sanggah.
Sekali lagi yang saya ingin nyatakan bahwa untuk mengerti tindakan orang
Riau haruslah mengerti bahasa rajuk melayu (walaupun tidak semua orang Riau
adalah Melayu, tetapi sebagian besar dari mereka sudah merasakan menjadi
melayu sejati dan kami tidak punya masalah dengan SARA), janganlah MERDEKA
diartikan dengan melepaskan diri dari RI tapi harus diartikan dengan bahasa
seseorang yang merajuk karena tidak diperhatikan. Yang kami inginkan adalah
keadilan dan kehormatan, maka berikanlah itu
Sengaja mail ini saya sebarkan juga kepada pihak-2 lain agar banyak orang
yang mengetahui apa yang saya katakan dan tidak ada fitnah dikemudian hari.
Begitulah isi hati saya bapak Presiden dan ibu Wakil Presiden, semoga pintu
hati anda terbuka dan mengerti dengan bahasa saya yang tak tersusun ini.
Wassalam,
Tengku Chandra Hassan Adenan
+62-811-230-140
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!