HANYA ORANG YANG MENGATAKAN ANTI REFORMIS YANG SEBENARNYA ANTI REFORMIS.
ini pendapat subyektif saya pribadi, buat orang yang sering bilang orang
lain anti reformis.
thanks
-----Original Message-----
From: Tedy The Kion <[EMAIL PROTECTED]>
To: Ahmad Ahmad <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED]
edu
<[EMAIL PROTECTED]
.edu>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: 03 Januari 1999 5:33
Subject: [Kuli Tinta] RE: [mimbarbebas] Mahasiswa Anarkis Bungkam Kebebasan
Pers
>Ah, ini satu lagi oknum yang tulisannya sama sekali nggak connect sama
>substansi yang dibicarakan, sangat tendensius.
>
>Saya melihat koq nggak ada masalah yang berkaitan dengan anarki mahasiswa
>dengan tulisan yang berjudul "TVRI Belum Tersentuh Reformasi Mahasiswa
>Memasukkan TVRI Dalam Agenda Demo". Justru saya dapat melihat dengan jelas
>kebusukan Anda dengan menyelipkan tulisan yang kental bertendensi SARA yang
>Anda sengaja selipkan setelah tulisan tentang mahasiswa itu ya.
>
>Rupanya Anda ini juga sama saja dengan ZULFAN ([EMAIL PROTECTED]) dan
>WISEMAN di dunia CYBER ini ya. Ya, ya, ya, siapa lagi ya agitator setelah
>WISEMAN, ZULFAN, dan AHMAD AHMAD ini?
>
>salam,
>TEDY THE KION
>
>> -----Original Message-----
>> From: Ahmad Ahmad [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent: 01 Januari 1999 21:57
>> To:
>> [EMAIL PROTECTED]
>> mit.edu
>> Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
>> [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: [mimbarbebas] Mahasiswa Anarkis Bungkam Kebebasan Pers
>>
>>
>> Mahasiswa Anarkis Bungkam Kebebasan Pers
>>
>> Nampaknya kelompok mahasiswa anarkis yang ingin membentuk pemerintahan
>> baru tanpa Pemilu yang dimotori oleh aktivis mahasiswa Universitas
>> Katolik Atmajaya dan Universitas Kristen Indonesia ini sama represifnya
>> dengan pemerintah Soeharto.
>>
>> Buktinya mereka berusaha membungkam dan membersihkan TVRI, agar TVRI
>> cuma memberitakan berita sesuai dengan selera mereka. Hal ini jelas
>> menunjukkan bahwa kelompok mahasiswa anarkis minoritas ini perilakunya
>> tidak berbeda dengan Soeharto.
>>
>> Mengapa mereka tidak bisa bersikap sebagai demokrat seperti Menpen Yunus
>> Yosfiah, yang mentolerir perbedaan pendapat di media massa? Bukannya
>> memuji, tapi bukankah Yunus ini tak pernah berusaha membungkan Kompas,
>> Indosiar, SCTV, RCTI, dll, yang pemberitaannya SERING memojokkan
>> pemerintah dan selalu membela kelompok mahasiswa anarkis tsb? Kenapa
>> kelompok mahasiswa ini berusaha menteror dan menyeragamkan pemberitaan?
>> Benar2 Demokrat gadungan!
>>
>> Berikut berita rencana pembungkaman dan pembersihan dari oknum mahasiswa
>> anarkis tsb:
>>
>> [INDONESIA-L] TVRI Masuk Agenda Perjuangan Mahasiswa
>> [EMAIL PROTECTED]
>> Sun, 27 Dec 1998 11:39:11 -0700 (MST)
>>
>> Messages sorted by: [ date ][ thread ][ subject ][ author ]
>> Next message: [EMAIL PROTECTED]: "[INDONESIA-L]
>> Skandal di Pengadilan Tinggi Jakarta"
>> Previous message: [EMAIL PROTECTED]:
>> "[INDONESIA-L] Nasin Seorang Tentara"
>>
>> ------------------------------------------------------------
>> --------------------
>> From: "gempur ordebaru" <[EMAIL PROTECTED]>
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: TVRI Masuk Agenda Perjuangan Mahasiswa
>> Date: Sun, 27 Dec 1998 06:28:50 PST
>>
>> TVRI Belum Tersentuh Reformasi Mahasiswa Memasukkan TVRI Dalam Agenda
>> Demo
>>
>> TVRI selaam era Suharto memang tak lebih hanyalah alat propaganda, yang
>> tak memiliki kredibilitas sama sekali. Setelah Suharto lengser, dan
>> Yunus Yosfiah menjadi Menteri Penerangan, memang TVRI mulai sedikit
>> berobah; sebagai contoh, mulai berani memberitakan aksi demo
>> mahasiswa, atau menampilkan tokoh-tokoh kritis.
>>
>> Namun itu tak lama. Kini, semakin hari TVRI semakin jelas menempatkan
>> diri pada ujud aslinya: alat propaganda serta sumber disinformasi yang
>> tendensius. Contohnya, sewaktu KBUI bermaksud mendakan sholat tarawih
>> serta tahlilan memperingati 40 hari Persitiwa Semanggi, TVRI nampak
>> sekali berusaha membuat rekayasa pemberitaan yang mendiskreditkan para
>> mahasiswa.
>>
>> Tadi malam, dalam selingan Persepsi, TVRI berusaha menempatkan acar
>> mahasiswa tersebut dalam kerangka "Penyalahgunaan agama untuk
>> kepentingan politik". Konyol sekali. Di lain pihak, praktek-praktek
>> penyalahgunaan agama oleh kelompok-kelompok semacam KISDI, ataupun
>> Forqon, dan Pam Swakarsa, yang jelas- jelas mencemarkan citra Islam
>> melalui ulah politik picisan yang membawa-bawa simbol agama, sama
>> sekali tidak disinggung TVRI.
>>
>> Mengherankan, TVRI dalam era Reformasi masih berani melakukan rekayasa
>> dan disinformasi semacam itu. Ingatlah, setelah Pemilu 1999, amat
>> mungkin TVRI tidak lagi berada dibawah penguasa sisa-sisa Orde Baru
>> yang masih berkuasa saat ini. Itulah barangkali saatnya oknum-oknum
>> serta mentalitas jurnalisme budak harus segera dibersihkan. Saat ini
>> sejumlah kelompok mahasiswa telah memasukkan reformasi TVRI dalam
>> agenda perjuangan mereka. Seusai masa puasa dan Lebaran, menurut
>> mereka, aksi-aksi untuk "membungkam" dan "membersihkan" TVRI dari
>> sisa-sisa Orde Baru dan dari para Soehartois akan segera dilakukan.
>> ------------------
>> REVOLUSI MINORITAS DI TAHUN 1999
>>
>> Nampaknya seperti diramalkan banyak orang seperti Gus Dur, Permadi, dll,
>> akan terjadi huru-hara besar, bahkan perang saudara di Indonesia.
>>
>> Skenarionya sederhana saja. Habibie, setelah mendapat perintah lewat tap
>> MPR, telah menginstruksikan Jagung Andi Ghalib untuk serius memeriksa
>> Soeharto. Habibie bahkan menegaskan bahwa proses pemeriksaan ini hingga
>> keputusan pengadilan terhadap Soeharto harus selesai sebelum Pemilu
>> tanggal 7 Juni 1999. Jadi Soeharto berhadapan dengan Habibie, sementara
>> kelompok minoritas seperti mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya,
>> Universitas Kristen Indonesia, ISKA (Ikatan Sarjana Katolik), PIKI
>> (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia), maupun CSIS dengan jenderal
>> Leonardus Benny Murdani sedari awal sudah menganggap pemerintah Habibie
>> tidak mempunyai legitimasi, karena itu mereka ingin menggulingkannya dan
>> membentuk pemerintah sendiri, sementara KWI (Konferensi Waligereja
>> Indonesia) sendiri juga menolak Habibie dengan keluar dari DKPSH.
>>
>> Soeharto yang sekarang masih diperiksa sebagai saksi, tentulah akan
>> berontak jika statusnya dirubah sebagai tersangka. Setelah bercokol
>> selama 32 tahun lebih, Soeharto sebagaimana ditulis di suplemen
>> Republika Bidik telah menanamkan banyak pengikut dan kekayaan.
>>
>> Ketika berkuasa, Soeharto cukup cerdas untuk berusaha tidak korup
>> sendiri. Dia berusaha mengikutkan bawahannya untuk melakukan hal serupa,
>> meskipun tak semua bawahannya ikut korup seperti Marie Muhammad. Kita
>> merasakan sendiri bagaimana kita harus membayar lebih untuk para petugas
>> korup ketika membuat KTP, SIM, Paspor, dll. Korupnya para Gubernur,
>> Bupati, Camat, Lurah, dll, membangkitkan solidaritas sesama koruptor di
>> antara mereka. Jika Habibie berusaha mengganyang Soeharto, maka Habibie
>> akan berhadapan dengan para pengikut Soeharto yang masih tertinggal.
>>
>> Berapa banyak Gubernur, Bupati (yang berjumlah ratusan), Camat
>> (jumlahnya ribuan), dan Lurah (jumlahnya puluhan ribu) yang diangkat
>> ketika Soeharto berkuasa? Berapa banyak komandan2 tempur atau kepolisian
>> yang diangkat pada era Soeharto. Paling tidak, 30% dari ABRI aktif masih
>> berada di bawah pengaruh Soeharto. Apakah pejabat yang pro Habibie yang
>> baru berkuasa selama 7 bulan lebih banyak dari yang pro Soeharto yang
>> telah berkuasa selama 32 tahun? Ini persis seperti pertarungan antara
>> David dan Goliath. Pemerintah Habibie yang baru berumur 7 bulan dipaksa
>> bertarung dengan Soeharto yang telah lebih dari 32 tahun memerintah.
>>
>> Dengan para kroni-nya seperti Liem Sioe Liong, Prajogo Pangestu, Bob
>> Hasan, Eka Cipta Wijaya, dll, berapa ratus trilyun yang mereka miliki?
>> Hal ini memberikan mereka kemampuan yang sangat besar untuk melakukan
>> money politics. Jika satu demonstran / penjarah bayarannya 10 ribu per
>> orang, maka mereka bisa menggerakan puluhan milyar (jika rakyat
>> Indonesia sampai segitu:) orang untuk melakukan pengrusakan, dan
>> penggulingan pemerintah Habibie sekaligus.
>>
>> Mengingat lebih dari 100 juta penduduk Indonesia berada di dalam
>> kemiskinan absolut, maka mereka dapat diperalat dengan mudah untuk
>> berbuat apa saja. Maraknya kerusuhan, tawuran antar warga / SMA,
>> penjarahan, dll, merupakan indikasi bahwa moralitas sebagian rakyat yang
>> memang miskin itu sudah rendah. Mereka rela melakukan apa saja asal
>> perutnya dan keluarganya kenyang, Kefakiran membawa kekufuran!
>>
>> Selain itu, Soeharto punya jutaan preman (Government thugs) yang setia
>> padanya. Pemuda Pancasila yang mengaku memiliki 6 juta anggota dan FKPPI
>> yang beranggotakan sekitar 1 juta orang sudah mampu mengalahkan personel
>> ABRI yang cuma beranggotakan 400 ribu orang. Terlihatnya tokoh Pemuda
>> Pancasila (PP), Yorrys Raweyai, dan Bambang Soeharto (yang berpengaruh
>> di FKPPI), bersama Soeharto ketika Gus Dur mengunjunginya untuk Dialog
>> Nasional membuktikan bahwa kedua organisasi tsb masih setia pada
>> Soeharto.
>>
>>
>> Ketika terjadi kerusuhan di Ketapang, Kupang, Pinrang, Banyuwangi, dll,
>> sebagian orang menuding Soeharto sebagai biangnya. Ini jelas membuktikan
>> bahwa kekuasaan Soeharto masih ada.
>>
>> Pada tahun 1999 inilah akan terjadi benturan hebat antara Soeharto
>> dengan Habibie yang menolak dialog nasional dengan Soeharto, maupun
>> Habibie dengan kelompok mahasiswa anarkis yang diperkuat massa PDI
>> perjuangan yang didukung oleh jenderal Theo Syafei serta Leonardus Benny
>> Murdani dengan CSIS yang ingin menggulingkan Habibie, karena Habibie
>> dianggap tidak mempunyai legitimasi oleh mereka.
>>
>> Pada saat inilah perang saudara bisa terjadi. Jika pada masa sekarang
>> saja polisi yang harus mengawasi 1000 penduduk (di negara maju rasionya
>> cuma 1:300 dan penduduknya punya kesadaran hukum yang tinggi) sudah
>> tidak berdaya menghadapi kerusuhan, tawuran, dan penjarahan, apalagi
>> nanti jika para aktor2 politik beserta pengikutnya saling adu otot.
>> Bukan tak mungkin akan terjadi perang saudara seperti di Afghanistan
>> yang akan berlangsung bertahun-tahun dan tidak selesai hingga kini.
>>
>> Jika ini terjadi, maka ummat Islam harus bersatu dan menyiapkan diri
>> agar mereka tidak menjadi korban. Ummat Islam telah kehilangan sekitar
>> 100 ulama yang dibantai pada kasus Banyuwangi, dan akan lebih banyak
>> lagi korban yang jatuh di tahun 1999.
>>
>> Sekarang sekitar 2000 anggota Forkot telah mendapat latihan militer
>> dengan senjata api di Gunung Salak oleh jenderal Leonardus Benny Murdani
>> (Tekad). Sementara penyelundupan senjata api dari pistol hingga senapan
>> serbu otomatis yang terbongkar baru-baru ini (berita SCTV dan Republika)
>> menunjukkan bahwa ada kelompok tertentu yang ingin menggunakan senjata.
>> Harap diingat, biasanya untuk satu kasus yang terbongkar, ada ratusan
>> kasus yang tidak terungkap (fenomena Gunung Es). Selain bisa digunakan
>> untuk membela diri, senjata tsb juga bisa digunakan untuk maksud lain.
>> Mengingat harga senjata api mahal, kita tentu tahu tidak mungkin orang
>> Islam yang kebanyakan adalah orang miskin yang membeli senjata tsb. Jadi
>> tebak sendiri siapa yang akan menggunakannya, dan siapa yang akan
>> dibunuh.
>>
>> Berikut rencana demonstrasi yang akan dilakukan oleh kelompok anarki
>> minoritas. Kita tahu betapa hebatnya demo yang mereka gelar karena
>> melibatkan ratusan ribu massa, bukan mahasiswa murni. Selain itu mereka
>> juga terbukti belakangan ini telah menggunakan senjata seperti samurai
>> dan bambu runcing.
>>
>> Tapi itu cuma pemanasan, kata mereka. Tahun 1999, baru the real
>> thing terjadi. Pada saat itu, tentulah senjatanya bukan cuma samurai
>> dan bambu runcing lagi. Supply senjata api dari perwira2 Kristen yang
>> aktif kepada massa dan mahasiswa minoritas seperti yang dilakukan pihak
>> Kristen Serbia di Bosnia bisa terjadi di sini. Selain itu penyelundupan
>> senjata api yang terungkap baru-baru ini juga merupakan indikasi kuat
>> akan ada pengerahan massa bersenjata.
>>
>>
>> Jika itu terjadi, saya ragu apakah aparat keamanan yang jumlahnya cuma
>> sekitar 60 ribu di Jakarta bisa menghadapi hingga 500 ribu massa yang
>> dikerahkan dari Jabotabek. Apalagi karena termakan propaganda media
>> massa tertentu, ummat Islam cenderung berdiam diri, takut diadu domba,
>> sehingga pemberontakan yang akan dilakukan oleh tirani minoritas ini
>> bisa berhasil. Jika sudah seperti itu, maka bersiaplah mengalami nasib
>> seperti ummat Islam di Bosnia, Kupang, atau Timtim.
>>
>> Jika sudah berkuasa, tentulah perlakuan manis golongan minoritas untuk
>> menarik simpati mayoritas seperti tahlilan di Universitas Katolik
>> Atmajaya maupun Tarawih di Semanggi tidak akan terjadi lagi. Jilbab akan
>> kembali dilarang, pelajaran agama dikurangi, Muballigh harus mendapat
>> izin dan sensor sebelum melakukan ceramah agama, kalau ummat Islam
>> protes mendapat perlakuan tak adil, maka pemerintah fasis ini cukup
>> membantai mereka dengan peluru tajam, seperti yang dilakukan jenderal
>> Leonardus Benny Murdani ketika membantai 420 ummat Islam di Tanjung
>> Priok bersama Try Sutrisno, dll.
>>
>> Hal ini persis seperti seorang playboy yang bermanis-manis mengambil
>> muka pada pacarnya, begitu si gadis telah direnggut keperawanannya
>> (maaf), maka sang playboy meninggalkannya begitu saja. Meskipun si gadis
>> yang sudah hamil ini mendesak2 untuk dikawini, namun si playboy cuek dan
>> menolaknya. Jadi ummat Islam harus waspada terhadap taktik muka manis
>> tsb. Kita dulu telah mengalami banyak penindasan, masa kita harus
>> terbentur 2 x pada batu yang sama?
>>
>> Berikut rencana pengerahan massa untuk menggulingkan pemerintah dari
>> tokoh Forbes di Detik:
>>
>> [INDONESIA-L] DETIK - Komentar Aktivis Forbes
>> [EMAIL PROTECTED]
>> Tue, 22 Dec 1998 17:03:06 -0700 (MST)
>>
>> Messages sorted by: [ date ][ thread ][ subject ][ author ]
>> Next message: [EMAIL PROTECTED]: "[INDONESIA-L]
>> Re - Indonesia Terjajah"
>> Previous message: [EMAIL PROTECTED]:
>> "[INDONESIA-L] DETIK - Prabowo Mungkin Latih Militer
>> Yordania"
>>
>> ------------------------------------------------------------
>> --------------------
>> X-URL:
>> http://www.detik.com/wawancara/199812/19981221-1758.html
>>
>> Senin, 21 Desember 1998 [Peta Situs..]
>>
>> Aktivis Forbes Taufan Hunneman:
>> Demo Besar Pasca Idul Fitri
>>
>> [INLINE] Hingga hari ini, ada belasan "organisasi" gerakan aksi
>> mahasiswa bertebaran di Jakarta. Sebut saja Forbes, Komrad, Forkot, KB
>> UI, Alarm, Gempur, FKSMJ, Front Jakarta, Famred, yang sering
>> berakoalisi menggelar aksi bareng. Di sisi lain ada Forsal, Poros
>> Jakarta, KAMMI, dan Formi yang lebih kompromis.
>>
>> Bagaimana hubungan antar "organisasi" itu? Bagaimana pula aksi
>> mahasiswa selama bulan Ramadhan? Mengapa mereka tetap ngotot tidak
>> menghentikan aksi mereka? Juga, apa menariknya turun ke jalan?
>>
>> Berikut wawancara Nurul Hidayati dari detikcom dengan Taufan Hunneman,
>> mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jaya Baya Jakarta angkatan '96
>> yang juga "Jendral" Forbes (Forum Bersama), Senin (21/12):
>>
>> Banyak organisasi gerakan mahasiswa muncul, pertanda apa?
>>
>> Memang saat ini banyak kelompok ingin bermain. Kelompok ini menanamkan
>> kaki-kaki lewat mahasiswa. Maka terbentuklah kelompok A, B,C, dsb.
>> Tapi kita bisa melihatnya dalam tataran isu. Kalau teman-teman dari
>> Forbes, Famred, Forkot, FKSMJ, Alarm, Gempur, Front Jakarta, Komrad,
>> KB-UI, kita tetap stricht tidak mengakui kepemimpinan sekarang.
>> Artinya, kita konsisten pada jalur kita.
>>
>> Lalu muncul kelompok lainnya, misalnya Parmi (Parlemen Mahasiswa
>> Jalanan Indonesia), dan kelompok lainnya, yang saya lihat tidak pernah
>> mengeluarkan statemen politik satu pun bagaimana sikap mereka terhadap
>> pemerintahan Habibie.
>>
>> Jadi, bagi kami, garisnya ada dua, yaitu apa kawan-kawan memandang
>> Habibie adalah legitimate atau tidak. Kalau memandang Habibie
>> legitimate, berarti kawan tersebut ada di luar garis kita. Tapi kalau
>> melihat Habibir tidak legitimate baik secara de facto dan
>> konstitusional, berarti segaris dengan kita. Jadi, itulah perbedaan
>> antara aksi gerakan mahasiswa saat ini.
>>
>> Bagaimana hubungan personal antara kedua kelompok tersebut?
>>
>> Perkawanan dengan teman-teman dari garis yang berbeda, tidak menjadi
>> persoalan bagi kami. Tapi secara konsep politik, kami tetap berbeda
>> dengan mereka.
>>
>> Kita tidak ingin ada budaya politik yang turun temurun terjadi, yaitu
>> adanya ketidakakuran antara kelompok pemerintah dan anti pemerintah.
>> Kita tidak ingin mengulang bagaimana Soeharto memperlakukan Soekarno
>> dan Ali Sadikin dengan tidak wajar, padahal mereka dulu berteman. Kita
>> tidak ingin seperti itu.
>>
>> Justru yang kita inginkan adalah belajar pada perilaku Soekarno.
>> Ketika Natsir dan Syahrir ditangkap akibat tuduhan terlibat peristiwa
>> PRRI/Permesta, hubungan mereka masih tetap baik. Itu yang positif.
>>
>> Apa sih enaknya demonstrasi?
>>
>> Demo banyak seninya, di luar konteks politik, ya. Pertama, demo
>> menambah relasi, banyak teman. Kalau dulu pergaulan terbatas pada
>> lokal universitas, semisal Jaya Baya, sekarang bisa kenal dengan
>> teman-teman dari universitas yang lain. Jaket almamater hanya
>> berfungsi sebagai pengenal asal universitas, tapi kami merasa sebagai
>> sama-sama mahasiswa Indonesia.
>>
>> Kedua, di dalam aksi muncul juga cerita percintaan. Waktu Tragedi
>> Semanggi, 13 Nopember lalu, bahkan ada ungkapan CBSA, Cinta Bersemi
>> Saat Aksi. Ada beberapa teman saking bingungnya, akhirnya tertarik
>> pada seorang cewek dan berlanjut hingga kini.
>>
>> Ketiga, demo membangun kebersamaan. Kalau lapar, ya sama-sama lapar.
>> Kalau logistik datang, kita bareng-bareng makan. Kalau logistik
>> pas-pasan, kita harus cari cara gimana agar semua temen bisa makan
>> semua.
>>
>> Solidaritas akan lebih besar muncul bila ada teman-teman yang
>> ditangkap atau digebuk. Sehingga ada temen yang sampai nangis-nangis,
>> ingin balas dendam, maki-maki, dsb untuk menunjukkan solidaritas.
>>
>> Banyakkah kasus CBSA ?
>>
>> Banyak juga, termasuk saya..he...he..he..Itu terjadi karena proses
>> waktu saja. Tidak ada waktu untuk mencari pacar yang sama-sama
>> aktivis.
>>
>> Bagaimana aksi di bulan puasa?
>>
>> Kita akan terus demo, tapi tidak dengan mengerahkan massa
>> besar-besaran. Kita akan sosialisasi agenda perjuangan, kembali ke
>> kampus untuk menguatkan basis kampus, dan berjuang di basis petani dan
>> buruh.
>>
>> Jadi tidak harus turun ke jalan?
>>
>> Tidak. Sebab bulan puasa ini bagi kita adalah momentum untuk
>> intropeksi, apalagi bulan ini ada tiga nafas spiritual, yaitu
>> Ramadhan, Natal, dan Tahun Baru 1999. Kita akan mengevaluasi sampai
>> sejauh mana perjuangan kita.
>>
>> Pasca Idul Fitri, kita akan menggelar demonstrasi besar-besaran,
>> sebab ini perjuangan yang sesungguhnya. Yang kemarin-kemarin adalah
>> pemanasan karena ada agenda politik pemilu yang dipaksakan dan banyak
>> elit politik yang ingin bermain. Di sinilah posisi mahasiswa untuk
>> tetap pada konsistensinya.
>>
>> Menurut mahasiswa, seberapa besar tuntutan yang direspon pemerintah
>> selama ini?
>>
>> Tidak ada target politik kami yang dikabulkan pemerintah. Ini yang
>> membuat teman-teman tetap berjuang untuk terus menekan pemerintah.
>> Pemerintah sekarang ini terlalu bodoh untuk menyelesaikan kasus
>> per-kasus.
>>
>> Misalnya kasus penembakan Trisakti, Mei lalu. Pemerintah cuma
>> setengah hati menyelesaikan kasus itu. Apalagi kasus Semanggi, 13
>> Nopember. Kasus Banyuwangi, dsb. Setiap minggu atau setiap bulan
>> selalu muncul peristiwa-peristiwa yang dibuat dari atas akibat
>> keblunderan sistem politik kita sendiri.
>>
>> Kenapa mahasiswa masih terus turun ke jalan?
>>
>>
>> Mahasiswa yang turut beraksi mesti sudah tahu konsekuensinya. Ia akan
>> kepanasan, keluar duit untuk patungan sewa mobil, kena tembak, atau
>> mati. Jadi, teman-teman yang turun ke jalan adalah teman-teman yang
>> sadar pada resiko demo. Mereka terpanggil demo karena kesadaran pribadi
>> akibat melihat kondisi obyektif di masyarakat.
>>
>> Jadi mahasiswa banyak yang sadar politik sekarang?
>>
>> Mahasiswa demo yang ikut-ikutan ada juga sih. Justru kalau mereka
>> dibiarkan, tidak diikutkan aksi, akan berbahaya karena akan menimbulkan
>> kesadaran palsu. Makanya, kami terus berusaha memberi "penerangan"
>> sebelum aksi sehingga semua teman tahu apa yang kita perjuangkan.
>>
>> Ortu tidak keberatan?
>>
>> Tergantung karakteristik orang tua. Saya sendiri turun aksi sejak
>> tahun 1994. Awalnya, ortu keberatan. Apalagi waktu itu demonstrasi
>> masih barang langka. Paling-paling peserta demo cuma 30 orang. Tapi
>> sekarang ortu saya sudah bisa menerima karena kebenaran dan kemenangan
>> ada di tangan mahasiswa.
>>
>> Bahkan ada ortu seorang mahasiswi yang tidak memberi uang kuliah
>> supaya anaknya tidak ikut-ikutan demo. Tapi lama-lama ortu mahasiswa
>> itu sadar bahkan anaknya mati pun dia rela. Proses waktu saja yang
>> membuat ortu tidak keberatan pada aksi anak-anaknya.
>>
>>
>>
>> ADI SASONO: EKONOMI RAKYAT atau ANTI CINA?
>>
>> Nampaknya golongan Cina yang menguasai 80% dari perekonomian negara
>> benar-benar membenci Adi Sasono yang berusaha memberdayakan rakyat lewat
>> ribuan koperasi.
>>
>> Dengan solidaritas sesama Cina, Majalah Far Eastern Economic Review
>> menggelari Adi Sasono sebagai The Indonesia's Most Dengerous Man,
>> sementara AsiaWeek di covernya memperingatkan, Watch This Man! dengan
>> foto Adi Sasono yang diclose-up dengan kesan angker, persis seperti
>> buaya yang ingin menunggu mangsanya sementara di bagian dalam Adi difoto
>> dari bawah tempat duduknya (persis singgasana). Pemberitaannya begitu
>> tendensius, apalagi FEER, beritanya lebih tepat disebut sebagai
>> character assassination.
>>
>> Kenapa minoritas Cina yang menurut Aburizal Bakrie menguasai 90% bidang
>> usaha yang tak dipegang BUMN ini tidak puas dengan dominasi mereka yang
>> berlebihan? Padahal pemerintah sebelumnya telah memberi mereka berbagai
>> fasilitas dari Prayogo yang mendapat HPH sebesar 3,5 juta hektar (seluas
>> Inggris Raya), Proyek Pulp Chandra Asri yang mendapat proteksi
>> pemerintah di mana rakyat harus membayar lebih mahal untuk produk
>> plastik sehingga pertahunnya rakyat dirugikan trilyunan rupiah, kredit
>> berlimpah tanpa agunan yang melewati legal lending limit kepada
>> berbagai pengusaha seperti kredit 1,3 trilyun kepada Eddy Tansil, kredit
>> BLBI sebesar 140 trilyun lebih kepada Bank2 bermasalah yang sebagian
>> besar dimiliki pengusaha Cina (BCA saja dapat 38 trilyun), dll.
>>
>> Ternyata golongan Cina ini tidak puas dengan berbagai fasilitas yang
>> mereka dapat dari pemerintah. Mereka cemburu ketika Adi Sasono berusaha
>> membantu pengusaha kecil dan koperasi, padahal Adi Sasono sendiri
>> mengatakan bahwa niatnya adalah membantu pengusaha kecil dan koperasi,
>> tidak peduli apakah pengusaha kecil dan koperasi itu adalah Cina atau
>> Pribumi. Bantuan kredit yang cuma sekitar 28 trilyun untuk pengusaha
>> kecil, koperasi, petani, dll, pun mereka ributkan, walaupun mereka
>> mendapat bantuan lebih dari itu.
>>
>> Hingga saat ini, tidak ada toko Cina ataupun Konglomerat Cina yang
>> ditutup atau dilarang berusaha oleh Adi Sasono. Adi Sasono sendiri cuma
>> berusaha mendistribusikan kebutuhan rakyat lewat ribuan koperasi dan
>> ratusan ribu pengusaha kecil.
>>
>> Sebagai contoh, ketika minyak goreng dipegang oleh 2 pemain monopoli,
>> yaitu Liem Sioe Lioang dan Eka Cipta Wijaya (?), harga minyak goreng
>> melonjak tak terkendali hingga 8 ribu rupiah oleh 2 pemain monopoli tsb.
>> Terkadang mereka seenaknya mengekspor hampir seluruh minyak gorengnya ke
>> luar negeri, sehingga rakyat sampai menjerit2 karena minyak goreng tak
>> ada di pasaran.
>>
>> Tapi begitu Adi Sasono memberdayakan 7.800 koperasi (tak peduli Cina
>> atau Pribumi) dengan sekitar 150 ribu outlet penjualan, maka harga
>> minyak goreng turun hingga 3 ribu rupiah. Jadi yang dilakukan Adi Sasono
>> cuma memberikan kesempatan bagi 7.800 koperasi tersebut untuk turut
>> mendistribusikan minyak goreng, sedang pemain monopoli yang lama (yang
>> merupakan kroni Soeharto) tetap dibolehkan bermain hingga sekarang,
>> tentu dengan kehilangan hak monopoli yang membuat mereka bisa bersikap
>> sewenang-wenang.
>>
>> Jadi jelas ketakutan golongan Cina ini sama sekali tak beralasan dan
>> aneh. Apa mereka ingin semua pengusaha kecil dan koperasi itu menderita
>> dan miskin seumur hidup, sementara mereka sendiri kaya raya?
>> Sesungguhnya pemberdayaan pengusaha kecil dan koperasi bukan berarti
>> pemiskinan mereka. Sebagai contoh jika golongan Cina ini menguasai 900
>> trilyun rupiah, sementara pribumi cuma punya 180 trilyun rupiah, maka
>> pemberdayaan pribumi hingga memiliki 700 trilyun rupiah misalnya,
>> bukan berarti uang milik golongan Cina tsb akan berkurang.
>>
>> Jika Indonesia Inc. berjalan secara benar, dan industri di Indonesia
>> baik agrobisnis maupun manufaktur berkembang kuat sehingga bisa
>> mengekspor dan surplus ratusan hingga ribuan trilyun rupiah, kan
>> masing-masing pihak bisa memperkaya kelompoknya tanpa memiskinkan yang
>> lain.
>>
>> Jadi segala macam ketakutan, maupun character assassination yang mereka
>> lakukan terhadap Adi Sasono sebenarnya sama sekali tak beralasan. Sebab
>> yang ditentang Adi Sasono bukan Cina, tapi Monopoli yang dilakukan oleh
>> konglomerat tertentu yang merupakan kroni Soeharto selama ini.
>>
>> Berikut berita tentang Adi Sasono di Bisnis Indonesia:
>>
>> Bisnis Indonesia Halaman Depan Edisi : 16-DEC-1998
>> Bank Dunia curigai redistribusi aset
>> JAKARTA (Bisnis): Bank Dunia mempertanyakan program
>> redistribusi aset produktif-yang merupakan bagian dari
>> pengembangkan ekonomi rakyat pemerintah Habibie-karena
>> dinilai antipasar dan lebih bersifat politis, ujar satu
>> pejabat Depkop.
>> Dirjen Fasilitasi Pembiayaan dan Simpan Pinjam Depkop dan
>> PKM Deswandi Agusman mengatakan Bank Dunia mengirim utusan
>> dari Washington ke Jakarta, khusus mempertanyakan program
>> redistribusi aset dan pengembangan ekonomi rakyat.
>> "Ada mispersepsi tentang redistribusi aset. Ada persepsi
>>
>> ahwa ekonomi rakyat itu bertentangan dengan pasar. Selain
>> itu, aplikasi ekonomi rakyat bak teater politik," ujar
>> Deswandi dalam debat publik Redistribusi aset produktif:
>> Dari ekonomi monopolistik menuju ekonomi rakyat di sini
>> kemarin.
>> Panelis pada acara yang dibuka Menkop PKM Adi Sasono itu
>> adalah Gunawan Sumodiningrat (Bappenas), Irman Gusman
>> (Hipmi), Hendra Halwani (Cides), Didik J. Rachbini
>> (Indef), Hartojo Wignjowijoto (Aspecindo), Pande Radja
>> Silalahi (CSIS), Umar Juoro (Cides), Suryo B. Sulisto
>> (Hippi), dan moderator M. Dawam Rahardjo (Cides).
>> Menanggapi sikap Bank Dunia itu, Deswandi berpendapat
>> sebaiknya kebijakan itu tetap berlandaskan pada mekanisme
>> pasar.
>> Dia mencontohkan aplikasi redistribusi aset dalam
>> distribusi minyak goreng yang melibatkan 7.800 koperasi,
>> dengan masing-masing koperasi mempunyai 20 outlet.
>> "Tujuannya adalah, semakin banyak pemain akan semakin
>> efisien dan untuk mematahkan adanya pembatasan akses
>> pasar," ujarnya.
>> Hasilnya, harga komoditas itu turun dari Rp 8.000/kg
>> menjadi sekitar Rp 3.000/kg karena muncul kekuatan
>> penyeimbang, namun tanpa mematikan perusahaan besar.
>> Menkop/PKM Adi Sasono menekankan, redistribusi aset jangan
>> diterjemahkan sebagai tindakan hantam kromo, anti
>> konglomerat, anti-Cina. "Ini tidak ada kaitan dengan
>> agama, ras, etnis dan sebagainya."
>> Redistribusi aset merupakan salah satu cara mengubah
>> ekonomi kapitalis primitif yang selama ini diterapkan
>> Indonesia menjadi ekonomi yang beradab, modern, dan
>> kompetisi yang sehat dengan menciptakan kekuatan
>> penyeimbang.
>> Pelaksanaan redistribusi aset, menurut Adi, hal mendesak
>> karena adanya ketimpangan kepemilikan aset produktif yang
>> begitu besar. "Tapi pelaksanaan redistribusi aset sebagai
>> langkah koreksi harus tetap berlandaskan pada ketentuan
>> dan Undang-undang yang berlaku."
>> Namun Hendra Halwani mengingatkan agar program
>> redistribusi aset tak dilakukan terburu-buru, artinya
>> paling tidak dalam dua Repelita atau satu pembangunan
>> jangka panjang (PJP). Soalnya, masyarakat Indonesia belum
>> memiliki prakondisi yang sama dengan negara lain.
>> (ens/msw)
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> ______________________________________________________
>>
>> ------------------------------------------------------------------------
>> The Bowl Championship Series on ESPN.com.
>> We are there. Join us...
>> http://offers.egroups.com/click/183/0
>>
>> eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas
>> Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
>>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
>
>Indonesia without violence!
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html **
Indonesia without violence!