Ah, ini satu lagi oknum yang tulisannya sama sekali nggak connect sama substansi yang dibicarakan, sangat tendensius. Saya melihat koq nggak ada masalah yang berkaitan dengan anarki mahasiswa dengan tulisan yang berjudul "TVRI Belum Tersentuh Reformasi Mahasiswa Memasukkan TVRI Dalam Agenda Demo". Justru saya dapat melihat dengan jelas kebusukan Anda dengan menyelipkan tulisan yang kental bertendensi SARA yang Anda sengaja selipkan setelah tulisan tentang mahasiswa itu ya. Rupanya Anda ini juga sama saja dengan ZULFAN ([EMAIL PROTECTED]) dan WISEMAN di dunia CYBER ini ya. Ya, ya, ya, siapa lagi ya agitator setelah WISEMAN, ZULFAN, dan AHMAD AHMAD ini? salam, TEDY THE KION > -----Original Message----- > From: Ahmad Ahmad [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: 01 Januari 1999 21:57 > To: > [EMAIL PROTECTED] > mit.edu > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED] > Subject: [mimbarbebas] Mahasiswa Anarkis Bungkam Kebebasan Pers > > > Mahasiswa Anarkis Bungkam Kebebasan Pers > > Nampaknya kelompok mahasiswa anarkis yang ingin membentuk pemerintahan > baru tanpa Pemilu yang dimotori oleh aktivis mahasiswa Universitas > Katolik Atmajaya dan Universitas Kristen Indonesia ini sama represifnya > dengan pemerintah Soeharto. > > Buktinya mereka berusaha membungkam dan membersihkan TVRI, agar TVRI > cuma memberitakan berita sesuai dengan selera mereka. Hal ini jelas > menunjukkan bahwa kelompok mahasiswa anarkis minoritas ini perilakunya > tidak berbeda dengan Soeharto. > > Mengapa mereka tidak bisa bersikap sebagai demokrat seperti Menpen Yunus > Yosfiah, yang mentolerir perbedaan pendapat di media massa? Bukannya > memuji, tapi bukankah Yunus ini tak pernah berusaha membungkan Kompas, > Indosiar, SCTV, RCTI, dll, yang pemberitaannya SERING memojokkan > pemerintah dan selalu membela kelompok mahasiswa anarkis tsb? Kenapa > kelompok mahasiswa ini berusaha menteror dan menyeragamkan pemberitaan? > Benar2 Demokrat gadungan! > > Berikut berita rencana pembungkaman dan pembersihan dari oknum mahasiswa > anarkis tsb: > > [INDONESIA-L] TVRI Masuk Agenda Perjuangan Mahasiswa > [EMAIL PROTECTED] > Sun, 27 Dec 1998 11:39:11 -0700 (MST) > > Messages sorted by: [ date ][ thread ][ subject ][ author ] > Next message: [EMAIL PROTECTED]: "[INDONESIA-L] > Skandal di Pengadilan Tinggi Jakarta" > Previous message: [EMAIL PROTECTED]: > "[INDONESIA-L] Nasin Seorang Tentara" > > ------------------------------------------------------------ > -------------------- > From: "gempur ordebaru" <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: TVRI Masuk Agenda Perjuangan Mahasiswa > Date: Sun, 27 Dec 1998 06:28:50 PST > > TVRI Belum Tersentuh Reformasi Mahasiswa Memasukkan TVRI Dalam Agenda > Demo > > TVRI selaam era Suharto memang tak lebih hanyalah alat propaganda, yang > tak memiliki kredibilitas sama sekali. Setelah Suharto lengser, dan > Yunus Yosfiah menjadi Menteri Penerangan, memang TVRI mulai sedikit > berobah; sebagai contoh, mulai berani memberitakan aksi demo > mahasiswa, atau menampilkan tokoh-tokoh kritis. > > Namun itu tak lama. Kini, semakin hari TVRI semakin jelas menempatkan > diri pada ujud aslinya: alat propaganda serta sumber disinformasi yang > tendensius. Contohnya, sewaktu KBUI bermaksud mendakan sholat tarawih > serta tahlilan memperingati 40 hari Persitiwa Semanggi, TVRI nampak > sekali berusaha membuat rekayasa pemberitaan yang mendiskreditkan para > mahasiswa. > > Tadi malam, dalam selingan Persepsi, TVRI berusaha menempatkan acar > mahasiswa tersebut dalam kerangka "Penyalahgunaan agama untuk > kepentingan politik". Konyol sekali. Di lain pihak, praktek-praktek > penyalahgunaan agama oleh kelompok-kelompok semacam KISDI, ataupun > Forqon, dan Pam Swakarsa, yang jelas- jelas mencemarkan citra Islam > melalui ulah politik picisan yang membawa-bawa simbol agama, sama > sekali tidak disinggung TVRI. > > Mengherankan, TVRI dalam era Reformasi masih berani melakukan rekayasa > dan disinformasi semacam itu. Ingatlah, setelah Pemilu 1999, amat > mungkin TVRI tidak lagi berada dibawah penguasa sisa-sisa Orde Baru > yang masih berkuasa saat ini. Itulah barangkali saatnya oknum-oknum > serta mentalitas jurnalisme budak harus segera dibersihkan. Saat ini > sejumlah kelompok mahasiswa telah memasukkan reformasi TVRI dalam > agenda perjuangan mereka. Seusai masa puasa dan Lebaran, menurut > mereka, aksi-aksi untuk "membungkam" dan "membersihkan" TVRI dari > sisa-sisa Orde Baru dan dari para Soehartois akan segera dilakukan. > ------------------ > REVOLUSI MINORITAS DI TAHUN 1999 > > Nampaknya seperti diramalkan banyak orang seperti Gus Dur, Permadi, dll, > akan terjadi huru-hara besar, bahkan perang saudara di Indonesia. > > Skenarionya sederhana saja. Habibie, setelah mendapat perintah lewat tap > MPR, telah menginstruksikan Jagung Andi Ghalib untuk serius memeriksa > Soeharto. Habibie bahkan menegaskan bahwa proses pemeriksaan ini hingga > keputusan pengadilan terhadap Soeharto harus selesai sebelum Pemilu > tanggal 7 Juni 1999. Jadi Soeharto berhadapan dengan Habibie, sementara > kelompok minoritas seperti mahasiswa Universitas Katolik Atmajaya, > Universitas Kristen Indonesia, ISKA (Ikatan Sarjana Katolik), PIKI > (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia), maupun CSIS dengan jenderal > Leonardus Benny Murdani sedari awal sudah menganggap pemerintah Habibie > tidak mempunyai legitimasi, karena itu mereka ingin menggulingkannya dan > membentuk pemerintah sendiri, sementara KWI (Konferensi Waligereja > Indonesia) sendiri juga menolak Habibie dengan keluar dari DKPSH. > > Soeharto yang sekarang masih diperiksa sebagai saksi, tentulah akan > berontak jika statusnya dirubah sebagai tersangka. Setelah bercokol > selama 32 tahun lebih, Soeharto sebagaimana ditulis di suplemen > Republika Bidik telah menanamkan banyak pengikut dan kekayaan. > > Ketika berkuasa, Soeharto cukup cerdas untuk berusaha tidak korup > sendiri. Dia berusaha mengikutkan bawahannya untuk melakukan hal serupa, > meskipun tak semua bawahannya ikut korup seperti Marie Muhammad. Kita > merasakan sendiri bagaimana kita harus membayar lebih untuk para petugas > korup ketika membuat KTP, SIM, Paspor, dll. Korupnya para Gubernur, > Bupati, Camat, Lurah, dll, membangkitkan solidaritas sesama koruptor di > antara mereka. Jika Habibie berusaha mengganyang Soeharto, maka Habibie > akan berhadapan dengan para pengikut Soeharto yang masih tertinggal. > > Berapa banyak Gubernur, Bupati (yang berjumlah ratusan), Camat > (jumlahnya ribuan), dan Lurah (jumlahnya puluhan ribu) yang diangkat > ketika Soeharto berkuasa? Berapa banyak komandan2 tempur atau kepolisian > yang diangkat pada era Soeharto. Paling tidak, 30% dari ABRI aktif masih > berada di bawah pengaruh Soeharto. Apakah pejabat yang pro Habibie yang > baru berkuasa selama 7 bulan lebih banyak dari yang pro Soeharto yang > telah berkuasa selama 32 tahun? Ini persis seperti pertarungan antara > David dan Goliath. Pemerintah Habibie yang baru berumur 7 bulan dipaksa > bertarung dengan Soeharto yang telah lebih dari 32 tahun memerintah. > > Dengan para kroni-nya seperti Liem Sioe Liong, Prajogo Pangestu, Bob > Hasan, Eka Cipta Wijaya, dll, berapa ratus trilyun yang mereka miliki? > Hal ini memberikan mereka kemampuan yang sangat besar untuk melakukan > money politics. Jika satu demonstran / penjarah bayarannya 10 ribu per > orang, maka mereka bisa menggerakan puluhan milyar (jika rakyat > Indonesia sampai segitu:) orang untuk melakukan pengrusakan, dan > penggulingan pemerintah Habibie sekaligus. > > Mengingat lebih dari 100 juta penduduk Indonesia berada di dalam > kemiskinan absolut, maka mereka dapat diperalat dengan mudah untuk > berbuat apa saja. Maraknya kerusuhan, tawuran antar warga / SMA, > penjarahan, dll, merupakan indikasi bahwa moralitas sebagian rakyat yang > memang miskin itu sudah rendah. Mereka rela melakukan apa saja asal > perutnya dan keluarganya kenyang, Kefakiran membawa kekufuran! > > Selain itu, Soeharto punya jutaan preman (Government thugs) yang setia > padanya. Pemuda Pancasila yang mengaku memiliki 6 juta anggota dan FKPPI > yang beranggotakan sekitar 1 juta orang sudah mampu mengalahkan personel > ABRI yang cuma beranggotakan 400 ribu orang. Terlihatnya tokoh Pemuda > Pancasila (PP), Yorrys Raweyai, dan Bambang Soeharto (yang berpengaruh > di FKPPI), bersama Soeharto ketika Gus Dur mengunjunginya untuk Dialog > Nasional membuktikan bahwa kedua organisasi tsb masih setia pada > Soeharto. > > > Ketika terjadi kerusuhan di Ketapang, Kupang, Pinrang, Banyuwangi, dll, > sebagian orang menuding Soeharto sebagai biangnya. Ini jelas membuktikan > bahwa kekuasaan Soeharto masih ada. > > Pada tahun 1999 inilah akan terjadi benturan hebat antara Soeharto > dengan Habibie yang menolak dialog nasional dengan Soeharto, maupun > Habibie dengan kelompok mahasiswa anarkis yang diperkuat massa PDI > perjuangan yang didukung oleh jenderal Theo Syafei serta Leonardus Benny > Murdani dengan CSIS yang ingin menggulingkan Habibie, karena Habibie > dianggap tidak mempunyai legitimasi oleh mereka. > > Pada saat inilah perang saudara bisa terjadi. Jika pada masa sekarang > saja polisi yang harus mengawasi 1000 penduduk (di negara maju rasionya > cuma 1:300 dan penduduknya punya kesadaran hukum yang tinggi) sudah > tidak berdaya menghadapi kerusuhan, tawuran, dan penjarahan, apalagi > nanti jika para aktor2 politik beserta pengikutnya saling adu otot. > Bukan tak mungkin akan terjadi perang saudara seperti di Afghanistan > yang akan berlangsung bertahun-tahun dan tidak selesai hingga kini. > > Jika ini terjadi, maka ummat Islam harus bersatu dan menyiapkan diri > agar mereka tidak menjadi korban. Ummat Islam telah kehilangan sekitar > 100 ulama yang dibantai pada kasus Banyuwangi, dan akan lebih banyak > lagi korban yang jatuh di tahun 1999. > > Sekarang sekitar 2000 anggota Forkot telah mendapat latihan militer > dengan senjata api di Gunung Salak oleh jenderal Leonardus Benny Murdani > (Tekad). Sementara penyelundupan senjata api dari pistol hingga senapan > serbu otomatis yang terbongkar baru-baru ini (berita SCTV dan Republika) > menunjukkan bahwa ada kelompok tertentu yang ingin menggunakan senjata. > Harap diingat, biasanya untuk satu kasus yang terbongkar, ada ratusan > kasus yang tidak terungkap (fenomena Gunung Es). Selain bisa digunakan > untuk membela diri, senjata tsb juga bisa digunakan untuk maksud lain. > Mengingat harga senjata api mahal, kita tentu tahu tidak mungkin orang > Islam yang kebanyakan adalah orang miskin yang membeli senjata tsb. Jadi > tebak sendiri siapa yang akan menggunakannya, dan siapa yang akan > dibunuh. > > Berikut rencana demonstrasi yang akan dilakukan oleh kelompok anarki > minoritas. Kita tahu betapa hebatnya demo yang mereka gelar karena > melibatkan ratusan ribu massa, bukan mahasiswa murni. Selain itu mereka > juga terbukti belakangan ini telah menggunakan senjata seperti samurai > dan bambu runcing. > > Tapi itu cuma pemanasan, kata mereka. Tahun 1999, baru the real > thing terjadi. Pada saat itu, tentulah senjatanya bukan cuma samurai > dan bambu runcing lagi. Supply senjata api dari perwira2 Kristen yang > aktif kepada massa dan mahasiswa minoritas seperti yang dilakukan pihak > Kristen Serbia di Bosnia bisa terjadi di sini. Selain itu penyelundupan > senjata api yang terungkap baru-baru ini juga merupakan indikasi kuat > akan ada pengerahan massa bersenjata. > > > Jika itu terjadi, saya ragu apakah aparat keamanan yang jumlahnya cuma > sekitar 60 ribu di Jakarta bisa menghadapi hingga 500 ribu massa yang > dikerahkan dari Jabotabek. Apalagi karena termakan propaganda media > massa tertentu, ummat Islam cenderung berdiam diri, takut diadu domba, > sehingga pemberontakan yang akan dilakukan oleh tirani minoritas ini > bisa berhasil. Jika sudah seperti itu, maka bersiaplah mengalami nasib > seperti ummat Islam di Bosnia, Kupang, atau Timtim. > > Jika sudah berkuasa, tentulah perlakuan manis golongan minoritas untuk > menarik simpati mayoritas seperti tahlilan di Universitas Katolik > Atmajaya maupun Tarawih di Semanggi tidak akan terjadi lagi. Jilbab akan > kembali dilarang, pelajaran agama dikurangi, Muballigh harus mendapat > izin dan sensor sebelum melakukan ceramah agama, kalau ummat Islam > protes mendapat perlakuan tak adil, maka pemerintah fasis ini cukup > membantai mereka dengan peluru tajam, seperti yang dilakukan jenderal > Leonardus Benny Murdani ketika membantai 420 ummat Islam di Tanjung > Priok bersama Try Sutrisno, dll. > > Hal ini persis seperti seorang playboy yang bermanis-manis mengambil > muka pada pacarnya, begitu si gadis telah direnggut keperawanannya > (maaf), maka sang playboy meninggalkannya begitu saja. Meskipun si gadis > yang sudah hamil ini mendesak2 untuk dikawini, namun si playboy cuek dan > menolaknya. Jadi ummat Islam harus waspada terhadap taktik muka manis > tsb. Kita dulu telah mengalami banyak penindasan, masa kita harus > terbentur 2 x pada batu yang sama? > > Berikut rencana pengerahan massa untuk menggulingkan pemerintah dari > tokoh Forbes di Detik: > > [INDONESIA-L] DETIK - Komentar Aktivis Forbes > [EMAIL PROTECTED] > Tue, 22 Dec 1998 17:03:06 -0700 (MST) > > Messages sorted by: [ date ][ thread ][ subject ][ author ] > Next message: [EMAIL PROTECTED]: "[INDONESIA-L] > Re - Indonesia Terjajah" > Previous message: [EMAIL PROTECTED]: > "[INDONESIA-L] DETIK - Prabowo Mungkin Latih Militer > Yordania" > > ------------------------------------------------------------ > -------------------- > X-URL: > http://www.detik.com/wawancara/199812/19981221-1758.html > > Senin, 21 Desember 1998 [Peta Situs..] > > Aktivis Forbes Taufan Hunneman: > Demo Besar Pasca Idul Fitri > > [INLINE] Hingga hari ini, ada belasan "organisasi" gerakan aksi > mahasiswa bertebaran di Jakarta. Sebut saja Forbes, Komrad, Forkot, KB > UI, Alarm, Gempur, FKSMJ, Front Jakarta, Famred, yang sering > berakoalisi menggelar aksi bareng. Di sisi lain ada Forsal, Poros > Jakarta, KAMMI, dan Formi yang lebih kompromis. > > Bagaimana hubungan antar "organisasi" itu? Bagaimana pula aksi > mahasiswa selama bulan Ramadhan? Mengapa mereka tetap ngotot tidak > menghentikan aksi mereka? Juga, apa menariknya turun ke jalan? > > Berikut wawancara Nurul Hidayati dari detikcom dengan Taufan Hunneman, > mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jaya Baya Jakarta angkatan '96 > yang juga "Jendral" Forbes (Forum Bersama), Senin (21/12): > > Banyak organisasi gerakan mahasiswa muncul, pertanda apa? > > Memang saat ini banyak kelompok ingin bermain. Kelompok ini menanamkan > kaki-kaki lewat mahasiswa. Maka terbentuklah kelompok A, B,C, dsb. > Tapi kita bisa melihatnya dalam tataran isu. Kalau teman-teman dari > Forbes, Famred, Forkot, FKSMJ, Alarm, Gempur, Front Jakarta, Komrad, > KB-UI, kita tetap stricht tidak mengakui kepemimpinan sekarang. > Artinya, kita konsisten pada jalur kita. > > Lalu muncul kelompok lainnya, misalnya Parmi (Parlemen Mahasiswa > Jalanan Indonesia), dan kelompok lainnya, yang saya lihat tidak pernah > mengeluarkan statemen politik satu pun bagaimana sikap mereka terhadap > pemerintahan Habibie. > > Jadi, bagi kami, garisnya ada dua, yaitu apa kawan-kawan memandang > Habibie adalah legitimate atau tidak. Kalau memandang Habibie > legitimate, berarti kawan tersebut ada di luar garis kita. Tapi kalau > melihat Habibir tidak legitimate baik secara de facto dan > konstitusional, berarti segaris dengan kita. Jadi, itulah perbedaan > antara aksi gerakan mahasiswa saat ini. > > Bagaimana hubungan personal antara kedua kelompok tersebut? > > Perkawanan dengan teman-teman dari garis yang berbeda, tidak menjadi > persoalan bagi kami. Tapi secara konsep politik, kami tetap berbeda > dengan mereka. > > Kita tidak ingin ada budaya politik yang turun temurun terjadi, yaitu > adanya ketidakakuran antara kelompok pemerintah dan anti pemerintah. > Kita tidak ingin mengulang bagaimana Soeharto memperlakukan Soekarno > dan Ali Sadikin dengan tidak wajar, padahal mereka dulu berteman. Kita > tidak ingin seperti itu. > > Justru yang kita inginkan adalah belajar pada perilaku Soekarno. > Ketika Natsir dan Syahrir ditangkap akibat tuduhan terlibat peristiwa > PRRI/Permesta, hubungan mereka masih tetap baik. Itu yang positif. > > Apa sih enaknya demonstrasi? > > Demo banyak seninya, di luar konteks politik, ya. Pertama, demo > menambah relasi, banyak teman. Kalau dulu pergaulan terbatas pada > lokal universitas, semisal Jaya Baya, sekarang bisa kenal dengan > teman-teman dari universitas yang lain. Jaket almamater hanya > berfungsi sebagai pengenal asal universitas, tapi kami merasa sebagai > sama-sama mahasiswa Indonesia. > > Kedua, di dalam aksi muncul juga cerita percintaan. Waktu Tragedi > Semanggi, 13 Nopember lalu, bahkan ada ungkapan CBSA, Cinta Bersemi > Saat Aksi. Ada beberapa teman saking bingungnya, akhirnya tertarik > pada seorang cewek dan berlanjut hingga kini. > > Ketiga, demo membangun kebersamaan. Kalau lapar, ya sama-sama lapar. > Kalau logistik datang, kita bareng-bareng makan. Kalau logistik > pas-pasan, kita harus cari cara gimana agar semua temen bisa makan > semua. > > Solidaritas akan lebih besar muncul bila ada teman-teman yang > ditangkap atau digebuk. Sehingga ada temen yang sampai nangis-nangis, > ingin balas dendam, maki-maki, dsb untuk menunjukkan solidaritas. > > Banyakkah kasus CBSA ? > > Banyak juga, termasuk saya..he...he..he..Itu terjadi karena proses > waktu saja. Tidak ada waktu untuk mencari pacar yang sama-sama > aktivis. > > Bagaimana aksi di bulan puasa? > > Kita akan terus demo, tapi tidak dengan mengerahkan massa > besar-besaran. Kita akan sosialisasi agenda perjuangan, kembali ke > kampus untuk menguatkan basis kampus, dan berjuang di basis petani dan > buruh. > > Jadi tidak harus turun ke jalan? > > Tidak. Sebab bulan puasa ini bagi kita adalah momentum untuk > intropeksi, apalagi bulan ini ada tiga nafas spiritual, yaitu > Ramadhan, Natal, dan Tahun Baru 1999. Kita akan mengevaluasi sampai > sejauh mana perjuangan kita. > > Pasca Idul Fitri, kita akan menggelar demonstrasi besar-besaran, > sebab ini perjuangan yang sesungguhnya. Yang kemarin-kemarin adalah > pemanasan karena ada agenda politik pemilu yang dipaksakan dan banyak > elit politik yang ingin bermain. Di sinilah posisi mahasiswa untuk > tetap pada konsistensinya. > > Menurut mahasiswa, seberapa besar tuntutan yang direspon pemerintah > selama ini? > > Tidak ada target politik kami yang dikabulkan pemerintah. Ini yang > membuat teman-teman tetap berjuang untuk terus menekan pemerintah. > Pemerintah sekarang ini terlalu bodoh untuk menyelesaikan kasus > per-kasus. > > Misalnya kasus penembakan Trisakti, Mei lalu. Pemerintah cuma > setengah hati menyelesaikan kasus itu. Apalagi kasus Semanggi, 13 > Nopember. Kasus Banyuwangi, dsb. Setiap minggu atau setiap bulan > selalu muncul peristiwa-peristiwa yang dibuat dari atas akibat > keblunderan sistem politik kita sendiri. > > Kenapa mahasiswa masih terus turun ke jalan? > > > Mahasiswa yang turut beraksi mesti sudah tahu konsekuensinya. Ia akan > kepanasan, keluar duit untuk patungan sewa mobil, kena tembak, atau > mati. Jadi, teman-teman yang turun ke jalan adalah teman-teman yang > sadar pada resiko demo. Mereka terpanggil demo karena kesadaran pribadi > akibat melihat kondisi obyektif di masyarakat. > > Jadi mahasiswa banyak yang sadar politik sekarang? > > Mahasiswa demo yang ikut-ikutan ada juga sih. Justru kalau mereka > dibiarkan, tidak diikutkan aksi, akan berbahaya karena akan menimbulkan > kesadaran palsu. Makanya, kami terus berusaha memberi "penerangan" > sebelum aksi sehingga semua teman tahu apa yang kita perjuangkan. > > Ortu tidak keberatan? > > Tergantung karakteristik orang tua. Saya sendiri turun aksi sejak > tahun 1994. Awalnya, ortu keberatan. Apalagi waktu itu demonstrasi > masih barang langka. Paling-paling peserta demo cuma 30 orang. Tapi > sekarang ortu saya sudah bisa menerima karena kebenaran dan kemenangan > ada di tangan mahasiswa. > > Bahkan ada ortu seorang mahasiswi yang tidak memberi uang kuliah > supaya anaknya tidak ikut-ikutan demo. Tapi lama-lama ortu mahasiswa > itu sadar bahkan anaknya mati pun dia rela. Proses waktu saja yang > membuat ortu tidak keberatan pada aksi anak-anaknya. > > > > ADI SASONO: EKONOMI RAKYAT atau ANTI CINA? > > Nampaknya golongan Cina yang menguasai 80% dari perekonomian negara > benar-benar membenci Adi Sasono yang berusaha memberdayakan rakyat lewat > ribuan koperasi. > > Dengan solidaritas sesama Cina, Majalah Far Eastern Economic Review > menggelari Adi Sasono sebagai The Indonesia's Most Dengerous Man, > sementara AsiaWeek di covernya memperingatkan, Watch This Man! dengan > foto Adi Sasono yang diclose-up dengan kesan angker, persis seperti > buaya yang ingin menunggu mangsanya sementara di bagian dalam Adi difoto > dari bawah tempat duduknya (persis singgasana). Pemberitaannya begitu > tendensius, apalagi FEER, beritanya lebih tepat disebut sebagai > character assassination. > > Kenapa minoritas Cina yang menurut Aburizal Bakrie menguasai 90% bidang > usaha yang tak dipegang BUMN ini tidak puas dengan dominasi mereka yang > berlebihan? Padahal pemerintah sebelumnya telah memberi mereka berbagai > fasilitas dari Prayogo yang mendapat HPH sebesar 3,5 juta hektar (seluas > Inggris Raya), Proyek Pulp Chandra Asri yang mendapat proteksi > pemerintah di mana rakyat harus membayar lebih mahal untuk produk > plastik sehingga pertahunnya rakyat dirugikan trilyunan rupiah, kredit > berlimpah tanpa agunan yang melewati legal lending limit kepada > berbagai pengusaha seperti kredit 1,3 trilyun kepada Eddy Tansil, kredit > BLBI sebesar 140 trilyun lebih kepada Bank2 bermasalah yang sebagian > besar dimiliki pengusaha Cina (BCA saja dapat 38 trilyun), dll. > > Ternyata golongan Cina ini tidak puas dengan berbagai fasilitas yang > mereka dapat dari pemerintah. Mereka cemburu ketika Adi Sasono berusaha > membantu pengusaha kecil dan koperasi, padahal Adi Sasono sendiri > mengatakan bahwa niatnya adalah membantu pengusaha kecil dan koperasi, > tidak peduli apakah pengusaha kecil dan koperasi itu adalah Cina atau > Pribumi. Bantuan kredit yang cuma sekitar 28 trilyun untuk pengusaha > kecil, koperasi, petani, dll, pun mereka ributkan, walaupun mereka > mendapat bantuan lebih dari itu. > > Hingga saat ini, tidak ada toko Cina ataupun Konglomerat Cina yang > ditutup atau dilarang berusaha oleh Adi Sasono. Adi Sasono sendiri cuma > berusaha mendistribusikan kebutuhan rakyat lewat ribuan koperasi dan > ratusan ribu pengusaha kecil. > > Sebagai contoh, ketika minyak goreng dipegang oleh 2 pemain monopoli, > yaitu Liem Sioe Lioang dan Eka Cipta Wijaya (?), harga minyak goreng > melonjak tak terkendali hingga 8 ribu rupiah oleh 2 pemain monopoli tsb. > Terkadang mereka seenaknya mengekspor hampir seluruh minyak gorengnya ke > luar negeri, sehingga rakyat sampai menjerit2 karena minyak goreng tak > ada di pasaran. > > Tapi begitu Adi Sasono memberdayakan 7.800 koperasi (tak peduli Cina > atau Pribumi) dengan sekitar 150 ribu outlet penjualan, maka harga > minyak goreng turun hingga 3 ribu rupiah. Jadi yang dilakukan Adi Sasono > cuma memberikan kesempatan bagi 7.800 koperasi tersebut untuk turut > mendistribusikan minyak goreng, sedang pemain monopoli yang lama (yang > merupakan kroni Soeharto) tetap dibolehkan bermain hingga sekarang, > tentu dengan kehilangan hak monopoli yang membuat mereka bisa bersikap > sewenang-wenang. > > Jadi jelas ketakutan golongan Cina ini sama sekali tak beralasan dan > aneh. Apa mereka ingin semua pengusaha kecil dan koperasi itu menderita > dan miskin seumur hidup, sementara mereka sendiri kaya raya? > Sesungguhnya pemberdayaan pengusaha kecil dan koperasi bukan berarti > pemiskinan mereka. Sebagai contoh jika golongan Cina ini menguasai 900 > trilyun rupiah, sementara pribumi cuma punya 180 trilyun rupiah, maka > pemberdayaan pribumi hingga memiliki 700 trilyun rupiah misalnya, > bukan berarti uang milik golongan Cina tsb akan berkurang. > > Jika Indonesia Inc. berjalan secara benar, dan industri di Indonesia > baik agrobisnis maupun manufaktur berkembang kuat sehingga bisa > mengekspor dan surplus ratusan hingga ribuan trilyun rupiah, kan > masing-masing pihak bisa memperkaya kelompoknya tanpa memiskinkan yang > lain. > > Jadi segala macam ketakutan, maupun character assassination yang mereka > lakukan terhadap Adi Sasono sebenarnya sama sekali tak beralasan. Sebab > yang ditentang Adi Sasono bukan Cina, tapi Monopoli yang dilakukan oleh > konglomerat tertentu yang merupakan kroni Soeharto selama ini. > > Berikut berita tentang Adi Sasono di Bisnis Indonesia: > > Bisnis Indonesia Halaman Depan Edisi : 16-DEC-1998 > Bank Dunia curigai redistribusi aset > JAKARTA (Bisnis): Bank Dunia mempertanyakan program > redistribusi aset produktif-yang merupakan bagian dari > pengembangkan ekonomi rakyat pemerintah Habibie-karena > dinilai antipasar dan lebih bersifat politis, ujar satu > pejabat Depkop. > Dirjen Fasilitasi Pembiayaan dan Simpan Pinjam Depkop dan > PKM Deswandi Agusman mengatakan Bank Dunia mengirim utusan > dari Washington ke Jakarta, khusus mempertanyakan program > redistribusi aset dan pengembangan ekonomi rakyat. > "Ada mispersepsi tentang redistribusi aset. Ada persepsi > > ahwa ekonomi rakyat itu bertentangan dengan pasar. Selain > itu, aplikasi ekonomi rakyat bak teater politik," ujar > Deswandi dalam debat publik Redistribusi aset produktif: > Dari ekonomi monopolistik menuju ekonomi rakyat di sini > kemarin. > Panelis pada acara yang dibuka Menkop PKM Adi Sasono itu > adalah Gunawan Sumodiningrat (Bappenas), Irman Gusman > (Hipmi), Hendra Halwani (Cides), Didik J. Rachbini > (Indef), Hartojo Wignjowijoto (Aspecindo), Pande Radja > Silalahi (CSIS), Umar Juoro (Cides), Suryo B. Sulisto > (Hippi), dan moderator M. Dawam Rahardjo (Cides). > Menanggapi sikap Bank Dunia itu, Deswandi berpendapat > sebaiknya kebijakan itu tetap berlandaskan pada mekanisme > pasar. > Dia mencontohkan aplikasi redistribusi aset dalam > distribusi minyak goreng yang melibatkan 7.800 koperasi, > dengan masing-masing koperasi mempunyai 20 outlet. > "Tujuannya adalah, semakin banyak pemain akan semakin > efisien dan untuk mematahkan adanya pembatasan akses > pasar," ujarnya. > Hasilnya, harga komoditas itu turun dari Rp 8.000/kg > menjadi sekitar Rp 3.000/kg karena muncul kekuatan > penyeimbang, namun tanpa mematikan perusahaan besar. > Menkop/PKM Adi Sasono menekankan, redistribusi aset jangan > diterjemahkan sebagai tindakan hantam kromo, anti > konglomerat, anti-Cina. "Ini tidak ada kaitan dengan > agama, ras, etnis dan sebagainya." > Redistribusi aset merupakan salah satu cara mengubah > ekonomi kapitalis primitif yang selama ini diterapkan > Indonesia menjadi ekonomi yang beradab, modern, dan > kompetisi yang sehat dengan menciptakan kekuatan > penyeimbang. > Pelaksanaan redistribusi aset, menurut Adi, hal mendesak > karena adanya ketimpangan kepemilikan aset produktif yang > begitu besar. "Tapi pelaksanaan redistribusi aset sebagai > langkah koreksi harus tetap berlandaskan pada ketentuan > dan Undang-undang yang berlaku." > Namun Hendra Halwani mengingatkan agar program > redistribusi aset tak dilakukan terburu-buru, artinya > paling tidak dalam dua Repelita atau satu pembangunan > jangka panjang (PJP). Soalnya, masyarakat Indonesia belum > memiliki prakondisi yang sama dengan negara lain. > (ens/msw) > > > > > > > > > > > ______________________________________________________ > > ------------------------------------------------------------------------ > The Bowl Championship Series on ESPN.com. > We are there. Join us... > http://offers.egroups.com/click/183/0 > > eGroup home: http://www.eGroups.com/list/mimbarbebas > Free Web-based e-mail groups by eGroups.com > ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] ** Jadual puasa Ramadhan @ http://www.indoglobal.com/puasa.html ** Indonesia without violence!
