Salam,

Gelar Kambing Hitam Nomer Satu rupanya sebentar lagi akan segera dialihkan
dari "PKI dan onderbouw-nya" ke "ICMI dan golongan Islam Fundamentalis".
Sampai-sampai terobosan Pemerintahan Habibie untuk melepaskan Tim-Tim dari
Republik Indonesia juga dibaca sebagai manuver untuk memojokkan
ABRI-Wiranto, as if ABRI yang reputasinya begitu kelam masih perlu
dipojokkan.  Nanti kalau Habibie mundur dari kepresidenan karena nggak tahan
dihujat sebagai "anak kecil yang sering loncat-loncat", maka tudingan model
"tinggal glanggang colong playu" pasti juga akan muncul.

Back to the real issue, mengapa tindakan untuk melepas Timtim mesti dihadapi
dengan prasangka ?  Dari sisi ideal, jika kehadiran Indonesia di Timtim
dianggap sebagai penjajah/agresor primitif seperti NICA 50 tahun lalu,
mengapa langkah untuk mundur justru ditanggapi dengan negatif ?  Kalau mau
jujur, di Preambule UUD (yang dianggap begitu suci ama sebagian orang) tokh
sudah dinyatakan bahwa "...penjajahan diatas dunia tak dapat dibenarkan.." ?
Apa dengan dasar nasionalisme kita dibenarkan untuk menjajah negeri lain ?

Dari sisi pragmatis, sooner or later, kalau temen-temen di Timtim memang
nggak betah menjadi orang Indonesia, maka kita tetap harus keluar  dari
sana, iya kan ?  Mengapa mesti menunggu lebih jauh dan lebih banyak
pengorbanan dari kedua pihak ?  Saya pikir cara terbaik justru dengan
melaksanakan referandum dalam waktu satu dua tahun ini, sementara Pemerintah
sesegera mungkin meminta PBB untuk menjadi Wali/Trustee bagi Timtim, dan
Indonesia serta Portugal bekerjasama membantu PBB dalam tugas itu.

Dari sisi emosi, saya bisa memaklumi bahwa masalah Timtim ini menjadi duri
dihati kita semua.  Bagi mereka yang pro kemerdekaan, kemerdekaan adalah
satu-satunya alternatif yang pantas diterima, sehingga "penjajahan" model
(AB) RI memang mesti dilawan, apapun resikonya.  Buat rakyat RI lainnya,
mendapati negrinya dituding sebagai agresor primitif sekelas Serbia jelas
bukan hal yang disambut gembira.  Apalagi konon kehadiran RI di sana dulunya
dengan niat membantu rakyat di sana dari keadaan yang (bisa) menjadi lebih
parah.  Buat temen-temen RI diluar negri (ASEAN, Australia) alternatif
kemerdekaan buat Tim-tim ini jelas meringankan beban moral yang selama ini
disandang, karena mesti pejah gesang nderek RI supaya stabilitas regional
bisa sedikit rada legaan.

Soal kerugian.  Kalau mau dianggap demikian, maka cukup masuk akal kalau
satu-satunya pihak yang dirugikan dengan lepasnya Tim-tim adalah ABRI.
Lebih dari hujatan model Forkot atawa Amien Rais, lepasnya Timtim dari RI
ini adalah "the ultimate proof" bahwa ABRI memang mesti dikasih kesempatan
untuk kembali ke barak buat merenung & belajar lagi intisari TNI seperti
yang diajarkan oleh Soedirman.  Bisa dibayangkan "competency chart" buat
ABRI kalo untuk tugasnya sebagai prajurit aja (notabene berperang) tidak
bisa dilakukan dengan bener.  Kalo fungsi Hankamnya aja nggak jalan, gimana
lagi dengan fungsi Sospolnya ?  Pantes aja semua tindakannya jadi kebablasan
begitu.

Dengan lepasnya Timtim dari Indonesia, maka kita semua bisa mengalihkan
energi yang selama ini terbuang sia-sia ke arah yang lebih bermanfaat bagi
bangsa Indonesia.  Anggaran perang bisa lebih dihemat & digunakan untuk
perang kemiskinan, yang kantong-kantongnya tersebar dari Sabang sampai
Merauke.  Para politisi bisa lebih efisien memanfaatkan bualannya untuk
tema-tema yang lebih "Indonesiawi".  Teman-temen LSM bisa lebih konsentrasi
memperjuangkan nasib wong cilik Indonesia lainnya yang juga sama berhaknya
untuk dibela seperti ketika rakyat Timtim mendapat pembelaan yang sedemikian
bersemangat.  Sekedar isik-isik, masyarakat Dayak/Kubu/Irian/Melayu/Aceh dan
masih banyak lagi yang lain juga membutuhkan bantuan advokasi.

Mungkin yang butuh pemikiran ekstra ialah bagaimana kita bisa menyelesaikan
masalah kaum pro integrasi di Tim-tim.  Seperti halnya kita tidak boleh
memaksa suatu kaum untuk menjadi rakyat Indonesia, kitapun tidak boleh
meninggalkan mereka yang ingin bergabung senasib sependeritaan dengan kita.
Bagaimana caranya ?  Mungkin (hanya) ini yang perlu dicari jawabannya.


regards, 
RahmadD

> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED] [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> 
> Siapa di balik keputusan pemerintah yg kontroversial? Tersebutlah tiga
> nama, entah salah satu dari mereka atau semuanya: Adi Sasono, Feisal
> Tandjung dan ZA Maulani.
> 
> Siapa target mereka? ABRI secara institusi alias Wiranto.
> 
> Untuk apa? Mempersulit posisi Wiranto.
> 
> Mengapa Alatas tak berkutik? Tidak jelas, hanya ada rumor yg menyangkut
> SARA.
> 
> Keputusan pemerintah yg tidak menyinggung referendum hanya membuat situasi
> Timtim memanas, mirip 1975. Ini akan membuat ABRI semakin sulit. Didiamkan
> atau tidak, tetap akan terjadi pelanggaran HAM. Semakin banyak pelanggaran
> HAM ABRI, semakin buruk kredibilitas Wiranto.
> 
> Wiranto gagal dijatuhkan melalui tragedi Semanggi. Di luar dugaan mereka,
> aktivis HAM tidak menuntut Wiranto mundur, hanya minta pertanggungjawaban
> saja. Digusurnya faksi militer oknum ICMI semakin membuat faksi tsb marah.
> Ditengarai geng militer Achmad Tirtosudiro, yg disebut Suryadilaga, sekjen
> Badan Koordinasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia sbg "pangab sebenarnya"
> (DetaK no.20) ada di balik tragedi di Aceh, yg terjadi Ramadhan kemarin.
> Kabarnya Wiranto menolak menjawab telepon Feisal Tandjung perihal mutasi
> ABRI tsb.
> 
> Wiranto semakin membuat marah faksi tsb ketika mengadakan silaturahmi
> Ciganjur Plus. Apalagi ia bisa memaksa Amien Rais 
> datang. Sesungguhnya Amien nyaris tidak datang. Pasalnya, ia berkonsultasi
> dg oknum ICMI (saya sebut 'oknum' krn sesungguhnya mayoritas anggota ICMI
> baik, idealis dan berhatinurani) perihal undangan  tsb. Gelagat Amien
> sulit utk datang sudah dimaklumi Wiranto, apalagi Amien getol menyuruh
> Wiranto mundur. Konon, demi kelancaran perjalanan Amien ke tempat
> pertemuan, Wiranto telah menyiapkan helikopter khusus (Jawapos, 26 Jan 99)
> 
> Bisa dimaklumi jika trio Mega- Gus Dur - Belo, yg pernah silaturahmi di
> Ciganjur, sama berangnya thd keputusan pemerintah yg mengkondisikan rakyat
> Timtim dalam kancah perang saudara. Selalu saja rakyat awam dikorbankan
> demi manuver dan saling jegal elit politik.
> 
> Sayangnya, media cetak naga-naganya sukses disusupi Parni Hadi.  Tanpa
> sadar, sebagian media menjelma menjadi provokator.
> Misalnya, istilah ABRI hijau yg menyesatkan, seolah-olah mereka Islam
> sejati sementara ABRI merah-putih Islam abangan. Begitupun mutasi pati
> ABRI dianggap sbg orang Suhartois, istilah aneh karena pada dasarnya semua
> ABRI tentunya Suhartois, kecuali lulusan pasca 21 Mei 98. Bahkan, majalah
> sekaliber Tempo pun masih saja membagi-bagi ABRI dalam hijau - nasionalis.
> Padahal ABRI nasionalis pun mayoritas Islam (tentu saja!), dan sebagian
> mereka adalah Islam taat. Dalam pemberitaan Aceh pun majalah Tempo kacau.
> 
> Sekarang kondisi Timtim memanas. Semoga Uskup Belo, yg dg simpatik
> berkunjung ke mesjid Idul Fitri kemarin, bisa mengatasi
> keadaan. Semoga rakyat Timtim bisa bersabar menunggu pemerintah baru hasil
> Pemilu yg sah, utk kemudian referendum.
> 
> Ramadhani
> Rawamangun, penghujung Januari 1999 jam 2 wib
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
> 
> 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke