Siapa di balik keputusan pemerintah yg kontroversial? Tersebutlah tiga
nama, entah salah satu dari mereka atau semuanya: Adi Sasono, Feisal
Tandjung dan ZA Maulani.
Siapa target mereka? ABRI secara institusi alias Wiranto.
Untuk apa? Mempersulit posisi Wiranto.
Mengapa Alatas tak berkutik? Tidak jelas, hanya ada rumor yg
menyangkut SARA.
Keputusan pemerintah yg tidak menyinggung referendum hanya membuat
situasi Timtim memanas, mirip 1975. Ini akan membuat ABRI semakin
sulit. Didiamkan atau tidak, tetap akan terjadi pelanggaran HAM. Semakin
banyak pelanggaran HAM ABRI, semakin buruk kredibilitas Wiranto.
Wiranto gagal dijatuhkan melalui tragedi Semanggi. Di luar dugaan
mereka, aktivis HAM tidak menuntut Wiranto mundur, hanya minta
pertanggungjawaban saja. Digusurnya faksi militer oknum ICMI semakin
membuat faksi tsb marah. Ditengarai geng militer Achmad Tirtosudiro,
yg disebut Suryadilaga, sekjen Badan Koordinasi Pemuda Remaja
Mesjid Indonesia sbg "pangab sebenarnya" (DetaK no.20) ada di balik
tragedi di Aceh, yg terjadi Ramadhan kemarin. Kabarnya Wiranto
menolak menjawab telepon Feisal Tandjung perihal mutasi ABRI tsb.
Wiranto semakin membuat marah faksi tsb ketika mengadakan
silaturahmi Ciganjur Plus. Apalagi ia bisa memaksa Amien Rais
datang. Sesungguhnya Amien nyaris tidak datang. Pasalnya, ia
berkonsultasi dg oknum ICMI (saya sebut 'oknum' krn sesungguhnya
mayoritas anggota ICMI baik, idealis dan berhatinurani) perihal
undangan tsb. Gelagat Amien sulit utk datang sudah dimaklumi
Wiranto, apalagi Amien getol menyuruh Wiranto mundur. Konon,
demi kelancaran perjalanan Amien ke tempat pertemuan, Wiranto
telah menyiapkan helikopter khusus (Jawapos, 26 Jan 99)
Bisa dimaklumi jika trio Mega- Gus Dur - Belo, yg pernah silaturahmi
di Ciganjur, sama berangnya thd keputusan pemerintah yg mengkondisikan
rakyat Timtim dalam kancah perang saudara. Selalu saja rakyat awam
dikorbankan demi manuver dan saling jegal elit politik.
Sayangnya, media cetak naga-naganya sukses disusupi Parni Hadi.
Tanpa sadar, sebagian media menjelma menjadi provokator.
Misalnya, istilah ABRI hijau yg menyesatkan, seolah-olah mereka
Islam sejati sementara ABRI merah-putih Islam abangan. Begitupun
mutasi pati ABRI dianggap sbg orang Suhartois, istilah aneh karena
pada dasarnya semua ABRI tentunya Suhartois, kecuali lulusan
pasca 21 Mei 98. Bahkan, majalah sekaliber Tempo pun masih
saja membagi-bagi ABRI dalam hijau - nasionalis. Padahal ABRI
nasionalis pun mayoritas Islam (tentu saja!), dan sebagian mereka
adalah Islam taat. Dalam pemberitaan Aceh pun majalah Tempo
kacau.
Sekarang kondisi Timtim memanas. Semoga Uskup Belo, yg
dg simpatik berkunjung ke mesjid Idul Fitri kemarin, bisa mengatasi
keadaan. Semoga rakyat Timtim bisa bersabar menunggu
pemerintah baru hasil Pemilu yg sah, utk kemudian referendum.
Ramadhani
Rawamangun, penghujung Januari 1999 jam 2 wib
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!