LANJUTAN POSTING SEBELUMNYA....

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.
    

     
     BINCANG-BINCANG DALAM DALAM SEBUAH SEMINAR IMAJINIER...9/15)
     _________________________________________________________________

     Pak  Mantiko  dengan  tenangnya  melangkah menuju  mimbar  setelah
     Insiyur   Rona  Mayang  Sori  mempersilakannya  untuk   membacakan
     presentasinya yang menanggapi makalah Pak Malin Marajo  yang  juga
     sekaligus  akan  membahas  dan  menafsirkan  WABIL  AKHIRATI   HUM
     YUQINUUN  ujung  ayat  4 Surat Al-Baqarah yang  kontroversial  itu.
     Kepada  hadirin peserta seminar Pak Mantiko memperlihatkan  Tafsir
     The  Holly  Qur'an  and English Translation  and  Commentary  dari
     Sheir  Ali  dimana Pak Mantiko mengutip arti kata  AKHIRAT  dengan
     tafsiran  WHAT EVER YET TO COME  atau APA YANG DITURUNKAN KEMUDIAN
     itu.

     Dengan  mengucapkan syahadat, membaca fatihah dan  salawat  kepada
     Nabi  Muhammad  SAW,  Pak  Mantiko mulai  membacakan  tanggapannya
     terhadap makalah Pak Malin.

     "Bapak-Bapak   dan  ibu-ibu  serta  para  Hadirin   Hadirat   yang
     berbahagia.

     Izinkanlah  kami  pada  kesempatan  yang  berbahagia   ini   untuk
     menanggapi  bahagian pertama dari makalah Pak Malin  Marajo  yaitu
     WABILAKHIRATI  HUM  YUQINUUN DITINJAU DARI ASPEK  BAHASA  kemudian
     mengetengahkan  kertas  kerja  kami  yang  sekali  gus  memperkuat
     hujjah  kami  bahwa  WABILAKHIRATIHUM  YU  QINUUN  itu  bisa  juga
     diartikan DENGAN APA YANG DITURUNKAN KEMUDIAN. Sudah barang  tentu
     tinjauan kami juga didasarkan atas TATABAHASA ARAB.

     Kami  tidak membantah bahwa kata AKHIRAT itu bisa diartikan dengan
     KAMPUNG  AKHIRAT atau HARI KEMUDIAN, tetapi dengan membatasi  arti
     kata  tsb  semata-mata merujuk kepada AKHIRAT  tok  adalah  kurang
     tepat  karena memang ada arti yang lain dari kata itu. Sebagaimana
     yang  saya  jelaskan dalam presentasi saya lima  belas  hari  yang
     lampau  bahwa  kata  AKHIRAH dengan THA  MARBUTHA  diujungnya  itu
     adalah  bentuk  MUANNATS dari kata AL AKHIR dan  memerlukan  suatu
     objek yang memperjelas arti kata tsb.

     Umumnya  para penafsir kita memberikan objek kata tsb dengan  kata
     AD-DAR   atau  AL-YAUM  sehingga  kanteks  kata  menjadi  AD-DARUL
     AKHIRAH  atau  AL-YAUMIL AKHIRAH yang memang tidak bisa  diartikan
     selain KAMPUNG AKHIRAT atau HARI KEMUDIAN.

     Tetapi  seperti  yang  kami katakan sebelumnya,  dan  karena  kami
     memandang  ayat  itu  secara utuh, saling berangkai  terdiri  anak
     kalimat  yang  saling berhubungan, maka arti yang  kami  kemukakan
     memang  lain  dari  arti  yang dikemukakan umumnya  para  penafsir
     dinegeri  kita  ini. Kendatipun demikian arti ini  tidaklah  tepat
     kalau  disebut  melenceng atau sengaja dipelesetkan  seperti  yang
     dituduhkan oleh Pak Malin terhadap kami.

     Tafsir  dari  AKHIRAT yang kami ketengahkan ini  juga  dikemukakan
     oleh  beberapa  TAFSIR  YANG LAIN yang  salah  satunya  akan  kami
     perlihatkan  kepada hadirin disini. Jadi tidaklah etis  mengatakan
     TAFSIR  ini ditafsirkan oleh ORANG GILA sebagaimana yang dikatakan
     beliau  pada  seminar  terdahulu. Adalah suatu  sikap  yang  tidak
     sopan  sama  sekali  dengan  menuduh  GILA  terhadap  orang   yang
     menghabiskan umurnya bertahun tahun untuk mempelajari Al- Qur'an.

     Kami  yang  menerima tafsiran dari Sheir Ali ini sedikitpun  tidak
     berkecil  hati  atau  tersinggung dengan  ucapan  Pak  Malin  ini.
     Bahkan semakin memperkuat keyakinan kami bahwa tafsir inilah  yang
     mengemukakan  arti  yang tepat dan sebenarnya. Bukankah  Junjungan
     kita  Rasulullah  SAW  empat belas abad yang silam  juga  mendapat
     panggilan  yang senada dari sebahagian besar penduduk Makkah  yang
     menolak   KENABIAN   beliau  ?  Bukankah  beliau   dan   pengikut-
     pengikutnya  juga  dikategorikan sebagai ORANG GILA   oleh  musuh-
     musuh  beliau?  Jadi  dalam hal ini Sheir Ali  dan  kawan-kawannya
     telah  mewarisi sebahagian apa yang ada pada Rasulullah SAW  yakni
     cemoohan, cercaan dan tuduhan GILA dari musuh-musuhnya pula.

     Saudara-Saudara, Hadirin-Hadirat yang berbahagia,
     Sayang  sekali  dalam makalahnya yang bahagian pertama  tadi,  Pak
     Malin  tidak  membahas  ayat 2 dan ayat 5  Surat  Al-Baqarah  ini,
     untuk  memperkuat argumentasinya bahwa kalimat-kalimat dalam  ayat
     3  dan  4  itu  masing-masing berdiri  sendiri  dan  tidak  saling
     berhubungan baik secara makna dan pengertian.

     Berikut  ini kami akan buktikan kepada Pak Malin dan para  hadirin
     hadirat semua bahwa apa yang dikatakan Pak Malin itu adalah  tidak
     benar   sama   sekali,  kendatipun  pendapatnya  itu  dikatakannya
     didasarkan  kepada TATABAHASA ARAB. Akal pikiran yang jernih  akan
     melihat  betapa  ayat  2,3,  4  adalah merupakan  suatu  rangkaian
     pengertian  kalimat-demi  kalimat  yang  akhirnya  mengantar  kita
     kepada  kesimpulan di ayat 5 yaitu ULA IKA 'ALA HUDAN  MIRRABBIHIM
     WA ULA IKA HUMUL MUFLIHUN.

     Untuk  jelasnya  bagi para hadirin, sekarang  marilah  kita  lihat
     kembali  rangkaian  ayat-ayat ini sehingga  kita  bisa  memperoleh
     suatu  pengertian  dan kesimpulan dari hasil  pemahaman  ayat-ayat
     itu sendiri.

     Kita  lihat ayat 3 kalimat 1, ALLADZINAYUKMINUNA BILGHAIB  (Mereka
     beriman dengan yang Ghaib). Siapa yang beriman dengan yang  Ghaib?
     Itulah  dia  orang-orang yang bertakwa. Disini  kita  melihat  ada
     hubungan  pengertian  dengan ujung ayat  2  (LILMUTTAQIIN).  Kalau
     orang  beriman  dengan yang Ghaib itu bagaimana sesungguhnya?  Ini
     dijelaskan  oleh  kalimat ke 2 dan 3 ayat  tersebut.  Ya,  beriman
     dengan  yang  Ghaib  itu berarti beriman dengan  Allah  yang  Maha
     Ghaib  yang  mana  kita  harus berhubungan  dengan-Nya.  Bagaimana
     caranya  kita berhubungan dengan-Nya? Untuk berhubungan dengan-Nya
     kita  harus menegakkan shalat (WAYUQIMUNAS SHALATA) yang merupakan
     media  penghubung  antara kita dengan Dia yang  biasa  kita  sebut
     dengan  hubungan vertikal keatas. Kalau ini sudah kita  laksanakan
     apa  yang terjadi lagi? Dengan sendirinya kita akan mengenal Allah
     Yang  maha  Ghaib  itu  dan Allahpun akan mengenal  kita  sehingga
     kitapun   akan   menyadari  posisi  kita  sebagai   manusia   yang
     kelangsungan   hidup  dan  keselamatan  kita   semata-mata   hanya
     tergantung dari Allah. Juga kita sebagai makhluk sosial  yang  tak
     bisa  lepas  dari lingkungannya dan hubungan sesama kita  sendiri.
     Tidak  ada  manusia  yang bisa hidup sendiri tanpa  bantuan  orang
     lain.  Hubungan  manusia dengan lingkungannya dan  sesama  makhluk
     sosial  lainnya yang dikenal dengan hubungan horizontal menyamping
     harus  diwujudkan  dan dibina dengan menafkahkan  sebahgian  rezki
     dan  harta kita yang sesungguhnya datang dari Allah jua. Jelas ada
     hubungannya  dengan  kalimat 3 ayat yang sama yang  mengatakan  WA
     MIMMA RAZAQNA HUM YUNFIQUUN.

     Berdasarkan  penafsiran dan pemahaman yang  ELEMENTER  saja  orang
     awampun   berkesimpulan bahwa ketiga kalimat diayat 3  itu  saling
     berhubungan baik secara makna, pengertian dan arti. Jadi  jelaslah
     sudah  bahwa  ayat  3  ini  yang terdiri  dari  tiga  kalimat  itu
     tidaklah   bisa   dipisahkan  satu  sama  lain  yang   selanjutnya
     berhubungan langsung dengan ujung ayat 2 LILMUTTAQIIN.

     Apakah  ayat  3 ini berhubungan pula dengan ayat ke 4  dan  ke  5?
     Atau  seperti yang dikatakan Pak Malin masing-masing kalimat dalam
     ayat  itu  merupakan  kalimat yang betul-betul  utuh  dan  berdiri
     sendiri  serta  tidak  berhubungan secara arti  dan  makna.  Insya
     Allah akan kita lihat dan bahasan uraian berikut ini. "

     Sambil  menyeka  keringat  yang  mengucuri  seluruh  wajahnya  Pak
     Mantiko melanjutkan uraiannya.

     "  Saudara-Saudara, Hadirin-Hadirat yang berbahagia, marilah  kita
     lihat  ayat 4 Surat Al-Baqarah ini lebih lanjut. Kami tak mengerti
     sama  sekali  mengapa ayat 4 ini dibagi menjadi dua  anak  kalimat
     saja   oleh  Pak  Malin,  dimana  beliau  menggabungkan   WALLADZI
     NAYUKMINUNA  BIMA  UNZILA  ILAIKA  dengan  WAMA  UNZILA  MINQABLIK
     menjadi  kalimat 1 dan WABIL AKHIRATIHUM YUQINUUN  dengan  kalimat
     2.  Seakan-akan  Pak Malin terpaksa membagi ayat ini  menjadi  dua
     kalimat saja sehingga mengaburkan pengertian ayat ini secara  utuh
     dan meyeluruh, tetapi tak apalah kita lanjutkan saja uraian ini.



BERSAMBUNG...

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin,
Jalan Rambutan B-32
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come....
For further details contact Ahmadiyya Mission anywhere over the world.
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke