Saya tidak sempat menyaksikan acara tersebut. Tapi, kalau memang demikian
pernyataannya, saya pikir kedua-duanya keliru. Pertama, media memang tidak
perlu mengekspos secara gencar kebehasilan pemerintah atau aparat keamanan
mengungkap kasus kejahatan karena memang sudah begitulah seharusnya. Itu
normal. Sebaliknya menjadi tidak normal bila aparat keamanan meminta agar
keberhasilan "yang mestinya rutin" itu digembar-gemborkan. Kedua, apa sih
maksud "menulis dengan tanggungjawab" itu? Tanggung jawab media terutama
pada akurasi fakta yang disiarkannya. Dan, menurut hemat saya, pemberitaan
media massa mengenai peristiwa kejahatan umumnya menggunakan akurasi data
dan fakta yang baik. Di samping itu, mengingat pemberitaan masalah kejahatan
biasanya menggunakan konsep berita lempang, maka tak tersedia tempat untuk
emosi si penulis.
Yudhi, saya kira, Pak Kus kita itu hanya mencoba mengalihkan persoalan.
Tapi, terlanjur mengomentari dialog di RCTI, saya sekalian ingin dapat
informasi dari teman-teman kulitinta tentang masalah yang dihadapi RCTI saat
ini.
Beberapa teman dari bagian pemberitaan RCTI baru saja menyampaikan keresahan
mereka mengenai rencana PHK. Yang mengejutkan saya, dalam pembicaraan di
Sekretariat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dini hari ini, PHK
terbesar direncanakan terjadi di bagian pemberitaan. Konon, jumlahnya akan
mencapai 100 orang. Artinya lebih dari 50%. Nama-nama calon pengangguran
itu, kata mereka, telah diajukan oleh sebuah tim kecil yang dibentuk secara
tidak jelas. Lebih mengejutkan lagi, mereka berusaha meyakinkan kami bahwa
PHK bagi bagian pemberitaan bukan sekedar masalah kesulitan keuangan,
melainkan punya nuansa politis. Mereka bahkan sudah mendapatkan nama seorang
aparat militer yang akan didrop ke bagian pemberitaan RCTI, setelah PHK
berjalan. Mereka sedang mengumpulkan bahan untuk mengungkap masalah ini ke
permukaan.
Sedangkan kami di IJTI perlu informasi yang lebih banyak. Mungkin Yudhi dan
teman lain bisa membantu? Terima kasih sebelumnya.

Haris Jauhari

-----Original Message-----
From: Yudhi D. Baihaqi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, February 16, 1999 12:13 AM
Subject: [Kuli Tinta] Peran media pada ketidak percayaan masy. ?


>Saya baru saja melihat Acara Dialog di RCTI tentang perintah tembak di
>tempat (15/2 pukul 20.30 WIB)
>Menariknya, Pak Kus menyebutkan bahwa salah satu penyebab turunnya
>wibawa pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan, karena media tidak
>terlalu gencar mengekspos berita-berita keberhasilan pengungkapan
>kejahatan oleh aparat keamanan. Sebaliknya kalau terjadi tindak
>kejahatan, maka ekspos berita sangat gencar.
>Saya tidak mempersoalkan benar atau tidaknya pendapat tersebut. Tapi
>lebih dari itu, apakah media-media kita memang lebih banyak menulis
>dengan emosi bukan tanggung jawab.
>Bagaimana menurut kalian ?
>
>--
>Wassalam,
>Yudhi Dzulfadli Baihaqi
>[EMAIL PROTECTED]
>------------
>"....alm. Mahbub adalah jurnalis terbaik, karena
>pertanyaan-pertanyaannya...."
>------------------
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke