Telkom seharusnya mulai merubah struktur tarifnya dengan melihat pengalaman dari negara lain dengan pertimbangan berikut: Makin besar jaringan tentunya biaya telepon seharusnya menjadi lebih murah (kalau tidak makin banyak yang bisa "diambil"). Makin lama kebutuhan orang akan komunikasi makin besar sehingga telepon sudah merupakan kebutuhan primer (pas dibawah kebutuhan perut) Di Amerika, biaya langganan telepon seperti biaya abonemen yang besarnya tetap setiap bulan tanpa dihitung berapa lama kita pakai telepon lokal. Saat ini biaya langganan telepon (kurang lebih) $20 yang bisa dipakai terus menerus 24 jam sehari dan 7 hari seminggu tanpa ada perhitungan pulsa lokal. Kalau kita interlokal baru ditambahkan biaya interlokal. Pada beberapa kota diperkenalkan tarif premium yang disebut (misalnya) tarif metropolitan. Saya bisa ambil contoh Jabotabek karena situasinya persis sama. Misalnya: Pelanggan untuk Jakarta dikenakan tarif $20 per bulan dan bila ingin menambah untuk area metropolitan dia harus tambah (kurang lebih) $10 per bulan tanpa dihitung pulsa lagi. Maksudnya: Bila berlangganan untuk Jakarta saja, yaitu bagi orang-orang yang jarang sekali menelepon ke Jabotabek, maka untuk pulsa lokal di area Jakarta tidak perlu bayar lagi dan bila sekali-kali menelepon ke area Botabek dikenakan tarif interlokal Bila berlangganan untuk Metropolitan maka seluruh hubungan ke area Jabotabek dianggap pulsa lokal dan tidak perlu bayar lagi karena sudah termasuk dalam tambahan biaya bulanan. Ini sangat bermanfaat bagi perusahaan, misalnya, atau orang-orang yang sering berhubungan telepon di area Jabotabek. Dengan demikian konsumen memiliki pilihan mana yang lebih bermanfaat bagi dirinya. Inilah sebenarnya yang harus mulai dipikirkan Telkom dalam era keterbukaan informasi dan pasar sehingga tidak lagi terpatok pada pola monopoli seperti yang selama ini terjadi. Apabila perubahan struktur ini dapat dilakukan saya kira banyak orang yang akan menambah saluran teleponnya apalagi dengan perkembangan internet akhir-akhir ini dan masa yang akan datang. Aksi boikot saya kira kurang efektif karena Telkom sebagai monopolis pasti akan melaksanakan pemutusan saluran telepon sesuai dengan ketentuan (sepihak) yang sudah kita tandatangani ketika mengajukan aplikasi. Kalau diputus maka kita sendiri yang repot mengurus kembali, belum kalau kena pungli lagi. Kemudian, berapa banyak yang akan ikut boikot? Kalau cuma 1.000, lalu apa artinya? Kecuali kita bisa melakukan pemblokiran semua pembayaran yang menuju ke rekening Telkom barulah boikot efektif. Ingat, pembayaran ke Telkom saat ini sudah bisa melalui berbagai bank. Semoga bermanfaat. ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
