> From: kj <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Saturday, February 20, 1999 12:29 AM > hahahaha... mendukung sih mendukung. cuman apa ada yang kuat tidak > menggunakan telepon? kalau minta dijemput pacar, gimana? kalau kangen sama > suami, gimana? kalau anak sakit, butuh pertolongan dokter segera, gimana? > coba deh cari jalan lain yang lebih sip, gitu. Senang rasanya melihat kita berdebat soal kepentingan publik yg sepele ini, setelah pusing membaca debat publik soal-soal "raksasa", seperti penyadapan dan pemilu. Saya mau ngrobrol soal telkom dan pulsanya: Satu. Saya juga prihatin soal tarip yg naik ini. Sebagian jelas dirugikan, sebagian hanya ketawa lebar diam2. Sampe saat ini di jalanan (di dalam mobil) dan di mal, dan di bus patas atau KA/airport, orang masih dg santai nelpun. Walaupun telpun selular belum naik (iya ya?), tetap kan taripnya tarip mahal dan rupanya di jaman krisis ini koceknya tidak terpengaruh sama sekali. Buset. Saya sering menemui kawan saya sedang nelpun dan cuma ngomong nglantur tentang di mana posisinya sekarang dan sedang apa, tanpa terlihat adanya kedaruratannya atau urgensinya telpun begituan dilakukan dg keluarganya. Iseng amat! Untuk menjalin "keterikatan emosional" dan "mahligai pernikahan"? Nelpun yg dulunya hanya utk akses penting sdh terlanjur jadi seperti permen atau rokok yg maunya disedot setiap hari. Apa ini bukan bagian dari filosofi pemborosan? Apa ini juga tergolong hasil pembudidayaan 30 th Orba? Waah! Dua. Rekan kita ada yg nulis kalo banyak sebagian rumah kita berada di "pinggiran" alias Cinere, Serpong, Pamulag, Bekasi dll yg jauh dari kantornya di JakPus. Kalo nelpun sekrg jadi mahal gara2 tingkah laku telkom. Sebetulnya saya jadi mikir lo, soal nelpun kantor-rumah mestinya kan banyak nggaknya daripada iyanya. Saya selama ngantor di Jakpus dan rumah di pinggiran rasanya nelpun ke rumah paling banter 2 minggu sekali, itupun gara2 ada satu-dua hal yg hrs diketahui orang di rumah, misalnya ada mau kirim sesuatu ke rumah. Saya hrs percaya bhw keadaan di rumah beres adanya. Ndak perlu dicek tiap jam. Nanti gila. Dan nelpun hanya bila ada kedaruratan, dan seyogianya bukan pake pulsa kantor. Mungkin yg susah adalah kalo ada usaha yg punya cabang banyak di Jabotabek dan masing2 jaraknya lebih dari 30 km, dan musti ada kontak tiap kali antar cabang. Ini pasti membuat rupiah rekening menjulang. So.... Jadi, kalo susah mematikan telepun utk suatu hari tertentu, sebagai pelampiasan jengkel atawa mogok, ya dg sangat membatasi diri utk tidak menggunakannya selain utk kedaruratan sdh akan membuat keok pihak produsen. Berapa banyak sih kedaruratan per harinya di rumah? Lha kalo ada anak atawa bayi sakit di rumah, saya pikir saya akan absen ngantor dan menunggui si sakit, daripada nelpun tiap jam dan gelisah di kantor (-pake pulsa kantor lagi). Apalagi kalo rumah kebakaran (misal ekstremnya lo) Soal kangen: mosok kangen kalo ditinggal 6 jam ngantor? Ini mah perlu konsultasi psikiater hehehehe :-) Usul soal pingin dijemput pacar: naik bus atau omprengan sendiri aja deh. Sekalian menyelami dan menghayati betapa jorok dan jebolnya kondisi bus kota masakini (tapi kalo tiap hari ya bosan juga ya menyelaminya -malah sebel!) Salam hangat dan selamat berlibur tanpa nelpun Sori kalo mengganggu anda.... > >Caranya: > >TIDAK MENGGUNAKAN TELEPON SATU HARI PENUH, DUA KALI SEBULAN, SETIAP > >TANGGAL 1 DAN 15, SAMPAI TARIF TELEPON DITINJAU KEMBALI! ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
