<Picture>Telaah Khusus :Tentara Allah Turun di Ambon 

Pasukan kafir itu lari terbirit-birit. Ribuan jundullah cilik
menyerang mereka dengan keberanian luar biasa.

����� Tragedi Ambon telah lewat sebulan. Namun, asapnya masih belum
pupus benar. Meski berangsur pulih, denyut kehidupan di Ambon masih
belum normal. Apalagi, darah masih terus tumpah di beberapa tempat di
sekitar Kepulauan Maluku. Lagi- lagi, seperti pada tragedi Iedul
Fithri Kelabu di Ambon, korbannya kebanyakan juga kaum muslimin.
Seperti diketahui, dalam prahara Ambon, kaum muslimin menjadi korban
kebiadaban kaum kafirin. Mereka dibantai dan disiksa dengan cara amat
keji. Sejumlah kaum muslimah diperkosa. Sementara puluhan ribu orang
jadi pengungsi lantaran rumah dan toko mereka dibakar. Belum lagi
belasan masjid yang dihancurkan atau dibakar.

����� Namun tak banyak yang tahu, di tengah segala kengerian itu
terjadi peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Allah swt menurunkan
bala tentara-Nya ketika umat Islam nyaris jadi korban. Firman Allah
swt yang turun saat perang Badar berkecamuk belasan abad silam,
terbukti di bumi jihad Ambon:

����� (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu
diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala
bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut."
(QS Al-Anfaal: 9). Kejadian-kejadian menakjubkan itu diceritakan K.H.
Abdul Aziz Arbi, MA, Imam Besar Masjid Jami' Al Fatah Ambon, kepada
wartawan SABILI, M. Lili Nur Aulia dan Rizki Ridyasmara yang
menemuinya Ahad pagi (20/2) di Jakarta. Dalam wawancara selama satu
setengah jam ini, Ustadz Abdul Aziz menuturkan kesaksiannya tentang
turunnya bantuan Allah berupa sepasukan mujahidin cilik berjubah dan
bersongkok putih. "Saya terpaksa mengungsikan istri dan kelima anak
saya karena situasi Ambon yang masih sangat rawan. Tapi insya Allah,
saya akan segera kembali ke sana," tutur alumnus Universitas Ummul
Qura Makkah ini. Berikut uraiannya: 

RIBUAN JUNDULLAH CILIK

����� Pada malam pertama kerusuhan Ambon, 19 Januari 1999 yang
bertepatan dengan 1 Syawal 1419 H, saya berada di rumah bersama
keluarga di dalam kompleks Masjid Raya Al-Fatah. Suasana malam itu
terasa amat mencekam. Tiap setengah jam sekali terdengar tiang listrik
dipukul bertalu-talu�tanda adanya serangan dari pihak Nasrani. Ibu-ibu
dan anak-anak semuanya dicekam ketakutan yang luar biasa. Para
penyerang itu menggunakan berbagai macam senjata. Mereka
berteriak-teriak dengan bengis. Itu terjadi sepanjang malam. Tak
pernah berhenti. Kita hanya bisa menahan serangan mereka. 

����� Pada malam kedua, saya dijemput dua puluh tentara dari Kostrad.
Saya diberitahu bahwa saya adalah orang pertama yang akan dibunuh.
Saat itu terjadi penyerangan yang cukup hebat terhadap Masjid Raya
Al-Fatah. Sejak dini hari hingga tengah malam, orang-orang Nasrani itu
menyerang kita secara bergelombang. Mereka bersenjatakan panah-panah
api dan racun, parang, tombak, batu, kayu, besi, senapan berburu, bom
molotov, hingga bom ikan. Pasukan Muslim hanya berbekalkan senjata
seadanya: parang, kayu, batu, dan senjata apa saja yang bisa diraih.
Ada kalanya kita mendesak mereka, namun sewaktu-waktu mereka ganti
mendesak kita. 

����� Sekitar pukul 24.00 hingga pukul 01.00 malam waktu setempat,
umat Islam terdesak mundur. Musuh-musuh Islam itu, Nasrani-Nasrani
itu, maju hingga mencapai pagar Masjid Raya. Mereka benar-benar ingin
menghancur-leburkan Masjid Raya kebanggaan kota Ambon itu. Di dalam
Masjid berkumpul lima ribuan pengungsi yang kebanyakan terdiri dari
ibu-ibu dan anak kecil. Para penyerang itu tampak sudah sedemikian
dekat dengan pagar Masjid. Beberapa dari mereka bahkan telah melompati
pagar. Umat Islam panik bercampur marah. Para pengungsi histeris
ketakutan. Gambaran kehancuran Masjid dan pembantaian pengungsi sudah
terbayang di pelupuk mata. Keadaan sudah sedemikian gawat. Nyaris
tanpa harapan. 

����� Entah mengapa, tiba-tiba para penyerang itu berbalik dan lari
terbirit-birit. Kelihatannya mereka sangat ketakutan. Kita sama sekali
tidak menyangka. Sungguh kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ternyata mereka menyaksikan apa yang tidak bisa kita lihat. Ini kita
ketahui melalui cerita seorang Nasrani yang berhasil ditawan: "Saya
melihat ribuan kanak-kanak berusia sekitar sepuluh tahun, memakai baju
dan songkok putih berlari kencang keluar dari dalam Masjid ke arah
kita. Seorang tua berjubah dan bersorban putih dengan tongkat di
tangannya tampak memimpin pasukan itu. Jumlahnya sangat besar dan
keberaniannya menyerang sangat luar biasa. Itulah yang membuat kami
takut dan berbalik lari meninggalkan Masjid." Subhanallah... Allahu
Akbar! Itu terjadi pada malam Kamis. 

TIUPAN MALAIKAT

����� Pada malam Jum'at, Masjid Al-Fatah kembali diserang. Kali ini
mereka menyerang dari Jalan Baru�jalan ini terletak di depan masjid.
Dengan memanfaatkan tiupan angin yang mengarah ke Masjid Al-Fatah,
penyerangan dilakukan dengan membakar beberapa rumah di ujung selatan
Jalan Baru. Mereka menggunakan anak panah yang menyala. Namun ketika
mereka menghujani rumah-rumah Muslim dengan ratusan anak panah berapi,
panah-panah itu malah jatuh di rumah-rumah Nasrani tetangganya. Tapi
karena saat itu angin bertiup sangat kuat, rumah-rumah Muslim yang
letaknya bersebelahan ikut terbakar. 

����� Api merembet dengan cepat ke arah masjid. Tiupan angin kian
mempercepat rembetan itu. Penduduk berhamburan keluar menyelamatkan
diri ke Masjid Al-Fatah. Penduduk Muslim yang laki-laki bertempur di
bawah kobaran api yang membumbung tinggi, menahan gelombang serbuan
kafirin yang berusaha menerobos ke masjid.. Di masjid, para pengungsi
kembali panik. Kaum ibu berteriak histeris. Anak-anak menangis
ketakutan. Hawa malam itu terasa demikian panas. Bercampur rasa kalut
dan pasrah. Melihat keadaan demikian, saya perintahkan semua wanita
yang ada di dalam masjid mengenakan pakaian sholatnya. Saya komandokan
mereka bertakbir mengagungkan nama Allah swt. Allahu Akbar! Allahu
Akbar! Allahu Akbar! Gemuruh takbir kian lama kian kompak dan
bergemuruh. Takbir yang diteriakkan oleh jiwa yang pasrah dan
sungguh-sungguh mengharap pertolongan Allah membahana hingga ke luar
masjid. Warga di Gang Diponegoro dan Batu Merah yang terletak di dekat
Al-Fatah menangis saat mendengar takbir yang begitu memilukan. Kita
bertakbir dari pukul 23.00 hingga 01.00 malam. 

����� Di malam yang penuh kekalutan itu, orang- orang yang berada di
sekitar Masjid tiba-tiba dikejutkan oleh sebersit cahaya terang
berwarna biru yang jatuh dari langit. Bola cahaya itu membelah
kepekatan malam, meluncur turun tepat di atas Masjid Raya Al-Fatah.
Entah apa sebabnya, tiba-tiba angin berbalik arah dan berhembus amat
sangat kencang. Yang tadinya bertiup ke arah Masjid, kini berbalik
seratus delapan puluh derajat menuju Gereja Silo. Seandainya angin
masih tetap meniup ke arah Masjid, bukan tidak mungkin seluruh rumah
Muslim akan habis. Tapi dengan izin Allah swt angin itu berbalik, dan
akhirnya membakar gereja Silo yang berjarak kurang lebih tigaratus
meter dari Al-Fatah. 

����� Curangnya Pemda Ambon, khususnya petugas pemadam kebakaran,
mereka telah memarkir dua unit mobil pemadam kebakaran di samping
gereja Silo, namun tidak di Masjid Al-Fatah. Mereka memadamkan api
yang menjilat gereja Silo. 

����� Kita di masjid tetap mengumandangkan takbir. Itu membuat
orang-orang kafir makin kalap. Mereka kian bengis menyerang kita.
Seorang pengungsi berkata pada saya, "Ustadz, hentikan takbir. Mereka
makin kalap menyerang." Takbir sejenak kita hentikan. Namun setelah
berhenti, mereka tetap menyerang kita. Takbir akhirnya kita lanjutkan.
Kita kembali menyusun pertahanan. Dengan takbir tersebut, kita memompa
semangat jihad kawan-kawan. Mereka akhirnya bisa kita pukul mundur. 

����� Entah mengapa, seiring dengan terpukulnya pasukan kafir itu,
angin kembali bertiup sangat kencang menuju gereja Silo. Api kembali
membakar gereja itu. Mobil-mobil pemadam kebakaran pun berusaha keras
memadamkan api kembali. Itu terjadi pada malam Jum'at, 22 Januari
1999. Kita tidak bakar gereja, mereka sendirilah yang membawa-bawa api.

RIBUAN MUJAHIDIN BERJUBAH PUTIH 

����� Pada hari Jum'at, 23 Januari 1999, masyarakat Desa Hitu�kurang
lebih berjarak 25 kilometer dari Ambon�ingin pergi ke Ambon bergabung
dengan Muslim lainnya membela agama Allah yang telah diinjak-injak
kaum kafirin. Mereka baru mengerti, pengiriman orang-orang Nasrani
dari kampung-kampung ke Ambon sebelum Idul Fitri ternyata mengandung
rencana busuk. Pada Hari Raya, jumlah Muslimin di Ambon berkurang
drastis karena banyak yang mudik. Sedang orang-orang kafir bertambah
banyak. Itu sebabnya mereka berani menyerang umat Islam. 

����� Kabar yang beredar di masyarakat Desa Hitu dan sekitarnya
menyebutkan bahwa dalam penyerangan Kamis malam, Masjid Raya Al-Fatah
telah terbakar dan saya�Imam Masjid tersebut�telah terbunuh oleh
orang-orang Kristen. Kaum Muslimin Desa Hitu itu berkata, "Kalau
Masjid Raya telah terbakar dan Ustadz telah terbunuh, untuk apa lagi
kita hidup! Mari bersama-sama kita jihad fi sabilillah!" 

����� Di Ambon, jika orang ingin jihad fi sabilillah, mereka melakukan
upacara ritual dulu: mereka mandi membersihkan segala najis yang
mungkin masih melekat di sekujur tubuh, disusul dengan berwudhu, lalu
mengenakan baju perang berupa jubah putih. Setelah itu, pasukan jubah
putih�dari Desa Hitu, Mamala, Maurela, dan Wakal�yang berjumlah
sekitar empat puluh orang mulai bergerak. Mereka tidak banyak. Orang
yang sungguh-sungguh siap untuk jihad fi sabilillah bukanlah orang
sembarangan. Mereka harus mengerti betul apa hakikat jihad fi
sabilillah tersebut. 

����� Setibanya di Paso, mereka dihadang barikade pasukan Brimob.
Pasukan Brimob itu memberi tahu bahwa Masjid Raya Al-Fatah tidak
terbakar. Namun pemberitahuan itu tidak membuat pasukan jubah putih
itu surut langkah. Mereka telah siap berjihad. Karena tidak mau
kembali ke Hitu, akhirnya pasukan Brimob tersebut melepaskan beberapa
tembakan ke arah mereka. Namun aneh, tak sebutir peluru pun sanggup
menembus jubah putih mereka. Peluru terakhir yang ditembaki malah
mental dan berbalik menuju aparat yang menembaknya. Ini diakui oleh si
penembaknya sendiri. 

����� Anggota Brimob itu menuturkan, "Setelah menembak mereka, peluru
itu langsung mental, berbalik ke saya. Untung saya cepat menghindar.
Setelah itu seluruh badan ini bergetar hebat. Gemetar. Senjata yang
saya pegang jatuh. Akhirnya saya bilang sama komandan bahwa mereka ini
bukan orang-orang biasa." Dalam penglihatan pasukan Brimob itu,
empatpuluh orang pasukan jubah putih tampak berjumlah ribuan orang.
Empat orang tua berjubah dan bersorban putih yang duduk di atas empat
kuda putih tampak memimpin pasukan besar tersebut. Padahal orang-orang
Muslim itu tidak melihat siapa-siapa selain keempatpuluh warga Desa
Hitu dan sekitarnya itu, dan tak satupun yang mengendarai kuda.

����� Setibanya di pinggiran Ambon, mereka dihadang tentara lagi.
Mereka dinasehati agar kembali saja ke Hitu, sebab Masjid Al-Fatah
tidak terbakar dan Ustadz Abdul Aziz masih hidup. Setelah mengecek
kebenaran berita itu, akhirnya mereka pulang dengan damai. Dalam
perjalanan pulang ke Hitu, mereka dihadang orang-orang Kristen.
Terjadilah pertempuran hebat. Dalam waktu singkat seluruh orang-orang
kafir itu berhasil ditumpas. Pertempuran itu menyebabkan hancurnya
seluruh perkampungan kafirin dan sejumlah gereja. Andai saja pasukan
jubah putih itu tidak dihadang dan diserang, hal tersebut tak akan
pernah terjadi. Siapa menabur angin akan menuai badai.

JUNDULLAH CILIK LAGI

����� Ada pula kejadian di Belakang Kota, ini nama suatu perkampungan
Arab di Ambon, tempat penjualan kayu. Pada malam kelima, perkampungan
itu juga diserang musuh. Padahal banyak penghuni kampung tersebut
telah mengungsi. Ketika diserang, Kampung Belakang Kota waktu itu
hanya dihuni beberapa pemuda. Walau demikian, serangan kaum kafirin
itu tidak menggentarkan pemuda-pemuda Muslim. Mereka melawan dengan
gagah berani sambil meneriakkan takbir. Disebabkan kalah dalam segi
jumlah personil maupun senjata, lama-kelamaan para pemuda itu
terdesak. Namun, lagi-lagi kejadian aneh terjadi. Para penyerang yang
jumlahnya sangat banyak itu tiba-tiba mundur dan lari
tunggang-langgang. 

����� Esok paginya orang-orang ramai membicarakan hal tersebut. Dari
penuturan para penyerang, tersiar kabar bahwa mereka mundur disebabkan
adanya segerombolan kanak-kanak kecil berbaju dan bersongkok putih.
Kanak-kanak itu dipimpin seorang tua berjubah serba putih dan memegang
tongkat. Pasukan serba putih itu menyerang mereka dengan gagah berani.
Sama seperti yang mereka lihat di Masjid 

����� Raya Al-Fatah beberapa malam yang lalu. Mereka berkata, "Kita
heran dengan orang-orang Islam. Kita sudah punya peralatan, rencana,
dan senjata yang begitu kuat, kesiapan yang lengkap, ternyata itu
semua tak sanggup untuk menghancurkan mereka. Entah, kanak-kanak itu
datangnya dari mana."

����� Dalam kerusuhan Ambon, target bunuh pertama orang-orang Kristen
itu adalah para ulama, lalu orang-orang Arab, pemuka-pemuka Islam,
yang keempat barulah BBM (Buton, Bugis, Makasar). Ternyata setelah
'BBM' ini banyak yang mengungsi ke kampungnya, ternyata orang-orang
Kristen itu tetap memerangi orang-orang Ambon yang Muslim. Ini terjadi
di Pelauw. BBM ternyata bukan sekedar Buton, Bugis, Makasar, tapi
lebih kepada "Bakar, Bunuh Muslim"! Itu pengertian BBM sekarang ini,
sebab hal tersebut terus saja berjalan. Keadaan di sana masih
mencekam, terutama di Paso, sekitar delapan kilometer dari Kota Ambon. 

TRAGEDI BOSNIA TERULANG DI AMBON 

����� Ujian yang dialami kaum Muslimin di Karang Tagepe tidak kalah
beratnya. Rumah dan kampung mereka habis dibakar orang-orang kafirin.
Di sana, menurut mereka, wanita-wanita Muslimah yang sedang hamil
dibelah perutnya. Lalu dikeluarkan janinnya, dan dicincang-cincang.
Anak-anak kecil yang lari ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri
ditangkapi lalu dilempar ke dalam api yang menyala. Jerit tangis
bocah-bocah mungil itu sangat menyayat hati. Perlakuan iblis itu
dilakukan orang-orang Nasrani di sana atas nama agamanya. Gadis-gadis
Muslimah diperkosa beramai-ramai. Payudaranya ditoreh tanda salib
dengan parang, lalu dipotong. Setelah puas barulah dibunuh. Banyak di
antara para Muslimah sudah syahid sebelum dibunuh kaum kafirin. Rasa
sakit yang tak terperikan menghentikan detak jantungnya. Semoga Allah
swt berkenan menerima mereka di jannah seperti yang dijanjikan-Nya.

����� Kejadian yang berlangsung di Rumah Sakit Umum (RSU) di daerah
Kudamati juga memilukan. Ketika terjadi penyerangan di hari pertama,
banyak orang Islam terluka. Mereka dibawa ke RSU di Kudamati. Walau
mereka tahu Kudamati merupakan basis Nasrani, namun mungkin disebabkan
lebih dekat maka mereka ke sana. Para penyerang itu diberitahu bahwa
orang Islam banyak yang dirawat di RSU tersebut. Akhirnya orang-orang
Nasrani itu menyerang RSU. KTP-KTP pasien digeledah untuk mengetahui
pasien tersebut Islam atau non-Islam. Jika si pasien Islam maka
langsung dibantai. Ibu-ibu hamil yang ada di rumah sakit itu pun
banyak yang hilang. Mendengar kejadian tersebut, akhirnya banyak orang
yang berobat ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) yang ada di dalam kompleks
Masjid Raya Al-Fatah. RSB Al-Fatah beralih fungsi jadi Rumah Sakit
Umum. 

����� Di hari pertama kerusuhan pula, bertepatan dengan Idul Fitri 1
Syawal 1419 H, nasib naas menimpa satu keluarga dengan dua orang anak
yang tinggal di Desa Wayame. Berawal dari suasana gembira lebaran,
mereka silaturrahmi ke rumah salah seorang saudara mereka yang juga
merangkap toko di Pasar Mardika. Pasar itu kemudian dibakar. Dengan
cepat, suasana yang tadinya gembira berubah drastis menjadi suasana
yang sangat mencekam. Terjadi keributan di Batu Merah, Mardika, dan
tempat lainnya. Akhirnya keluarga ini pun tidak bisa pulang ke
rumahnya di Desa Wayame. 

����� Esoknya, kerusuhan meluas. Tengah malam Pasar Mardika dibakar.
Sang bapak menuntun ibu dan dua anaknya yang masih kecil-kecil
menyelamatkan diri dari kobaran api. Mereka berlindung di sebuah rumah
yang tidak jauh dari pasar Mardika. Pagi harinya mereka menyempatkan
diri untuk sholat Dhuha dan berdoa agar diselamatkan Allah swt dari
kekalutan ini. Dua jam mereka memanjatkan sholat dan berdoa, sampai
pukul 9.00 pagi. Setelah itu satu keluarga ini keluar menuju jalan
raya. Sang bapak menggendong anak sulungnya di pundak, sedang ibunya
menggendong si bungsu. Di jalan yang berada di pinggir laut, suasana
sangat kalut dan mencekam. Keluarga ini berlari kecil menuju arah
desanya. Si bapak dengan tangan terangkat ke atas memegangi anaknya
yang duduk di pundaknya. Tiba-tiba, saat mereka sedang berlari, dari
arah yang berlawanan segerombolan anak muda memanggil-manggil mereka
dengan panggilan yang bersahabat. Di tangan mereka tergenggam parang,
tombak, dan persenjataan lainnya. Si bapak yang baik hati ini
mendengar panggilan itu dan berbaik sangka, dikiranya anak-anak muda
itu akan menolongnya. Maka berlarilah keluarga ini mendekat ke mereka.

����� Dengan terengah-engah keluarga ini menghampiri anak-anak muda
itu. Sebuah pertanyaan kasar tiba-tiba terdengar dari mereka: "Islam
atau Kristen!!?" Dengan refleks si bapak menjawab, "Islam." Dalam
sekejap mata sebuah parang yang panjang dan tajam disabetkan ke
pinggang si bapak yang tangannya masih terangkat memegangi anak
sulungnya. Si bapak menjerit dan tersungkur. Anaknya pun jatuh tak
jauh dari bapaknya. Berikutnya terjadilah drama seram yang disaksikan
oleh ibu dan kedua anaknya. Si bapak berlutut dan mengiba-iba,
tangannya terangkat tinggi-tinggi,"Tolong... jangan lukai saya. Saya
tidak bersenjata..." Tapi jawaban yang diterima malah sebuah balok
kayu yang tepat menghantam kepalanya. Sang bapak jatuh tersungkur.
Secepat kilat sebilah parang membelah kepalanya, diikuti puluhan
parang dan tombak yang mencincang tubuhnya. Sungguh pedih penderitaan
yang harus dialami keluarga tersebut. Dengan sigap, sang ibu
menggendong kedua anaknya dan berlari menjauhi tempat tersebut dan
bersembunyi di sebuah gudang hotel. Ia terpaksa meninggalkan suami
tercinta dan ayah kedua anaknya itu. Alhamdulillah, mereka selamat

����� Peristiwa mengenaskan terjadi di sebuah SMEA pada hari ketujuh
setelah kerusuhan. Siswa dan siswi yang Islam pada waktu itu disuruh
bersembunyi oleh guru-guru mereka yang Kristen, "Hai kamu sekalian
sembunyi saja di satu ruangan. Kalau orang-orang itu tahu akan habis
kalian ini." Akhirnya para siswa-siswi itu bersembunyi di satu ruangan
kelas. Ternyata ada guru lain, Kristen, yang memberi tahu para
penyerang bahwa di sekolah tersebut ada anak-anak Islam yang tengah
bersembunyi. Akhirnya orang-orang Kristen itu mendatangi SMEA tersebut
dan membantai semua siswa-siswinya yang beragama Islam.

����� Dalam melakukan penyerangan, orang-orang Kristen itu bersenjata
sangat lengkap. Dari jauh mereka menggunakan panah. Setelah agak dekat
menggunakan tombak. Lebih dekat lagi pakai parang. Sedang kita semua
tidak punya itu. Kita tidak memiliki niat untuk melakukan hal yang
jelek. Karena mereka menyerang kita, maka kita membalas dengan
bersenjatakan apa saja. Ada yang pergi ke dapur lalu menjumpai pisau,
pisau itulah yang dipergunakan. Ada golok kita pakai, ada bambu kita
runcingkan. Mereka memakai kain merah dan ungu yang diikatkan di
kepalanya. Yang berwarna merah bertugas melakukan penyerangan. Sedang
yang berikat kepada ungu melakukan penghancuran. Terlihat jelas adanya
koordinasi di antara mereka. Dalam kerusuhan Ambon, orang-orang Cina
selamat. Saya melihat, pada saat terjadinya penyerangan, orang-orang
Cina itu mengeluarkan saputangan putih yang dipinggirnya berwarna
merah. Itu membuat mereka tidak diserang. Semua pertokoan Muslim
terbakar, sementara toko mereka selamat. Di pasar Mardika, di satu
tempat yang merupakan terminal, ada Batu Merah, Galunggung, dan
sebagainya itu, semua punya Cina dan tidak dibakar. Di tempat lain,
toko-toko Muslim semuanya terbakar. Sebelum penyerangan mereka melihat
peta, yang mana pertokoan Muslim dan yang mana punya Cina. Mereka tahu
tempatya.

����� Banyak warga Ambon yang mengungsi. Tanggal 8 Februari 1999, saya
dan keluarga meninggalkan Ambon. Arus pengungsi sangat banyak. Di
pelabuhan ada sekitar 16.000 pengungsi yang harus dibawa menuju Buton
dan Ujung Pandang. Kapasitas Kapal Siguntang itu hanya muat 7.000
orang. Karena orang yang harus diangkut terlalu banyak, kapal itu
akhirnya mengangkut 9.000 pengungsi. Lebih dari itu kapal akan
tenggelam. Itu dari Ambon saja. Sebelumnya dari Banda, dari Tual,
banyak kapal-kapal sudah membawa ribuan pengungsi. Saya dan keluarga
berjalan dari bawah ke atas kapal itu memakan waktu tiga jam! Padahal
jika normal paling satu menit sudah sampai. Itu disebabkan
membludaknya jumlah pengungsi. Barang-barang tidak bisa lagi kita
jinjing, itu semua harus dikerek ke atas kapal.

����� Kaum Muslimin Buton, Bugis, dan Makasar yang pulang ke daerahnya
sesungguhnya hanya untuk mengantar anak dan isterinya saja ke tempat
tinggal yang aman. Setelah itu mereka akan kembali semua ke Ambon
bersama sanak famili yang laki-laki. Mereka akan mempertahankan Ambon
sampai tetes darah terakhir. Mereka sudah bertekad untuk jihad fi
sabilillah. Mereka bilang sama saya, "Ustadz, kita ini orang yang
sudah banyak dosa. Kapan lagi kita akan menemukan hal yang seperti
ini. Agama kita dihina. Harga diri umat Islam sudah diinjak-injak.
Nabi Muhammad sudah dicaci maki. Kapan lagi saya mau membela jika
bukan sekarang!."

����� Kaum Muslimin yang belum ke luar Ambon kini tinggal di
rumah-rumah orang Islam yang rumahnya tidak terbakar. Yang terbakar,
mereka masih mendiami Taman Hiburan Rakyat Waihao, Masjid Raya
Al-Fatah, Wayami, dan sebagainya. Orang-orang Islam rata-rata mendapat
luka di tangan. Ada pula yang di kaki. Rata-rata kena panah. Agaknya
panah-panah itu diberi racun, karena banyak yang tetanus setelah kena
panah. Ada juga yang kena parang. 

����� Hari Sabtu, hari kelima setelah kerusuhan, para pemuka Islam
menghadap Kapolda dan minta izin, "Bila kita seperti ini terus, sampai
kapan keadaan ini akan tuntas. Tolong, izinkan kami untuk berhadapan
langsung dengan mereka. Izinkan kami untuk bertempur dengan
orang-orang Nasrani itu. Kami hanya minta waktu empat jam. Jika mereka
menang dalam pertempuran selama empat jam itu, kita umat Islam akan
keluar dari Ambon. Tapi kalau mereka kalah, mereka harus keluar dari
Ambon, dan Ambon untuk orang Islam." Itu sudah kami lakukan, tapi
aparat tidak mengizinkan.

����� Kita terpaksa melakukan hal itu sebab aparat sangat tidak adil.
Mereka memihak. Yang paling memihak adalah aparat kepolisian dan
Brimob yang kebanyakkan Kristen. Aparat yang Islam kan sedang cuti,
mudik lebaran. Ketika orang Kristen menyerang dibiarkan, tapi giliran
kita mau membalas, mereka melepaskan tembakan peringatan. Malah ada
orang kita yang ditembak mereka dan meninggal. Itu terjadi di hari
kedua.

����� Mayat-mayat yang mereka bantai tidak bisa kita lihat, sebab
banyak yang terjadi di daerah mereka. Di Kudamati. Misal, di hari
kelima kerusuhan, ada kejadian sedih yang menimpa orang Waihao. Ada
pengusaha ikan, namanya Haji Lasanu. Orang Buton ini disuruh bosnya
yang Taiwan untuk mengambil uang di Mangga Dua, basis Kristen. Dia
mengajak anak buahnya empat orang dan seorang anaknya, Musthofa, yang
baru berumur 17 tahun. Sebenarnya Musthofa ini sedang tidur, tapi
dibangunkan ayahnya. Sang isteri melarangnya mengajak anak itu. Tapi
Haji Lasanu tetap bersikeras. Akhirnya berangkatlah mereka berenam ke
Mangga Dua. 

����� Ketika berangkat dan sampai di sana tidak ada kejadian apa-apa.
Begitu akan turun, anak dan empat anak buahnya di mobil terdepan,
sedang si ayah satu mobil dengan bosnya di belakang. Di tengah
perjalanan, sang bos ini lupa membawa handphonenya, entah disengaja
atau tidak, akhirnya satu mobil kembali ke Mangga Dua. Mobil anaknya
terus turun. Di tengah perjalanan mereka dihadang orang-orang Nasrani,
orang di mobil tersebut tidak dapat berbuat apa-apa sebab jumlah
penghadang jauh lebih banyak. Kelima orang itu langsung dibunuh oleh
kafirin. Setelah dibunuh, mayatnya dipotong-potong. Kepalanya
dipisahkan dari lehernya, pangkal tangannya juga dipisahkan dengan
badannya. Para penyerang itu kemudian menghancurkan mobil, menyiramkan
bensin, dan membakarnya. Mayat yang sudah hancur itu dilemparkan
begitu saja ke api yang tengah menyala. Kejadian ini disaksikan banyak
orang, berlangsung di tengah jalan raya.

����� Di rumah sang ibu sudah cemas sebab sampai sore anaknya tidak
juga pulang. Di malam hari terdengar kabar bahwa anaknya itu telah
dibunuh dan dibakar. Dua hari setelah kejadian itu, ada kabar mayatnya
akan dibawa ke Waihao. Di Waihao sendiri telah disiapkan kain kafan,
dan lima liang kubur telah digali di sekitar rumah. Kita tidak mungkin
menguburkannya di pekuburan Islam sebab terletak di Mangga Dua, daerah
Kristen. Pekuburan tersebut sebenarnya tanah wakaf. Namun sampai saat
ini surat-suratnya belum diterbitkan, sebab pejabat-pejabat yang
berwenang kebanyakan Kristen. Akhirnya tanah itu diduduki orang
Kristen. Mereka buat gereja, buat rumah di atas tanah itu. Dari siang
hingga tengah malam, kelima jenazah itu tidak juga didatangkan.
Sebenarnya itu tidak mungkin. Untuk menenangkan keluarga di Waihao
itu, pihak kepolisian mengatakan pada mereka bahwa kelima korban itu
sudah dikuburkan secara Islam. Padahal itu tidak benar.

����� Penyerangan orang-orang Nasrani terhadap umat Islam di Ambon dan
sekitarnya bukanlah tindak kriminal murni. Mereka melihat itu sebagai
bagian dari perang sucinya. Semestinya umat Islam dari luar
Ambon�tanpa diminta oleh kita�wajib datang, merasa terpanggil. Sebab
bukankah kita bersaudara? Rasul saw mengatakan bahwa kita ini ibarat
satu tubuh. Satu bagian yang dicubit, maka sakitlah seluruh badan.
Kita sekarang amat sangat butuh bantuan dari saudara-saudara seiman.
Terutama untuk membangkitkan rasa percaya diri dan semangat jihad.
Jika umat Islam sudah memiliki kepercayaan diri, kemudian dibangkitkan
izzatun nafsnya, insya Allah, walau tidak ada bantuan dari luar Ambon,
kita, umat Islam di Ambon bisa mengatasi mereka. Kalau saja aparat
memberi izin kita untuk bertempur dengan orang-orang kafir itu selama
empat jam saja, secara adil, maka insya Allah, kita yakin bisa
mengatasi mereka semua. Namun kita tetap membutuhkan bantuan dari
saudara-saudara seiman di luar Ambon.

KH. Rusyad Nurdin

����� Adanya pertolongan Allah kepada umat Islam di Ambon dalam
tragedi 'Iedul Fitri kelabu adalah sangat mungkin. Allah swt itu
berbuat sesuai kehendak-Nya. Ketika Rasulullah saw dihadang dan
diancam orang kafir, entah disebabkan apa, tiba-tiba orang kafir itu
lari ketakutan. Ternyata dalam penglihatan mereka, tampak seekor unta
sangat besar berdiri di samping Rasulullah saw dan hendak menerkam
mereka. Walau Rasulullah sendiri tidak melihatnya. 

����� Jika sekarang hal-hal seperti itu terulang kembali, saya rasa
mungkin saja. Saya percaya dengan kenyataan yang terjadi di Ambon itu.
Sebab bukankah Allah telah menjanjikan, "In tanshurullaha yanshurkum",
bila kalian menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kalian.
Kadang-kadang pertolongan Allah swt itu tidak masuk akal manusia,
syukurlah kalau hal itu benar terjadi. Dan kita berdo'a pada Allah,
semoga ummat Islam di sana mendapat pertolongan-Nya.
AM. Furqan. 

KH. Syukron Makmun 

����� Ini fenomena yang luar biasa. Allah sudah menurunkan
pertolongan-Nya pada Muslim di sana. Bukan mustahil itu. Dalam perang
Badar, Allah menurunkan tentara langit berjubah putih. Sayyidina 'Ali
yang saat itu masih kecil melihat peristiwa itu. Terkadang orang Islam
itu pedangnya belum sampai ke leher musuh, sudah putus kepalanya.
Kezaliman mereka di Ambon sudah melampaui batas. Hamba-hamba yang
dicintai Allah tentu dibela-Nya. Allah turunkan para malaikat langit,
sebagaimana terjadi pada perang Badar. 
Rivai Hutapea 

Dr. Salim Segaf Al-Djufri 

����� Kalau memang keanehan-keanehan itu terjadi, bukan hanya
Mujahidin Badar, tapi juga terjadi di Bosnia, di Afghan, dan juga di
beberapa daerah, tidak mustahil terjadi yang seperti itu. Apalagi bila
hal tersebut diberitakan oleh orang-orang yang jujur dan akhlaqnya
baik, tidak bohong, itu termasuk karomah semuanya. Kejadian seperti
itu sangat mungkin bisa juga terjadi sekarang. Artinya dulu yang
menolong itu, sekarang juga itu, kan tidak ada perubahan. Kita tidak
mungkin mengetahui apa latar belakang Allah swt sampai menurunkan para
malaikat-Nya, hanya Allah swt yang Maha Tahu. Doanya orang-orang yang
dizalimi dan ditindas itu kan tidak ada hijab dengan Allah swt. Saya
rasa mereka-mereka itu kan dizalimi, mereka tidak berdosa, tak berbuat
apa-apa, pasti Allah membantu. Kalau mereka membela hartanya, membela
kehormatannya, dan gugur maka ia syahid. Kalau orang mau dibunuh, kan
dia bela dirinya, bela keluarganya, hartanya, itu dibolehkan dalam
agama. Jadi sangat mungkin hal-hal itu terjadi lagi.
M. Lili NA 

KH. Firdaus AN 

�����Apa yang terjadi di Ambon itu merupakan pertolongan Allah swt
dalam melindungi hamba-hamba-Nya. Seperti dalam perang Badar, ribuan
pasukan malaikat turun dan membantu pasukan kaum Muslimin dalam
menghadapi serangan kaum kafir Quraisy, tanpa diketahui oleh pasukan
Muslimin itu sendiri. Ini membuat pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya
sangat banyak, tidak sebanding dengan jumlah pasukan kaum Muslimin
tersebut, gentar. Akhirnya kemenangan dipetik oleh pasukan Muslim
dengan gilang-gemilang. Hal yang sama saat ini bisa saja terjadi lagi.
Kapanpun, jika umat Islam teraniaya dan ditindas disebabkan
keyakinannya, maka Allah swt akan segera memberikan pertolongan-Nya.
Kita harus yakin akan hal itu. Allah swt selalu bersama kaum Muslimin.
AM. Furqan

KH. Abd. Rasyid Syafi'i

����� Turunnya pertolongan Allah seperti yang terjadi di Ambon itu
sangat bisa terjadi. Itu disebabkan oleh ketaqwaan dan keimanan yang
tidak setengah-setengah, jika demiki
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke