Izinkan saya u/ menyampaikan hal-hal yg saya anggap sudah sangat 
mengganggu hati nurani saya. Belum lama ini saya mendengar omongan2 
bernada miring, khususnya seputar perusakan masjid Istiqlal yg 
mengatakan kurang lebih sbb : "Giliran masjid yg dirusak aja, si 
pelaku harus tertangkap dan patut dihukum mati !!  Tapi giliran rumah 
ibadah lain yg dirusak, bahkan jelas-jelas pelakunya di depan mata, 
dibiarkan saja ... Negara macam apa ini ... "

Terus terang, saya juga sempat terhenyak sejenak mendengar ucapan yg 
bernada demikian. Namun dengan berusaha mengesampingkan segala hal yg 
berbau emosional dan mencoba u/ berpikiran jernih dng melihat 
kenyataan, tampaknya ucapan seperti ini ada benarnya juga.

Apalagi setelah saya melihat berita dari detik.com seperti di bawah 
ini, tampak bahwa massa yg dengan jelas-jelas merusak 'rumah ibadah' 
non-Islam dibiarkan saja, bahkan oleh aparat hanya dibatasi dan 
diblokade agar tidak melakukan perusakan lebih lanjut.

Yg menjadi pertanyaan saya adalah apakah karena umat Islam 
yang 'kebetulan' mayoritas di negeri ini, lantas mereka dapat 
seenaknya saja melakukan hal-hal yg merusak atas umat lainnya yg 
minoritas dan terhindar dari jerat hukum ??
Jika si pelaku perusak bangunan ibadah muslim yg jumlahnya hanya 2 
orang itu tertangkap, sudah hampir dapat dipastikan bahwa mereka akan 
dihukum yg seberat-beratnya,(Dan saya memang sangat setuju sekali !!), 
bahkan hukuman mati.
Namun, tindakan yg sama juga sudah seharusnya diterapkan terhadap para 
pelaku perusak bangunan ibadah non-muslim lainnya. Jangan karena 
jumlah pelaku perusak bangunan muslim itu hanya 2 orang maka semua 
pihak (tokoh masyarakat, pejabat, aparat, dll yg mungkin mencari muka) 
berani mengutuk dan memvonis hukuman mati, sedangkan terhadap pelaku 
perusak bangunan non-muslim yg sudah jelas-jelas 'memang lebih banyak 
jumlahnya dan mereka semua melakukannya di depan mata' tidak dilakukan 
tindakan apa-apa. Bahkan hanya dibiarkan saja agar tidak melakukan 
perusakan lebih lanjut. Apakah agama Islam mengajarkan demikian ?? 
Saya yakin tidak. 

Dan alangkah harmonisnya hidup berbangsa dan bernegara ini jika hukum 
dan keadilan ditegakkan tanpa memandang faktor2 pembeda SARA. Saya 
hanya berharap agar melalui mailing list ini, aspirasi rakyat kecil 
seperti saya bisa diteruskan kepada pihak-pihak yg berwenang.
Terima kasih.

Bagaimana pendapat saudara-saudara lainnya ??

======================================================================
Selasa, 20 April 1999
detikcom, Jakarta -

Ujungpandang Sempat Memanas
Sekolah Katolik Libur, Aparat Siaga
Reporter: Nurul Hidayati dan Budiono Darsono

Ujungpandang memanas. Selasa (20/04/1999) hampir semua sekolah Katolik 
diliburkan. Aparat keamanan bersiaga sejak pukul 01.00 WITA dini hari, 
setelah terjadinya pembakaran Wisma Kare di Keuskupan Ujungpandang dan 
kantor PGI.

Peliburan sekolah-sekolah Katolik tersebut tentu saja dilakukan secara 
mendadak. Meski banyak siswa-siswa yang tetap mencoba masuk, namun 
sebagian besar siswa sudah terlebih dahulu memilih absen. Yang 
terlanjur masuk langsung dipulangkan. Aparat keamanan pun nampaknya 
tak mau ambil risiko. Di beberapa sudut kota maupun di pusat-pusat 
kegiatan keagamaan non-Muslim mendapat penjagaan.

Suasana tegang tersebut merebak setelah pada Senin (19/04/1999) pukul 
21.00 WITA terjadi aksi pembakaran oleh segerombolan massa yang tak 
dikenal jati dirinya. Massa yang dipenuhi dengan rasa marah itu, 
sebagian adalah mahasiswa. Mereka berbaur dengan warga di sekitar 
kampus Universitas Hasanudin (Unhas), Tamalanrea, Ujungpandang.

Massa dengan spontan membakar Wisma Kaderisasi dan Retret (Kare) 
Keuskupan Agung Ujungpandang. Wisma Kare ini letaknya berdampingan 
dengan Gereja Kare yang beberapa bulan lalu juga sempat dibakar massa. 
Satu mobil kijang yang berada di dalam Wisma Kare ikut habis dilahap 
di jago merah.

Wisma Kare ini berlokasi di Jl.Perintis Kemerdekaan, Pintu satu Unhas. 
Pembakaran berikut berlanjut pada Selasa (20/04/1999) pukul 01.00 WIB 
dini hari. Korbannya adalah Gedung Persatuan Gereja Indonesia (PGI) di 
Jl.Racing Center, Ujungpandang.

Gedung PGI ini merupakan bangunan yang belum selesai. Namun di lantai 
satunya sudah mulai dipakai. Yang membakar gedung PGI ini adalah massa 
yang menggunakan sepeda motor. Hingga pukul 02.00 WIT api masih 
menyala. Hampir seluruh perabot di lantai satu tersebut habis dimakan 
api.

Massa kemudian bergerak ke arah pintu II kampus Unhas di mana di situ 
juga berdiri sebuah gereja yang dulunya dikenal sebagai Gedung 
Masyarakat Toraja. Untungya, aparat keamanan keburu melakukan blokade 
sehingga massa tidak bisa bergerak mendekati gereja.

Rentetan aksi pembakaran tersebut, menurut beberapa kalangan di 
Ujungpandang yang dihubungi detikcom Selasa (20/04/1999) pukul 09.15 
WIB, berkaitan dengan tersebarnya berita peledakan bom di kompleks 
perkantoran yang ada di masjid Istiqlal, Jakarta.

Memanasnya situasi tersebut sebenarnya sudah diantisipasi oleh banyak 
tokoh termasuk Presiden BJ Habibie. Semua tokoh termasuk Habibie, 
sudah mengingatkan, agar umat Islam jangan terpancing untuk melakukan 
aksi yang bersifat anarkhis ataupun dendam atas kejadian peledakan 
yang menimpa perkantoran di kompleks Masjid Istiqlal.

Para tokoh juga mengingatkan, siapa pun pelaku peledakan itu, tujuanya 
tak lain adalah untuk menghancurkan sendi-sendi kerukunan umat 
beragama di Indonesia. "Umat Islam jangan mau diadu domba,"begitu 
amanat Presiden BJ Habibie.

Berbagai seruan untuk menciptakan suasana tenang dan jangan emosional 
pun terus dikumandangkan oleh tokoh-tokoh Islam, termasuk Menteri 
Agama, Malik Fajar. Toh Ujungpandang lolos juga. Tapi tak seorang pun 
ingin, kita semua terbakar! Duh Gusti!***


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke