Nih rekan2 netter,  ada kajian menarik.....silahkan disimak dan
dikomentari...agar sesama manusia lebih saling mengenal dan menghormati
...barulah persatuan dan kemajuan secara bermasyarakat bisa di
harapkan...!!!  Nikmatilah secara intelektual bukan emosional..!!!

djoe.

>Date: Monday, April 26, 1999 3:57 PM
>Subject: [SP] "Suku Cina" atau "Suku Tionghoa"?
>
>
>>
>>Saya akan mencoba untuk memberikan interpretasi sebisanya.
>>Cina itu bukan ras, juga bukan suku. Tidak ada ras khusus cina.
>>Dan di Cina sendiri, bisa dilihat mereka yang dari utara yang
>>lebih mirip campuran, tinggi dan hidung mancung, yang paling
>>selatan warna kulit gelap. Bahkan ada yang lebih mirip orang
>>Turki, tetapi tetap mengaku orang cina dengan marga
>>orang tionghoa. Bahkan di Indo sendiri, bisa diperhatikan
>>perbedaan2 ini.
>>
>>Lebih tepat, kecinaan adalah lebih condong ke arah kebudayaan.
>>Mereka yang menyebut dirinya keturunan tionghoa, adalah mereka
>>yang berasal dari masyarakat berbudaya cina. Dalam sejarah yang
>>mencapai ribuan tahun, bisa dilihat percampuran yang luar biasa,
>>kaum tartar dan barbar dari utara yang terus menyerbu masuk, dan
>>bercampur baur dengan penduduk. Bangsa Manchu masuk, dan
>>kemudian bercampur baur. Tetapi mereka semua terserap kedalam
>>satu entity, yaitu entity kebudayaan.
>>
>>Kemudian, perhatikan marga orang tionghoa. Marga orang tionghoa
>>itu cross-etnic-cultur. Misalnya, jika seseorang bermarga rajagukguk,
>>kita katakan bahwa pasti dia berasal dari Tapanuli, dsb. Tetapi marga
>>dalam budaya Cina itu cross-etnic-cultur. Marga Liem misalnya,
>>terdapat di kalangan orang Canton, Hakka, dan lain2 kelompok dialek
>>lainnya. Dengan demikian, keluarga besar marga Chang misalnya,
>>bisa saja punya anggota dari di hampir semua etnis dan dialek.
>>
>>Jadi, seseorang yang asalnya berbahasa A, ketika masuk ke daerah
>>dengan bahasa B. Jika ternyata generasi2 selanjutnya malah berbahasa
>>B dan berbudaya B, maka mereka menyatakan diri sebagai anggota
>>budaya B, tetapi mempertahankan nama keluarga asal. Campur baur
>>semacam ini, akhirnya membuat hampir semua marga menjadi tidak
>>menjadi khas milik etnis tertentu. Etnis disini lebih bernuansa kultural
>>daripada ras.
>>
>>Ini sama saja dengan warga keturunan Cina dari Indonesia, di luar negeri
>>mereka cenderung memperkenalkan diri sebagai Tionghoa-Indonesia,
>>berbahasa Indonesia sebagai bahasa sehari2, dan sering kali, menggunakan
>>hampir semua attribut budaya Indonesia. Kebanyakan dari mereka sudah
>>terlepas dari unsur2 budaya moyang mereka, misalnya Hokkian, dsb.
>>Dengan demikian, sebenarnya secara etnografi, tercipta satu entity etnis
>>budaya baru, yaitu indonesian chinese. Ini mirip dengan warga tionghoa
>>dari thailand, africa, dan hampir di semua negara. Pada dasarnya, warga
>>tionghoa tidak mengenal nationality asal. Nationality asal, hanya
>berkembang
>>oleh gerakan nasionalis Sun Yat Sen. Itu ada di jaman modern. Sebelumnya,
>>unsur terpenting dalam masyarakat Tionghoa adalah unsur keluarga, bukan
>>etnis, bukan nation. Tidak ada penghormatan kepada etnis, atau kepada
>>negara, tetapi penghormatan selalu diberikan kepada leluhur keluarga.
>>Pada jaman modern ini, ketika penghormatan kepada leluhur sudah mulai
>>luntur, maka masyarakat keturunan cina mulai mencari identitas baru,
>>yang biasanya diasimilasikan dengan budaya asal mereka. Kebanyakan yang
>>ada di overseas, menemukan budaya baru dalam budaya lokal tempat
>>mereka tinggal, kemudian dicampurkan dengan budaya keagamaan yang
>>baru (pada abad2 yang lalu menganut agama islam, dan pada masa sekarang
>>kebanyakan kristen/katolik), dan budaya global karena proses pendidikan
>>mereka. Ternyata identitas baru ini menarik, dan membuat mereka mudah
>>untuk hidup diseluruh dunia tanpa banyak cultural-conflict, tanpa banyak
>>cultural-shock.
>>
>>Kemudahan mereka untuk berasimilasi ini mungkin merupakan fleksibilitas
>>yang memang terkandung dalam budaya cina yang ribuan tahun terbuka
terhadap
>>asimilasi dan terjangan budaya luar. Dalam sejarahnya, budaya cina hampir
>>tidak menolak budaya luar (mirip dengan budaya barat, yang relatif
>>terbuka terhadap asimilasi dari budaya luar). Mungkin karena luasnya
>daerah,
>>dan lokasi yang menjadi pusat perniagaan masa lalu (Silk Road
menghubungkan
>>Cina dengan Mediateranian, Timur Tengah dan Eropa). Perniagaan
>internasional
>>terbesar masa lalu adalah melalui jalur Cina ini. Dan untuk keuntungan
>>komersial,
>>
>>pedagang2 Eropa kemudian mencari jalan lain daripada jalan Sutera, yaitu
>>lewat laut, yang akhirnya melahirkan politik kolonialis dengan motivasi
>>komersial.
>>
>>Di jaman Dinasti Yuan, ada orang Italia yang menjadi pejabat tinggi
>>setingkat
>>menteri. Kota Xanadu merupakan kota internasional, dimana bisa ditemukan
>>warga Kristen, Zoroaster, Muslim, dsb.
>>
>>Karena itu, yang mengatakan bahwa warga keturunan sukar berasimilasi
>>itu benar2 tidak mawas diri. Yang diinginkan oleh para penekan asimilasi
>>bukanlah asimilasi, tetapi penindasan budaya. Asimilasi adalah pembauran
>>budaya, bukan mengeliminasi budaya yang satu, dan diganti dengan budaya
>>yang lain. Asimilasi salah kaprah ini akan melahirkan manusia yang
terlepas
>>dari akarnya, menjadi manusia gelas yang gampang pecah.
>>
>>Sekali lagi, Asimilasi bukanlah meninggalkan budaya asal, dan berganti
>>baju dengan budaya yang baru sama sekali. Asimilasi yang bagus adalah
>>mempertahankan faktor2 positif dari budaya asal, dan memperkaya budaya
>>asal tersebut dengan budaya baru, sehingga malah menghasilkan budaya
>>sinergi yang lebih canggih.
>>
>>Sayang sekali, oleh penguasa fasist di Indonesia, yang berhasil mencuci
>>otak warga pribumi, sehingga sebagian warga pribumi mandek sekali
>>dalam proses asimilasi. Warga pribumi sama sekali mandeg dalam
>>melakukan asimilasi untuk mengembangkan kebudayaan lokal.
>>
>>Warga keturunan sudah berasimilasi, menggunakan bahasa
>>lokal, memperkaya makanan aslinya dengan cita rasa lokal, dsb, yang
>>ternyata memperkaya diri mereka. Warga keturunan Indonesia selalu
>>membanggakan budaya mereka di luar negeri, karena banyak yang
>>kenyataannya sudah bilangual, bahkan tri-langual.
>>
>>Tetapi banyak sekali warga pribumi ternyata mandek dalam usaha
>>mengembangkan budaya lokal. Setiap ada usaha asimilasi dan
>>pembaharuan, selalu ditindas dengan menggunakan alasan2
>>keadidayaan budaya. Usaha mau membuat kebudayaan yang lebih
>>rasional selalu dihadapkan pada dikotomi budaya timur vs budaya barat.
>>Demikian juga dengan demokratisasi, penghargaan terhadap martabat
>>manusia, penghargaan terhadap individu, selalu dihadapkan dengan
>>dikotomi budaya timur vs budaya barat.
>>
>>Banyak yang secara eksplisit dan implisit berdecak kagum pada
>>efisiensi warga keturunan cina dalam bidang bisnis dan industri, tetapi
>>semua hanyalah tinggal decakan kagum dimulut, tanpa ada usaha untuk
>>melakukan pembaharuan budaya. Bahkan usaha untuk menurunkan decak
>>kekaguman itu dilakukan dengan menindas warga keturunan yang lebih
>>berhasil. Ini adalah contoh yang paling jelek dari sikap reaksioner dalam
>>bidang kebudayaan.
>>
>>Saya ingin sekali, melihat kebudayaan lokal, misalnya kebudayaan Jawa,
>>bisa mengembangkan diri menjadi salah satu kebudayaan besar dunia.
>>Dimana sastrawan2 seperti Pramoedya Ananta Toer, yang berpotensi
>>besar dalam pengembangan kebudayaan, bisa dihargai tinggi sebagai
>>tokoh kebudayaan Jawa modern. Demikian juga Romo Mangun yang
>>tidak harus mengeluh tidak berdaya, karena himpitan kebudayaan yang
>>semakin kencang. Ini semua bisa terjadi, jika ada aura yang mampu
>>mengembangkan budaya secara terbuka, terbuka terhadap asimilasi,
>>terbuka terhadap interaksi dengan budaya luar, dan dengan percaya
>>diri maju ke panggung global.
>>
>>Mampukah kebudayaan lokal, terutama Jawa, melepaskan diri dari
>>kebudayaan penindasan dan power-sentris yang mengukunginya
>>selama ratusan tahun? Moga2 saja.. Jadilah seorang radikal dan
>>revolusioner dalam bidang kebudayaan. Tantang budaya penindasan
>>ini, untuk membebaskan diri masuk dalam dalam budaya baru,
>>yang menghargai kehidupan dan kemanusiaan.
>>
>>WaSallam,
>>Noordin Khalid
>>
>>************************************************************************>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke