Bung Prama, Selain debat Amien vs Galib yang sudah pasti menarik, debat Amien vs Yusril juga pasti seru. Dengan gaya khasnya Prof Amien telah undergrade Prof. Yusril jauh dibawah dia, termasuk kemampuan bahasa Inggrisnya belepotan. Sebaliknya, Prof. Yusril pasti juga tahu bahwa Amien telah berbalik sikap 180 derajat, dari seorang sektarian yang sangat anti Cina, anti Kristen dan anti Yahudi menjadi pro semuanya. Cina dirayu dengan minimal 2 kursi dikabinet, Kristen dijanjikan dilindungi, Yahudi (Amrik) dimohon melakukan intervensi moral untuk mengakhiri krisis di Indonesia. Demi ambisi jabatan Presiden RI menghalalkan segala cara? Atau reposisi setelah menyadari kekeliruannya setelah jauh berjalan? Prof Amien secara sangat terbuka ingin jadi Presiden, bahkan Wapres-pun ditampiknya, sementara Prof Yusril memfokuskan pada penyelesaian krisis dengan system oriented, tak masalah siapapun Presidennya. Bahkan ada beberapa statement dari keduanya yang perlu saling diuji karena mereka pakar tingkat tinggi dibidang politik dan tata negara, diantaranya : - Issue koalisi vs Kabinet Parlementer - Issue Negara Federal dan otonomi daerah - Issue pengadilan Soeharto dan kroninya - Issue Timor Timur dan gerakan �separatisme� - Issue tentang investor asing dan peran bisnis etnik Cina - Issue tentang positioning TNI dalam pemerintahan sipil Kalau perlu sampai issue internal, mengapa Amien memojokkan Sekjen Faisal Basri dalam issue demisioner Kabinet Habibie, sehingga Faisal membuat surat pengunduran diri dari PAN, transparansi tentang sumber dana dan fasilitas pengurus PAN yang semakin gelap asal muasalnya (memeras konglomerat seperti kata Jaksa Agung???) yang menjadikan penampilan para pengurus PAN makin mengkilat secara materiil. Juga tentang centralistic leadership gaya Amin Rais, yang terkesan autokratik, sehingga memunculkan kekhawatiran dia menjadi tiran baru. Juga apakah benar rumor diinternal Golkar bahwa Amien Rais punya isteri muda (atau simpanan) di Buah Batu - Bandung, yang dulunya bertemu di Timur Tengah ketika si lady menjadi TKW disana. Kalau kedua cendekiawan top ini mau memberi pencerahan lewat sebuah talk show digelar di SCTV atau lainnya dengan moderator yang investigatif dalam durasi minimal 60 menit termasuk iklan, niscaya masyarakat mendapat pendidikan politik yang sangat berharga, sekurangnya dalam menentukan pilihan pada 7 Juni mendatang. Dan mendongkrak rating TV penyelenggaranya, tentu. ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
