-----Original Message----- From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wednesday, May 05, 1999 23:49 Subject: [Kuli Tinta] Front Reformasi Total >Pernyataan Prof Dr Amien Rais untuk menyikat feodalisme Yogya setelah membereskan Soeharto telah ditanggapi Sultan dengan mempersilahkan. Dalam kultur Jawa jawaban Sri Sultan ini adalah cara memuji kekeliruan Prof Amien. Sayang memang tokoh sekaliber Prof Amien menunjukkan sikap konfrontatif kepada semua pihak, sehingga dapat memunculkan kesan arogan. >Dengan gaya kerasnya itu, Prof Dr. Amien Rais bukanlah Natsir muda, juga bukan khalifah Umar bin Chatab. Jawaban Prof Yusril tentang Umar bin Chatab justru lebih proporsional dan tidak mengurangi ketulusan serta keteguhan jiwanya. Bung Amien justru menampilkan jati dirinya sebagai novice politician. > >Dengan segala hormat, sebaiknya Prof Amien segera menyadari kekeliruannya, mengklarifikasi kasus Faisal H Basri, issue pemerasan Bankir dan rumor isteri muda yang sangat merugikan citra PAN, merangkul Prof Yusril, mengerem ego dengan menggalang persatuan dengan Gus Dur dan Megawati, sehingga menjadikan Front Reformasi Total sungguh solid, termasuk apabila perlu melepaskan ambisi jadi Presiden R.I. >Alangkah indahnya kebersamaan PAN, PKB, PDI-P dan PBB untuk menciptakan UMNO ala Indonesia, sehingga tidak ada tempat berkelit bagi Golkar dan seluruh parpol satelitnya untuk mengobok-obok reformasi. Saya sependapat dengan bung Amin.. mungkin Pak Amien ini sedang besar kepala sekarang ini. Yang mungkin juga disebabkan karena dulu beliau tidak bisa 'bersuara' bebas. Begitu bisa bersuara, selalu didengarkan oleh kita masyarakat. Sekarang beliau sepertinya jadi kecanduan ingin selalu 'bersuara'. Apapun yg tidak dia suka selalu dikecam.. kesan arogan ini sudah lama saya tangkap. Kelihatannya pak Amien sedang lupa diri... saya yang dulu cukup yakin kalau beliau adalah capres yang paling cocok, tapi sekarang saya jadi ragu. Dengan mengkonfrontasikan dirinya kepada banyak pihak, tentu akan menjadikan dirinya menjadi 'stand alone president'..(menurut saya). Jangan-jangan nanti dia juga berkonfrontasi dgn MPR/DPR? Atau bahkan dengan negara lain? Memang akah lebih baik bila kebersamaan dan rasa rendah diri digalang.. antar partai-partai yang bagus & kuat seperti yang disebutkan bung Amin. Namun jangan lupa, ada Partai Keadilan (PK). Partai baru berazaskan Islam ini juga punya dukungan kuat. PK yang selalu mengusung kata 'keadilan', mempunyai anggota dan simpatisan yang rata-rata di bawah umur 40, yang sedang giat-giatnya bekerja, yang kebanyakan adalah mahasiswa dan sarjana-sarjana. Bahkan mereka punya cabang di mancanegara di mana mahasiswa-mahasiswa kita sedang menimba ilmu, seperti di Inggris, di Amerika, di Australia, dll.. Bahkan di Bali pun orang-orang beragama Hindu sudah menjadi angota PK. Namun demikian saya juga melihat PK belum berhasil menanamkan 'rasa adil' sepenuhnya pada anggota-anggotanya. Anda bisa lihat sendiri. Diam-diam PK ini 'membesar' dan 'meluas'... yang intinya, PK ini juga merupakan partai yg perlu diperhitungkan. Dari kinerja partai, PK lebih kelihatan daripada PAN. Atau dengan kata lain, PK yang terlihat adalah partainya, sedangkan PAN adalah Amien Rais-nya, dan nampaknya Amien Rais lebih senang terlihat sendirian. Ego? saya tidak tau. Oya.. pak Amien Rais selalu mengecam soal money politics, tapi entah dia tau atau tidak, menurut saudara saya yang mendaftarkan diri di PAN, selalu mendapat uang transport, uang makan, 'cinderamata' seperti kaus, topi, gantungan kunci, dll.. bila datang ke acara atau datang ke DPC. Kira-kira menurut anda-anda, hal seperti ini money politics atau bukan? Soalnya untuk saudara saya yang 'pure unemployee', sangat menguntungkan bila sering datang. Cuman datang bersama teman-temannya ngobrol-ngobrol.. lalu pulang. sekian dulu.. peace, DEZIG! ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
